
*
*
*
Suara keributan terdengar hingga telinga seorang pemuda yang tengah bersiap-siap, setelah selesai dengan langkah cepat ia segera turun dan melihat keributan yang sedang terjadi. Hati nya terasa sangat sakit melihat sang adik yang di berlakukan secara kasar oleh mereka.
"JANGAN SEKALI - KALI KAMU KASAR TERHADAP ADIK SAYA!!!! " semua teralihkan oleh seseorang yang berada di atas tangga.
"Jangan ikut campur Reza!! " ucap Hanna.
"Oh ya? Lepasin atau tidak sama sekali! " tatap Reza tajam.
"KAMU TULI ATAU TIDAK LEPASIN!!! " kini Nara yang berteriak keras.
"Nara!!! " bentak Jonathan.
"Berani kamu membentak Kakak mu? " ucap Jonathan.
"Cuih,,, Kakak macam apa??? Kakak saya cuman satu, Reza!! " ucap Nara.
"Berani sekali kamu, " ucap Hanna mendekati Nara.
"Ya saya berani mau apa kamu?? Mau mukul atau tampar silahkan saya tidak takut, " ucap Nara mendekati Ibu nya dan menatap penuh kebencian.
"Dasar anak durhaka!!! "
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi Nara , namun ia hanya terkekeh. " Wow! mengejutkan! " kekeh nya.
Hanna kembali melayangkan pukulannya namun di tahan oleh Reza. " Jangan pernah menyentuh adik saya lagi. " Reza mendorong Hanna kasar membuat Galen segera menangkap Ibu nya.
"Reza!! Kurang ajar kamu!! " teriak Jonathan.
"Ya saya kurang ajar memang nya kenapa? " jawab Reza tersenyum devil.
"Kami kurang ajar karena kalian tidak pernah mengajar kan! " desis Nara.
"Dasar anak tidak berguna! " ucapan itu terlontar dari mulut Jennifer.
"Oh ya? Lalu kamu lebih berguna gitu ? Jelas - jelas kamu kuliah hanya sebentar dan bolos pergi ke club bersama teman - teman ****** mu itu, apakah itu yang di sebut berguna? " tanya Nara menaikkan satu alis nya.
"Jaga ucapan mu anak tidak tau malu! " hardik Jonathan.
"Oh saya rasa tidak. "
Nara melangkah tak menghiraukan lagi ucapan mereka. " Sudah lah,Kak, ayok, kita sudah terlambat. "
"Ya ayok. "
Mereka berdua keluar tanpa memperdulikan mereka yang sedang marah, Jonathan menatap Jennifer dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
"Apakah benar apa yang di ucapkan oleh Nara tadi ha..! " bentak Jonathan.
"Mas,, kamu jangan menuduh anak kita sembarangan, bisa aja dia berbohong, " bela Hanna.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu memanjakan dia, kalau sampai hal itu benar reputasi perusahaan akan hancur, " jawab Jonathan.
"Ti-tidak, dad, dia berbohong mana mungkin aku melakukan hal itu, " elak Jennifer.
"Jangan pernah berani kamu melakukan itu Jennifer, kamu akan rasakan akibat nya, " ancam Arzan menatap adik nya.
"I- iya aku tidak akan pernah, dia nya saja yang fitnah supaya aku di benci oleh kalian, " ucap nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa Kakak lama benget sih turunnya, " ucap Nara memandang kakak nya yang sedang fokus menyetir.
"Yah kan kamu tidak bangunin Kakak, ya mau gimana lagi Kakak baru selesai mandi tiba - tiba dengar suara ribut ya kakak cepat - cepat turun, " ucap Reza.
"Kita mau kemana sekarang? " tanya Nara.
"Mau jawab semua pertanyaan yang ada pada benak kamu, " jawab Reza seadanya.
"Ha? "
"Duduk tenang, diam dan jangan banyak bertanya, " ujar Reza.
Nara menghembuskan nafas kesal, kenapa setiap ia bertanya selalu menimbulkan rasa yang bikin penasaran?
'Kak Reza memang tidak banyak omong kalau orang lagi bertanya, cukup langsung tunjukkan saja,' batin Nara.
Perjalanan cukup tiga puluh menit, mobil merah tersebut sampai di sebuah rumah mewah di kota itu, Nara mengerutkan kan kening bertanya - tanya siapakah pemilik rumah ini?
Reza dan Nara turun dari mobil secara bersamaan dan menggandeng tangan adik nya seakan - akan tak mau kehilangan seorang pasangan.
"Kenapa kita kesini sih kak ini rumah siapa? "
Reza memencet tombol bel dirumah tersebut, setelah tiga kali memencet tombol keluar lah seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan nya.
"Tn. Reza ya? " ucap nya.
"Ya, Papi Pratama nya ada ? " tanya Reza.
"Oh ya silahkan masuk, Tuan, saya akan panggil kan, " ucap pelayanan tersebut.
Reza mengangguk dan melangkah memasuki rumah mewah tersebut, rumah yang cukup luas namun kenapa kelihatan sangat sepi pemilik rumah tak ada yang kelihatan.
Tak lama kemudian keluar lah seorang Pria yang hampir memiliki umur yang sama dengan ayah mereka , ia keluar dengan stelan kerja nya dan menyambut kedatangan Reza dengan sangat bahagia.
"Nak Reza akhir nya kamu datang juga, Nak, " ucap nya bahagia dan memeluk Reza dengan penuh kasih sayang.
Nara hanya mengerutkan kan keningnya. " Siapa dia? " pertanyaan Nara mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ini adik kamu? " tanya nya pada Reza.
"Ya Papi, dia adik ku yang telah lama aku ceritakan, " jawab Reza tersenyum.
"Papi? " Nara semakin penasaran dengan semuanya.
"Ayok silahkan duduk kita akan mengobrol disini biar Papi suruh pelayan untuk menyiapkan cemilan, " ujar nya.
"Terimakasih, Pi. "
__ADS_1
Mereka bertiga duduk bersama , dengan sesekali melempar candaan masing-masing.
"Oh ya dek perkenalkan ini namanya Pak Pratama Wijaya, kamu tadi pagi sempat bingung kan perusahaan darimana Kakak mendapat kan nya, sekarang kamu bisa bertanya sepuas mu, " ujar Reza
"Hai, Nak... "
"Nara, Pak, " ucap Nara mengerti maksud Pratama.
"Nama yang indah, apa pekerjaan mu sekarang? "
"Saya masih kuliah jadi tidak memiliki kerjaan apapun. "
"Baiklah pertanyaan apa yang ingin kamu tanyakan? " tanya Pratama.
"Cuma ingin mengetahui saja, Pak, perusahaan yang di maksud oleh Kakak, " jawab nya sedikit canggung.
"Ternyata kamu sama seperti Kakak mu saat pertama kali berjumpa dengan saya, sedikit canggung tapi mengesan kan, " ujar nya mengingat sebuah pertemuan nya dengan seorang Reza William.
"Hehe i- iya Pak. "
Reza hanya tersenyum melihat tingkah adik nya , kemudian ikut mendengarkan cerita dari masa lalu saat ia di pertemukan dengan Pratama Wijaya seorang CEO industri produk makanan yang paling banyak dikenali dan di segani oleh banyak orang karena memiliki hati yang murni dan selalu bersikap ramah terhadap orang lain.
Namun karena suatu ketika seorang klien memberikan sebuah penipuan terhadap nya sehingga menyebabkan Perusahaan yang telah bertahun-tahun lamanya ia bangun hampir saja mengalami bangkrut.
Pada saat itu Pratama wijaya merasa sangat frustasi bahkan sampai memasuki sebuah rumah sakit karena saking terkejutnya dan hampir kehilangan sebuah pekerjaan yang telah lama ia bangun, ia hidup sendirian istri nya sudah lama meninggal bersama anak nya yang masih kecil karena sebuah kecelakaan maut ketika mereka sedang pergi liburan.
Hingga suatu hari ketika Pratama Wijaya sedang jalan - jalan di sekitaran rumah nya ia di hadang oleh sekumpulan orang dan hampir melukainya saat itulah pertemuan mereka Reza yang hanya sekedar lewat bersama keempat sahabat nya segera menolong nya.
"Lalu kenapa Pak Pratama bisa memberikan perusahaan itu? " ujar Nara setelah mendengar cerita tersebut.
"Dulu saya merasa tidak sanggup untuk menolong perusahaan yang hampir bangkrut itu, tapi Kakak mu datang dengan berbagai macam kecerdasan dalam bidang bisnis, akhirnya saya memutuskan Nak Reza membantu saja di balik layar, dan saat itu proses penanganan perusahaan yang hampir hancur menjadi semakin naik dan banyak para klien atau partner bisnis yang lainnya tertarik dengan perusahaan itu, semuanya atas ide Kakak kamu, Nak.. " jawab Pratama pajang lebar.
"Lalu kenapa Kak Reza memanggil bapak sebagai Papi? "
"Nak Nara,, kamu pasti akan faham dengan keadaan saya,saya tidak memiliki siapapun, rumah ini saya tinggal sendirian bersama pelayan dan para pengawal yang masih setia bersama saya, usia yang sudah lanjut ini saya tidak kuat untuk terus melakukan pekerjaan berat seperti perusahaan sebab itu saya mengangkat nak Reza sebagai anak saya dan akan memberikannya perusahaan tersebut, " jawab Pratama, usianya yang sudah lanjut memang ia harus sudah memiliki seorang pewaris perusahaan namun ajal tidak ada yang tau.
"Jika Kak Reza memanggil bapak sebagai Papi lalu apakah aku adik nya bisa memanggil Bapak sebagai Papi juga? " tanya Nara penuh harap, jujur saja ia ingin sekali merasakan yang namanya mempunyai seorang ayah namun Jonathan sudah terlalu kejam untuk nya.
Pratama tergelak mendengar penuturan Nara dan memegang lembut kepala Nara.
"Tentu saja, kalian berdua sudah saya anggap sebagai anak sendiri jangan sungkan jika kalian dalam kesulitan datanglah kemari karena pintu ini selalu terbuka untuk kalian, " ucap Pratama tulus.
"Terimakasih Pa-pi. " ingin rasanya ia memeluk Pratama namun rasa sungkan dalam hatinya membuat nya mengurung kan niat.
"Kamu dengar kan, dek,, sekarang kita punya seorang Ayah yang sudah beribu - ribu kali lebih baik dari siapapun, Ayah yang memberikan segalanya, " ucap Reza yang memeluk sang adik.
"Papi juga berterimakasih kepada kalian karena telah datang mengisi kekosongan hidup ini, " ucap Pratama yang sudah tidak berlaku formal terhadap mereka.
"Tidak sia - sia kita di pertemukan untuk saling melengkapi dan tolong - menolong, " ujar Reza.
"Kemarilah dan peluk Papi kalian ini. " mereka berdua langsung menghambur ke arah pelukan Pratama.
Para pelayan yang ada disana terharu melihat suasana yang penuh haru itu, majikan yang selama ini tidak pernah sebahagia itu kini memiliki sebuah kebahagiaan yang telah lama hilang dalam dirinya.
"Tuan Pratama sangat beruntung, " ucap salah satu pelayan.
"Ya , selama ini Tuan tidak pernah sebahagia itu, mereka memang anak - anak yang baik. "
__ADS_1
Begitulah ucapan - ucapan yang terlontar dari mulut para pelayan yang setia bekerja di rumah tersebut.