
Bismillah π€²
Happy Reading π₯³π
*
*
Suara langkah kaki yang membuat Nara semakin waspada, ia tidak peduli dengan luka yang ada pada punggungnya. Arres telah pergi satu jam yang lalu, akan kah ia kembali untuk menyiksa keduanya lagi? Nata bingung dengan kejadian yang menimpa adik nya Arres, dulu ia sempat mendengar bahwa musuh Kakak nya bukan ini saja tetapi ada yang lain.
Nara semakin mempertajam pendengaran nya, terdengar hanya satu orang saja yang bergerak kemari, suara langkahnya begitu perlahan membuat Nara mengerutkan kening.
"Ada apa? " tanya Jennie menutup mulutnya telah di buka oleh Nara. Mata Jennie terlihat begitu bengkak karena sering menangis sejak tadi.
"Sepertinya ada orang, " jawab Nara terus memandang ke arah pintu.
Jennie memperhatikan luka yang ada pada punggung Nara, ia sedikit memiliki perasaan iba, bagaimanapun Nara juga termasuk adik kandungnya namun sejak dulu ia enggan untuk mengakui.
Saat ini Jennie merasa tidak ada alasan apapun untuk membenci Nara, akan kah perang yang secara mendadak ini akan membuka seluruh hati Keluarga William untuk menerima Nara?
"Bagaimana dengan luka mu? " tanya Jennie menatap punggung Nara.
Nara menoleh dengan tatapan dinginya. "Hanya luka kecil, " jawab Nara singkat.
Jennie bungkam, ia faham bahwa Nara merasa malas untuk berbicara dengannya. Setelah apa yang telah ia perbuat dulu pada Nara hingga tak mudah untuk nya memaafkan perlakuan Jennie.
Nara morobek kaos bagian dalamnya, lalu melingkar kannya ke depan, hal itu cukup menghentikan darah terus mengalir. Beberapa menit kemudian suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruangan Nara.
"Saya akan melihatnya, diamlah disini, " ucap Nara melangkah.
"Tapi_"
Belum sempat Jennie menyelesaikan ucapannya pintu pun terbuka dan menampilkan seorang laki - laki dengan beberapa senjata yang terlihat menggantung pada bagian tubuhnya.
"Mau apa kamu?! " tanya Nara waspada.
Lelaki itu menaruh telunjuk di depan mulutnya menyuruh Nara untuk diam.
"Nona, saya anak buah dari Rain, saya sudah lama bertugas menjadi mata - mata disini, " ucapnya menjelaskan.
Nara memicingkan matanya, akan kah semudah itu ia percaya? "Bohong! "
"Saya benar, Nona, tadi saya bertemu dengan salah satu pasukan Jungle Kingdom, kalau tidak salah namanya Vito dan Rio, " ucap nya dengan tatapan serius.
"Bagaimana saya bisa begitu mudah percaya? " tanya Nara dingin.
"Saya di suruh untuk membebaskan anda untuk cepat keluar, Nona, Vito dan juga Rio akan memberitahu kepada pemimpin mereka untuk segera kesini menjemput anda, " ucap nya.
Lalu lelaki itu memberikan sebuah alat komunikasi kecil kepada Nara. "Anggap ini sebagai bentu kepercayaan anda, ini telah tersambung kepada Komandan Rain, dan panggil saya Reano. " ia menyerahkan alat komunikasi tersebut.
Nara ragu - ragu untuk mengambilnya.
"Nar, jangan... " ucap Jennie.
Nara menguatkan hatinya apakah ia harus mengambil ataukah tidak?
"Cepatlah, Nona, kita akan segera keluar dari sini, jika saya berbohong saya jamin anda lah yang pertama yang akan membunuh saya, " ucap Reano meyakinkan.
Nara kemudian mengangguk lalu mengambil benda kecil itu, ia dengan segera memakainya lalu menghidupkan kembali alat tersebut.
"Ayok kita keluar, Tuan Arres sedang ada di ruangan sebelah bersama yang lain, sedangkan penjaga di depan saya telah memberikannya asap untuk membius mereka, " ucap Reano.
"Apakah kamu bisa bantu aku untuk membawa dia? " Nara menunjuk Jennie.
"Baik, Nona, " ucap Reano.
Baru saja Reano hendak mendekat terdengar suara langkah kaki kembali, ia dapat pastikan bahwa itu adalah Arres.
"Reano! " ucap Nara tertahan, namun seketika bagaikan angin yang hanya sekedar lewat Reano melesat pada sebuah balok kayu yang berbentuk seperti sebuah lemari, ia menyelipkan tubuhnya disana.
__ADS_1
Nara melihat Furio bersama dengan Arres memasuki ruangan tersebut, Nara terkesiap hingga ia segera menoleh ke arah Jennie yang terlihat gemetar, Nara menghampiri saudaranya itu berusaha menenangkan nya.
"Tenanglah. " meski raut wajah Nara datar dan terkesan dingin, ia mencabut alat komunikasi kecil nya dan menyembunyikan di bawah sepatu boot nya itu. Tersimpan perasaan cemas dan khawatir dalam dirinya. Jika saja Nara sendiri itu tak akan membuatnya menjadi masalah karena ia bisa mengatasinya walau ia terluka, tetapi disini ada Saudaranya, orang yang harus ia selamat kan karena Jennie tidak tau apa - apa tentang dunia Reza.
"Nara... a-aku i-ingin segera pergi dari sini... " bisiknya menahan isak.
Furio menarik kuat tubuh Nara sehingga punggung Nara yang masih basah dengan luka yang cukup dalam kembali membuatnya meringis.
"Diam kamu! " teriak Arres menatap Jennie tajam, ia menggantung kedua tangan Jennie dengan borgol dan membiarkan tubuhnya berdiri. Pakaian Jennie masih terlihat minim, bahkan sudah terlihat koyak, entah hal apa saja yang di lakukan oleh manusia berhati iblis ini kepada nya.
"Lepaskan! Jangan sakiti dia!! " teriak Nara mencoba memberontak.
"Aku bilang diam! Berisik! " bentak Furio.
Plak!
Satu tamparan pada wajah Nara membuatnya semakin murka, Nara menendang Furio dengan kuat hingga ia tersungkur.
"Kali ini saya tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuh sedikit pun tubuh saya! " tekan Nara dengan tatapan tajam.
"Gadis kecil, jangan lawan dia, kalau kamu melawan nya kamu akan melihat kehancuran saudara mu ini. " Arres menyeringai kemudian ia mengeluarkan pisau kecilnya mengarahkan kepada Jennie.
"Jangan! Ja-jangan sakiti aku... " lirih Jennie.
Nara bungkam, ia dengan cepat memutar otak nya untuk berpikir, apa yang harus ia lakukan? Ia menatap ke arah balok kayu berbentuk lemari, apakah Reano masih disana? Jika saja Nara dalam bahaya mendesak seperti ini akankah Reano keluar?
"Ikat dia! " perintah Arres.
"Br*ngs*k kalian! " teriak Nara.
"Diam j*l*ng!! " bentak Furio, menyeret Nara dengan kasar nya ke dekat Jennie, habis sudah tenaga Nara terus memberontak, luka pada punggungnya yang sebelumnya berhenti mengalirkan darah kini kembali membasahi kain yang mengikatnya.
Nara hanya pasrah, ia hanya bisa berharap semoga saja Kakak nya segera datang seperti apa yang di katakan oleh Reano. Setelah di ikat Nara terlihat begitu pucat tak ada tenaga lagi untuk berteriak dan melawan.
"Masukklah! " perintah Arres.
"Nara... hiks... a-aku tidak mau mati! " isak Jennie.
"Kamu pikir kamu saja yang tidak mau mati?! " sinis Nara dengan nafas terengah.
Kemudian Nara semakin membelalakkan mata melihat banyak laki - laki memasuki ruangan tersebut.
'Apa - apaan ini?! ' pekik Nara dalam hati. Tentu saja lelaki tersebut berjumlah sepuluh orang, kemudian Nara melihat semuanya melucuti pakaian mereka.
"What the f*ck! " umpat Nara mmemekik.Ia tau kalau mereka akan...
MEMPERK*S* KEDUANYA!
"Dasar laki - laki baj*ng*n!! " segala sumpah serapah Nara keluarkan.
"Berani - beraninya kamu! " Arres mendekat mencengkeram rahang Nara.
"Kamu tau siapa aku?! " tatapan tajam Arres semakin membuat Nara ingin mencongkel matanya.
"Kalau tidak tau maka akan aku perkenalkan! Aku adalah Arres Arlington, Kakak dari Zemira Arlington, kamu tau Zemira adalah keluarga ku satu - satunya yang masih hidup tetapi dia telah mati karena Kakak br*ngs*k mu itu! " teriak Arres menggelegar kemudian dengan kasar Arres menghempas wajah Nara.
Nara mencoba mengambil nafas, ia menenangkan pikirannya berusaha mengendalikan rasa sakit pada punggungnya, sungguh saat ini ia terasa begitu lemas.
Nara mencoba bersuara. "Jika kamu benar - benar dendam terhadap Kakak saya, kenapa kamu harus menangkap dia yang tidak tau apapun?! " tatapan dingin Nara ke arah Jennie.
Arres terbahak lalu kembali bersuara. "Aku adalah pemimpin Scale Bones, mana mungkin aku akan balas dendam ke satu orang saja, itu terlalu mudah, bahkan aku tidak akan segan - segan membuat kalian merasa menyesal sampai kalian mati! " teriakan begitu menggema.
"B*j*ng*n!! " teriak Nara.
"Lakukan sekarang! " perintah Arres menatap sepuluh orang yang ada disana.
Sepuluh lelaki yang sudah melucuti pakaiannya terlihat mendekat ke arah dia gadis tersebut, Nara berusaha memberontak ia tak akan pernah mau di nodai oleh manusia - manusia yang sudah putus urat malunya.
***
__ADS_1
Disisi lain Reano yang kini bersembunyi di balik balok kayu merasa geram, ia meremat jemari tangannya. Sungguh ruangan yang ia tempati sangat rahasia, ada sebuah dinding darurat di balik balok kayu tersebut, entah kapan itu di buat oleh Arres. Tetapi ia sungguh sangat beruntung bisa bersembunyi disana.
Bentuk dinding tersebut menyatu seperti tidak ada pintu rahasia yang terlihat, Reano tidak sengaja berpegangan di sekitar sana tetapi ia merasa janggal ketika memukul pelan dinding tersebut, ia melihat tombol pada balok kayu dengan ukuran tombol yang terlihat kecil, ia ragu - ragu menekannya hingga setelah ia menekan tombol tersebut betapa terkejutnya ada sebuah jalan rahasia di belakang punggungnya.
Setelah itu Reano masuk melihat kedalam ruangan tersebut dan melihat kembali tombol rahasia di dinding pertama setelah ia baru dua langkah. Reana dapat menebak bahwa itu untuk menutup pintunya. Setelah memastikan itu jalan keluar rahasia Reanno kembali melihat sekitar dan keadaan Nara.
Reano kembali membuat sebuah panggilan pada alat komunikasi cadangannya, kembali masuk keruangan rahasia Reano menghubungi Rain.
"Komandan Rain, cepat lah! Nara dan saudara nya dalam bahaya! Saya tidak bisa menyerang sendiri, disini ada Arres dan juga Furio, " ucap Reano.
"Satu menit lagi, bertahan lah! " ucap Rain di seberang.
"Saya menemukan jalan rahasia di dalam kurungan ini, apa yang harus saya lakukan? Akan kah saya meninggalkan mereka? " tanya Reano gamang.
Rain terdiam sejenak sebelum kembali bersuara. "Apakah ruangan bawah tanah yang dulu? " bukan tanpa alasan Rain bertanya, setahunya Arres tidak pernah mengubah tempat siksaannya terhadap musuh yang ia tangkap.
Bahkan dulu ketika ada sesuatu yang mendesak Rain pernah di ajak keluar dari ruangan rahasia tersebut. Sedangkan Reano tidak pernah sekalipun memasuki ruangan seperti ini, palingan ia hanya menjaga situasi darurat dan akan mengabarkan jika sudah aman kepada keduanya.
"Benar, itu tidak di ubah, " jawab Reano.
"Lorong itu tidak panjang, di depan memang jalan keluar, aku akan berjalan ke arah sana bersama Tuan Reza, " ucap Rain memberitahu.
"Baiklah, saya akan melakukan nya, " ucap Reano.
Pasukan Jungle Kingdom dan juga pasukan Rain telah sampai setelah perjalanan satu menit mereka. Reza dengan cepat bergerak ke arah Rain.
"Apakah ini tempatnya? " tanya Ethan yang berada di belakang Reza.
"Benar, ini adalah tempatnya, " jawab Rain yakin
"Apakah kamu sudah mendapatkan kabar dari mata - mata mu? " Reza keluar dengan nafas memburu.
"Dia menemukan jalan rahasia di ruangan yang di tempati Nara dan itu adalah jalan keluar, saya akan mengajak Tuan memasuki area itu, dan yang lain kepung tempat ini jangan berkumpul di satu tempat, " jelas Rain memberi instruksi.
"Siap! " jawab semuanya serentak.
"Aku akan mengikuti Rain, kalian tetaplah waspada, Bima instruksi semuanya supaya bergerak lebih cepat dan berikan pengamanan supaya semuanya tidak langsung di ketahui, " ucap Reza memberikan tanggung jawab nya kepada Bima.
"Tentu saja, semua kelompok akan mengikuti Komandan masing-masing, kami sudah memutuskan lokasi nya, " jawab Bima.
"Siapkan penyerangan atas, jika semuanya terlihat memburuk luncurkan bazooka! " Reza menatap Aldo memberi kepercayaan.
"Aku akan mengepung lewat belakang, sementara Vito dan Ethan akan berada di jarak lima meter sebelum ledakan di luncurkan ke arah yang telah di tandai, " ujar Sherly.
"Aku akan naik ke atas, bisakah kalian berdua ikut dengan ku? " Aldo menatap Arzan dan Galen yang tampak terdiam ketika melihat semuanya mengatur strategi. Ada juga dua anak buah yang akan mengikuti Aldo untuk menyerang melalui atas dengan senjata Laras Panjang yang bertengger di punggung mereka.
"Bawa mereka, aku tidak yakin mereka akan selamat jika menyerang dari bawah, " ucap Bima.
"Baiklah, Aldo aku akan masuk bersama Rain. " Reza menatap kedua Kakak nya itu.
"Kalian ikutlah dengan nya, kalian akan menyerang dari atas, disini terlalu berbahaya, " ucap Reza meyakinkan keduanya.
"Jika itu menurutmu terbaik kami akan melakukan nya, " jawab Arzan yakin.
"Mn. " Reza mengangguk.
Kemudian Reza bersama beberapa pasukan memasuki kawasan tersebut bersama juga dengan Rain. Yang lain telah mulai mengambil posisi masing - masing.
"Ikut aku, " ucap Aldo menarik Arzan dan juga Galen.
Hutan itu bukanlah sembarang hutan, hutan ini sangatlah luas dan besar, bahkan matahari yang sedari tadi meninggi ketika mereka memasuki tempat ini mendadak semuanya menjadi gelap. Terlihat sebuah bukit yang menjulang dari sana, tidak ada siapapun yang berani memasuki hutan ini tanpa pengamanan yang ketat.
Bisa saja tempat ini memiliki banyak hewan buas, hutan ini tidak lebih dari hutan Amazon yang ada di negara brazil, kengerian yang begitu sama persis dengan hutan tersebut.
*
*
Jangan lupa like komen and vote π€ΈββοΈπ€ΈββοΈπ
__ADS_1