
Bismillah
Happy Reading 🥳💜
*
*
"Apa?! "
Telpon pun segera di matikan, Galen segera membawa Hanna dan juga Jennie menuju ke rumah sakit.
"Momy, Dady masuk rumah sakit, Kak Arzan ada disana, kita sebaiknya kesana! " pungkas Galen panik.
"Ha? Apakah Dady terluka? " kini Jennie terlihat khawatir.
"Tidak tau, Kak Arzan hanya memberitahu kita harus kerumah sakit sekarang juga, " jawab Galen.
"Baiklah, kita segera kesana. " Hanna sedari tadi hanya menangis semenjak mendengar berita tersebut, Galen segera membawa mobil nya keluar menempuh perjalanan yang sedikit macet.
*
"Rencana telah di lancarkan,Tuan. " ucap seorang anak buah memberi kabar.
".... "
"Baik,Tuan. "
*
Disisi lain Arres yang kini sedang menerima kabar tersenyum menyeringai, seakan-akan tinggal sebentar lagi rencananya akan berhasil untuk balas dendam akan kematian sang adik.
"Kembalilah, berikan tugas kepada yang lain untuk terus mencari tau tentang informasi mereka, " ujar Arres memberitahu anak buahnya , telpon pun segera mati.
"Apa berhasil? " tanya Furio yang duduk di dekat kursi sahabatnya itu.
"Tentu saja, sebentar lagi semuanya akan berjalan, dan Reza aku tidak akan pernah melepaskan nya! " ucapan yang penuh tekanan serta wajah yang penuh kebencian semakin membuatnya terlihat begitu kejam di hadapan orang biasa.
*
Nara tengah menikmati hembusan angin melalui jendela, menatap taman hijau dari arah kamar Mansion di Jungle Kingdom sungguh membuat perasaan nya begitu tenang.
Namun ketenangan teras hanya bersifat sebentar karena terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk! " ucap Nara.
Muncullah Ethan dengan senyuman khasnya ketika melihat Nara sedang berdiri di dekat jendela.
__ADS_1
"Sedang apa? " tanya nya lembut.
"Kak Ethan, aku sedang menikmati pemandangan taman saja, " jawab Nara tersenyum kaku, sungguh hatinya berdebar saat ini.
"Apakah ganggu? " tanya Ethan lagi, ia memberanikan diri untuk mendekat.
"Eh,, tentu saja tidak, silahkan duduk kita ngobrol. " Nara membawa Ethan duduk di dekatnya.
Hening beberapa saat, tidak ada yang membuka suara saat itu. Nara benci dengan keadaan seperti ini, jantung yang berdetak tidak karuan, apakah ia sudah gila ? Pikirnya.
"Bagaimana? " suara Ethan memecah keheningan.
"Apanya? "
"Kuliah nya, " jawab Ethan.
'****! Kenapa aku jadi rikuh begini? Basa - basi yang konyol Ethan! " Ethan meneriaki dirinya dalam hati.
"Aku sudah libur sekarang, jadi tidak ada kegiatan apapun, " jawab Nara apa adanya.
"Oooohh. " lagi dan lagi tidak ada lagi pertanyaan yang terlontar kan.
"Kak Ethan jadi pergi? " suara Nara terdengar sedikit lirih, entah kenapa ia seakan-akan tak rela dengan kepergian lelaki yang ada di hadapannya itu.
Ethan memandang lekat ke arah Nara. "Dek. "
"Hm? "
Nara hanya bisa diam, ia tidak tau harus menjawab apa, kemudian Ethan mengangkat dagu Nara dengan telunjuk nya, sungguh manik mata yang indah bila di pandang dengan lekat. Namun mata itu sedikit berkaca dan sedikit memerah. Ah, apakah Nara menahan tangis?
"Kenapa? " Ethan menatap Nara.
Nara hanya menggeleng lalu menunduk, Ethan menutup mata Nara seakan-akan tau Nara ingin menangis. Perlahan sentuhan tersebut membuat hati Nara bergetar, semakin enggan melepas sentuhan itu, bau harum parfum di tubuh Ethan semakin membuatnya seakan-akan candu akan kebersamaan mereka.
Tes...
Air mata lolos begitu saja, ia semakin menunduk dan terdengar lah suara nangis yang perlahan.
"Jangan nangis, " ucap Ethan lembut, ia mengelus lembut puncak kepada kepala Nara.
Tangisan itu tidak berhenti, sungguh Nara telah mengkhianati dirinya untuk tidak menangis, namun ia tetap menangis di hadapan lelaki yang belum ia tau perasaan nya, apakah Ethan hanya sekedar menganggap nya adik ataukah ada yang lebih dari itu?
"Aku pergi tidak lama, hanya sebentar. " Ethan tidak menyebut dirinya sebagai Kakak, mungkin kah ada sedikit perasaan untuk Nara?
"Omong kosong! " ketus Nara, ia berdiri dan menuju ke arah jendela, ia mengusap air mata yang tadinya jatuh.
Ethan mengikuti langkah Nara dan ikut memandang taman hijau tersebut. "Nar. "
__ADS_1
"Hm? "
"Kalau misalkan aku lama untuk kembali apakah kamu akan menunggu ku? " pertanyaan Ethan membuat Nara mengerutkan kening.
"Maksud Kakak apa? "
"Sebenarnya..... " sungguh saat ini Ethan ingin menggali lubang saja untung menyembunyikan wajah yang tidak tau malu itu.
"Apa? " Nara menantikan kelanjutan dari Ethan.
"Adakah aku di hatimu,Nar? Apakah ada perasaan lebih selain perasaan adik dan Kakak? "
Deg!
Pertanyaan yang lolos dari mulut Ethan membuat perasaan Nara campur aduk, ada perasaan senang namun ada juga perasaan yang entah seperti apa dan sulit untuk di tebak.
*
Di sisi lain, Reza yang sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Rain, kini ia menuju ke arah Cafe. Sungguh sangat melelahkan untuknya.
Bersama dengan Vito dan juga Rio, ia duduk di sebuah ruangan khusus milik Reza, saat ini Reza telah berbicara dengan manager nya.
"Bagaimana perkembangan nya? " tanya Reza sembari menatap laptop serta beberapa catatan laporan.
"Sungguh luar biasa, Tuan, Cafe kita berkembang pesat di tengah masyarakat, hanya saja ada sedikit konsumen yang ingin meminta menu baru para kopi yang kita buat, bagaimana menurut anda? " tanya manager yang bernama Ema, wanita cantik yang berumur 30 tahun, namun saat ini masih belum ada kabar untuk menikah.
"Tidak buruk, semakin banyak jenis kopi yang kita tunjukkan maka semakin banyak konsumen yang akan tertarik, " jawab Reza.
Pembicara terus berlangsung hingga terdengar suara berita dari televisi membuat Reza sedikit terkejut. Ia terus mengamati layar di depan sehingga nama perusahaan yang muncul membuatnya terbelalak.
"Bukankah itu perusahaan milik Ayah anda, Tuan? " tanya Ema.
"Benar, kalau begitu kami akan segera pergi, tetap lakukan tugas dengan baik, aku percaya padamu, " ujar Reza tersenyum tipis ke arah orang kepercayaanya itu.
"Baik,Tuan , hati - hati semoga semuanya baik - baik saja. "
"Terimakasih. "
Reza segera mengajak Vito dan juga Rio untuk kembali, ia akan mencari tau mengenai informasi kebakaran yang terjadi di perusahaan Ayah.
"Ada sesuatu yang tidak beres, " ujar Reza.
"Bukankah seorang pembisnis juga memiliki pesaing? " ujar Rio.
"Tentu saja, tapi mana mungkin seorang pesaing berani melakukan tindakan di luar batas sampai membakar perusahaan, " tanggap Reza.
"Apakah Ayah mu memiliki musuh,Za? " tanya Vito.
__ADS_1
"Aku tidak tau, selama ini aku tidak pernah berurusan dengan pekerjaan nya. " Reza segara melajukan mobil nya bersama beberapa pengawal yang menunggu di kursi para pengunjung sedari tadi.
Ia kembali ke arah Mansion Jungle Kingdom, karena ia tidak mungkin akan langsung terjun mencari informasi ke arah perusahaan, hal itu akan menyebab kan Jonathan mengamuk.