
Author minta maaf bila alurnya membosankan atau kurang seru, tapi author akan berusaha untuk membuat alur yang lebih menyenangkan lagiπππ
Kita langsung sajaπ
Bismillah π€²
Happy Reading π₯³π
*
*
Mobil mewah berwarna hitam kini telah sampai di kediaman Wijaya, semua turun dari dalam mobil dan Reza segera mengambil mobilnya.
"Pi, hari sudah larut kami akan pulang, " pamit Reza kepada Pratama.
"Baiklah, kalian semua hati-hati, " jawab Pratama.
Mobil yang di kendarai oleh Reza telah sampai di luar gerbang, terlihat dari arah lain sebuah mobil terus bergerak mengikuti nya.
Nara sudah tidak dapat menahan dirinya, ia terus mencengkram ujung jaket nya.
Reza yang melihat tingkah sang adik, sontak menghentikan mobil nya, Ethan yang ada depan segera meloncat ke arah belakang. Tubuh Nara kini kaku, tatapan matanya kosong seketika.
"Kenapa dia menghentikan mobil? Apakah mereka curiga? " tanya temannya yang berada Keno.
"Aku juga tidak tau, yang penting sekarang kita ikuti saja, atau Tuan Arres akan mencincang tubuh kita berdua, " jawab nya Lue.
"Hm,baiklah. "
Kembali di dalam mobil Reza, kini ia mengguncang tubuh adiknya, raut wajah terlihat khawatir sama dengan Ethan yang menepuk pelan pipi Nara. Ada rasa sedikit sesak dalam dirinya, entah itu pertanda apa, yang jelas ia tidak tau.
"Dek! Bangun,dek! " ucap Reza, ia terus menggerakkan tubuh Nara.
"Nara, ada apa? Sadar! " ucap Ethan, namun nihil Nara layaknya batu yang tidak bergerak sedikit pun.
"Biarkan, dia sedang berada di alam lain, " ujar Reza dengan dada kembang kempis.
Di alam bawah sadar Nara, ia berada di sebuah tempat yang begitu gelap dan sepi. Ia hendak melangkah namun tiba - tiba seorang Pria mencekik leher nya dari belakang lalu menyeretnya.
"Kkhhhh, le-lepas! " teriak Nara berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Pria itu.
"Diam! Atau Kakak mu akan mati! " ancam sosok tersebut.
"Ja-jangan sakiti Kakak ku! Apa mau mu! " Nara terus memberontak.
Pria tersebut menyeret tubuh Nara hingga memasuki ruangan yang sedikit ada cahaya temaram, Pria teras langsung mendorong tubuh nya hingga terjatuh. Nara melihat Pria itu, namun sayang nya wajah nya tidak terlihat karena tertutup masker.
"Membusuk lah kalian berdua disini! Hahahaha! " suara tawa yang begitu menggelegar membuat Nara terkejut dan sedikit takut, nafasnya tidak teratur, ia bingung ketika mendengar kata bahwa ia tidak sendirian disini, kemudian ia mencoba meraba siapa yang ada di dekatnya.
"Jennie! " jerit Nara terkejut melihat saudara nya yang tak sadarkan diri.
"Jennie, bangun! " teriak Nara mengguncang tubuh Kakak perempuan nya.
"Hahahah! Keluarga William satu persatu akan mati di tangan ku! Hahahah! " Kemudian Pria itu mengeluarkan Glock nya dan mengarahkan kepada Jennie.
"Tidak! Jangan! Jangan lakukan itu! " Nara menghalangi dengan tubuhnya.
Namun Pria itu seolah -olah tuli hingga ia menarik palatuk dan melesaklah peluru tersebut ke arah dada Nara. Nara sedikit meringis, dan menoleh ke arah belakang ada satu Pria lagi yang menggunakan masker sama dengan yang ada di hadapannya telah menarik pelatuknya ke arah Jennie, sama dengannya peluru telah menembus dada mereka berdua.
"Jennie! Bangun.. " lirih Nara, ia memegang dadanya.
__ADS_1
"Hahahah, mati keluarga William! Mati! "
"Keluarga William harus mati! "
"Habisi seluruh keluarga William! "
Terdengar lah suara yang begitu ribut menginginkan keluarganya untuk mati, mata Nara berubah buram dan sedikit demi sedikit pandangan nya kian menghitam dan akhirnya ia pun jatuh ambruk ke lantai.
Sedangkan di atas ketidaksadaran Nara, Reza mengguncang perlahan tubuh adiknya, berusaha membangun kan sang adik supaya segera keluar dari alam mimpinya.
"Dek,bangunlah, " lirih Reza.
Terlihat tubuh Nara sedikit bergerak dengan nafas yang tidak teratur.
"Dek, akhirnya kamu sadar! "pekik Reza memeluk adiknya.
"Apa yang terjadi? " tanya Ethan langsung.
"Kak! " ucap Nara dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa yang kamu lihat? " tanya Reza sedikit panik.
Mata Nara sedikit memerah, ia tak kuasa untuk bercerita dengan Kakaknya, namun bagaimanapun ia harus memberitahu Kakak nya.
Kini Nara mulai bercerita dari awal hingga akhir sesekali menahan getaran dalam tubuh nya. "A-aku tidak tau siapa Pria itu. " Nara sedikit tersengal dengan keringat yang bercucuran di dahinya.
"Sedikit buram, semuanya tidak jelas, me-mereka akan membunuh keluarga kita, " sambung Nara.
"Kita harus bergerak cepat,Za, seluruh pengawal harus sudah siap, " timpal Ethan.
"Benar, mulai sekarang kamu harus selalu ada pengawal kalau mau keluar oke? " Reza memeluk tubuh ringkih adiknya.
"Bagaimana dengan Jennie? " Nara memang benci terhadap keluarganya, namun sedikit tidaknya ia masih memiliki hati nurani, karena bagaimanapun mereka adalah keluarga nya.
"Baiklah, aku serahkan kepada mu, " ucap Reza, ia segera maju ke depan dan mulai menjalankan mobilnya, sedangkan Ethan diam di belakang menjaga Nara.
"Kenapa tidak ke depan? " tanya Nara. Saat ini ia sedikit mulai berbicara, hanya saja masih terkesan kaku dan tidak terlalu ceria.
"Disini saja, " balas Ethan singkat, Nara hanya terdiam dan tak mengerti namun ia kembali fokus memperhatikan sekitar.
Ketika mobil Reza telah melaju, mobil yang sedari tadi mengikutinya kini ikut melaju dari arah belakang.
*
Lama dalam perjalanan kini mereka telah sampai di Mansion, Reza buru-buru masuk kedalam dengan di ikuti oleh Ethan dan juga adiknya. Ketika sampai di dalam, lagi-lagi hal yang membuatnya sakit kini terlihat kembali.
Cengrek!
Satu jepretan foto dari dua Pria yang telah mengikutinya dari belakang, kini telah berhasil menerobos masuk dari halaman belakang, dan kini ia berdiri di balik jendela yang tidak jauh dari ruang tamu.
Disana, di ruang tamu, dimana keluarga Reza sedang bercanda begitu hangat, saling peluk satu sama lain dan saling melempar tertawa bahagia, tak ada sedikitpun yang menoleh atas kedatangan nya.
"Jalan! " tegas Nara. Bukan hanya Reza saja, tapi Nara juga merasakan nya, sikap nya kembali berubah dingin dan datar, wajah kian berubah terlihat bengis dan kejam, sorot mata elang nya begitu banyak menyimpan kebencian terhadap keluarga nya saat ini.
Saat mereka melintas suara Jennie kini terdengar. "Hai, siapa nama mu? " Jennie kemudian menghampiri Ethan yang ada di belakang Nara.
Ethan diam sejenak, ia terlihat tenang dan tidak memperlihatkan sedikit senyuman, ia hanya bersikap datar.
"Dady... dia tidak mau menjawab.." keluh nya menatap Jonathan.
Kini Jonathan ikut berdiri dan menghampiri Putri kesayangannya. Sekali lagi, Putri kesayangannya! Begitu pula yang lain.
__ADS_1
"Heh, Putri ku bertanya, apakah kamu bisu? " cibir Jonathan.
"Iya, nama mu siapa? Masak sih Oppa-Oppa korea yang ganteng bisa bisu? " tambah Jennie, ia sudah mengira bahwa Ethan memang asal asli Korea setelah menatap lekat wajahnya.
Kepalan tangan Nara kian mengerat, ingin sekali ia melayangkan pukulan ke arah mereka saat ini.
"Ethan! " balas nya singkat.
"Oh.. nama yang bagus, aku Jennie, bolehkah kita berteman? " kini Jennie dengan beraninya memegang kedua tangan Ethan sehingga secara refleks menghempas kasar tangan Jennie.
"Apa - apaan kamu! " bentak Galen.
"Jangan bentak dia! " kembali Nara yang meninggikan suaranya.
"Heh, gadis tidak tau malu! Apa hak mu meninggikan suara ha! Tidak punya sopan santun! " teriak Hanna.
"Tidak usah teriak juga, saya tidak tuli! " balas Nara tak kalah tinggi dan tajam.
"Tutup mulut mu! " Arzan kini hampir memukul Nara namun Reza segera menahan tangan tersebut.
"Bukankah saya pernah jelaskan? Jangan pernah sentuh adik saya! " tegas Reza dengan tatapan tajam nya, ia kemudian melepaskan pegangannya pada tangan Arzan.
Bugh!
Plak!
Bugh!
Tanpa persiapan apapun, Nara kini terpental sedikit jauh ketika Jonathan langsung menendangnya dengan kasar, ia bahkan menampar Nara berkali-kali tanpa perlawanan dari gadis itu. Bagaimana ia bisa melawan? Sedangkan pukulan tersebut tidak memberinya celah untuk menangkis nya.
"Ini yang kamu sebut adik kamu,Reza! Cih! Lemah! Lembek! Bodoh! Tidak berguna! " maki Jonathan menjambak rambut Nara.
Nara menahan ringisannya, ia tidak ingin terdengar kesakitan walau kulit kepalanya terasa mengelupas, semakin ia mengeluarkan suara kesakitan maka semakin gencarlah Jonathan menyakitinya, ia hanya bisa menggigit bibir nya kuat.
"Nara! " teriak Reza ingin mendekat namun Hanna dengan tega nya mendorong Putranya itu begitu keras hingga kini Reza tersungkur. Ethan ingin membantu namun dengan cepat pula Jennie menahan nya dan kini ia berani menjamah tubuh Ethan, ia ingin melawan namun ada Arzan dan Galen yang menahan tubuh nya.
"Lepaskan! " teriak Ethan, ia berontak dengan keras sehingga membuat Galen kelelahan.
"Jangan bergerak atau gadis j*l*ng itu akan mati sekarang! " teriak Jennie, entah darimana ia ambil pisau tersebut dan mengarahkan nya kepada Nara.
"Lepaskan pisau itu Jennie! " teriak Reza.
Keluarga macam apa ini? Bahkan Reza di tahan begitu kuat oleh orang yang melahirkan nya, ia harus apa? Kenapa tidak bisa tegas?
"Aku sudah lama ingin melihat mu mati,Nara! Hahahah kamu tidak berguna sama sekali disini! " ucap Jennie. Ia mendekat ke arah Nara yang terlihat wajah nya memar dan darah keluar dari hidungnya.
"Maju selangkah lagi kamu akan mati Jennie! " teriak Reza, ia mengambil pistol di balik pinggangnya dan menembak ke arah atas.
Cukup sudah ia menahan amarah nya, tak sanggup melihat adiknya begitu kesakitan, bahkan kesakitan itu ia ungkap kan pada sebuah lagu ketika menyanyi di restoran tadi, ia tak peduli keluarga nya mati saat ini, demi adiknya, ia akan melakukan apapun itu. Adik satu-satunya ialah Nara! Nara! Dan akan selalu Nara.
Sontak Hanna berteriak ketika melihat Reza memandangnya tajam, Reza berdiri dan mengarahkan pistol ke arah Jonathan.
"Lepaskan adik saya, Tuan Jonathan! " bahkan kini Reza sangat enggan menyebutnya sebagai Ayah.
Jonathan tak menghiraukan suara teriakan itu, ia hanya menyeringai seakan-akan mendapatkan sebuah mainan yang pantas untuk di mainkan.
Sedangkan Jennie, ia sudah gelap mata sehingga sebuah pisau di tangannya mendadak mengarahkan nya kepada Nara.
*
*
__ADS_1
Semoga kalian suka! ππ