
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Rombongan Aldo telah datang di tempat aman yang telah di sediakan oleh Chen, awalnya Chen tidak tau kalau Ethan telah kembali dan kini sudah
terbang menuju rumah sakit, hingga Yeru dan Qui langsung mengabarkan mereka bahwa Nara telah di bawa kerumah sakit oleh Ethan dan yang lainnya.
Hal itu membuat perasaan Aldo terasa memanas, bahkan Arzan yang mendengar itu merasa tak tega, ingin sekali ia menyusul kerumah sakit, tetapi sebelum itu mereka harus menunggu Reza dan Vito kembali, terutama dengan Rain.
"Dimana adik ku?! " suara teriakan dari belakang mengejutkan mereka yang telah berkumpul.
"Za, tenanglah, Nara di bawa oleh Ethan kerumah sakit, kita harus segera kesana, " ujar Aldo menenangkan Reza yang terlihat gelisah.
"Cepatlah, aku tidak mau menunggu terlalu lama! " seru Reza, ada rasa ingin marah dalam dirinya, kenapa ia terlambat untuk menemui adik nya dalam keadaan seperti ini?
Ia ingin sekali mengutuk diri sendiri karena terlalu lalai, tetapi di sisi lain ia juga tak bisa mengelak penyerangan tersebut, dengan banyaknya musuh yang di kerahkan oleh Arres menyebabkan dirinya terlambat.
"Kami akan menunggu helikopter lainnya datang, Tuan duluan saja, " ujar Chen.
"Benar,Tuan, kami akan membereskan semuanya, " ucap Eren yang kini berada di sana bersama dengan sahabatnya yang lain.
"Baiklah, aku berharap kalian semua jaga diri baik - baik sebelum helikopter datang, apakah ada yang terluka parah? " tanya nya lagi, meski dalam keadaan darurat seperti ini ia juga harus mengkhawatirkan atau bertanggung jawab kepada seluruh pasukannya.
"Tidak ada, Tuan, hanya luka kecil saja, yang lain masih bisa bertahan sampai rumah sakit, " timpal Chen.
"Baiklah kalau begitu, Vito, serahkan kepada Yeru dan Qui untuk mengurus mereka, kita pergi kerumah sakit sekarang, " ucap Reza menyuruh Vito melepaskan Arres bersamaan dengan Furio yang tak sadarkan diri.
"Baiklah. " Vito hanya menuruti.
"ChiFeng, segera kerumah sakit milik Dokter Dika! " perintah Aldo.
"Siap, Komandan. "
Galen da Arzan duduk di sebelah Reza, sedangkan yang lainnya berada di bagian belakang. Reza berkali-kali menghela nafas, bahkan mengusap wajahnya.
"Semuanya akan baik - baik saja, " ujar Arzan memberanikan diri menyentuh bahu saudara nya itu.
Reza mengangguk. "Apa kalian berdua terluka? " tanya balik Reza namun tetap terkesan datar.
"Tidak, sahabat mu menjaga kami dengan baik, " jawab Arzan.
"Syukurlah kalau begitu. "
"Rain, ikutlah, bawa anak buah mu yang terluka, " ujar Reza, karena sebelumnya beberapa anak buah Rain juga ikut andil.
"Baik, Tuan, " angguk Rain, ia kemudian di bantu oleh Chen naik ke helikopter dengan mengangkat tubuh Reano dan dua anak buah Rain yang terluka parah.
__ADS_1
***
Perjalanan yang cukup memakan waktu hampir satu jam tersebut, membuat semua yang ada didalam helikopter memejamkan mata kecuali Reza, ia tak bisa beristirahat dengan tenang, yang ada dalam pikirannya adalah sang adik.
Hingga kini Helikopter telah sampai di rumah sakit dan helikopter mendarat di atas gedung tersebut, dengan di sambut oleh beberapa suster dan perawat yang sudah kenal dengan Reza.
Reza langsung memerintahkan kepada suster tersebut untuk membawa anak tiga anak buah Reano agar segera di tangani bahkan Reza memberikan mereka fasilitas yang mewah dan khusus untuk mereka, Rain sangat berterimakasih dan ia langsung mengikuti suster tersebut untuk melihat anak buahnya.
Sedangkan Reza segera berlari untuk segera menuju ke arah ruangan adiknya. Begitu pula dengan Aldo dan yang lainnya segera ikut menyusul ke arah Reza.
***
Suasana di depan ruangan operasi terlihat begitu kacau dengan wajah - wajah yang terlihat khawatir, semenjak sampai di rumah sakit Ethan terus berteriak-teriak memanggil Dokter Dika yang sedikit terlambat. Beruntung, Bima dengan cepat menenangkan nya karena hal itu bisa menganggu para pasien yang sedang istirahat.
Setelah melihat Dokter Dika serta beberapa suster yang sering mengurus anggota Jungle Kingdom segera membawa Nara masuk keruangan operasi.
"Kalian mau makan? " tawar Bima, ia disini terlihat paling tenang.
Sherly dan Ethan menggeleng, sedangkan Rio kini baru kembali dari kamar mandi. Jennie sudah di bawa keruangan perawatan untuk mengobati luka - luka yang sebelumnya ia dapatkan juga akibat dari kekerasan Arres ataupun anak anggota Scale Bones.
"Bagaimana? " tanya Rio.
"Belum selesai, " jawab Bima menghela nafas.
"Apa yang akan kita katakan kepada Reza? " tanya Rio.
"Dia pasti sudah tau kita membawa adiknya kesini, " jawab Bima.
"Bima! " suara teriakan yang tak asing terdengar.
"Reza?! " ucap mereka secara bersamaan.
"Nara, di-dimana Nara? Apakah dia baik - baik saja? Katakan! " Reza langsung memborong seluruh pertanyaan.
"Za, tenanglah, Nara masih di ruangan operasi, kita berdoa saja semoga semuanya baik - baik saja, " ucap Reza memegang pundak sahabatnya itu.
"Tapi... " Reza tak bisa menahan diri hingga ia terjatuh begitu saja di lantai. "Hiks.. aku bodoh tidak bisa menjaga Nara, aku bodoh sampai adik ku bisa terluka seperti ini, padahal aku sudah berjanji supaya dia tidak terluka, hiks... katakan, Bima, apa yang harus aku lakukan?! " pecah sudah tangis Reza ke pundak sahabatnya itu.
Arzan yang melihat hal itu terkejut, ia baru pertama kali melihat sisi Reza yang seperti ini, begitu pula dengan Galen.
"Kamu sudah membereskan b*j*Ngan itu? " tanta Rio perlahan ke arah Vito yang terlihat kusut.
"Jangan bahas dia sekarang, bahkan aku ingin sekali mencincang tubuhnya saat ini! " balas Vito menggeram.
"Apakah, Jennie ada disini? " tanya Galen perlahan.
"Mari ikuti aku, " ujar Rio kepada keduanya dan di balas anggukan oleh mereka.
"Semuanya akan baik - baik saja, Za, Nara adalah gadis yang kuat, " ujar Bima menenangkan.
Sherly yang kini berada di dekat Ethan merasakan dadanya sesak atas kejadian ini, ia menyembunyikan wajahnya menahan tangis, menyandarkan kepalanya di bahu Ethan yang juga bernasib sama dengan mereka.
__ADS_1
Aldo mendekat ke arah sahabatnya yang tengah duduk itu. "Tenangkan perasaan mu, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak - tidak, " ujar Aldo kemudian merangkul pundak Ethan yang nampak enggan untuk berbicara.
Suara pintu ruangan Operasi kini terbuka dan keluarlah Dokter yang sedari tadi mereka tunggu, Reza segara melangkah cepat ke arah Dokter Dika.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya? " tanya Reza.
Dokter Dika terlihat menghela nafas berat. "Nara sungguh kuat, berkali-kali kami gagal membuat jantung nya berdetak kembali, tetapi seakan Nara juga tidak ingin menyerah untuk tetap kembali, " ujar Dokter Dika
"Lalu bagaimana bagaimana keadaannya? " tanya Sherly.
"Kamu sudah berhasil mengeluarkan pelurunya, beruntung peluru itu tidak masuk terlalu dalam di bagian dadanya dan perut nya, luka di bagian punggung juga berhasil kami hentikan pendarahan nya, " jawab Dokter Dika.
Semua menghela nafas lega. "Apakah saya boleh menemuinya? " tanya Reza.
"Boleh, tapi sebelum itu kita harus pindahkan keruangan perawatan, " jawab Dokter Dika.
"Saya akan mengurusnya, Dok, biarkan Reza bertemu dengan adiknya, " tawar Aldo.
"Baiklah, silahkan ikut saya, " ucap Dokter Dika di angguki oleh Aldo.
Setelah kepergian dua orang itu, Reza langsung berlari masuk kedalam ruangan tersebut hingga membuat suster yang sedang membereskan seluruh perlengkapan disana terkejut.
"Dek... " suara lirih dan pilu itu berhasil membuat siapapun yang mendengarnya terasa di sayat-sayat, begitu perih.
Sudah mereka duga, keadaan Reza seperti sebelumnya, tetapi jauh lebih parah karena melihat Nara yang sampai masuk ke ruangan Operasi. Ethan berada di samping kiri sedangkan Reza berada di samping kanan.
Reza meraih pelan tangan lembut dan lentik milik adiknya. "Dek.. maafkan, Kakak, apakah ini menyakitkan? " lirih Reza
Bima tanpa sadar mengeluarkan air mata, begitu pula orang - orang yang ada disana, tak sanggup dengan keadaan seperti ini.
"Maafkan, Kakak yang terlambat,dek.. kamu boleh hukum Kakak setelah ini, kamu boleh pukul Kakak karena terlambat menyelamatkan kamu. " suara isakan terdengar dari mulut Reza.
"Maaf, Tuan, biarkan pasien istirahat untuk sementara, setelah ini kita akan bersiap memindahkan ruangannya, " ujar Suster Raya lembut.
"Silahkan, Sus, " ucap Bima.
"Za, kita keluar dulu, nanti kita bertemu lagi dengan Nara, tenangkan dirimu dan sebaiknya kamu bersihkan tubuh mu, aku akan menyuruh anak buah membawa pakaian ganti kesini, " ujar Bima.
"Terimakasih, Bim, " Jawa Reza.
"Tidak perlu berterimakasih, kita adalah keluarga, " jawab.
"Biarkan aku membeli makan malam, " tawar Vito.
"Baiklah, aku akan menghubungi anak buah untuk membawa pakaian ganti kita, " ujar Bima.
Malam itu, mereka harus berjaga dengan penuh untuk Nara, tak ada kata lelah dalam diri mereka hanya menjaga satu orang gadis, seakan-akan gadis itu adalah sesuatu yang tak boleh sedikitpun di biarkan lecet oleh apapun.
Ruangan rawat Nara kini telah di pindahkan keruangan VVIP yang begitu terlihat mewah, bahkan lebih mewah dari ruangan lainnya, sangat terlihat nyaman dengan fasilitas lengkap layaknya kamar pribadi yang ada di Mansion Jungle Kingdom.
Dalam hati mereka, harus berjaga malam ini, tidak boleh lengah dan membiarkan orang asing masuk
__ADS_1