Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Taruhan


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳🥳🥳🎈


*


*


*


Dua puluh lima menit semua para mahasiswa/i telah keluar, kecuali Nara yang hanya diam di dalam kelas nya bersama Wulan , mereka sudah menyelesaikan ujian nya hanya saja Nara malas untuk melihat suasana di luar.


"Nar kenapa tidak keluar? " tanya Wulan duduk di dekat Nara.


"Tidak ada, " jawab nya singkat.


"Ayok lah kita keluar, memang nya kamu nggak lapar? " tanya Wulan.


"Tidak. "


"Kenapa? Dari tadi singkat mulu. "


"Tidak ada. "


"Jaket mu kapan ku kembalikan? " tanya Wulan lagi.


"Besok. "


"Oh oke baiklah. "


'Punya teman kok gini banget ya, dingin kayak es batu,' batin Wulan.


"Kalau mau keluar silahkan, " ucap Nara.


"Ng..nggak aku mau disini, aku takut keluar, " jawab Wulan.


"Takut keluar gara - gara cowok tadi? " tanya Nara mengerutkan kening.


"Entah lah, kayak nya," ujar Wulan.


"Nama cowok itu siapa? Dan kenapa kamu berurusan sama dia? "


"Namanya Jeck, Rafli, sama Rian, aku sebenarnya tidak pernah berurusan tapi banyak yang mengatakan kalau mereka itu geng motor yang terkenal dengan keberingasan nya dan juga nggak segan - segan akan melukai seseorang yang dia suka jika dia tidak menurut, " jawab Wulan panjang lebar.


"Oh," ucap nya ber oh riya.


"Emang kenapa? Kamu tidak kaget gitu? "


"Tidak, " jawab Nara, Wulan yang benar saja dia tidak tau kalau yang dihadapan nya seorang adik mafia.


"Hm itu terserah mu saja."


Saat sedang asyik nya mengobrol Jeck bersama temannya datang membuat Wulan terkejut sedangkan Nara hanya memasang wajah dinginnya ia cukup terkejut pandangan nya jatuh kepada kakak nya Galen namun ia berusaha bersikap biasa.


"Jadi ini yang ngalahin kamu tadi Jeck? " tanya Galen tersenyumlah devil.


"Ya benar, dan sekarang aku mau taruhan sama dia, " ujar Jeck dengan bangga.


"Benar Bos, sekali - kali kita kasih pelajaran juga biar kapok berhadapan sama anak motor kayak kita, " ucap Rafli.


"Eh cupu!!! Nggak usah berlagak sok jagoan di kampus ini, nggak akan ada yang tertarik sama kamu , udah cupu bodoh tidak berguna, " cibir Galen mendekati Nara.


Nara hanya menatap tajam. "Urusan kalian apa kesini," tanya nya dingin.


"Wah.. Bos dia kayak nya udah benar - benar berani sama kita, " ucap Rian mereka tertawa bersama - sama.


"Kalian mending keluar aja daripada membuat keributan disini, " ujar Wulan.


"Kok kamu mau banget sama si cupu? Emang kamu tidak jijik apa dia itu sampah tidak berguna, " ucap Galen.


Jujur saja Nara merasa sangat sakit hati di katakan sampah dan tidak berguna, namun ia sudah terbiasa untuk tidak terlalu memikirkan nya.


Brak!


Nara menggebrak meja membuat semua yang ada di kelas terkejut.


"Keluar! " titah Nara datar sangat datar.


"Kamu ngusir kita? Berani sekali. " Galen mendekat mencengkram baju Nara.


"Lepas!! " tatapan tajam Nara menghadap ke arah Galen.


"Kalau aku tidak mau kamu mau apa? " tanya nya menantang.


"SAYA BILANG LEPAS YA LEPAS!!!! " suara teriakan Nara menggema di ruangan tersebut sehingga menimbulkan beberapa mahasiswa melihat ke arah kelas tersebut.


Sedangkan Wulan yang berada disana berusaha melerai mereka namun di tahan oleh Rafli dan juga Rian sedangkan Jeck hanya menonton.


"Oke aku lepas, tapi kamu harus terima tantangan dari dia, " ucap Galen menunjuk Jeck.


"Saya tidak butuh tantangan! " lugas Nara.

__ADS_1


"Pengecut sekali! " cibir Jeck.


"Kayak nya dia tidak berani tuh, makanya nyerah, " ucap Rian.


"Oke saya terima, tantangan kalian apa? " tanya Nara , yang benar saja ia paling benci dengan kata 'Pengecut'.


"Bagaimana kalau kita balap? Kalau kamu menang aku siap tunduk sama kamu, tapi kalau aku yang menang kamu harus jadi wanita ku, " tantang Jeck.


Nara terdiam sejenak, tantangan macam apa ini apakah ia harus terima padahal selama di markas ia memang pernah belajar balap sama Bima dan juga Ethan dan sekarang apakah dia akan terima ? bagaimana kalau dia kalah?


"Kenapa diam? Kamu takut? " tanya Rafli.


"Oke saya terima, " ucap Nara.


"Deall, " Nara meraih tangan Jeck membuat kesepakatan.


"Setelah kuliah, aku tunggu di gerbang, " ujar Jeck setelah itu dia berlalu bersama yang lain.


"Aku harap kamu berhasil melawan dia Nara, " ucap Galen.


"Kenapa kamu peduli? Nggak usah sok peduli, " ujar Nara ia benar - benar benci dengan Galen sekarang.


"Berhenti mencari kebencian Nara!! " tekan Galen.


"Dan berhenti sok peduli , karena saya tidak butuh kepedulian dari kamu, " ucap Nara menatap tajam.


Galen berlalu begitu saja membuat semua mata memandang mereka, namun Nara hanya terdiam.


"Nar, maaf ya gara - gara aku kamu jadi taruhannya, " ucap Wulan yang sudah di lepaskan oleh 2R Rafli dan Rian segera menghampiri Nara.


"Tidak masalah ,saya bisa mengatasi nya, " ucap Nara percaya diri.


"Baiklah semoga nanti kamu menang, " ucap Wulan menyemangati.


"Hm."


"Oke."


Hari sudah menunjukkan jam 15 . 30 tandanya Nara sudah menyelesaikan mata kuliah nya, ia keluar dengan tas yang di sandang satu bahu kirinya, semua menatap Nara intens saat itu pula Jeck menghampiri.


"Nanti malam aku tunggu di jalan sini, " ucap Jeck.


"Kasih waktu itu yang jelas!! " tegas Nara katanya pulang kuliah lalu kenapa bisa berubah jadi malam.


"Semula sore ini tapi banyak pengendara!! " jawab Jeck santai.


"Terserah!! " Nara berlalu meninggalkan Jeck yang berjalan sendirian.


***


"Habis darimana? " menatap Nara tajam.


"Toilet. " jawab Nara dusta.


"Yasudah cepat masuk. " titah Reza.


"Jennie mana? "


"Sudah pulang sama Galen," jawab Reza.


Tak lama kemudian mobil pun berjalan membelah jalan Raya yang sedikit ramai, hening tidak ada percakapan di antara mereka sampai Nara yang membuka suara.


"Kak , Kakak punya motor kan? " tanya Nara.


"Memangnya kenapa? "


"Aku boleh pinjam nggak kak? Soal nya ada tugas nanti malam, " jawab Nara dusta.


"Kamu sudah punya teman sekarang? "


"Ya namanya Wulan. "


Reza tidak tau soal adik nya yang membantu Wulan dam tidak tau pula Nara yang di ajak taruhan, Nara sengaja tak memberitahu karena ia yakin Reza pasti akan melarang nya.


'Maaf kak aku bohong, cuman untuk malam ini karena nara tidak mau jadi perempuan yang di anggap pengecut,' batin Nara merasa bersalah.


"Baiklah tapi pulang jam 10 malam tidak boleh lebih dari itu, " ucap Reza.


"Oke thanks my brother, " ucap Nara tersenyum dan hanya di angguki oleh Reza.


***


Seperti kesepakatan yang telah di buat antara Nara dan Jeck , Nara bersiap untuk malam itu, Nara mengenakan baju kulit yang di berikan oleh Reza saat di markas tak lupa dengan celananya di padukan dengan sepatu sneaker hitam nya.


"Kak kunci nya mana ? " tanya Nara.


"Nih, " Reza menyerah kan kunci motor nya.


"Pergi buat tugas kenapa pakek baju gituan? " tanya Reza menyelidik.


"Heh an- anu kak,, dingin bajunya kan anget dan lebih ringan juga, " ucap Nara beralasan.

__ADS_1


"Yasudah jangan pulang larut malam, " pesan Reza.


"Iyaaaa."


Nara keluar dengan hati - hati, ia tidak ingin menimbulkan suara supaya tidak ada perdebatan dari orang tuanya saat ia terlihat, Nara sangat malas ia ingin segera menyelesaikan taruhannya dan tidak ingin berurusan lagi dengan siapapun.


Nara berhasil keluar, ia segera menuju garasi mobil mengambil motor Kawasaki ninja berwarna hitam milik kakak nya , setelah selesai mengeluarkan motor tersebut dengan cepat ia membawanya keluar menempuh jalanan yang cukup sepi.


"Sepi banget nih jalan, moga aja tidak ada apa- apa males banget kalau berhadapan dengan orang lain, " guman Nara dalam perjalanan


Sedangkan dirumah , Reza terus memandang HP nya karena sebelumnya ia telah memasang GPS di motor milik nya yang tidak di ketahui oleh Nara.


Reza terus mengerutkan kening nya saat motor tersebut berhenti di gerbang kampus nya.


"Kampus? Ngapain Nara ke kampus malam - malam? " tanya nya mengerut kan kening.


Sedangkan disisi lain Nara telah tunggu lama oleh Jeck dan teman lainnya.


"Lama banget sih kamu capek nunggu, " protes jeck.


"Jalan sekarang dan tentukan lokasi! " ucap Nara tak perlu basa - basi.


"Yasudah ikut aku. "


Mereka terus menyusuri jalanan hingga mereka sampai di sebuah kerumunan geng motot milik Jeck, nampak beberapa pemuda laki - laki yang melihat kedatangan mereka.


"Widih bawa cewek kamu Jeck? " tanya temannya yang lain.


"Aku mau balap sama dia, aku harap kalian saksi mata, " jawab Jeck.


"Oke kalau gitu, bagus juga nih motor cewek nama kamu siapa? "


"Tidak perlu tau, " ujar Nara dingin.


"Sombong banget , awas aja kalau kamu kalah. "


"Siapa takut. "


Malam nampak sepi , tak ada satupun pengendara yang lewat kecuali hanya mereka para anak jalanan yang akan menonton acara balap liar.


Namun saat sedang asyik nya mereka bernegosiasi ada segerombolan laki - laki yang menghentikan motor mereka.


"Ada balap ni kayak nya, " ujar salah satu dari mereka yang bernama Abimana.


"Coba kita lihat kesana yuk, " sahut Aldi.


Mereka mengangguk dan mendekat ke arah Nara yang di kerumuni orang - orang, mereka mendengar omongan Nara yang akan mengadakan balap liar sehingga membuat mereka tergiur untuk ikut.


"Aku ikut. " ucap asal nyelonong.


Nara dan Jeck yang tengah bersiap langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu mau ikut? Emang kamu punya apa? " tanya Jeck sombong.


"Tidak perlu barang, cukup cewek itu kamu serahin sama aku kalau aku kalah aku bakal kasih apapun yang di minta gimana ? " tanya nya dengan seringai licik.


Nara yang mendengar dirinya dijadikan bahan taruhan merasa geram, ini taruhannya antara Jeck dan dia kenapa malah orang asing yang ikut.


"Jangan macam- macam sama dia, dia itu bukan sembarang cewek, " tandas Riko salah satu anggota nya Jeck.


"Kenapa? Kalian takut? Dasar pengecut! " ujar nya.


"Sorry,,, saya bukan cewek murahan yang patut di jadikan bahan taruhan !! " ucap Nara dingin.


"Jangan sombong jadi cewek makanya kalau tidak mau dijadikan bahan taruhan nggak usah sok - sok an balap, " ucap nya , ya dia bernama Gio ketua geng motor Lion King.


"Saya memang tidak memiliki jiwa seorang pembalap dan petaruh, tapi jangan harap kamu bisa seenak jidat menjadikan saya bahan taruhan, " ucap Nara penuh penekanan.


Semua yang melihat itu hanya menatap melongo menatap tingkah Nara yang sangat datar dan dingin.


Nara tidak takut dengan semua gertakan dari siapapun, Nara tidak takut dengan semua taruhan apapun ,bukan karena ia sok berani ataupun sok jagoan namun ia berusaha mempertahankan dirinya dan akan tetap berusaha membuktikan bahwa dia tidaklah pantas untuk di injak - injak.


"Oke, kamu ternyata nantangin! Kalau begitu aku siap ni motor buat kamu kalau kamu menang, " ucap Gio secepatnya mengambil kesepakatan.


"Hm, saya terima," ucap Nara.


'Nenek , apakah nenek melihat Nara dari atas? nenek bantu Nara untuk memenangkan taruhan ini, Nara tau Nara yang salah menerima semuanya dan nara sudah berbohong sama Kak Reza , maafkan Nara,' batin Nara ketika sudah menaiki motor nya.


Semua sudah berkumpul di area balap akan segera menyaksikan siapakah pemenang dari taruhan ini. Seorang perempuan dengan pakaian minim nya tubuh bak gitar spayol berjalan ke tengah jalan , di depan motor mereka membawa sapu tangan.


"Siap... " ucap nya


Seketika pula motor mereka meraung - raung di tengah keheningan malam layak nya singa yang sedang mencari mangsa.


Satu...


Dua...


Tiga...


Sapu tangan tersebut ia lempar ke atas dan saat sudah jatuh ke bawah mereka langsung melesatkan motor mereka.

__ADS_1


__ADS_2