
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Setelah kepergian Reza sore itu, Aldo, Bima dan juga Sherly bersiap untuk kembali ke Mansion Jungle. Malam yang begitu terlihat tenang dan sunyi, mereka berjalan tanpa ada rasa takut sedikitpun, dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana sikap Nara ketika tau nanti Reza tidak akan kembali untuk beberapa hari?
Sherly berjalan di dekat Bima, udara yang terasa begitu dingin sedikit membuat tubuh ringkih nya menggigil, Bima yang melihat hal itu segera melepas jaket hitam nya dan menyampirkan nya di pundak Sherly.
"Pakai lah, " ucapnya, Sherly yang di perlakukan seperti itu merasakan detak jantung nya berdebar, ia ingin menolak tetapi merasakan udara yang begitu dingin ia harus menyimpan sedikit tidaknya rasa gengsi dalam dirinya.
"Terimakasih, " ucap Sherly datar sambil terus berjalan.
Sedangkan Aldo hanya memutar bola mata malas, sungguh dirinya sial di antara kedua insan yang sedang berada dalam fase saling jatuh cinta, bagaimana nasib selanjutnya nanti ketika Nara dan juga Ethan bergabung? Sungguh, pikiran Aldo saat ini ia akan menjadi nyamuk pengganggu di antara para pasangan ini.
Aldo terus berjalan tak lagi memperdulikan mereka, dengan di temani senter HP miliknya sudah cukup untuk berjaga-jaga supaya tidak salah injak.
***
Lama berjalan di tengah hutan, kini mereka telah sampai di Mansion Jungle, terlihat para anggota sedang berkumpul seperti kebiasaan mereka ketika sudah malam tiba, melihat kedatangan para Komandan mereka memberi hormat.
"Selamat datang, Komandan, " ucap Chen menunduk di ikuti oleh yang lain.
"Dimana Ethan dan juga Nara? " tanya Sherly.
"Didalam, kami tidak melihatnya keluar dari tadi, " jawab Chen.
Sherly mengangguk, Choi yang juga ada disana tidak melihat kehadiran Reza pun bertanya. "Komandan, dimanakah Tuan Reza? " tanya nya.
"Pergi karena ada urusan, mungkin tidak akan kembali dalam beberapa hari. " Aldo yang menjawab, tentu saja ia tidak akan repot menceritakan hal ini kepada para anggota lainnya.
"Kalian lanjutkan saja kegiatan malam ini, kami akan masuk kedalam, " ujar Bima sembari tersenyum tipis ke arah Chen dan juga Choi.
"Baik, Komandan. " keduanya kemudian langsung ikut bergabung kembali bersama yang lainnya.
Didalam Mansion, Nara terlalu merasa bosan karena tidak ada kegiatan yang membuatnya merasa betah, di tambah dengan bekas luka yang masih belum terlalu kering, tetapi beruntung ia selalu ada buku untuk di baca.
"Bacanya nggak capek apa? " Ethan yang baru selesai mengupas buah apel menatap ke arah kekasihnya itu.
"Aku bosan...." jawab Nara menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku akan kembali ke negara asal beberapa hari lagi, " ucap Ethan membuat Nara langsung menutup bukunya.
"Beberapa hari? "
"Empat hari lagi, " jawab Ethan yang faham kebingungan Nara.
Raut wajah Nara seketika berubah, tiba - tiba merasakan sebuah kesedihan dalam dirinya, ia baru saja menerima lelaki itu sebagai kekasihnya dan akan pergi tinggal empat hari lagi?
"Kenapa tidak di mundurin aja? " ucap Nara pelan tetapi masih di dengar oleh Ethan.
"Kemari, " ucap Ethan melepas piring kecil yang berisi potongan buah apel itu.
__ADS_1
Nara hanya bisa menurut dan mendekat ke arah Ethan, Ethan langsung menarik tangan Nara hingga ia bisa memeluk tubuh sang kekasih.
"Aku akan kembali lagi secepatnya, Sayang, " ucap Ethan lembut sembari merapikan rambut Nara yang berantakan.
"Huh... terserah aja lah... " jawab Nara cuek. Ia merasa tidak rela, tetapi ia juga tidak boleh egois.
Tepat saat itu juga, Aldo, Bima dan juga Sherly datang.
"Nara!!! " seru Sherly berlari ke arah Nara dan langsung memeluk tubuh gadis itu.
"Kalian sudah kembali? Kenapa lama sekali!! " dengus Nara.
Aldo terkekeh. "Kami sengaja berlama-lama, ada beberapa hal yang di urus juga. "
"Kalian sudah makan malam? " tanya Bima sembari duduk di dekat mereka.
"Baru selesai, " jawab Nara.
Ethan yang melihat tidak ada Reza di antara mereka pun bertanya. "Reza kemana? "
Bima dan juga Aldo saling tatap, lalu sama - sama menghela nafas sebelum menjawab. "Reza pergi karena ada urusan, mungkin beberapa hari tidak kembali, " jawab Aldo.
Nara terkejut. "Apa?!! Lalu kenapa Kak Reza tidak memberitahu ku?! " pekik Nara.
"Mungkin terlalu mendesak, dek, makanya tadi Kak Reza juga tidak lama di Markas, " jawab Bima lembut.
Mata Nara sudah berkaca-kaca, seperti yang sudah di duga oleh Bima dan juga Aldo, Nara tidak akan merasa biasa jika sang Kakak tidak ada di dekat nya.
"Aku masuk! " Nara langsung berlari ke arah kamarnya.
"Nara! " panggil mereka tetapi tak di gubris sama sekali oleh Nara.
"Kenapa tiba - tiba? " Ethan merasa ini adalah sesuatu hal yang salah, biasanya Reza akan segera memberitahu jika ia akan pergi.
"Reza sudah memutuskan untuk mencari tahu tentang semuanya tanpa melibatkan Nara, kami sudah berbicara bagaimana dengan Nara nanti, tetapi Reza bilang dia akan bersama kita karena dia takut jika Nara ada disisi nya maka musuh akan dengan mudah menargetkan nya, " jelas Aldo.
"Aku akan kembali ke Korea tinggal empat hari lagi, kenapa Reza harus pergi? "
"Nanti kita beritahu, lagipula Reza juga belum menyelidiki tentang ledakan di perusahaan keluarganya itu, " sahut Bima.
"Lalu dia pergi sama siapa? "
"Dia membawa Vito dan juga Rio, itupun sudah cukup bila ada hal mendesak juga, kemampuan mereka juga tidak kalah dengan kita, " jawab Aldo.
"Benar - benar nekat, semoga dia baik - baik saja sampai kembali. " semuanya mengangguk mendengar ucapan Ethan.
***
Didalam kamar, Nara merasa sedikit kesepian, bisa - bisanya Kakak nya yang tadi mengabaikan pergi meninggalkannya begitu saja, tak terasa air mata jatuh membasahi pipi mulus nya.
"Hiks... kenapa Kak Reza jahat sekali tidak memberitahu ku apapun? " gumamnya, sungguh sepi, jika ia menangis seperti ini Reza akan mengusap kepalanya menemani nya hingga tertidur.
"Kak Reza... hiks... "
Ia tidak sanggup jika tidak terus mengikuti sang Kakak, karena Reza satu - satunya tempat ia begitu manja, semenjak ia berada di rumah sakit, Reza selalu menemani nya dan tak pernah sama sekali meninggalkan nya.
__ADS_1
Ingin sekali ia menghubungi Kakak nya itu, tetapi teringat akan Ponsel nya yang jatuh ketika di ajarkan balap ketika di disini.
Sial!
Hanya ucapan itu saja yang lolos dari mulut Nara, setelah itu ia memilih membaringkan tubuh nya.
***
Reza yang sedang mengendarai mobil merasakan sesak dalam dirinya, ia rindu sang adik, ia ingin sekali memeluk tubuh adik nya itu sebelum pergi, tetapi ia tidak bisa melakukan hal itu. Ikatan saudara di antara keduanya begitu kuat, ia bisa merasakan kesedihan Nara walaupun sedang berada di kejauhan.
"Kamu kenapa, Za? " tanya Rio melihat Reza yang tidak fokus menyetir.
"Biar aku saja yang nyetir, " timpal Vito yang faham dengan keadaan.
Mau tak mau, Reza menghentikan mobilnya dan segera berpindah posisi.
"Rio, kira - kira Nara sudah tidur nggak ya? " tanya Reza lirih.
Mobil kini sudah mulai berjalan, Rio yang mendengar hal itu pun faham arah pembicaraan Reza.
"Kenapa tidak menelpon saja? "
"Huh... ku pikir tidak mengganggu, " jawab nya.
"Kabari saja, Za, bilang kalau kamu ada urusan siapa tau Nara juga akan ngertiin kok, " sahut Vito.
"Baiklah, aku akan menghubungi Bima. "
Rio dan Vito yang tadi mendengar penjelasan dari Reza faham akan situasi yang di alami oleh sahabatnya itu, keduanya pun berjanji akan segera menuntaskan seluruh masalah ini bersama-sama hingga kembali dengan cepat.
"Hallo, Bim, " ucap Reza ketika telpon tersambung.
"..... "
"Bagaimana? Apakah Nara sudah tidur? "
"......"
"Huh... aku sudah tau akan terjadi hal ini, bilang saja aku akan segera kembali, " ucap Reza menghela nafas.
"......"
"Ya, kami akan segera sampai. "
"...... "
"Mn, jangan lupa ingatkan Nara untuk makan, aku takut dia tidak ingin makan. "
"...... "
"Baiklah... selamat malam... "
Telpon pun terputus.
"Bagaimana? " tanya Vito.
__ADS_1
"Berharap semuanya baik - baik saja, " jawab Reza.
Vito mengangguk, mobil pun terus berjalan menyusuri jalan raya yang terlihat begitu banyak pengedara, malam ini begitu terlihat macet mungkin saja orang - orang yang baru pulang dari kerjaan nya. Reza tidak ambil pusing, ia memilih memejamkan matanya sementara sebelum sampai di Mansion William.