
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Ketegangan yang begitu membuat Nara semakin tidak tenang, ia berkali - kali meremas telapak tangannya, mencoba menyalurkan sebuah kegugupan yang baru pertama kali ia rasakan.
Reza melihat hal itu, iapun segera mendekat memegang kedua tangan sang adik. Ia tau seberapa gugup dan gelisah nya Nara saat ini, ia tau ketakutan dalam hati Nara. Dengan perasaan yang penuh meyakinkan, Reza mengelus lembut puncak kepala Nara.
"Tenanglah, Kakak tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan mu berlama - lama disana. "
Reza memeluk tubuh ringkih sang adik, menepuk punggungnya berkali-kali mencoba menenangkan. Bima dan seluruh sahabat Reza yang telah ia anggap sebagai Kakak nya sendiri kini mendekat.
"Dek, percayalah, dengan segala kemampuan Kakak di bidang Cyber Kakak janji bersama Kak Aldo akan selalu menemukan jalan dan lokasi dimanapun kamu berada, " ucap Vito tersenyum, ia duduk di sebelah Nara.
"Kalau saja mereka disana berani melukai mu sedikitpun, akan Kakak hancurkan dia hingga ke tulang - tulangnya! " Rio ikut menimpali.
"Kalian semua adalah yang terbaik, " ucap Nara tersenyum tipis.
"Tentu saja, untuk Queen kita apa sih yang nggak?! " seru Bima membuat yang lain tersenyum.
"Hei, Nara, lihatlah Lily mu ini, kalau sudah bertemu dengan mereka nanti akan aku tebas kepalanya satu persatu,bahkan kalau bisa akan aku pajang. "
Ucapan Sherly membuat yang lainnya tertawa terbahak-bahak, namun berbeda dengan Jonathan dan keluarganya yang ada disana.
"Aku mengharap kan itu, kalau bisa aku saja yang melakukannya, " kekeh Nara menyeringai.
"Kalau sudah bebas, aku akan memberimu pedang kesayangan ku sebagai penghargaan, " balas Sherly.
"Ternyata kamu masih menyimpan pedang itu,Sher, " ujar Reza.
"Tentu saja, pedang yang sudah bertahun-tahun berada di dekat ku mana mungkin aku hilangkan begitu saja, " jawab Sherly tersenyum penuh makna.
Yang lain mengerutkan kening, hingga Aldo menimpali. "Kalau begitu kenapa selama penyerang terjadi kamu tidak membawanya? "
Sherly menatap Aldo kemudian menjawab. "Tentu saja kalau penyerangan kecil aku tidak akan bawa, kalau tadi... aku lupa heheh. " Sherly menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Pelupa! " desis Bima.
Sherly menatap tajam. "Apa kamu bilang?! " bahkan kini Sherly maju ke arah Bima.
"Jangan dekat - dekat, nanti aku ketularan pelupa, " jawab Bima mencibir.
"F*ck you!! " Sherly mengacungkan jari tengah nya.
Begitulah suasana yang sebelumnya membuat Nara gugup dan gelisah, namun kini sedikit tenang karena candaan dari para Kakak nya itu.
"Dek, kalau kamu berhasil aku ajak kamu jalan - jalan kemanapun kamu mau, " ujar Aldo membuat Nara berbinar.
"Really? "
"Yes, really, apapun untuk adik kecil ku, " kekeh Aldo.
"Jangan bawa terlalu jauh, bahaya! " tatapan mata Ethan berubah tajam.
"Oh my God! Ada yang cemburu! " seru Sherly terbahak.
Nara merona kemudian menunduk, Reza yang melihat tingkah adiknya pun tersenyum. "Sudah kalian istirahat sebentar, setelah itu kita langsung membuat rencana baru, " ujar Reza menatap semuanya.
Mereka mengangguk, mereka memilih bersantai mencoba menenangkan pikiran, memikirkan perang yang sudah ada di depan mata dan akan terjadi. Tidak ada rasa takut dalam diri mereka, yang ada hanya keinginan untuk melindungi sosok gadis yang begitu berharga bagi keluarga Jungle Kingdom.
Bagi mereka, Nara adalah sebuah cahaya yang bersinar begitu terang. Dulu sebelum Nara ada di antara mereka, kegelapan begitu menyelimuti hati dalam diri masing-masing. Tak ada canda dan tawa yang begitu mudah terlepas, yang ada hanyalah sifat kaku dan datar, canggung dan penuh keterbatasan.
Tetapi, ketika Nara mulai masuk seakan-akan mereka terlepas dari segala kecanggungan mereka, namun bukan berarti mereka tidak menghormati Kakak nya sang gadis itu, justru ketika ada Nara mereka merasa bahwa kekuatan begitu bertambah.
__ADS_1
Beberapa jam mereka termenung, sudah waktunya Nara bersiap menghubungi kembali Furio, ia kini sudah berada di depan layar yang telah di siapkan oleh Rain.
Aldo juga ikut andil untuk memastikan percakapan berlangsung dengan lancar dan kembali memastikan titik pasti persembunyian mereka, karena bisa saja seorang tangan kanan dari Scale Bones begitu cerdik untuk mengelabui mereka
"Jangan gugup, Kakak ada disini, " bisik Reza di belakang sang adik.
"Ingat, Nar, kalau sampai mereka berani macam - macam terhadap mu nanti lihat saja belati ku akan melayang di leher mereka. " Sherly memegang kedua pundak Nara, mencoba menguatkan dan memberi semangat.
Nara memegang tangan yang ada di pundaknya kemudian berujar dengan tegas. "Harus berapa kali aku berterimakasih? Apakah itu tidak cukup? " kekeh Nara.
"Hahaha, tentu saja itu tidak cukup, kalau kamu mau berterimakasih dengan tulus kembalilah dalam keadaan selamat! " Aldo ikut menimpali percakapan mereka.
Nara hanya tersenyum getir mendengarnya, bagaimana ia bisa selamat sedangkan di dalam mimpinya saja ia terkena tembakan? Namun apakah mimpi itu hanya sekedar peringatan untuk ia bisa hindari?
Tak lama kemudian Rain telah menyalakan alat komunikasi tersebut, Aldo segera mengatur dan mencari link yang sebelumnya telah di kirim kan oleh Furio, kemudian setelah memindahkan link tersebut ia segera menekan nya dan terlihat layar hitam kini telah menampilkan sosok di balik layar tersebut.
"Good morning my beautiful....! " seru Furio dengan senyuman lebar nya.
"F*ck sh*ttt ! Cepat katakan dimana Jennie sekarang! Saya tidak perlu basa - basi! " Nara memandang tajam ke arah layar.
Mereka yang mendengar seruan dari Furio merasa jijik terutama Ethan, ia mengepalkan tangannya erat seakan-akan ingin sekali ia menghancurkan wajah yang tidak tau malu itu.
"Wow! Kamu sepertinya sangat bersemangat baby..! Aku tidak sabar menunggu mu sampai disini. " seringai yang begitu menjijikkan semakin membuat Nara muak.
"Tutup mulut mu! " bentak Ethan menggebrak meja.
Nara menarik tangannya berusaha menenangkan Ethan. "Kak, tenanglah.. " ucap Nara lembut.
"Ethan, tenanglah, jangan buat semuanya semakin rumit, " bisik Bima.
Ethan kemudian memilih mundur di dekat Rain, kemudian semuanya kembali menatap layar.
"Hahahaha, seperti nya dia sangat marah, apakah kalian ada hubungan? " Furio menautkan kedua alisnya.
"Saya tidak akan menjawab omong kosong mu! Cepat katakan!! " bentak Nara.
"Bawa perempuan itu kemari! " titah Furio kepada salah satu anak buahnya.
Rain memperhatikan wajah salah satu anak buah Furio, kemudian mengerutkan kening kembali menatap anak buahnya sendiri.
"Taechan? " guman Rain.
Anak buahnya mengangguk, kemudian Reza menghampirinya. "Apakah kamu mengenal dia? " tanya nya perlahan.
"Tentu saja, Furio adalah senior saya, Tuan, tapi anak buah nya Furio sama seperti anak buah saya, " jawab nya pasti.
Reza mengangguk kemudian kembali memandang ke arah layar, saat sedang fokus nya Arzan datang bersama dengan Galen tak lupa juga kedua orang tuanya.
"Bagaimana apakah sudah di hubungi? " tanya Arzan berusaha menghilangkan rasa canggungnya.
Reza menatap Saudara pertamanya kemudian mengangguk datar. Semua memandang ke arah layar, tak lama setelah itu terdengar suara teriakan dari seorang gadis yang ada di balik layar tersebut.
"Jennie, anak ku! Putriku! " Hanna langsung mendekat ke arah layar kemudian mendorong Nara sehingga ia terjatuh dari kursi, untung saja Ethan segera menangkap tubuhnya.
"Apa - apaan kamu! " bentak Sherly, namun seolah-olah Hanna tidak mendengar mereka.
"Momy! Selamatkan aku! Dady... Kak Galen, Kak Arzan! Hiks... hiks... mereka jahat!! " teriakan itu terdengar memilukan, terlihat baju yang ia pakai sudah compang-camping, entah apa yang telah mereka lakukan terhadap Jennie.
Nara mendengar teriakkan itu, mana mungkin Jennie memanggil namanya bersama Reza, karena Jennie tidak tau yang akan bertaruh nyawa untuk nya adalah Nara. Bahkan sampai membuat air mata Keluarga Jungle Kingdom kain menetes akan pengorbanan nya itu.
"Diam! Berisik, dasar j*la*g! " bentak Furio ia kemudian menampar Jennie.
"Tidak! Jangan lakukan itu terhadap adik saya! " kini Arzan mendekat.
"Kamu akan mati! " ancam Jonathan.
Furio hanya tertawa melihat tingkah mereka. "Entahlah dari layar! Dan biarkan aku bicara dengan Nara! " ucapnya tajam.
__ADS_1
Nara segera bangun. "Minggir! " tatapan Nara begitu dingin terhadap keluarganya.
Mereka menyingkir, tidak lupa Arzan menarik tangan Ibunya. Nara menatap layar dengan aura penuh kebencian.
"Katakan sekarang kemana saya harus menemui kalian! "
"Bawa dia! " titah Furio kepada Taechan yang membawa Jennie.
"Tidak,, Momy! Selamat kan aku!! " teriak Jennie.
Pria yang membawanya langsung menyeret paksa. "Putri ku, hiks.... cepat lah gadis tidak berguna! Kamu membuang waktu! " teriak nya ke arah Nara.
"Diam!!! "
Bima berteriak membuat yang lainnya terdiam, seketika semuanya menjadi hening, Nara yang sedari tadi hendak marah terhadap Hanna di urungkan dan kembali fokus menatap layar.
"Arzan, bawa ibu mu keluar, " ucap Reza datar.
"Aku tidak mau keluar, aku ingin melihat putriku! " teriak Hanna.
"Hanna, tenanglah! " kini Jonathan yang angkat suara.
Ruangan itu mendadak hening, hanya terdengar suara isak tangis dari Hanna, ia tidak bisa berkata apa - apa kalau sudah suaminya yang angkat suara.
"Aku akan mengirimkan lokasi, kamu harus tiba dalam waktu satu jam, akan ada instruksi selanjutnya setelah kamu tiba, dan ingat! Kamu harus datang sendiri! Dan akan aku bawa Jennie bersama ku, " desis Furio tersenyum licik.
"Sesuai permintaan mu, kalau bisa bawa saya bertemu langsung dengan Tuan Br*ngs*k mu itu! " ucap Nara yakin.
"Hahahah, jangan terlalu sok, Nara, kamu masih kecil, aku yakin kalau kamu bertemu dengan Tuan ku kamu akan langsung mati, " kekeh Furio.
"Saya tidak peduli! Dan sudahi omong kosong ini! Cepat kirimkan alamat mu! "
Tepat tiga menit komunikasi tersebut telah di matikan, dengan segera Aldo melacak lokasi tersebut, Nara kini bersiap, berkali - kali meriksa semua yang ada dalam dirinya, apakah akan terlihat mencurigakan atau tidak, ada sebuah pisau dengan gagang plastik yang terlihat kecil, persis seperti mainan kunci ia selipkan ke arah saku paling dalam dalam bajunya yang akan di tutup dengan rompi.
"Benda apa itu? " tanya Ethan.
"Pisau kecil, aku tidak mungkin kesana tanpa senjata, aku akan mati kalau begitu, " jawab Nara santai.
"Kakak akan melindungi mu, jangan takut, ikuti apa kata hati dan ingat jangan gegabah kalau sedang melakukan sesuatu, " ucap Reza, ia mengecup kening Nara.
"Of course... Tanpa kalian aku tidak akan bisa sekuat ini, " ujar Nara penuh dengan keberanian.
"Kembalilah dengan selamat, aku akan membawa mu ke suatu tempat kalau urusan ini selesei, " goda Ethan mengedipkan matanya sebelah.
"Do not tease me ! " Nara berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"I am not teasing you my girl. " Ethan mengelus lembut rambut Nara dengan di iringi senyuman yang semakin membuat jantung nya berdetak.
Semua tertawa melihat hal itu, Sherly berkali - kali memeluk Nara, tidak rela melihatnya untuk masuk kesarang musuh seperti ini. Kalau bisa dirinya saja yang masuk kesana, tetapi disini ada salah satu Saudaranya yang terjebak sehingga ia tidak bisa berbuat apa - apa selain memastikan Nara akan tetap selamat.
"Bima, setelah Nara berangkat, langsung suruh anak buah untuk mengambil formasi sesuai dengan tugas mereka, jangan sampai ada yang bersantai, semuanya harus tetap menjaga dan selalu waspada, Bima, aku butuh anak buah mu untuk mengikuti secara senyap, " ucap Reza memberikan peringatan kepada pasukannya.
"Tentu saja, aku sudah membawa separuh anak buah ku, mereka akan mengikuti Nara dari belakang, " jawab Bima.
Hanna yang mendengar itu kembali maju kepada mereka. "Bukankah mereka bilang Nara harus sendiri? Apakah kamu tuli?! " maki Hanna.
"Tidak usah bertingkah bodoh! Mana mungkin saya membiarkan adik saya sendirian, diamlah, kamu tidak tau mereka selicik apa, tidak usah ikut campur! " tekan Reza menatap tajam.
"Tapi_"
"Hanna! " Jonathan mulai emosi dengan tingkah istrinya.
Suasana di ruangan tersebut cukup membuat Rain menepuk jidatnya berkali-kali, melihat Hanna yang tidak bisa sabaran dalam segala hal, bahkan sampai tidak bisa berpikir jernih sedikit membuatnya jengkel. Ini adalah tempatnya, ia tidak suka melihat kekacauan ini, ingin sekali ia mengusir wanita itu dari tempat ini jika saja Jonathan tidak membuatnya langsung diam.
*
*
__ADS_1
Hai terimakasih sudah mampir 😌🙂🙌💜💜💜💜 jangan lupa tinggal kan jejak ya biar lebih semangat buat up nya hehe 🙏🙏😌