
Bismillah π€²
Happy Reading π₯³π
*
*
Suara kicauan burung menghiasi suasana pagi, bagi para olahragawan ini adalah hari yang baik, suasana begitu terlihat cerah dan terasa sejuk. Tentu saja mereka begitu bersemangat menjalan rutinitas nya, berlari keliling komplek perumahan, hingga bertemu dengan banyak orang yang sedang melakukan rutinitas yang sama.
Mansion William, dimana seluruh keluarga kini berkumpul bersiap melepas Nara untuk masuk kedalam kawasan musuh. Semenjak semalam para anak buah telah di berikan tempat khusus oleh Nara, ia memiliki salah satu perumahan yang cukup sederhana di dekat sana, dan itupun hanya dirinya yang tau.
Reza sempat bingung bahwa setiap pagi ia melihat rumah itu kosong, ternyata itu adalah salah satu kediaman milik Nara. Dan tentu yang memberikan itu dulu ialah Nenek Anggie, awalnya Nara akan menetap disana namun Nenek Anggie melarang karena takut sang cucu tidak bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari orang lain.
Saat ini, semua pasukan telah siap menuntun jalan untuk Nara, tentu saja Reza tidak sebodoh itu untuk membiarkan sang adik pergi sendirian. Jonathan ikut bersama sang Istri dan tidak lupa dengan Arzan dan Galen.
"Nara, pakai ini, " ujar Sherly memberikan sebuah penyadap suara.
"Buat apa? "
"Kami tidak akan membiarkan mu merasa kesepian selama disana, " ujar Sherly, matanya memerah menahan tangis.
"Lily, Please... kalian akan selalu ada untuk ku, kalian yang terbaik. " Nara langsung memeluk tubuh Sherly.
"Aku janji kalau sampai kamu terluka disana aku tidak akan segan - segan menebas leher mereka satu persatu. "
Nara tersenyum mendengar ucapan dari perempuan yang sudah ia anggap sebagai Kakak nya sendiri. "Tentu saja, jangan biarkan mereka lepas, " kekeh Nara.
Ketika sedang asyiknya bercanda, Reza datang menemui sang adik. "Sudah selesai? " tanya nya.
"Aku akan memakai sendiri, kalian tunggu di luar ," ucap Nara, ia masuk kedalam rumah dan mulai memasang penyadapan suara tersebut di balik bajunya.
Setelah selesai ia segera keluar menemui Kakak nya dan yang lain.
"Aku sudah selesai, lebih baik kita segera berangkat, " ujar Nara.
Semua menganggukkan kepalanya, Reza berjalan duluan ke arah mobil, dan mobil para pengawal kini mengikuti dari arah belakang.
"Aku pakai motor saja, Kak, supaya cepat, " ucap Nara.
"Jangan, dek, kita sama - sama saja, itu akan bahaya kalau kamu sendirian, " ujar Reza.
"Baiklah. "
Jonathan beserta Istri dan kedua putra kesayangannya kini satu mobil, Reza beserta tiga sahabat lakinya menaiki mobil yang sama, sedangkan Sherly mengomando dari arah belakang bersama dengan Vito dan Rio.
"Jalan semuanya! " ucap Reza melalui alat komunikasi kecil di telinganya. Barisan mobil kini bergerak namun baru saja akan sampai gerbang sebuah motor menghalangi.
"Kenapa berhenti? " tanya Bima.
"Itu Rain, " ujar Nara antusias yang langsung di tatap tajam oleh Ethan.
Sang empu yang di tatap seperti itu langsung terdiam dan menunduk. Rain mengetuk jendela mobil Reza.
"Kenapa kamu bisa kemari? " tanya Reza.
"Tuan, maaf boleh kah saya ikut menemani anda? " tawar Rain.
"Darimana kamu tau kami akan pergi? " tanya Aldo.
__ADS_1
"Salah satu pasukan memberitahu saya kalau salah satu keluarga William di tangkap oleh Arres, dia juga termasuk anak buah yang saya komando dulu, jadi saya cepat - cepat kemari ingin memastikan, " jawab Rain.
Reza menatap Bima dan di balas anggukan oleh nya. "Mungkin saja dia bisa membantu, " ucap Bima.
"Baiklah, kalau kamu tau jalan kamu bisa tunjukkan, supaya kami tidak melihat peta, " ucap Reza.
"Siap, Tuan! " ucap nya menunduk hormat, ia kembali ke arah motor miliknya.
Sedangkan di mobil kedua, dimana mobil tersebut di kendarai oleh Jonathan beserta keluarganya mengerutkan kening karena mobil berhenti, dan ia melihat ada sebuah motor berhenti tepat di depan mobil Reza.
"Siapa dia, Mas? " tanya Hanna.
"Itu anak yang kemarin tinggal disini, " jawab Jonathan.
"Kenapa dia datang kemari? "
"Aku juga tidak tau, nanti kita lihat saja, " ucap Jonathan.
Sementara Arzan dan Galen fokus dengan pikiran masing-masing, masalah ini terlalu berat bagi keduanya. Masalah perusahaan yang belum sempat di bahas akibat ledakan terjadi kini di tambah dengan hilangnya sang adik. Bahkan menemukan salah satu hal mengganjal pada saudara ketiganya membuat Arzan semakin penasaran.
"Zan, menurut mu Reza kerja apa? Dan darimana dia dapat pasukan elit seperti ini? " Galen ikut penasaran dengan pekerjaan yang di bangun oleh Reza.
"Aku tidak yakin bahwa tebakan ku benar, Galen, aku juga tidak tau seperti apa dunianya, " jawab Arzan.
Galen mengangguk, teringat ketika ia sering bertengkar dengan Reza karena masalah kecil bahkan tak lupa Reza begitu di benci oleh keluarganya termasuk si bungsu Gadis Adonara.
Sebenarnya Galen hanya mendengar cerita dari kedua orang tuanya kalau Nenek di bunuh oleh Nara karena sengaja menaruh obat yang salah, di sisi lain Galen dapat melihat bahwa dulu Nara begitu sayang dengan Nenek Anggie.
Yang jadi pertanyaan dalam benak Galen ialah, kalau Nara yang membunuh Nenek Anggie apakah dari kecil ia tidak mengingat bahwa Nenek Anggie lah yang menyembuhkan kebutaan pada mata Nara.
Dan apa salah Nenek Anggie sehingga Nara membunuh nya? Apakah Nara hanya berpura -pura berbakti kepada sang Nenek?
"Zan, selesei urusan ini aku mau bicara, " ucap Galen perlahan yang hanya di dengar oleh Arzan.
*
Ia menatap sekelilingnya, mengingat wajah yang selalu membuatnya merasa bahagia, terutama sang Kakak yang sedang menyetir. Teringat bahwa ia sering menjahili, bersikap manja, bahkan sering membuat Kakak nya marah, perlahan Nara tersenyum pilu mengingat kejadian itu.
"Kenapa? " tanya Aldo menatap Nara.
Nara menoleh ke samping. "Tidak ada, hanya sedikit gugup, " ucap Nara jujur.
Ethan memegang kedua tangan Nara, ya saat ini Nara berada di tengah antara Aldo dengan Ethan, sedangkan Bima berada di depan dan di samping Reza.
"Jangan takut, kita semua ada disini, dan aku janji akan melindungi mu, " ucap Ethan mengelus lembut puncak kepala Nara.
"Terimakasih, Kak, kalian semua adalah sumber kekuatan ku, " ucap Nara tersenyum.
"Dan kamu adalah sumber kekuatan kami, jika kamu tidak ada pasti keadaan Mansion Jungle akan suram, " tukas Aldo.
"Benar apa yang di katakan oleh Aldo, semua keceriaan di Mansion Jungle adalah berkat dirimu, dek, coba saja dulu yang ada semua anak buah pada kaku, hahahaha. " Bima sedikit terbahak membuat Reza menatap nya.
"Memangnya kalian tidak sering berbicara atau gimana gitu? " tanya Nara.
"Tentu saja, tapi kalau Reza sudah datang suasananya beda, suasana seakan-akan menjadi gelap gulita karena sifat dingin si raja hutan! " kembali ucapan Bima membuat yang ada di mobil tertawa kecuali Reza.
"Kak Reza jangan seperti itu, bisa - bisa para anak buah tidak akan fokus dengan kegiatan mereka, " kekeh Nara.
"Sebab itu kamu harus selamat setelah ini. " raut wajah Reza berubah dingin.
__ADS_1
Nara menghela nafas perlahan, ia tidak tau harus menjawab apa, didalam mimpinya ia melihat dirinya yang telah terkena tembak bersama dengan Jennie, lalu apalah ia bisa selamat setelah itu?
Aldo menepuk pundak Nara mencoba menenangkan gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. "Jangan takut, kalau kamu terluka akulah yang paling pertama mencincang tubuh orang yang menyentuh mu, bahkan aku akan meledakkan bom di depan matanya sendiri, " ucap Aldo tidak main-main.
"Kak Aldo memang yang terbaik..." Nara bersandar di puncak Aldo mencari kenyamanan seperti berada di pundak Reza.
Ethan yang melihat itu tersenyum, kembali mengelus rambut Nara. Ia tidak tau sampai mana waktu akan membawanya dengan perasaan yang terus menginginkan nya, namun di satu sisi ia pula tidak yakin akan bersama Nara, apakah itu hanya perasaan ataukah kenyataan?
Mobil terus melaju, menempuh perjalanan yang telah masuk ke area hutan yang cukup lebat. Orang awam pasti tidak akan berani melewati wilayah ini, karena ketika sudah memasuki area paling dalam akan terlihat sangat gelap meski hari masih pagi.
Namun hal itu tidak membuat pasukan Jungle Kingdom merasa takut, bahkan mereka sangat bersemangat untuk hari ini, dimana sebentar lagi mereka akan kembali berperang setelah sekian lama hanya melakukan rutinitas yang sangat membosankan di Mansion Jungle.
Bagi mereka, yang paling seru ialah bertempur secara nyata akan semakin melatih otot-otot pada tubuh mereka. Mereka tidak peduli kalau nyawa adalah taruhannya dan yang ada di pikiran mereka adalah hanya kemenangan.
*
Satu jam dalam perjalanan menuju sebuah tempat yang di tunjukkan oleh Rain, mobil pasukan Jungle Kingdom telah berhenti pada sebuah bangunan yang terlihat terbengkalai, suasana di sekitar sana terlihat sunyi dan sepi.
Rain segera turun dari motor, begitu pula yang lainnya. Kemudian Aldo mendekat ke arah nya.
"Kenapa kita berhenti disini? Ini seperti bukan tempay yang sudah aku lacak, " ujar Aldo sedikit curiga terhadap Rain.
"Apakah kamu berbohong?! " Reza memicingkan matanya.
"Tidak, Tuan, saya tidak berbohong, tempat ini adalah tempat markas saya dulu bersama para anak buah di bawah komando saya, dan tempat markas Scale Bones kurang dari sepuluh meter di dekat pohon besar itu, kalian tidak bisa langsung masuk kesana dengan mobil, " jelas Rain dengan tenang.
"Lebih baik ikuti saja dulu sarannya, Kak! " seru Nara dari dalam mobil.
"Disini ada banyak jaringan internet untuk mudah melacak lokasi yang telah Tuan tentukan, " sambung Rain.
"Baiklah, aku akan meletakkan kotak hitam ku di ruangan mu untuk sementara, dan aku akan segera menyalakan alat komunikasi dan pelacak selanjutnya, " ujar Aldo setuju.
Rain mengangguk, ia masuk segera masuk kedalam membiarkan yang lain menunggu. Dan tak lama kemudian ia keluar sambil membawa sepuluh anak buah nya keluar, terlihat begitu sangar dengan senjata yang terus melekat di tubuh mereka.
"Selamat datang, Tuan Muda. " secara anak buah Rain menunduk memberi hormat kepada Reza yang ada disana.
"Hm. " Reza mengangguk datar.
Kemudian Aldo berguman. "Ternyata Rain punya anak buah juga, tidak di sangka begitu patuh terhadap mantan tangan kanan seorang pemimpin Scale Bones. "
Reza hanya diam, kemudian setelah itu Rain segera mempersilahkan mereka masuk.
""Semuanya, kita akan beristirahat disini sementara untuk melanjutkan perjalanan! " seru Reza.
Semua anak buah turun dari mobil masing-masing, begitu pula dengan Jonathan dan keluarganya. Semua mendekat ke arah Reza.
"Kenapa kita berhenti di bangun tua sialan ini?! " Hanna tidak bisa menjaga ucapannya setelah keluar mobilnya.
"Reza! Jangan bertingkah bodoh sampai kamu melarang saya untuk menelpon polisi! " kini Jonathan menatap penuh amarah.
"Jangan membawa polisi, karena polisi itu tidak akan berguna setelah menghadapi penculik Putri anda, mungkin saja polisinya sudah di cincang duluan, " kekeh Rain menyeringai.
"Sudah, tidak ada gunanya berdebat disini, Rain cepat bawa kita semua masuk, kita akan diskusi rencana baru lagi, " ujar Reza tenang.
"Siap, Tuan. "
Nara melangkah disisi Aldo dan Ethan, sedangkan Reza bersama dengan Rain. Seluruh rombongan Jungle Kingdom kini telah berbaur dengan anak buah Rain. Mereka terlihat begitu akrab tanpa ada kecurigaan sedikitpun dalam hati mereka.
*
__ADS_1
*
Jangan lupa hadiah nya heπππππππ