
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Sudah lama mengobrol di kampus, sedari tadi Nara masih bergelayut manja di lengan Kakak nya sesekali bercanda dengan sahabat Reza yang ada disana.
"Kita pulang, dek, " ujar Reza.
"Yasudah. "
"Kami pulang dulu, " pamit Reza pada Arka dan Roni kemudian di angguki oleh mereka.
Sesampainya di area parkir Nara segera masuk kedalam mobil Reza, ya saat ini ia sedang malas berkendara sendiri hingga ia tidak membawa motor hasil taruhannya.
"Besok bawa motor sendiri, " ujar Reza.
"Oohh Kakak nggak usah ya aku naik mobil sama Kakak? " ucap Nara memicingkan mata.
"Hahahaha astaga! Tidak lah, kan kamu sudah dapat motor, gunakan saja itu kalau tidak di gunakan buat apa dong? " ujar Reza tertawa sambil masuk kedalam mobil.
"Bukan kah Kakak juga punya motor kenapa pakai mobil? "tanya Nara balik.
"Kakak akan pakai motor kalau Kakak pergi sendirian, " jawab Reza apa adanya, setelah itu Reza mulai menjalankan mobil nya menempuh perjalanan pulang.
***
Siang itu terlihat sebuah tempat yang cukup ramai dengan kegiatan masing - masing, ada yang melakukan olahraga ringan seperti lari - lari kecil, push up dan lain sebagai nya. Bahkan ada juga yang melakukan latihan bela diri serta bermain senjata.
Suasana begitu terik sinar matahari sudah sangat tinggi ke atas, namun latihan tersebut tetap berjalan dan di bawah kendali Bima di bantu oleh dua sahabat nya Ethan dan Aldo tentu saja mereka juga ikut latihan.
Saat sedang asyik nya menikmati latihan itu, mereka melihat kedatangan Rio dan juga Vito yang sedikit berlari.
"Ada apa? " tanya Bima dan dua sahabat nya mendekat.
"Kalian menemukan sesuatu? " ucap Sherly, saat ini Sherly masih ada disana dan sudah berangsur pulih.
"Kami menangkap salah satu anak buah Scale Bones! " seru Rio.
"Lalu dimana dia sekarang? " tanya Bima.
"Di markas gudang penyiksaan, Bim, " jawab Rio.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? " tanya Vito.
"Telpon Reza untuk langkah selanjutnya, " timpal Ethan.
Vito segera meraih ponsel nya dan mendial sebuah nomor, beberapa menit tidak di angkat membuat yang lain bingung.
"Reza sepertinya masih di kampus, nanti saja kita hubungi, " ujar Aldo.
"Kalian sudah perketat penjagaan? " tanya Sherly.
"Sudah, hanya aja Rio akan kembali kesana untuk mengawasi lagi, karena takutnya teman mereka membantu nya untuk keluar dari sana, " jelas Vito.
"Kalau begitu aku langsung pergi saja, kalau sudah ada kabar kalian bisa hubungi aku, " ujar Rio bergegas pergi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, hati - hati, " pesan Bima dan yang lainnya.
"Latihan selesai sampai disini, kalian boleh istirahat! seru Bima kepada para anak buah Jungle Kingdom.
"Siap! " jawab mereka kompak.
***
Jalan begitu terlihat ramai. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang mobil serta kendaran sepeda motor berlalu lalang entah untuk pulang ataupun dengan urusan lainnya, mobil dengan warna favorit nya sedang melaju di atas kecepatan rata - rata meninggal kan jejak kepuasan pada wajah masing - masing karena telah selesai melaksanakan kewajiban nya sebagaimana seorang Mahasiswa di sebuah kampus yang di tempatinya.
"Huh akhirnya Kak bisa selesai juga,"ujar Nara senang.
"Hm tentu."
Mobil terus melaju menempuh perjalanan yang cukup panjang, hingga tak lama kemudian mereka sampai di mansion mewah tempat mereka.
Reza membawa mobil masuk ke halaman mansion tersebut ,setelah di bukakan gerbang oleh seorang Satpam yang bertugas di keluarga William, kemudian satpam itu menunduk memberi hormat untuk anak dari majikannya.
Brumm...
Suara deru mobil tersebut memasuki garasi, setelah itu mereka berdua keluar dari mobil tersebut, mereka melihat ada mobil milik Galen artinya saudaranya sudah kembali terlebih dahulu namun Reza tidak perduli, toh mereka juga tak pernah bercengkrama dengan baik.
"Ayok, Kak, masuk," ujar Nara.
"Ayok pasti kamu capek kan? " tanya Reza menatap Nara.
"Hmm tidak sudahlah jangan berlebihan Kakak ini sama aja kayak Kak Ethan."
Benar saja, beberapa minggu ini kedekatan Nara dan Ethan semakin menjadi - jadi membuat Reza dan semua sahabat nya yang lain mencurigai kedekatan mereka , karena setiap bertemu dengan Ethan, Nara begitu tampak antusias memancarkan aura ketertarikan nya.
Namun sampai saat ini Nara tak pernah mengakui akan perasaan tersebut karena baginya itu tidak mungkin, terkadang ketika mereka berdekatan Nara selalu merasakan perasaan yang entah seperti apa karena ada rasa suka, nyaman dan lain sebagainya.
"Ih Kak Reza,, udah deh jangan mulai resek ya. " bersemu merah.
"Bilang aja. " semakin senang melihat wajah adik nya yang memerah.
"Kak Reza!!! " seru Nara kesal.
"Bhahahah gitu aja kesal kalau suka bilang aja bwlee, " menjulurkan lidahnya tak lupa sebelum lari Reza mencubit keras pipi gemas adik nya membuat Nara semakin kesal.
"Kak Reza!! Awas ya!! " mengejar kakaknya.
Kini mereka melakukan aksi kejar - kejaran di halaman rumah tersebut, terpancar aura kebahagiaan dan kasih sayang di antara adik dan kakak itu meski orang tua mereka tidak mengakui, ah entah apa penyebab nya sampai mereka begitu benci nya terhadap si Bungsu Nara sedangkan Reza sudah pasti Jonathan membenci nya karena harta warisan yang akan jatuh ke tangannya kini ia kalah telak oleh anak nya atau cucu kesayangan ibunya.
Jonathan tidak memberitahu siapa - siapa di rumah itu, ia memilih untuk menyimpan nya sendiri. Entahlah apa yang akan terjadi jika istrinya yang tak tau diri itu mengetahui semuanya, mungkin saja ia syok atau malah semakin ingin membunuh Reza tapi itu tidak mungkin kan? Karena jika belum mendapatkan izin dari Reza harta warisan itu tak mereka dapatkan walau hanya secuil pun.
Begitu senangnya mereka bermain kejar - kejaran, tawa yang terlepas begitu saja hingga tanpa sengaja menabrak seorang Pelayan paruh paya yang akan menjemur pakaian.
Brugh!!
"Ssshh awhh," ringis Nara memegang kaki nya.
"Astaga Nona Nara,, maaf,saya minta maaf Nona. " ucap nya menyesal.
"Ah tak apa, Bik Reni, " ujar Nara ramah, itu salah satu pelayan yang sedikit terlihat muda dari pembantu lainnya termasuk Bik Rumi mereka sangat baik terhadap Nara.
Reza yang melihat adik nya terjatuh menghentikan langkah nya dan berbalik arah menuju Nara, "Ada apa? " menghampiri.
"Aku tidak sengaja menabrak nya, " jawab Nara bangun di bantu oleh Bik Reni.
__ADS_1
"Maaf kan saya, Tuan, saya tidak melihat nya saya sedang menjemur pakaian ini, " ujar nya menunduk takut.
"Oohh ya tidak apa, sekarang Bik Reni masuk saja, " titah Reza ramah.
"Tapi, Tuan, jemuran ini belum selesai," balas Bik Reni.
"Tidak apa biar Nara yang menyelesaikan nya ." menatap ke arah Nara.
Nara menatap Reza dengan tatapan yang sulit di artikan, "Kenapa? "
" Kamu sudah kalah mengejar Kakak jadi hukuman kamu ini ya," ledek Reza tersenyum puas.
"Yah... tapi kan aku tidak sengaja menabrak Bik Reni jadi terjatuh, " elak Nara tak terima "Lagian kita tidak pernah serius, Kakak aja yang bikin kesal makanya aku kejar ." lanjutnya.
"Kakak tidak peduli intinya lakukan atau tidak... akan ada hukuman yang lebih berat lagi. " menatap sinis.
"Tidak, Tuan, Nona Nara pasti capek ini semua salah saya. "
"Tidak jangan menyalahkan dirimu masuk lah,? " ucap Reza sedikit tegas.
"Ba-baiklah." Bik Reni segera masuk kedalam ketika Reza sudah tegas memerintahkannya.
Nara masih menatap Kakak nya jengkel, " Ngeselin banget sih." Reza tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adik nya yang terlihat menggemaskan.
"Hahahah lagian itu baju kamu dek."
"Udah diam!! " kesalnya , mau tak mau ia pun melakukan nya sesuai instruksi dari Reza.
Saat mereka tengah asyik nya melempar kasih sayang serta kedamaian dan menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri, nampak dari kejauhan terlihat seorang gadis mengepalkan tangan nya menatap penuh kebencian akan kedekatan mereka.
"Dasar gadis sialan!!! Kamu tidak pantas menjadi adik nya Kak Reza,, dasar cupu sampah di keluarga ini, lihat saja aku akan menghancurkan mu! " geram nya, ya dialah Jennie saat itu tak sengaja mendengar suara kegaduhan di luar ia menuju ke arah balkon kamar nya dan tak sengaja menatap keseruan antara adik dan kakak yang sedang bermain kejar - kejaran.
Saat melihat itu tercipta rasa cemburu karena kenapa ia tak bisa sedekat itu kepada Reza? Reza malah dekat dengan Nara yang tidak di anggap oleh orang tua mereka. Ah sudah lah terlalu rumit untuk ia pikirkan dan memilih untuk pergi dari balkon tersebut.
***
Selesai melakukan aksi kejar-kejaran dengan di akhiri oleh hukuman Nara untuk menjemur pakaian, kini kedua adik Kakak itu memasuki kamar masing-masing, saat ini Reza tidak ke kamar Nara, ia hanya ingin memeriksa kerjaan dari manager cafe miliknya.
Ia segera mengambil laptop dan memeriksa sampai tahap berapa cafe nya begitu banyak menarik para customer.
Ia merogoh ponsel nya di saku celana, niatnya ingin menelpon manajer namun saat ia melihat ponselnya, ada satu panggilan yang tak terjawab. "Vito kenapa nelpon? " gumannya segera menekan tombol untuk menelpon nya kembali.
"Hallo Vit? Ada apa? " tanya Reza.
"....."
"Lalu kalian sudah interogasi? "
"....."
"Baiklah, aku akan datang! "
Telpon off.
Sedangkan Nara ia kini baru keluar dari kamar mandi, niatnya ingin segera tidur tetapi perutnya terasa lapar hingga akhirnya ia memilih untuk ke dapur.
Menyusuri tangga satu persatu hingga ia tak menyadari bahwa Jennie ada di bawah, ketika Nara sudah sampai tangga paling akhir tiba - tiba...
Plak!
__ADS_1