Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Remains of war


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Baling-baling helikopter masih menyala, menerbangkan setiap debu yang ada di bawah nya. Aldo telah turun untuk membereskan semua kekacauan dalam peperangan hari ini, dengan di ikuti oleh dua Saudara Reza, ia tak merasa kesulitan sedikitpun, keduanya meski sedikit tidak ahli dalam menggunakan senjata tetapi mereka telah cukup mampu untuk melindungi diri.


"Bawa dia! " perintah Aldo kepada ChiFeng yang melihat Furio tak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah.


"Siap, Komandan! " jawab ChiFeng.


"Apakah Reza sudah menemukan mereka? " tanya Arzan.


Baru saja Arzan menanyakan hal itu, alat komunikasi yang ada di telinga Aldo menyala.


"Semua sudah keluar, cepatlah kalian kembali. " perintah singkat namun terdengar tergesa-gesa itu sudah cukup membuat Aldo faham untuk segera melaksanakan nya.


"Kita harus segera pergi dari sini, " ucap Aldo angguki oleh keduanya.


***


Sizhui bersama dengan Chen membantu para pasukan Jungle Kingdom yang sedang terluka, mereka memilih tempat yang terlihat aman untuk di tempati, dan sembari menunggu kembalinya pemimpin mereka.


Sedangkan Yeru dan juga Qui membereskan sisa - sisa pertempuran, serta beberapa jejak yang tak boleh sama sekali tertinggal di tempat tersebut, ia berpikir akan segera ada polisi datang kemari untuk membereskan beberapa mayat anak buah Arres yang tergeletak di atas tanah.


"Apa yang kamu pikirkan? " tanya Qui melihat Yeru yang terdiam ketika melihat tato mata elang milik salah satu pasukan Scale Bones.


"Aku seperti tidak yakin, apakah anggota ini asli atau tidak, " jawab nya kemudian bangkit sambil menatap sahabatnya itu.


"Maksud kamu apa? "


"Coba di pikirkan sekali lagi, bukankah Organisasi Scale Bones terkenal dengan kehebatan bahkan kekejaman nya? Lalu kenapa mereka bisa semudah itu di kalahkan oleh pasukan kita? Bahkan mereka juga terkenal dengan kelicikannya untuk mengelabui musuh, " jelas Yeru.


Qui mengetuk dahu nya nampak berpikir. "Benar juga, tapi... ah sudah lah, jangan terlalu di pikirkan yang terpenting sekarang kita bereskan semuanya sebelum Tuan Reza datang dan membawa Queen kembali, " ucap Qui.


"Hm benar, semoga saja Queen baik - baik saja dan Arres di musnahkan oleh Tuan Reza. "


"Hahah, aku rasa bukan langsung musnah, kamu tau kan kalau Tuan Reza tidak semudah itu membunuh seseorang yang telah menganggu nya, " kekeh Qui.


"Aku sudah tidak sabar memainkan alat setrum di markas, kira - kira bagaimana reaksi mereka ketika kita menyiksa nya? " kembali keduanya tergelak membayangkan sesuatu hal yang kejam karena di anggap lucu oleh nya.


***


Bima terus berlari kesana-kemari mencari jalan untuk ia tempuh ke jalan rahasia bawah tanah, tetapi baru saja ia akan melangkah kan kakinya pada lorong gelap di gedung tersebut, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.


Ia siaga, mengambil pistol nya, siapa tau ada pasukan Scale Bones yang masih hidup dan sedang melarikan diri, hingga....

__ADS_1


"Bima! " suara teriakan yang tak asing di telinga Bima langsung membuatnya segera memperjelas penglihatan nya.


"Kalian! Apa yang terjadi? " kepanikan langsung mendera dalam diri Bima, hingga pandangannya kini fokus kepada Nara.


"Nara! Apa yang terjadi sama Nara? Katakan, aku akan membunuh siapapun yang melukai Nara! " cerca Bima.


"Bim... Nara.. Nara tertembak.. " suara Rio tercekat merasa tak sanggup memberitahu.


"Bim, tidak ada waktu untuk bertanya sekarang, kita harus pergi kerumah sakit, suruh siapapun untuk menelpon Dokter Dika dan memberikan kita beberapa ruangan untuk yang lain, terutama untuk Nara, " ujar Sherly tergesa-gesa.


"Baiklah, ayok cepat keluar. "


Mereka langsung menerobos ruangan gelap tersebut, berlarian untuk segera mencari pintu keluar, dalam hati mereka tak boleh sedikit pun keterlambatan untuk menyelamatkan Nara, Queen mereka, perempuan yang di ratukan oleh seluruh anggota Jungle Kingdom.


Melihat nya pergi menyerah kan diri saja membuat seluruh anggota Jungle Kingdom gempar karena tak rela melihat perempuan ceria seperti Nara terluka.


Ethan terus menggumankan setiap kata untuk Nara bertahan, tetapi sepertinya Nara tak akan mendengar kan itu, karena saat ini Nara benar - benar tak sadarkan diri.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di luar, Bima melihat Yeru bersama dengan Qui yang sedang membereskan beberapa mayat yang tergeletak.


"Yeru! Siapkan helikopter, kita akan kerumah sakit! " teriak Bima.


Yeru yang mendengar suara itu sedikit terkejut dan segera mendekat.


"Queen!! " teriaknya.


"Qui, hubungi Dokter Dika, suruh menyiapkan beberapa ruangan khusus untuk pasukan kita, sisa nya biarkan anggota yang lain akan membereskan ini, " perintah Rio.


"A-apa yang terjadi dengan Queen? " tanya Terus sedikit gemetar.


Ethan menghela nafas. "Cepat siapkan helikopter, tidak ada waktu untuk bertanya, " ujar Ethan.


"Siap, Komandan! " Yeru segera berlari ke arah helikopter yang di kendarai oleh salah satu pasukan Jungle Kingdom kemudian menyuruh Ethan segera naik ke atas.


"Sudah di siapkan, Komandan, kita harus tiba secepatnya! " ujar Qui.


"Baiklah, kita berangkat sekarang, apakah ada yang terluka parah, supaya mereka ikut kesana? " tanya Bima.


"Hanya luka ringan, Komandan, tidak ada yang serius, biarlah Queen yang pergi duluan, kami akan menyusul setelah nya, " ujar Qui.


"Baiklah, beritahu yang lain nya kami kerumah sakit, " ujar Bima.


"Siap! "


Ethan membopong tubuh Nara dan membawa nya ke arah helikopter yang siap kembali terbang menembus udara malam, Sherly membawa Jennie ikut naik ke helikopter begitu pula dengan Bima.


"Yeru, jangan lupa beritahu yang lain untuk segera mendatangkan kendaraan darurat, yang terluka suruh saja langsung kerumah sakit, sisanya biarkan kembali ke Mansion, " perintah Bima sebelum akhirnya mulai di bawa terbang.


"Siap, Komandan! " jawab Yeru sedikit berteriak karena suara baling-baling yang begitu keras.

__ADS_1


Helikopter kini mulai terbang membawa Bima dan yang lainnya menuju kerumah sakit, rasa kekhawatiran terus menghantui dirinya, ia sudah sangat menyayangi Nara sebagai adik kandungnya sendiri. Sedangkan Ethan dengan mata yang kini memerah menahan tangis ia terus membelai lembut rambut panjang Nara, ia memang tak banyak bicara sedari tadi hanya untuk menahan dirinya supaya tidak menangis.


'Nara, kamu tau? Entah aku sudah benar - benar gila melihat mu seperti ini, tolong jangan pergi. ' suara hati Ethan begitu pilu jika dapat di dengarkan oleh orang lain.


Beginilah sifat Ethan, terlalu memendam sesuatu yang menurutnya tak perlu untuk di ketahui banyak orang, meski orang lain dapat melihat kesedihan Ethan tetapi setiap orang itu bertanya pasti akan di jawab dengan hanya ia baik - baik saja.


Bima mendekat ke arah Ethan. "Biarkan aku yang membawanya, istirahatlah sebelum kita benar-benar berjaga di rumah sakit, " ujar Bima lembut, hanya dirinya yang paling dewasa dalam anggota mereka.


"Tak apa,Bim, aku bisa sendiri, " tolak Ethan halus.


Bima menghela nafas. "Aku tau perasaan kamu, tapi jangan terlalu memaksa jika kamu merasa tak kuat, " ujar Bima.


"Biarkan Bima yang membawa Nara, kamu harus istirahat sebelum sampai di rumah sakit, tenangkan pikiran mu, Nara akan baik - baik saja. " kini Sherly yang menimpali, ia juga tak menyangka akan merasakan kekhawatiran yang teramat dalam untuk Nara, dulu Nara adalah orang yang pertama kali membuatnya benci, tetapi setelah melihat Nara begitu tak sebanding dari dirinya ia tersadar bahwa kesombongan tidak ada gunanya, apalagi membenci.


Sherly adalah sosok yang arogan dulu nya, suka pamer akan kemampuan nya kepada sesama anggota, ia tak peduli ada anggota yang tersinggung, karena dulu ia sangat terobsesi untuk menjadi pendamping Reza. Tetapi hingga Nara datang, ia akhirnya di kalahkan begitu telak, dan kini ia di buat sadar akan hal itu.


Sekarang ia menganggap Nara sebagai adik kandungnya sendiri, ia sangat menyukai setiap keceriaan Nara, bahkan sikap Nara yang tak pantang menyerah.


Ethan yang mendengar hal itu hanya bisa pasrah dan menyerahkan Nara yang ada di pangkuannya kepada Bima.


"Minumlah. " Sherly mengambil dua botol air minum yang ada di sana, kemudian menyerahkan nya kepada Ethan dan juga Jennie.


Ethan mengangguk dan mengambil air tersebut, lalu meneguknya hingga tersisa sedikit.


"Terimakasih, " ucap Jennie sedikit kaku.


Sherly pun mengangguk. "Bagaimana Nara bisa tertembak? " tanya Sherly datar menatap Jennie.


Jennie menunduk. "Kami bertiga sempat akan keluar, tapi kata Reano kalau jalan menuju pintu keluar saat itu Kak Reza di serang, " jawab Jennie.


"Bertiga? " Sherly, Bima dan Ethan berseru kompak.


"Benar, aku tadi sempat melihat Reano tak sadarkan diri, " timpal Rio.


"Siapa satunya? " tanya Sherly.


"Anak buah Rain, mata - matanya yang menunjuk aku sama Vito jalan kesini, " jawab Rio.


"Oooooo. " kembali mereka bertiga menjawab kompak.


"Lalu? " Sherly kembali lagi bertanya.


"Saat itu Arres mengejar kami, kami memang sempat bersembunyi tetapi dia duluan tau tempat kami, hingga akhirnya Nara menyerahkan diri dan keluar dari persembunyiannya. "


"Reano khawatir hingga ia juga keluar dan terjadilah perkelahian antara mereka dengan anak buah Arres, saat itu Reano sedikit lengah hingga dia di pukul sampai pingsan, ketika Nara mencoba bertahan, luka pada punggungnya kembali terbuka, dan.... " Jennie menghela nafas.


"Dan Nara menjadi lemah, tidak bisa bertahan, Arres mengancam kalau aku tidak keluar Nara akan di tembak, lalu aku berlari ke arah Nara, tanpa aku sadari Arres begitu licik mengarahkan pistol ke arah ku, Nara yang setengah sadar melihat hal itu, hingga ketika peluru di lesakkan Nara mencoba bangkit menyelamatkan ku, hingga peluru kedua kembali mengenai Nara. " Jennie kembali menangis setelah menjelaskan nya dengan panjang lebar, bahkan pundaknya naik turun akibat sesenggukan.


"F"ck ****!!! Aku harap Arres akan mati setelah ini! " ucap Sherly geram, ia mengeratkan kepalan tangannya.

__ADS_1


"Reza tidak semudah itu membunuh musuh, dia perlu melihat keadaan adiknya, baru akan membalas dengan lebih dari apa yang Nara dapatkan, " ujar Bima dengan wajah nya yang terlihat menggelap akibat kemarahan.


Suasana di dalam helikopter tersebut kini penuh dengan aura kesedihan, kemarahan, bahkan ada rasa yang tak dapat di jelaskan dengan rasa yang campur aduk seperti ini. Kekhawatiran begitu jelas dalam diri mereka, bersiap akan bahaya apalagi di masa depan, tetapi jauh yang mereka harapkan tak ada kejadian seperti ini terulang kembali.


__ADS_2