
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
"Tidak perlu! " Reza bergegas turun ke bawah bersama Nara.
"Maksud kamu apa, ha? Kamu suka Jennie di culik orang? " Galen maju dan mencengkram baju Reza.
"Cukup ya! Tidak usah sentuh Kakak saya! " Nara berteriak menghempas tangan Galen.
"Hentikan! Kalian apa - apaan? Kita disini sedang mencari Jennie kenapa kalian malah bertengkar! " bentak Arzan.
Nara menarik Reza ke belakang, begitu pula dengan Arzan.
"Saya belum selesai bicara, " ucap Reza datar.
"Apa maksud mu? " tanya Arzan.
Reza memandang seluruh keluarga nya. "Lokasi terkahir Jennie dimana? " tanya Reza terlebih dahulu.
"Tidak perlu cari tau lokasi terkahir nya, dasar bodoh! Kalau kamu berniat membantu langsung lapor polisi saja! " kini Jonathan memandang tajam.
"Kakak sama adik sama - sama bodoh! " maki Hanna.
Reza menghela nafas kasar. "Kalau tidak tau lokasi terakhir maka kita tidak bisa melihat kamera CCTV! " tegas Reza.
Jonathan dan Hanna bungkam, ucapan Reza juga tidak ada salahnya, jika memang benar Jennie di culik maka CCTV juga bisa saja merekam siapa yang membawa Jennie.
"Aku sudah menelpon temannya, " ujar Arzan. Ia tidak berniat untuk mengajak bertengkar, sekali ini saja ia bersikap biasa saja terhadap Reza.
"Apakah sudah menanyakan tempat apa yang mereka datangi? " tanya Nara.
Arzan menggeleng. "Semuanya jawab tidak tau, jadi aku tidak sempat menanyakan tempat yang mereka datangi. "
"Cepat telpon, kita tidak bisa mengulur waktu! " tegas Reza.
"Apa yang akan kamu lakukan? Kamu mau menjadi pahlawan kesiangan dengan sok menyelamatkan Jennie? " cibir Galen.
"Tutup mulut mu! " sentak Nara, ia memandang tajam ke arah Galen.
"Dek! " Reza menggenggam tangan adiknya dan menggeleng.
Arzan telah kembali setelah menelpon beberapa teman dekat Jennie. "Jennie terkahir kali mengunjungi Club XX25. "
"Apa?! " Jonathan dan Hanna serentak memandang terkejut.
"Berani sekali dia mengunjungi tempat seperti itu! " rahang Jonathan mengeras.
"Arzan, jangan coba - coba membohongi Dady sama Momy! " seru Hanna.
"Aku tidak berbohong, Mom, " bela Arzan.
"Ini tidak ada waktunya bertanya benar atau tidak, lebih baik kesana saja melihat camera CCTV. " Nara segera berlari ke kamar nya mengambil jaket hitam yang sering ia pakai.
Begitu pula dengan Reza, ia mengambil topi pet miliknya dan segera bergegas keluar.
"Kalian mau kemana? " tanya Arzan.
"Memastikan apakah benar atau tidak, " balas Reza singkat Sheeran keluar.
__ADS_1
"Tapi _ "
"Salah satu dari kalian harus ikut untuk menjadi saksi! " seru Nara.
"Heh... kamu gadis bodoh yang tidak tau apa - apa, kenapa kamu sok ingin ikut - ikutan? " cibir Hanna.
"Aku ikut! " ucap Arzan cepat.
Nara mengangguk, ia mengabaikan tatapan mata dari ketiga orang yang sedari tadi memandang nya seakan-akan ingin menelan hidup -hidup.
*
Di tempat yang begitu gelap, mata seorang gadis yang tidak lain ialah Jennie kini terbuka, ia memandang sekeliling dan terkejut melihat dirinya pada sebuah rantai.
Mendengar suara para lelaki yang sedang berbincang, ia melihat ada tiga penjaga di depan, karena tempatnya saat ini ialah sebuah jeruji besi yang tentu nya penjara yang ada di bawah tanah.
"Siapa kalian! Lepaskan aku! " teriak Jennie membuat semua mata menoleh ke arahnya.
"Oh gadis cantik, kamu sudah bangun rupanya, " ucap Furio, ia membuka jeruji besi tersebut dan mendekat ke arah Jennie.
"Bagaimana tempat ini? " tanya Furio menyeringai.
"Lepaskan aku! " teriak Jennie sekali lagi.
"Hahahaha, jangan harap! " balas Furio menyeringai.
"Lepaskan atau aku laporkan pada Dady ku! " Jennie menarik - narik rantai tersebut.
"Cih... kamu berani juga mengancam, tapi sayangnya seluruh keluarga mu akan mati semua, " kekeh Furio.
"Jangan sentuh keluarga ku! Br*ngs*k! " maki Jennie, ia meludahi wajah Furio.
"B*ngs*t!!! Dasar gadis j*l*Ng!! " ia menampar wajah Jennie begitu keras sehingga langsung membuat nya memar.
Plak!
Plak!
Jennie tidak bisa berkata apapun, ia hanya diam ketika mendapat tamparan tersebut.
"Jangan berteriak atau mulut mu akan benar - benar aku robek! " ancam Furio.
Ia segera keluar dari ruangan tersebut membiarkan Jennie yang masih terdiam menatap kepergiannya. Tak terasa butiran bening mengalir ke wajah Jennie.
"Hiks...hiks.. Dady, Momy, selamat kan aku... " lirih nya.
*
Perjalanan yang begitu cepat, mobil telah terparkir di halaman Club yang masih belum terlihat sepi. Bahkan semakin banyak pengunjung untuk malam ini, Reza segera menerobos masuk kedalam menemui petugas yang ada disana.
"Permisi ada yang bisa kami bantu? " tanya seorang wanita cantik dengan pakaian minimnya. Ia memandang ke arah Reza dengan tatapan yang begitu menggoda.
"Tunjukkan CCTV yang ada disini. " wajah Reza begitu datar dan dingin.
Nara memandang petugas tersebut dengan tatapan tajam membuat Wanita itu segera mengangguk.
"Mari ikut saya, Tuan, " ujarnya.
Mereka segera berjalan menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana, Arzan hanya bisa mengikuti mereka dari arah belakang, ia heran kenapa Reza begitu cepat menanggapi berita hilangnya Jennie.
"Ada berapa CCTV disini? " tanya Nara datar.
"Ada delapan, di luar ada tiga dan terletak di berbagai sisi, di depan kamar mandi dan juga di setiap lorong ke jalan tertentu, " jawab petugas itu.
__ADS_1
"Perlihatkan rekaman CCTV sekitar jam delapan malam, " ucap Reza.
"Baik,Tuan. " petugas itu langsung melaksanakan perintah Reza.
Setelah beberapa menit, sebuah rekaman di putar, Reza terus memantau keadaan pengunjung pada saat itu. Beberapa Video telah di putar sehingga ada seorang lelaki yang terlihat mencurigakan dan bersamaan dengan itu ia melihat Jennie berjalan bersama teman-temannya.
Arzan terkejut melihat kedatangan Jennie, ia tidak habis pikir kenapa Jennie bisa masuk kedalam sini.
"Perbesar gambarnya! " seru Reza ketika Video tersebut menunjuk ke arah luar Club, ia melihat Jennie yang berbincang dengan lelaki tersebut lalu mengajaknya masuk kedalam mobil.
"Kak. " Nara melihat tato elang yang ada di tangan Pria itu.
"Berikan rekaman itu pada saya, " ujar Reza segera mengeluarkan flashdisk dari saku jaketnya.
"Baik, Tuan. " petugas tersebut segera melakukan pemindahan rekaman.
Tak lama kemudian ia selesai dan langsung memberikannya kepada Reza, setelah itu Reza segera keluar dari sana.
"Arzan, awasi rumah jangan sampai ada yang boleh masuk selain saya dan Nara! " tegas Reza.
"Apa yang terjadi? " tanya Arzan cemas.
"Lakukan apapun yang di perintahkan oleh Kak Reza atau kalian semua akan mati! " ucap Nara tajam.
Arzan saat ini tidak bisa berkata apapun, ia masih membenci keduanya namun ia harus tau dengan jelas apa yang terjadi dengan sang adik.
"Bima, siapkan pasukan lebih, bawa ke Mansion William, entah malam ini atau besok musuh sudah siap mati! " Reza segera mematikan alat komunikasi nya.
"Apa pekerjaan kamu, Reza? " tanya Arzan mengerutkan keningnya. "Dan maksud mu pasukan apa? Dan perang apa? "
"Kamu tidak perlu mengetahui tentang saya, saya tidak pernah ikut campur dalam urusan mu, jadi kembali ke diri masing-masing, " jawab Reza tegas.
*
Di mansion Jungle Kingdom, seluruh anak buah telah bersiap setelah Bima menginformasikan penyerangan untuk malam ini, semua telah siap dengan senjata masing-masing bahkan telah memakai rompi anti peluru.
"Apakah Reza sudah memberitahu apa yang terjadi? " tanya Aldo.
"Belum, tapi kita harus bersiap, " balas Bima.
"Sepertinya ini penting banget sampai bawa pasukan lebih, " timpal Ethan yang sudah siap mengalungkan senjata Laras panjang nya.
"Kayaknya iya, suara Reza juga tergesa-gesa, " jawab Bima.
"Aku akan mengomando beberapa anak buah ku, kalian juga, siapkan pasukan penembak jarak jauh, " ucap Sherly.
"Aku akan membawa anak buah ku sebagai penembak jarak jauh , " ucap Ethan yang bertugas sebagai sniper. "Aldo siapkan serangan atas, jangan lupa bazooka siapa tau berguna, " kekeh Ethan.
"Tentu saja, aku paling suka bermain dengan sahabat ku, " balas Aldo bercanda bahan menyebut salah satu senjata anti-tank bertenaga roket sebagai sahabatnya.
"Kita harus ke Mansion William? " tanya Sherly.
"Iya, Reza menyuruh kita kumpul disana, " jawab Bima.
Malam yang sudah begitu larut bahkan sudah memasuki diri hari seluruh pasukan di Mansion Jungle Kingdom telah ramai memenuhi halaman, membawa beberapa senjata mematikan, bahkan dari wajah mereka tidak ada sedikitpun keraguan untuk menerjang ke arah pertempuran malam ini.
"Segera ke kediaman William! " seru Bima mengambil alih untuk memimpin pasukan menuju ke Mansion William.
"Siap! HIDUP JUNGLE KINGDOM! " teriak seluruh pasukan tersebut.
*
*
__ADS_1
Vote like komen 🥰❤️