
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Suasana di sebuah ruangan yang di penuhi dengan berbagai macam layar monitor, dua seorang anak buah terfokus melihat ke arah layar yang ada di depannya. Jari bergerilya kesana-kemari memencet tombol keyboard mencari sebuah informasi untuk di tunjukkan kepada Tuannya.
"Kamu sudah menemukan nya? " tanya Keno menatap temannya itu.
"Hmm.. cukup informasi yang menarik, Tuan Arres pasti sangat senang dengan hasil kerja kita, " ujarnya membanggakan dirinya.
"Apa kamu yakin sudah benar? " Keno nampak ragu.
"Tentu saja, aku sudah lebih profesional bekerja di bidang seperti ini, " jawab Lue.
"Baiklah, kalau sudah selesai cepat kumpulkan dan kita akan segera memberi tahu Tuan Arres, " ujar Keno.
"Oke! "
Dua belas menit mereka berkutat di ruangan tersebut akhirnya semua informasi yang akan di tunjukkan kepada Tuannya kini telah di temukan, mereka mengumpulkan berbagai macam informasi tersebut, tak lupa memeriksa apakah ada sesuatu yang tertinggal.
Setelah semuanya siap kini kedua anak buah Organisasi besar tersebut keluar menuju ke arah ruangan Tuannya.
"Kalian sudah menemukan? " tanya Arres ketika melihat kedua anak buahnya masuk.
"Benar,Tuan, " jawab Lue.
"Segera keruangan! " titahnya.
Pemimpin Organisasi Scale Bones beranjak dari kursi kebesaran nya. Ia berjalan di depan di ikuti oleh anak buahnya.
*
Disisi lain, Mansion Jungle Kingdom telah bersiap mengantar Rain ke tempat rumah aman yang telah di berikan oleh Reza.
Reza telah menyiapkan dua rombongan pengawal untuk menjaga kepergian mereka, awalnya ia tidak perlu menyiapkan banyak pengawal, namun karena mimpi sang adik yang masih dalam bentuk peringatan, ia harus selalu siap ketika akan keluar.
"Nara menunggu disini, aku titip sama kalian, " ujar Reza menatap sahabatnya.
"Hati-hati, " tukas Bima mengangguk.
Mobil kini telah berjalan, di mobil utama terdapat Reza, Rain berserta Ibu Richie yang tidak lain ialah Ibunya Rain. Sedangkan di mobil kedua dan ketiga terdapat lima anak buah yang di pimpin oleh Rio dan Vito siap mengawal mereka dari belakang
Selang berapa menit mobil itupun telah melaju meninggalkan area Mansion Jungle Kingdom. Semua anak buah kini bergerak mencari bentuk informasi mengenai musuh.
"Ayok masuk, " ujar Ethan merangkul punggung Nara, Nara hanya mengangguk mengikuti langkah Ethan.
"Ha......! " Aldo, Bima,dan Sherly terbengong melihat keduanya.
"Dalam fase jatuh cinta! " tutur Aldo memegang dadanya bergantian dengan dada Bima.
"Romantis! " tambah Sherly mengangguk.
"Jauhkan tangan sialan mu dari tubuh ku! " semprot Bima ketika melihat tangan Aldo meraba dada bidangnya.
__ADS_1
"Eh... eheheh.. " Aldo terlihat kikuk dan dengan cepat menjauhkan tangannya.
Sherly hanya mendelik menatap Bima, kemudian ia melangkah masuk kedalam Mansion.
"Masuk! " ucap Bima datar meraih baju Aldo dari arah belakang.
*
Seringai yang begitu terlihat bengis tercetak jelas di wajah Arres, ia telah melihat informasi yang telah di temukan oleh anak buahnya.
"Sangat memuaskan! " ucap Arres.
"Lalu, apa rencana,Tuan, sekarang? " tanya Lue.
"Keno! Panggil Furio! " tukas Arres.
"Siap, Tuan! " Keno bergegas keluar dari ruangan tersebut menuju ke arah ruangan Komandan nya.
Dua menit kemudian Furio datang ke ruangan tersebut menatap atasannya.
"Apa yang terjadi? " tanya Furio.
"Keluar William memiliki perusahaan yang cukup besar disini, bagaimana kalau kamu mengajak mereka untuk sedikit bermain-main dengannya? " tukas Arres langsung pada intinya.
"Hanya itu? "
"Tentu saja tidak! Bawa dua Wanita ini kemari, kita akan bergerak senyap, jangan ada peperangan terbuka sebelum Reza keluar. " Arres kemudian menunjuk foto Nara dan Jennie.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau sudah menangkap keduanya? " tanya Furio lagi.
"Kapan waktunya? " tanya Furio lagi.
"Sekarang! You f*ck sh*** ! Kamu bertanya sekali lagi aku tembak kepala mu! " bentak Arres.
"Baiklah! " jawab Furio pasrah, jika sudah seperti ini atasannya ia tak kuasa untuk membantah.
Furio pun keluar menyiapkan beberapa pasukan yang akan di bawa untuk bergerak secara senyap,. kemudian Lue dan Keno bertugas untuk memulai permainan melalui dunia maya.
*
Sedangkan di sebuah perusahaan yang terlihat megah, yang tidak lain adalah perusahaan William Group yang begerak di bidang manajemen, perusahaan tersebut tentu saja cukup besar bahkan telah melibatkan beberapa negara di bawah kepemimpinan Jonathan William.
Begitu banyak kerjasama yang telah ia bangun, gaji para karyawan kian setimpal dan sesuai dengan kerjaan masing-masing. Saat ini Jonathan baru selesai melakukan rapat, ia bersama Arzan kini memasuki ruangan kerja masing-masing.
Duar!
Duar!
Suara ledakan begitu dahsyat tiba-tiba terdengar memekakkan telinga, membuat seisi gedung dengan fasilitas mewah dan megah tersebut riuh dan berlari ketakutan ke arah luar. Bunyi bel darurat membuat semuanya berlari hingga halaman depan kantor tersebut kini sudah penuh oleh para karyawan.
"Apa yang terjadi? " Jonathan segera berlari ke arah luar setelah mendengar ledakan tersebut.
Salah satu karyawan bagian keamanan berlarian dengan tergesa-gesa. "Tuan, ada yang melempar bom ke arah gedung kita sehingga terjadi kebakaran besar dari atas gedung! " ucapnya panik.
"A-apa? Cepat evakuasi seluruh karyawan lainnya, panggil juga pemadam kebakaran! " Jonathan sungguh syok mendengar nya.
"Siap,Tuan! "
__ADS_1
Pintu keluar kini di penuhi oleh para karyawan yang sedang berdesak-desakan untuk keluar, hal itu membuat Jonathan jengkel hingga akhirnya ia berteriak dengan keras.
"KELUAR DENGAN TERTIB ATAU SAYA PECAT KALIAN SEMUA! " teriaknya, rahangnya kian mengeras.
Sontak seluruh karyawan yang mendengar hal tersebut segera menurut, tentu saja mereka takut di pecat karena mencari kerjaan di kota tersebut sangatlah susah bagi mereka yang sedang membutuhkan.
Beberapa menit saat itu pula mobil polisi kian berjejer di depan halaman dengan di ikuti lima buah mobil petugas kebakaran.
"Dady! " Arzan berlari ke arah Ayahnya.
"Syukurlah kamu selamat,Nak... Dady kira kamu masih di dalam. " Jonathan memeluk Putra pertamanya.
"Tentu saja,Dad, setelah aku mendengar suara ledakan itu aku langsung berlari ke arah luar, aku melihat kebakaran dari atas dan segera memanggil polisi, " jelas Arzan. "Maaf aku tidak sempat keruangannya Dady tadi. "
"Untung saja semuanya belum terlambat. "
Orang-orang segera di evakuasi ke tempat aman, petugas pemadam kebakaran kini bergegas memadamkan api yang tidak terlalu tinggi dari lantai atas, terlihat kaca - kaca di atas gedung tersebut kini hancur, bahkan tembok yang terlihat begitu kokoh ikut hancur begitu saja.
Para korban segera di larikan kerumah sakit, ada yang tewas di tempat bahkan ada yang terkena luka bakar.
"Semuanya cari tempat aman! Gedung samping akan roboh! " teriak pemadam kebakaran.
Semua berlari dan mencari perlindungan, tepat saat itu suara gemuruh terdengar dari robohnya bangunan tinggi tersebut, serpihan-serpihan kecil melayang di udara, teriakan orang-orang yang ada disana mulai terdengar akibat rasa takut yang menyerang mereka.
Jonathan yang melihat hal tersebut kini syok, perusahaan yang begitu besar dan telah ia bangun kini hancur begitu saja.
"Tidak!!! " teriaknya, ia menjerit tak rela melihat perusahaan nya seperti itu.
"Dady, jangan masuk, bahaya! " Arzan menahan lengan Jonathan.
Seketika saat itu Jonathan pingsan membuat Arzan semakin panik dan memanggil para petugas medis.
*
Disisi lain kini muncul berita di televisi membuat semua orang terkejut, melihat perusahaan yang begitu terkenal kini hancur begitu saja akibat sebuah ledakan dahsyat.
"Pemirsa, telah terjadi ledakan begitu hebat pada sebuah perusahaan yang terkenal di hampir seluruh negeri, para korban telah berhasil di evakuasi, akibat ledakan tersebut menyebabkan sepuluh orang tewas dan dua puluh orang terkena luka yang cukup serius. " Berita di televisi membuat salah satu Wanita paruh baya terkejut.
"Jennie! Galen! " teriak Hanna ketika melihat perusahaan suaminya muncul di TV.
Kedua Kakak beradik tersebut langsung keluar dari kamar.
"Ada apa, Mom? " tanya Jennie.
"Kenapa Momy teriak? " kini Galen mendekat.
"I-itu perusahaan kita, perusahaan kita kebakaran! " jeritnya, kini ia menangis.
"Apa!!!! " Jennie maupun Galen sama - sama terkejut.
Baru saja mereka terkejut kini terdengar deringan ponsel milik Galen, ia segera melihat dan membaca nama di layar yang tertera.
"Hallo,Kak? " sebuah rasa takut kini menyelimuti perasa Galen ketika mengangkat telpon tersebut.
"....."
"Apa! "
__ADS_1