
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Suasana di sebuah arah terpencil dari hutan pinus semakin membuat anak buah yang mengikuti Aldo tetap waspada, karena bagaimanapun musuh bisa saja ada yang bersembunyi dan menyerang secara tiba - tiba.
Bukan mereka tidak tau mereka akan menyerang dari atas menggunakan apa.
Suara baling - baling burung besi terdengar dari arah kejauhan, jumlahnya cuma satu karena membawa helikopter ke tempat seperti ini memang sedikit tidak pantas, tetapi ada sebuah tempat yang begitu luas untuk pelandasan nya.
"Komandan Aldo memang luar biasa, semuanya langsung bergerak cepat, " ujar salah satu anak buahnya.
"ChiFeng, kamu selalu menyanjung ku, " kekeh Aldo melirik anak buah nya.
"Komandan Aldo, apakah kita langsung menyerang setelah kita naik helikopter? " tanya Choi, rupanya Choi juga termasuk anak buah khusus Aldo dalam penyerangan atas.
"Benar, kita tunggu instruksi dulu dari Rain, setelah itu kita langsung menyerang. "
"Siap, Komandan! " jawab mereka serempak.
Tak lama kemudian burung besi tersebut telah sampai di tempat pelandasan yang telah di tandai oleh Aldo, suara ribut dari baling helikopternya hampir saja memecah gendang telinga bagi yang setiap orang yang mendengar nya.
"Cepat, kita tidak banyak waktu! " tegas Aldo
"Siap! "
"Arzan, aku percaya kamu bisa melihat situasi, pakai ini. " Aldo menyerahkan sebuah teropong kepada Arzan.
"Galen, bantu Choi untuk menyiapkan bazooka, aku dan ChiFeng akan menembak siapapun yang keluar dari tempat itu, f*ck Scale Bones! Kalian akan mati tak tersisa! " Aldo kemudian mengambil senjata dan mengalungkan butiran peluru di lehernya.
"Hm, baik! " angguk Galen cepat, ia melangkah ke arah Choi.
Sejujurnya kedua Putra dari Jonathan ini tidak pernah sama sekali bermain dengan alat senjata berbahaya seperti ini, itu membuatnya Galen sedikit bergemetar ketika menyentuh tubuh bazooka yang akan ia gunakan untuk meledakkan area persembunyian musuh.
"Tuan jangan gemetar, biasa saja anggap saja ini mainan, " kekeh Choi menatap Galen.
"Bagaimana kamu bisa seenteng itu menganggap bazooka mainan? " dahi Galen berkerut.
"Tentu saja itu saya anggap mainan, Tuan, karena setiap ada perang seperti ini saya selalu paling utama yang di andalkan oleh Komandan Aldo selain Tuan Reza, " jawab Choi bangga.
__ADS_1
"Apakah Reza sering menggunakan ini juga? " tanya Galen, selama ini ia tak pernah sedikitpun mengetahui kehidupan adik nya itu, entah bagaimana Reza bisa masuk dalam dunia yang begitu di penuhi dengan aura kegelapan.
"Kalau saja itu mendesak, dan satu lagi, Tuan Reza selalu menyiksa musuh dengan cara mengiris kulit dan dagingnya sampai habis, " jelas Choi menggebu-gebu.
Galen yang mendengar itu terasa sulit menelan salivanya, bagaimana adik nya bisa sekejam itu?
"Parah! " desis Galen.
"Hm.. cukup parah, selain menghancurkan kepala musuh hanya itu yang paling kejam. "
Kembali setelah menceritakan betapa kejamnya pemimpin mereka, keduanya kembali fokus untuk menyiapkan bazooka.
Helikopter membawa rombongan pasukan Jungle Kingdom ke arah yang telah Aldo perintahkan, ketika memasuki Helikopter ia langsung melihat banyak sekali bazooka tersedia disana, tentu saja mereka membeli senjata tersebut dengan bayaran yang sangat mahal kepada orang kepercayaan Jungle Kingdom.
"Tes... Aldo,,, apakah kamu sudah siap? " tanya Reza di seberang.
"Jarak sepuluh meter kami telah sampai di tempat persembunyian musuh, Choi akan menyerang halaman depan! " Aldo melapor.
"Reano! Kembali lihat keadaan! " terdengar perintah dari Rain.
"Siap! "
Semua pasukan Jungle Kingdom telah menyebar, saat ini Sherly berada di belakang bangunan. Bersama anak buah nya yang lain hanya dialah satu - satunya perempuan yang menjadi komandan terpercaya di antara pasukan Jungle Kingdom.
"Setelah Choi melempar bazooka bersiap lah untuk mengepung, posisi jarak aman, jangan terlalu gegabah, " ucap Sherly mengintruksikan kepada anak buah nya.
"Siap! " jawab semuanya serentak.
***
Sedangkan di tempat Nara kini sepuluh lelaki yang telah bertelanjang dada mendekat ke arah nya, sungguh ia sangat muak dengan keadaan seperti ini. Ia tidak bisa melakukan apa - apa, darah di punggungnya terus saja merembes keluar, basah sudah baju yang di kenakan Nara.
Jennie yang melihat Nara begitu pucat, bukan- bukan pucat karena takut, Nara pucat karena terlalu banyak kehilangan darah.
"Nara,, bertahanlah,, aku tau kamu itu kuat, kamu tidak lemah... " suara lirih Jennie membuat Nara sedikit tersenyum.
"B*ngs*t kalian!! Enyahlah! " Jennie memberontak ketika salah satu menyentuh nya.
Sedangkan Nara masih memandang tajam ke arah lelaki yang akan menyentuh tubuh nya. "Sedikit saja kamu sentuh tubuh saya ingatlah! Kedua tangan mu akan terpotong! " desis Nara tajam.
Arres yang mendengar itu hanya tertawa terbahak-bahak. "Kamu terlalu percaya diri gadis kecil, hahahahah,,, tidak ada siapapun yang menolong mu, kalaupun Kakak tersayang mu kesini ia pasti sudah terlamb_ " baru saja Arres akan mengatakan bahwa Reza terlambat terdengar sudah ledakkan yang begitu dahsyat, bahkan sampai ruangan bawah tanah itu terguncang hebat, beberapa debu menjatuhi kepala Nara.
Rupanya Reano telah berteriak memberikan instruksi untuk meluncurkan bazooka dari arah pintu rahasia.
__ADS_1
"F*ck!!! Cepat keluar!! Ruangan akan runtuh!!! " teriak Furio.
"Apa?! Bagaimana bisa?! " teriak Arres murka.
Baru saja Furio hendak menjawab, salah satu anak buah berlarian ke arah nya. "Tuan, di luar mereka telah mengepung kita! " ucapnya terengah-engah.
"Siapkan senjata kalian! " Arres segera berlari keluar bersama anak buah yang lainnya, beberapa lelaki yang tadi bertelanjang dada segera ikut keluar.
"Nara... apakah ini akan runtuh? " Jennie terlihat panik tetapi Nara hanya terdiam.
"Nona! " Reano berlari ke arah Nara kemudian melepas borgol yang mengikat pergelangan tangan Nara, setelah itu beralih ke arah Jennie.
"Ayok cepat keluar, kita ada jalan keluar dari sini, " ucap Reano, Nara tidak kuat berjalan tetapi ia harus memaksakan tubuh nya ia tak boleh terlihat lemah.
"Nara, aku akan membantumu, " ucap Jennie menawarkan dirinya.
"Tidak, cepatlah berjalan ikuti Reano, saya bisa sendiri, " jawab Nara, ah.. sungguh ia sedang keras kepala saat ini.
Kemudian ia menatap ke arah lantai dan melihat benda kecil miliknya, mungkin saat benda kecil itu terlepas tidak ada yang melihatnya. Ia dengan cepat mengambilnya.
"Ayok cepat keluar, Tuan Reza akan segera sampai, " ucap Reano.
"Baiklah. " keduanya megangguk.
***
"Apakah ini benar jalannya? " tanya Reza menatap Rain.
Keduanya hampir sampai ke arah depan pintu rahasia yang akan segera di lewati oleh Reano berserta adiknya.
"Benar, Tuan, kita harus cepat, ledakan bisa saja meruntuhkan ruangan itu, " jawab Rain.
"Baiklah. "
Keduanya segera bergerak cepat sembari melihat keadaan sekitar, saat ini Reza sudah tidak sabar untuk meratakan anggota Scale Bones. Ia sangat murka ketika melihat salah satu Video adiknya yang sedang di siksa dengan begitu kejamnya.
Beda halnya dengan Bima, ia telah berada tepat di sebelah kiri bangunan tersebut, ia melihat beberapa anak buah Scale Bones telah keluar, ia dapat menebak setelah ledakan itu pasti pemimpin nya telah memerintah semuanya untuk bersiap.
"Semuanya telah keluar, bersiaplah menyerbu! " Bima bersama yang lainnya mulai menarik pelatuk.... dan....
*
*
__ADS_1
Tinggalkan jejak ❤️