Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Membuka mata


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading đŸĨŗđŸ’œ


*


*


"Shibal! " umpat Ethan dengan khas bahasa koreanya.


Semua saling menatap satu sama lain, apakah mereka tidak salah dengar? Sherly yang sedikit jauh lebih peka menghadap ke arah belakang melihat mata indah nan bulat yang telah di nantikan terbuka kini sedang mengerjab pelan.


"Nara! " pekik Sherly langsung menghambur ke arah ranjang Nara yang kini masih menyesuaikan penglihatan nya.


Semua yang mendengar pekikan Sherly tersentak dan bersamaan menghadap ranjang yang sudah ada Sherly meringkuk dalam pelukan Nara.


"Aishhh,, Lily...sa-sakit, " ujar Nara terbata karena merasa punggung nya yang luka tertekan dan dadanya yang masih basah akibat operasi nya.


"Ma-maaf, " ucap Sherly segera melepas pelukannya.


Sementara para lelaki jomblo yang hanya menatap syok dan tak menyangka apa yang ia lihat membuat Nara tersenyum tipis, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang paling ia sayangi dari segala apapun.


"Kak Reza. " sapaan lembut yang telah di nanti oleh Reza sedari beberapa jam yang lalu kini akhirnya terdengar.


"Kemarilah, " ujar Nara pelan namun dapat di dengar jelas oleh Reza yang masih mematung, namun tentu saja Reza tetap menurut dan mendekat.


"Dek? Kamu sadar? " hancur sudah pertahanan Reza, ia kini kembali menangis bersimpuh memegang tangan adiknya , mencium berkali - kali dan memeluknya begitu erat. Nara merasa begitu sakit melihat betapa kacaunya sang Kakak saat melihat wajah nya yang terlihat membengkak, Nara bisa tebak bahwa Kakak nya telah nangis begitu lama.


"Kamu sadar, dek?? Kamu tau Kakak begitu khawatir sejak tadi,,, maafkan Kakak yang terlambat datang, maaf, ini semua kesalahan Kakak dari awal yang telah membiarkan mu masuk dalam dunia Kakak. " racauan yang terdengar pilu itu membuat semua orang yang di sana ikut merasakan kesedihan tersebut.


"Kakak, jangan menyalahkan diri sendiri, itu semua bukan salah Kakak, bukan salah siapapun, aku sendiri yang mau bertanggung jawab atas apa yang telah aku janjikan sebelumnya, jangan khawatir, aku baik - baik saja, " ujar Nara tenang, ia membalas pelukan Kakaknya lembut.


"Maafkan Kakak, Kakak janji setelah ini akan menjaga mu dengan baik dan tidak akan membiarkan mu terluka lagi, " ucap Reza bersungut-sungut semakin membuat Nara gemas akan tingkah nya.


"Aishhh sudah, Kak, Kakak berat, punggung ku masih sakit! " racau Nara meringis.


"Maaf, apakah masih ada yang terasa sakit lagi? Kakak akan panggilkan Dokter, " ucap Reza mengelus lembut rambut adiknya.


"Tidak, Kak, hanya sedikit, aku sudah baik - baik saja, jangan khawatir. Lagipula mungkin Dokter juga sedang beristirahat saat ini, " ujar Nara yang di angguki oleh Reza sambil tersenyum tipis.


Nara mengedarkan pandangannya melihat lima lelaki yang kini sedang menatapnya penuh kerinduan, Nara tau mereka pasti begitu khawatir melihat keadaan dirinya.

__ADS_1


"Kalian kenapa mematung disana? Kemarilah atau aku akan menyeret kalian! " ucap Nara dengan suara yang di tegaskan.


Reza memandang para sahabatnya itu, kemudian mengangguk memberikan mereka ruang juga untuk melihat orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya. Ethan melangkah lebih cepat menghambur ke pelukan Nara.


"Kamu membuat ku khawatir sampai tidak bisa melakukan apapun! " bisik Ethan tegas di telinga Nara.


"Oh ya? Sayangnya aku tidak percaya, maafkan aku.. " balas Nara dengan suara ledekan.


"Ekhem!! Kayaknya aku salah masuk bumi! Panas sekali!!! " suara Aldo yang sengaja di keraskan.


"Rio ayok kita pergi ke planet lain, siapa tau ada perempuan jomblo di sana, kita bisa menikah langsung tanpa mengundang mereka! " ujar Aldo lagi sambil menarik - narik tangan Rio yang ada di sisinya.


Rio yang di tarik seperti itu merasa kebakaran jenggot meskipun jenggotnya belum tumbuh. "Siala! Pergilah sendiri, siapa tau kamu bertemu alien playboy! " cibir Rio menarik tangannya.


"Hiks... ayoklah,,, lihatlah baby Ethan telah memiliki orang lain... bagaimana kalau kamu saja yang jadi pengganti nya? " muka imut yang di buat berhasil membuat seisi ruangan tersebut merasa campur aduk sedangkan Nara terkekeh melihat hal tersebut.


Ethan yang di panggil seperti itu terasa ingin muntah, lihatlah! Wajah imut Aldo tidak sesuai saat ia melawan musuh dengan begitu kejamnya. "Aku akan merobek mulut kurang ajar mu, Aldo! " tekan Ethan menatap tajam, Nara tak bisa menahan tawanya melihat adegan tersebut.


"Sialan! Aku masih normal! Apakah otak mu bergeser sehingga berpikir seperti itu? Aku akan menjedotkan kepala mu di tembok itu supaya kembali normal lagi! " pekik Rio tertahan, ingin sekali ia menonjok wajah sahabat laknat nya ini.


Reza hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya random nya itu, beginilah kalau mereka sedang bersama, pasti akan selalu mengundang tawa meskipun dalam keadaan terdesak.


"Kalian berdua jangan membuat keributan! Keluar sana! " Vito mendengus menatap keduanya jengah, kemudian melewati mereka berjalan ke arah Nara lalu menyingkirkan Ethan.


"Hey! Jangan mentang-mentang kalian berdua akan jadian jadi aku tidak boleh mendekati adikku? Dih... enak saja, " ucap Vito remeh.


Sherly yang sudah tak tahan melihat hal itu menggeram marah. "Apakah kalian ingin ku kuliti saja satu persatu?! Kalian sangat ribut keluar sana! " ancam Sherly menatap nyalang, semua yang melihat hal itu membuat beberapa lelaki yang tadinya adu mulut kembali terdiam.


"Kamu yang pertama, Al, jangan menyalahkan ku! " kesal Rio merasa meremang dengan tatapan Sherly.


"Siapa suruh kamu menolak ku? Jadi itu salah mu! " balas Aldo tak terima.


"Salah mu! " balas Rio lagi.


"Kamu! "


"Kamu! "


"Kamu! "


"DIAMLAH!! TELINGA KU SAKIT MENDENGAR KALIAN BERDEBAT! " sentak Bima mengambil alih suasana di ruangan ini. Reza hanya serius menonton perdebatan mereka, ia merasa tidak perlu melakukan apapun karena hal ini menjadi hiburan gratis untuknya.

__ADS_1


"Hahahaha,, sudahlah, kalian semua kemarilah, jangan berdebat terus, kalian mau aku tidak sadarkan diri lagi? " tanya Nara dengan wajah serius.


"TIDAK!! " ucap semuanya kompak membuat Nara terjengkit kaget.


"Aishhh kalian mengagetkan ku! " ringis Nara.


"Jangan ngomong sembarangan! " celetuk Reza menatap tajam ke arah adiknya. Ayoklah, Reza sudah cukup hancur melihat adiknya tak membuka mata, bagaimana bisa ia kembali bertahan jika mendengar Nara berbicara seperti itu dengan wajah serius?


"Heheh aku hanya bercanda, " ujar Nara terkekeh.


Suasana di ruangan itu kembali aman seperti semula, mulai dari tingkah Aldo yang terus mengeluarkan perdebatan yang memicu suasana semakin ramai membuat Nara betah akan hal itu, ia terus tersenyum sembari menatap para Kakaknya yang tidak jauh dari sana.


"Kak, aku ingin berbicara sesuatu, " ujar Nara yang mengalihkan semua pandangan menuju dirinya.


"Katakan! " ucap Reza tho the point.


"Apakah kalian sudah memastikan bahwa tidak salah tangkap? " pertanyaan tersebut membuat semuanya bingung.


"Maksudnya? " tanya Ethan.


"Aku merasa hal ini janggal, Kak Ethan pernah bercerita kepada ku tentang Organisasi Scale Bones, bagaimana tingkat kekejaman mereka dalam melakukan yang seperti kemarin, tetapi aku berpikir waktu aku melawan Arres kemarin aku tidak melihat raut wajah kejamnya, yang ada aku melihat matanya yang begitu penuh dengan tekanan, " jelas Nara panjang lebar.


Semua yang mendengar hal itu membulat kan mata, kecuali Bima, ia sudah menduga hal ini setelah pertempuran selesai.


"Sudah aku katakan sebelumnya, bukankah ada yang janggal, lagipula mana mungkin kita secepat itu mengalahkan mereka? Mereka memiliki sistem penyerangan yang begitu mudah kita tebak, tapi Scale Bones yang sesungguhnya sangatlah licik, " sahut Bima menyetujui ucapan Nara.


"Apakah Rain membohongi kita? " mata Sherly memicing setelah mengetakan hal itu.


"Tidak, Rain seperti nya juga di kelabui oleh mereka, " ujar Nara cepat.


"Bukankah sudah jelas bahwa Rain pernah melihat wajah Arres? Lalu kenapa dia merasa bahwa itu adalah Arres? " kini Reza yang ikut berpikir.


"Mungkin ada satu hal yang belum kita ketahui dari sifat Arres, Kak, siapa tau ada hal atau rencana licik yang dapat mengelabui musuh sehingga dengan mudah dia akan hancurkan, " tebak Nara.


"Benar, Reza, berbicaralah dengan Rain, tanyakan sesuatu yang menyangkut tentang Arres selain kematian adiknya, " sahut Vito.


"Baiklah, aku akan menanyakan nya nanti, " jawab Reza


Kembali ruangan begitu hening, jam empat pagi mereka kembali tertidur akibat terlalu lelah karena memikirkan hal yang mengganjal dari serangan tersebut. Begitu pula dengan Nara, ia tertidur begitu terlihat damai dengan suasana yang sunyi tetapi penuh kehangatan ini.


*

__ADS_1


*


Maaf banyak typo đŸ™â˜šī¸


__ADS_2