
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Awal pertukaran yang terlihat tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Nara yang menolak untuk di periksa oleh anak buah Furio seketika membuat dirinya memberontak tetapi dengan sangat mudah nya Furio menangkap dan mengancam dirinya.
Hal itu membuat Reza semakin naik pitam, darahnya telah mendidih melihat keadaan sang adik yang sedang di todongkan senjata oleh Furio.
"F*ck Furio! Berani sekali kamu menodongkan senjata ke arah adik ku!! " jerit Reza tak tahan.
Semua sama dengan apa yang di rasakan oleh Reza, namun mereka tidak juga berani melakukan apapun karena senjata sudah ada di kepala Nara yang bisa saja detik itu juga akan meledak.
"Reza, tahan jangan bertingkah gegabah, " ucap Bima mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang Bima! Lihatlah Nara ada disana! Ini semua gara - gara Putri sialan kalian yang selalu terobsesi dengan laki - laki yang dia anggap tampan! Cih.. menjijikkan! " emosi Reza telah sampai ke ubun-ubun hingga ia menunjuk ke arah Jonathan dan Hanna.
"Tutup mulut mu! " bentak Hanna tak kalah emosi.
"Apa mau mu?! Sudah puas kamu mengorbankan adik saya ? " ucap Reza sinis.
Rain mendekat ke arah Reza. "Tuan, tenanglah, tidak ada waktu untuk berdebat saat ini, kita harus selesaikan masalahnya, " ucap Rain tenang.
"Benar, Za, kita harus tenang, yakinlah Nara tidak selemah itu, " timpal Aldo.
Nara yang mendengar segala perdebatan para Kakak nya, ia hanya bisa menghela nafas, ia terlalu kacau saat ini, namun seketika pada saat itu hadirlah sosok bayangan yang selalu membuat dirinya merasa tenang. Senyuman yang begitu tulus semakin membangkitkan semangat pada jiwa Nara.
"Nenek... " ucap Nara seketika di dengar oleh Furio.
"Apa yang kamu lihat? Jangan coba - coba mengelabui ku! " ancam Furio.
Reza mendengar ucapan Nara ia pun berkata. "Dek.. apakah yang kamu lihat ? " tanya Reza lirih.
Nara yang ada di seberang segera menjawab. "Kakak jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik , " ucap Nara.
Nara dengan gerakan cepat menepis pistol tersebut dan mulai menendang tubuh Furio membuatnya terjungkal. Anak buah Scale Bones yang ada disana mengarahkan seluruh senjatanya kepada Nara.
"Lakukan! Saya tidak takut! " seringai pada wajah Nara menampilkan jiwa pada dirinya telah bangkit.
"Aku akan pergi, kalian akan menyusul nanti, " ucap Nara, ia melepas alat komunikasi tersebut dan melemparnya sejauh mungkin lalu menginjak-injak nya hingga hancur. Seketika terdengar sesuatu yang berdenging hingga membuat para anak Jungle Kingdom mengumpat.
"Sialan! Hal apa yang di lakukan Nara?! " Reza terlihat frustasi.
"Sudah aku bilang sama kamu Reza, bahwa adik kamu itu tidak becus dan bodoh! " sarkas Hanna.
"Diam! " bentak Reza membuat nya seketika bungkam.
"Cepat kita kesana! " seru Sherly tegas.
Semuanya langsung bergerak bahkan senjata pun tak terlupakan. Reza segera mengambil senjata andalannya, yang selalu menemani menghabisi musuh dengan Desert Eagle nya.
Tidak lupa Arzan dan juga Galen. Begitu pula dengan Jonathan dan Hanna, mereka segera berlari ke arah mobil masing-masing.
Sedangkan Nara yang ada disana tersenyum culas. "Puas?! " tanya Nara sinis
"Sekarang saya minta lepaskan Jennie!! " teriak Nara dengan mata yang terlihat memerah.
Furio terkekeh dan mulai berdiri. "Wah... wah.. kamu sangat pintar, lepaskan dia! " perintah Furio terhadap anak buah nya.
Mereka yang ada di dalam mobil segera membawa gadis tersebut keluar, lalu dengan cepat menyeret Nara masuk kedalam mobil. Bahkan Nara tidak sempat mengatakan apapun kepada gadis itu, yang hanya ia dengar adalah mulut yang di bungkam.
"Cepat jalan kan mobilnya! " perintah Furio.
"Kita biarkan saja di sini, Tuan? " tanya salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Biarkan saja, Reza akan kesini menjemputnya, hahaha. " tawa keras begitu melengking.
Nara tidak berbuat apapun, ia tidak memberontak, karena itu adalah hal yang percuma ia hanya diam dengan wajah dinginnya.
'Maafkan aku, Kak, jika dia bukan Jennie aku pastikan didalam kurungan Jennie yang asli aku akan menyelamatkannya, hanya dengan cara ini yang aku bisa, Kakak cepatlah datang membawa pasukan Jungle Kingdom, kita akan melawan mereka bersama - sama. ' Nara membatin sembari memejam kan matanya.
Reza segera melompat ke arah mobilnya, ia segera menuju ke arah lokasi pertemuan Nara dan juga Furio. Dengan perasaan yang tidak karuan ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Sehingga ketika sampai di lokasi tersebut ia langsung berlari ke arah gadis itu, dengan cepat membuka penutup kepala dan mulut yang telah di isolasi membuat darah Reza semakin mendidih.
"F*CK! F*CK!!!!!! Kita telah di kelabui oleh br*ngs*k Furio!!! " amuk Reza, bahkan ia mengambil senjata nya lalu menembak berkali - kali ke arah udara melampiaskan kemarahannya.
"AKU BERSUMPAH AKAN MENGHABISI SELURUH PASUKAN SCALE BONES! BAHKAN SAMPAI KALIAN MEMBUSUK DI NERAKA!! " jerit Reza penuh dengan perasaan kebencian.
Semua yang mendengar itu hanya menunduk, tidak ada seorang pun yang berani berbicara selain gadis yang terlihat mirip dengan Jennie.
"To-tolong, se-selamat kan saya, saya mohon," ucap nya gemetaran.
"Putri ku, hiks... Putri ku... " jerit Hanna meraung.
"Sayang,, tenanglah... " ucap Jonathan memeluk istirahat. Ia tak kalah hancur ketika mengetahui itu bukan Putrinya.
Ethan segera mendekat dengan wajah yang teramat datar. "Kapan kamu di tangkap? " tanya nya.
"Tadi malam, ketika saya bekerja di sebuah toko, saya kebetulan akan pulang tetapi mereka menculik saya, tolong saya, Tuan, " ucap nya berlinang air mata.
"Apakah kamu melihat gadis lain yang mereka kurung ? " tanya Bima mendekat.
"Ti-tidak, bahkan saya tidak tau lokasi mereka, ketika saya berada di ruangan mereka tidak menutup saya tetapi tadi setelah saya akan di keluarkan mereka menutup kepala saya, Tuan, " jelasnya dengan suara yang sesenggukan.
"Ah, sh*ttt! " umpat Sherly menahan bara api yang akan meledak dalam dadanya.
"Apakah kamu sempat melihat lokasi ketika di bawa kesini? " tanya Aldo.
"Tidak, saat itu saya pingsan, " jawab nya lagi.
"Tuan, sebaiknya kita segera bergerak, saya akan menyuruh anak buah saya membawa gadis ini kembali kerumah nya, " ucap Rain tak kalah menahan emosi.
"Kita akan mengejar mereka sekarang! " teriak Sherly.
"Cepat kembali, kita akan pastikan bahwa tempat mereka tidak berpindah, " ucap Aldo.
Hanna terlihat begitu lemah di pelukan suaminya, Galen yang melihat hal itu mendekat ke arah orang tuanya, sedangkan Arzan berada di dekat Reza.
"Za, tenanglah, kita semua akan menyelamatkan nya, " ucap Arzan menenangkan.
Baru kali ini Reza merasa rapuh ketika melihat sang adik di tangkap, bahkan seorang Kakak yang sangat ingin ia miliki kini telah berada di dekatnya.
"Kamu memang Kakak saya, tapi bisakah nanti kamu menjadi Kakak untuk adik saya? " tanya Reza, air mata terlihat mengalir.
"Tentu saja, " jawab Arzan cepat.
"Cepatlah kembali, " ucap Arzan menarik Reza.
Semua telah memasuki mobil, Chen bersama teman pasukan lainnya kembali ke markas milik Rain. Semuanya terlihat begitu kecewa atas kejadian ini.
Reza tak henti - hentinya untuk terus memantau layar melacak lokasi adiknya. "Segera aktifkan alat pelacak yang ada di dalam sepatu boot milik Nara, " ucap Reza tegas menatap Aldo.
"Bukankah alat pelacak nya sudah di lepas? " tanya Sherly.
"Itulah sebab nya aku memberikan sepatu itu kepada Nara, aku sudah menaruh pelacak di bawah alas sepatu bagian dalamnya dan dia tidak menyadari bahwa ada benda itu yang aku taruh disana, " jawab Ethan cepat, namun pandangannya tetap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Bima mendekat. "Aku tau perasaan mu, kami juga sama, kita semua harus sama - sama berjuang, " ucap Bima.
Ethan mengangguk. Kemudian semuanya melanjutkan untuk mencari lokasi Nara.
*
__ADS_1
Sedangkan di tempat persembunyian Scale Bones, Nara telah turun dari mobil dengan tangan yang di borgol paksa oleh Furio. Ia menyeret tubuh Nara untuk masuk kedalam.
Nara melihat tempat tersebut begitu sunyi dan hanya ada beberapa pasukan Scale Bones yang masih berdiri setia dengan senjata lengkapnya. Seketika ia terkejut mendengar suara yang begitu berat dari arah ruangan yang kini pintunya terbuka.
"Selamat datang di tempat yang penuh dengan aura kegelapan, gadis cantik. " dialah yang tidak lain Arres Arlington, sedari tadi ia memantau pergerakan para anak buahnya yang berhasil membawa Nara.
"Siapa kamu?! " tanya Nara dingin.
"Aku? Hahaha, sepertinya aku harus mengenalkan diriku, " kekeh nya. "Bawa dia keruangan tempat suadara kesayangannya itu, Furio, " perintah Arres.
Nara mendelik. "Apa maksud mu ha?! " bentak Nara.
"Tidak usah berteriak, suara mu terlalu indah untuk di dengar, " balas Arres dengan suara menjijikkan.
"Menjijikkan! " desis Nara.
"Tutup mulut mu! " bentak Furio, ia menampar wajah Nara membuat nya sedikit meringis namun ia tahan.
Furio menyeret Nara masuk kedalam sebuah ruangan yang begitu terlihat gelap, bahkan tanpa aba - aba Furio melempar tubuh ringkih Nara sehingga membuatnya tersungkur ke lantai.
"F*ck kalian semua! " desis Nara.
"Hahaha,, mengumpat lah sesuka mu, " kekeh Furio.
Furio langsung mengunci tempat tersebut lalu beranjak pergi.
Nara merasakan ada seseorang di dekatnya, dengan hanya penerangan yang sedikit terlihat dari atas ia menyadari bahwa itu Jennie membuatnya semakin terkejut.
"Jennie! " panggil Nara, ia meraba - raba tubuh Jennie.
Jennie yang merasa di panggil segera membuka mata dengan keadaan yang begitu mengenaskan. "Kenapa kamu disini? " tanya nya lemah. Ia tidak ada tenaga untuk mecaci maki lagi.
"Saya kira kamu benar yang di bawa, tetapi mereka begitu licik dan telah menjebak kamu semua, " jawab Nara datar.
"Kamu memang bodoh, " ucap nya.
Nara tidak menggubris apa yang di katakan oleh Jennie, ia mencoba mencari sesuatu yang ada disana.
"Apa yang kamu cari? " tanya Jennie.
"Mencari paku, siapa tau ada, " jawab Nara.
"Buat? "
"CK,.. kamu atau saya yang sebenarnya bodoh? Hal ini saja kamu tidak tau, saya mencari untuk membuka borgol ini, " balas Nara sinis.
Jennie bergeming dan terdiam, seketika pada saat itu Nara mengingat bahwa ia menyelipkan senjata kecil nya pada sebuah baju bagian dalam, dengan gerakan cepat dan sedikit susah ia mencoba membuka resleting pakaiannya.
"Apa yang kamu lakukan? " suara Jennie terdengar meninggi.
"Diamlah! " balas Nara, seketika ia berhasil telah meraih senjata tersebut.
"Akhirnya, " ucap nya girang, ia mendekat ke arah Jennie.
"Jangan bergerak, saya akan melepaskan borgol ini, setelah itu kamu lepaskan milik saya, kalau saja kamu berbohong maka kamu akan mati disini, " ancam Nara tidak mau di bodohi untuk kedua kalinya.
"Bagaimana mungkin aku kabur sedangkan anak buah mereka ada dimana -mana, " jawab Sherly.
"Hm. "
Nara mencongkel dengan hati - hati pada lubang yang ada di borgol tersebut, hingga terdengar suara klick.
"Berhasil! " ucap Jennie girang.
"Diamlah, atau mereka akan dengar.. " tegas Nara membuat Jennie langsung membekap mulut nya.
*
__ADS_1
*
Jangan lupa jejak nya 😉 author kasih doble up 👍🌹🙏🙏