Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 5


__ADS_3

Hai semua👋 seperti sebelumnya author bilang pada bab 63 kalau beberapa bab telah di ganti ya🙂 karena banyak kesalahan jadinya author beberapa hari sebelumnya tidak pernah update 😖🙏🙏 Jangan lupa kasih dukungan pada bab yang sudah di perbarui ya👍😁🙂🙏🙏


Love semua🥳💗💗💗😉


Oke lanjut yuk😉


Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Ketegangan memicu batin Reano, mendengar kabar bahwa Rain di serang pada jalur yang hendak mereka lewati membuatnya terpaksa menunda pelarian mereka.


Dengan gerakan cepat, ia melihat sebuah tong yang begitu besar, mampu menyembunyikan tubuh mereka bertiga, Reano segera membawa kedua gadis tersebut bersembunyi di balik deretan tong yang ada disana.


"Maaf kan saya, Nona, Komandan Rain di serang oleh musuh di jalan keluar kita, " ucap Reano merasa menyesal, ia tidak bisa dengan mudah membebaskan Nara.


"Tak apa, kita tunggu saja disini, " jawab Nara lemah.


Jennie menyandar kan tubuh nya pada tembok, melepas rasa lelah karena sedari tadi berlari. Bajunya masih terlihat koyak, Reano yang tidak tega melihat baju Jennie seperti itu langsung melepas jaket nya dan memberikan kepada Jennie.


"Pakai ini, Nona, supaya anda lebih nyaman. "


"Terimakasih. " Jennie langsung menerima jaket tersebut dan dengan cepat memakainya.


"Reano, apakah tidak ada jalan keluar selain jalan yang hendak kita lewati? " tanya Nara, ia sudah terlalu lemah dan merasa tidak sanggup untuk bertahan lama.


"Saya tidak tau, Nona, hanya Komandan Rain yang pernah memasuki ruangan ini, tadi Komandan Rain tidak memberi tau jalan lain selain di depan sana, " jawab Reano.


Nara hanya mengangguk memilih memejamkan matanya, Reano yang tidak tega segera mendekat.


"Nona, apakah saya boleh melihat luka anda? " tanya nya sedikit canggung.


"Mn. " Nara mengangguk.


Reano mengambil sebuah sapu tangan yang selalu ia bawa pada saku celananya, beruntung sapu tangan itu sedikit besar dan panjang sehingga mampu melingkar di perut Nara.


"Apakah itu sangat dalam? " tanya Jennie, terlihat raut wajah nya sedikit khawatir.


"Iya, kita harus segera keluar dan membawa Nona Nara kerumah sakit, " jawab Reano.


Sedangkan Nara bersandar di pundak Reano, merebahkan kepalanya sembari memejamkan mata.


"Biarkan saja, mungkin dia sudah terlalu lemah, " ucap Jennie, ia memberanikan diri mengusap pelan rambut Nara.


Ada rasa menyesal dalam hatinya ketika dulu ia membenci Nara, namun kini orang yang ia benci berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Bahkan rela terluka demi janjinya kepada orang tua untuk membawa Jennie dalam keadaan baik - baik saja.


Tetapi meski begitu, kulit nya sedikit lecet akibat cambuk yang ia dapatkan dari Furio, namun itu tidak separah luka Nara saat ini.


***


"SERANG!! "


Suara teriakan menggema dari mulut anak buah Scale Bones ketika melihat salah satu anak buah Jungle Kingdom keluar.


"Ethan, kita harus bergerak cepat dan segera membantu Reza. " suara kencang dari Bima yang sekarang berada sedikit jauh dari Ethan.


"Aku akan berusaha! " jawab Ethan cepat.


Sherly yang berjaga di belakang bangunan, kini ia menatap waspada sambil membuat formasi untuk mengepung yang lain.


"Sherly pastikan semua musuh keluar dari gedung, cepat temukan Nara di dalam,aku tidak yakin akan cepat selesai! " suara Reza kembali terdengar.


"Apa yang kamu lakukan?! " tanya Sherly sedikit terengah-engah.

__ADS_1


"F*ck,, kami di serang disini apakah kamu tidak mendengar ku dari tadi?! Cepat lah jangan bertanya lagi you f*ck Sherly!! " amuk Reza.


Sherly yang mendengar Reza terus mengumpat hanya menghela nafas pasrah. Ingin sekali ia menyumpal mulut pemimpin nya itu.


"Baiklah. "


Sherly membawa beberapa anak buah bersama nya. Sementara yang lain kini sudah terlibat dalam peperangan. Desingan peluru terdengar dimana - mana.


Nampaknya pasukan Jungle Kingdom begitu semangat sehingga tidak ada siapapun yang terlihat segera lumpuh oleh lawan.


"Chen, Shuzi, aku sudah melumpuhkan tiga puluh musuh dalam tiga detik, bagaimana dengan mu?! " suara Zhu terdengar begitu bangga.


"Sh*ttt, bahkan aku baru selesai sepuluh musuh! " kesal Chen.


"Aku baru lima belas, aku tidak menyangka kamu begitu cepat, Zhu, apakah kamu curang? " suara sinis Shuzi terdengar.


"F*ck you,, aku tidak pernah curang, kalian berdua saja yang belum unggul, " cibir Zhu di iringi suara kekehan nya.


Dor!


Dor!


Dor!


"Kalian bertiga! Fokuslah menyerang! " amuk Choi di atas helikopter.


"Hey, Choi, kamu bahkan iri dengan kami, cepatlah turun dan kita bertanding! " tantang Zhu.


"Berani sekali! " suara Choi terdengar menekan.


"Jika kalian masih ribut akan ku ledakkan otak kalian satu - satu! " ancam Eren.


"Ya ya, dasar old man! "


Pasukan Jungle Kingdom tidak sebanyak pasukan Scale Bones, tetapi mereka begitu terlihat dengan mudah melumpuhkan musuh. Rio berada sangat dekat dengan Sherly, mereka secara bersamaan menemukan jalan masuk untuk menemui Nara.


"Scale Bones sungguh licik, bahkan lihatlah pemimpin mereka tidak keluar, " ucap Sherly geram berkali-kali ia menembak ke arah musuh yang hendak menyerang nya.


"Nara di dalam, apa yang harus kita lakukan?! " Vito mendekat ke arah mereka.


"Bagaimana kalau kalian berdua saja yang masuk? Aku akan menyusul kalian nanti. " Sherly memberi usul dengan wajah datar nya.


"Baiklah, aku sudah mengintruksi anak buah untuk tetap waspada, aku yakin Chen dan yang lainnya bisa mengalahkan mereka, " ujar Vito mengambil sebuah belati yang begitu terlihat tajam.


"Benar, mereka tidak di ragukan lagi. "


"Baiklah, biar aku yang menjaga mereka, kalian berdua masuk kedalam, jangan lupa alat komunikasi. " Sherly memberi keduanya keyakinan.


"Baiklah. "


Dua sahabat yang selalu saling menempel tersebut kini mengangguk dan mulai menyusun rencana untuk segera masuk kedalam.


"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. " Sherly melihat banyak pasukan Scale Bones yang masih berada pada pintu masuk.


Sherly mengambil berbagai macam alat dalam tas nya yang tidak lain ialah alat - alat dapur, bahkan sampai serbuk deterjen ia keluar kan. Ia mengambil serbuk korek api yang telah ia siapkan. Dengan kemampuan nya yang begitu tak dapat di ragukan ia telah membuat alat - alat tetas menjadi alat peledak.


"Berapa detik? " Vito melihat apa yang di pegang Sherly.


"Tiga detik setelah aku meleparkan ke arah mereka, " jawab Sherly.


Keduanya mengangguk lalu mereka mengambil ancang-ancang untuk segera menghitung berapa menit kedepan untuk ia dapat masuk kedalam.


"Sekarang! " Sherly meloncat keluar dari persembunyiannya, melempar bom yang telah ia rakit beberapa detik sebelumnya.


Tepat tiga detik seperti yang di ucapkan Sherly terdengar suara teriakan dari arah depan gedung tersebut, ketika pasukan Scale Bones berlari keluar saat itulah asap yang begitu tebal dengan kepingan tembok yang terkena ledakan bom melayang di udara.


Separuh dari mereka bahkan terkena kepingan besar dari tembok tersebut sehingga membuatnya terluka parah, dengan kesempatan yang seperti itu, Rio dan Vito segera melangkah dengan hati - hati untuk masuk kedalam.

__ADS_1


"Kami sudah masuk, " lapor Vito.


"Lanjutkan, aku akan menyusul nanti. " Setelah mengucapkan hal itu Sherly berlari ke arah salah satu anak buah nya yang terlihat sedikit kelelahan akibat di keroyok terus - menerus oleh musuh.


"Ai jia, bertahanlah! " teriak Sherly kepada salah satu laki - laki yang sangat ia percayai.


Ai Jia yang mendengar teriakan komandan nya sedikit merasa lega karena merasa tertolong.


"Hiyaaakkk! " Sherly meloncat dengan belati di tangannya.


Dengan cepat, musuh yang masih mengeroyok Ai Jia tertusuk tepat di leher nya kemudian terjatuh bersimbah darah. Bukan hanya satu tetapi empat orang sudah Sherly tusuk dengan satu belati yang ia punya.


"Terimakasih, Miss. "


Ya, hanya Ai Jia yang memanggil Sherly dengan sebutan Miss, sementara anak buah yang lainnya hanya memanggil Sherly dengan sebutan Komandan.


"Luka mu. " Sherly melihat lengan Ai Jia yang sobek dan terus mengucurkan darah.


"Saya masih bisa,Miss, ayok lindungi yang lain, " ucap Ai Jia dengan kembali semangat, Sherly mengangguk dan mengikuti langkah Ai Jia.


***


Suara baling - baling helikopter kini masih terdengar, dengan setianya Aldo memantau keadaan lewat atas, tentu saja dengan bantuan Arzan yang selalu menggunakan teropong.


"Aldo, Reza di serang lewat belakang, apakah kamu bisa membantu nya?! " suara Bima kembali terdengar.


"Aku sedang menuju kesana, " jawab Aldo.


"Baiklah. "


Setelah laporan tersebut, Aldo langsung berteriak. "ChiFeng, siap kembali menyerang, kita akan membantu Reza! "


"Siap, Komandan! "


Baru saja mereka hendak mempercepat penerbangan helikopter terdengar dari belakang pula satu helikopter yang mendekat membuat Aldo sedikit panik.


"Sh*ttt, ada yang mengejar kita! " Aldo melihat sekelilingnya dengan waspada namun ia membelalakkan mata ketika melihat siapa yang ada dalam helikopter tersebut.


"Komandan Aldo! " teriaknya.


"F*ck you, Yeru! Kenapa kalian datang sekarang! "


Ya, kali ini Yeru bersama dengan Qui, awalnya mereka tidak ikut karena menjaga Mansion, tetapi mereka tidak tahan untuk berdiam diri saja di tempat biasa, terlalu malas menunggu akhirnya mereka berdua memilih untuk menyusul sendiri.


Yeru dan Qui yang mendengar Komandan nya itu hanya menyeringai sembari memakai rompi nya.


"Kita bergerak sekarang?! " tanya Yeru sedikit berteriak.


Samar - samar terlihat Aldo mengangguk. "YiFeng, percepatan helikopter! " teriak Aldo kepada pilotnya.


"Siap! "


Helikopter terbang begitu cepat, udara yang begitu terasa berhembus kencang mengibas rambut Aldo yang selalu memantau ke arah bawah, pertempuran terjadi begitu sengit, tetapi pasukan Jungle Kingdom begitu mampu mengimbangi mereka.


"Yeru, lihatlah, apakah Komandan Aldo semakin tampan? " Qui yang sedari tadi terdiam kini terfokus melihat Komandan mereka.


"Seandainya aku perempuan, aku akan menyukai nya, " kekeh Yeru.


"Hmm... bagaimana reaksi para wanita melihat Komandan Aldo seperti ini? " Qui semakin merasa geli terhadap angan nya.


"Ck.. dasar bodoh! Lihatlah kebawah, berhenti memikirkan hal itu! " Yeru menatap sinis kepada sahabatnya itu.


Qui yang mendengar hal itu mengerucutkan bibir kesal tetapi melihat ke arah bawah tempat pertempuran terjadi.


*


*

__ADS_1


Maaf banyak typo🙏☹️


__ADS_2