
Bismillah 🤲
Happy Reading 📖😊😍😜😝
*
*
*
"Di serang?!!! " ucap Vito kaget.
"Ya, lebih baik kita masuk dulu, kita bicarakan ini didalam, " putus Aldo.
"Baiklah."
Mereka semua yang melihat itu ikut masuk kedalam untuk mendengar berita apa yang telah menimpa pemimpin mereka.
Setelah sampai di dalam, Bima segera menelpon Dokter yang biasa mengobati mereka untuk memeriksa keadaan Sherly yang sudah terlihat sangat pucat.
"Darah nya banyak yang keluar pakai sapu tangan ini untuk mengikat nya, " ujar Vito memberikan sapu tangan berwarna biru kepada Bima.
"Terimakasih, " ucapnya dan di balas anggukan.
Beberapa saat kemudian Dokter datang bersama dua orang suster perempuan, kini mereka telah sampai di Mansion dan dengan tergesa-gesa mereka segera masuk kedalam.
"Cepat bawa dia ke kamar nya, kita harus mengeluarkan peluru yang ada di kakinya, " ucap Dokter Dika.
"Baik, Dok, " ucap Bima kembali mengangkat tubuh sherly dan membawanya ke kamar.
Sedangkan Reza dan yang lainnya masih duduk di sofa ruang tamu membiarkan yang lain mengurus Sherly sedangkan ia masih memeluk Nara yang terlihat sangat kelelahan.
"Dek apakah masih sakit? " tanya Reza menatap Nara.
Nara mengangguk. "Sedikit, " jawab nya singkat.
"Nara juga harus di periksa, Za, " ujar Ethan.
"Tidak perlu, Et,,, biar aku yang akan membersihan wajah dan mengobati lukanya, " tolak Reza.
Ethan menghela nafas panjang, ia tau jika Reza selalu bersikap overprotective jika ada yang meriksa Nara selain dirinya, kecuali ada hal yang sangat serius. "Terserah kamu saja. "
"Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Vito yang duduk di antara mereka beserta yang lain.
Baru saja Reza akan menjawab namun di urungkan karena Nara yang langsung angkat bicara.
"Aku dan Lily sedang duduk di tepi danau menikmati suasana, tapi beberapa saat kemudian kami mendengar suara pistol, " ucap Nara.
"Andai kalian berdua tau, Nara sebelumnya sempat bermimpi saat kami akan kesana, dan di dalam mimpinya itu adalah apa yang kita alami sekarang, Sherly jatuh ke danau dengan kaki yang di tembak, dan tempat yang sama, " ujar Ethan membuat Vito, dan Rio menganga.
"Mimpi? " ucap mereka keheranan.
"Benar, kami kira Nara sedang kerasukan tiba - tiba dia diam membeku dengan mata kosong, " tambah Aldo mengingat tadi ia terus mengguncang tubuh Nara.
"Sadar nggak sih kalau itu adalah sebuah mata batin? " celetuk Vito.
"Bisa jadi, " ujar Rio setuju.
"Aku tidak tau, baru pertama kali aku merasakan hal itu. " Nara hanya menghela nafas.
"Aku rasa sih itu adalah sebuah keistimewaan Nara yang baru keluar sekarang, " ujar Rio.
"Keistimewaan? Maksud kamu? " tanya Reza.
"Ya tidak banyak orang memiliki kelebihan seperti itu, itu tandanya Nara sudah memiliki sebuah peringatan kalau ada bahaya yang akan menimpa, " jelas Rio membuat yang lain mengangguk faham, mereka tidak menyangka Nara begitu semakin istimewa di mata mereka sekarang.
"Lalu kamu melawan mereka? " tanya Vito.
"Iya, sebenarnya Pria itu mau menangkap ku tanpa melukai siapapun, tapi karena saat itu Sherly menghalangi akhirnya terjadilah pertarungan, " Nara menghela nafas sejenak.
" Mereka cukup kuat dan kami sudah kalah jumlah, Kak Reza sama yang lain pergi ke toilet umum, karena Kak Bima sama Kak Reza tidak balik - balik akhirnya Kak Aldo sama Kak Ethan nyusul mereka, " jelas Nara, "tapi entah apa yang terjadi membuat mereka lama kembali, dan saat itu kami hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, " tambah Nara dengan tatapan sendu.
"Kenapa Sherly bisa terluka? " tanya Rio lagi.
"Salah satu dari mereka ada yang menodongkan pistol ke arah ku, dan Sherly mencoba mendekat tak di sangka nya pria sialan itu menembak nya! " desis Bara geram, ia mengepalkan tangannya. "F*ck! Aku bersumpah kalau bertemu dengan nya akan aku habisi dia dengan tangan ku sendiri, " ucap Nara emosi.
"Sudah tenanglah, nanti kita sama- sama cari tau, " ujar Reza membelai lembut kepala Nara.
Cup!
__ADS_1
Satu kecupan mendatar di kening Nara, membuat nya sedikit merasa lega berada dalam pelukan kakak nya.
"Aku akan mencari tau siapa dalang nya!! " ucap Vito merasa geram dan akan melangkah pergi.
"Tunggu dulu, " ucap Aldo. "Tadi aku sempat melihat ada tato berlambang mata elang di tangan salah satu teman nya. "
"Tato lambang elang? " ucap semuanya kompak.
"Sepertinya aku pernah mendengar tapi aku lupa, " ujar Rio.
"Hmm apakah kalian berpikir ada musuh baru? " tanya Nara menatap semuanya.
"Sepertinya bukan musuh baru, kalau musuh baru tidak mungkin dia langsung ngincar kamu, Nar, mungkin ada musuh lama yang tidak kita ketahui apa masalahnya dengan kita semua, " jelas Rio.
"F*ck ****! Baru kali ini aku bingung dengan musuh sendiri, " ucap Reza kesal, ia memijit pelipisnya.
"Taruh mata - mata di setiap sudut yang sering kalian lewati, terutama saat ada penjualan barang ke luar negeri ataupun luar kota, " ucap Nara, kini ia yang memutuskan untuk rencana memantau musuh.
"Menurut mu bagaimana penyerangan yang tadi? Aku cukup heran darimana mereka tau kita akan pergi ke taman itu, " tukas Aldo.
"Di antara pasukan kita pasti ada mata - mata dari musuh yang telah menyelinap, karena tidak mungkin kita kebetulan juga bertemu di jalanan, " jawab Nara serius.
"Berarti kita harus memeriksa pasukan kita? " tanya Reza kepada adiknya itu.
"Ya harus, kalau tidak kita sudah kecolongan sama mereka, dan akan tau setiap rencana dari kita, " jawab Nara.
"Baiklah, aku akan atur semuanya, setelah pengobatan Sherly aku kumpulkan seluruh pasukan di taman depan, " ucap Aldo dan di angguki oleh yang lain.
****
Tanpa mereka sadari ada sebuah penyadap suara yang di letakkan di sekitar sofa tempat mereka duduk, hingga akhirnya di dengar oleh seseorang yang cukup jauh dari sana.
"Mereka sudah mencurigai keberadaan saya, Komandan, apakah saya harus kembali? " tanya salah satu Pria melalui saluran komunikasinya.
"Kembali sekarang juga atau kamu mati konyol disana! F*ck secepat itu mereka mencurigai keberadaan kalian, " umpat nya dari seberang.
"Baik, Komandan, saya akan keluar malam ini, " ujar nya.
"Aku akan menyuruh salah satu teman mu menjemput mu kesana, segeralah keluar, " ujarnya.
"Siap, Komandan! " saking banyaknya pasukan membuat yang lain tidak saling mencurigai terutama musuh mereka yang telah berhasil menyelinap kedalam pasukan, hanya dialah yang tidak mempunyai tato di tangannya, karena ia di tugaskan hanya untuk memantau pergerakan dari lawan.
***
Waktu berjalan dengan cepat, buliran bening mengalir dari pelipis si pria berbaju putih, dengan sangat telaten ia mulai menjahit bagian tubuh seorang perempuan yang sebelumnya berhasil mengeluarkan peluru dari tubuh perempuan itu.
Setelah selesai menjahit bagian kaki perempuan itu, ia pun membalut nya dengan perban dan menghela nafas lega karena semuanya telah berhasil.
"Syukurlah semua berhasil, " ucap Dokter Dika lega sambil tersenyum ke arah para suster yang ia bawa.
"Waktu cukup lama, Dok. Kita baru selesai sekarang, " ujar nya.
"Benar, karena peluru nya terlalu masuk kedalam, jadi mau gimana lagi kita harus mengoyak dagingnya lebih dalam lagi, " kekeh nya.
Setelah selesai membereskan peralatan nya dokter dika keluar bersama suster nya.
"Bagaimana, Dok? " Bima yang sedari tadi mondar - mandir di depan ruangan Sherly kini menghampiri Dokter Dika.
"Lancar, hanya saja kalian harus menunggu dia sadar dulu, " jawab nya.
"Syukurlah kalau begitu terimakasih, Dok, " ucap Bima lega.
"Kamu ini kan sudah tugas saya, lain kali lebih banyak pasien biar gaji saya tambah banyak hahah." gelak tawa Dokter Dika membuat Bima mengerucutkan bibir.
"Kalau sudah waktunya bercanda kamu bercanda aja Dika, " ucap Bima tanpa formal sedikitpun.
Bima termasuk orang yang sangat dekat dengan Dokter Dika, semenjak Dokter Dika pertama kali berkerja dengan mereka, oleh sebab itu Bima dan Dokter Dika layak nya teman seperti yang lainnya.
"Dokter Dika sudah selesai? " kini Ethan yang baru saja akan menuju ruangan Sherly berpapasan dengan Dokter Dika.
"Iya,, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru nya," jawab Dokter Dika.
"Apakah peluru nya bahaya? " tanya Ethan.
"Beruntung tidak ada yang bahaya, sekarang kalian hanya akan menunggu kapan dia akan sadar. "
"Baiklah kalau begitu. "
"Yasudah, saya permisi dulu masih ada kerjaan di rumah sakit, " ucap Dokter Dika famit.
__ADS_1
"Mari saya antar sampai ujung pintu, " tawar Ethan di angguki oleh Dokter Dika.
"Dokter Dika sudah mau pulang? " tanya Aldo yang duduk di ruang tamu bersama Reza dan Nara.
"Iya, Al. Tugas saya sudah beres disini, " jawab Dokter Dika.
"Bagaimana keadaan Lily? " tanya Nara yang baru selesai mengobati luka - luka nya.
Dokter dika mengerutkan kening. "Lily? "
"Ah maksud saya Sherly, " timpal Nara.
"Dia baik - baik saja tapi masih belum sadar. "
"Terimakasih, Dok ,bantuannya, " ucap Reza ramah sambil menjabat tangan Dokter Dika.
"Kamu tidak usah sungkan meminta bantuan,Reza, anggap saja kita teman seperti biasanya, kamu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri jangan khawatir," jawab Dokter Dika memeluk Reza.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi jangan sungkan untuk sering meminta bantuan dan... ingat jaga diri kalian baik - baik, " ujar nya.
"Baik, Dok, terimakasih," ucap mereka serempak.
Setelah Dokter Dika pergi, Reza dan yang lainnya menuju ke arah ruangan Sherly dimana Bima sedang duduk di sofa yang ada ruangan tersebut.Sedangkan Rio,Vito, beserta para anak buah nya kembali ke ruangan masing-masing.
"Wah ada yang galau nih," ledek Aldo melihat raut wajah khawatir sahabat nya itu.
"Ngapain kamu kemari? Rindu ya sama aku? " sinis nya.
"Dih ge'er banget sih apa hubungannya? Kita cuman mau liatin Sherly karena khawatir tapi ternyata ada yang lebih khawatir dari kita hahaha, " ujar Aldo tergelak.
"Sembarangan aja kalau ngomong aku hajar tuh mulut baru tau rasa," ancam Bima.
"Jangan lah,, semena - mena."
"Sudah kalian ini kenapa sih ribut, nanti Sherly terganggu," lerai Reza.
"Heheh maaf, Za." nyengir.
Sedangkan Nara ia hanya diam membisu menatap tubuh tak berdaya milik Sherly, rasa bersalah terus menghampiri dirinya ia berusaha sekuat mungkin menahan air mata untuk tidak jatuh karena ia tak ingin di lihat menangis dan di katai cengeng oleh Kakak nya.
'Aku bersedih melihat mu disana, Ly, maafkan aku yang tidak bisa menolong mu, maafkan aku, ' lirih Nara dalam hati.
Nara sudah menganggap Sherly sebagai Kakak perempuan nya, sama seperti yang lain, menganggap sahabat Reza sebagai Kakak untuknya, hingga kini ia begitu merasa sedih dan merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan wanita yang dia anggap sebagai Kakaknya.
Ethan yang baru saja datang langsung menghampiri Nara yang termenung di dekat Sherly.
"Dek ayok ikut, " ajak Ethan tiba - tiba membuat Reza menoleh ke arah nya.
"Kamu mau kemana membawa adik ku? " tanya Reza memicingkan matanya kepada Ethan.
"Ya ampun, Za, cuma sebentar kok nggak lama ada hal penting yang harus di bicarakan, " ujar Ethan seadanya.
"Kenapa harus di luar? Disini aja," ujar Aldo.
"Tau nih, udah main rahasia - rahasiaan segala," timpal Bima.
"Nggak lah, mana ada pasti nara juga mau healing buat nenangin pikirannya, " jawab Ethan.
"Yasudah, Kak, ayok. " dengan segera Nara menggandeng tangan Ethan.
"Bye aku pergi dulu, " ucap Ethan melambaikan tangannya kepada Reza yang terlihat cemberut.
"Sudahlah, Za, sekali- kali biarkan Nara dekat dengan yang lain kita juga sudah menjadi kakak baginya, " ucap Bima.
"Iya, Bim, aku faham." sembari duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
*
*
*
Vote...
Like...
Komen... 😍💓
Borahae 💜💜💜🤧
__ADS_1