
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Dua puluh menit akhirnya mereka sampai di Mansion Jungle Kingdom, para anak buah melakukan kegiatan rutin seperti olahraga serta latihan menembak dan lainnya. Disana juga terlihat Aldo, Bima, dan Juga Sherly yang ikut latihan.
Motor Nara kini telah melewati gerbang teras mengalihkan perhatian semuanya, tepat saat itu mobil Reza juga melintas.
Nara turun dari motor, membuka helm nya dan menggoyangkan kekanan dan ke kiri kepalanya untuk merapikan rambut, tanpa sadar gerakannya itu membuat Ethan terpana melihat rambut gelombang Nara bergerak semakin memancar aura kecantikan nya.
"Hahahah! Kak Reza payah! " ledek Nara.
"Awas ya! " Reza ingin mengejar adiknya namun Nara berlari ke arah Bima yang menghampiri nya.
"Kalian sudah datang? " sapa Bima.
"Bima, minggir akan ku kasih pelajaran pada bocah tengik itu! " ucap Reza menatap Bima tajam.
"Loh kenapa? " Bima mengerutkan kening.
"Kak Bima tolong! " teriak Nara, ia terus berputar-putar di depan Bima untuk menghindari kejaran Kakak nya itu.
"Jangan lari! Awas ya kalau kamu ketangkap! " ancam Reza.
Yang lain hanya memandang tertawa melihat pemimpin mereka main kejar-kejaran layaknya anak kecil, Bima hanya menggeleng bersama dengan Ethan.
"Hey ada apa? " tanya Sherly mendekat.
"Lihat, pemimpin kita pun seperti bocah! " kekeh Aldo.
"Kak Aldo tolong! " kini Nara mendekati.
"Hey! Hey! Jangan berlari ke arah Kakak, Kakak pusing! " ucap Aldo pasrah.
"Kali ini maafkan aku,Kak, " ujar Nara tanpa bersalah.
"Dasar bocah! Berhenti berlari atau Kakak hukum! " ancam Reza kelelahan.
"Hahahahah, Kak Reza payah! " ledek Nara lagi, tanpa ia sadari ia tak sengaja menyandung batu hingga membuat nya terhuyung, namun Ethan yang melihat itu berlari dan langsung menangkap tubuh Nara.
Hap!
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik....
Tatapan mereka beradu, detak jantung semakin terdengar kencang dari arah Ethan maupun Nara. Cukup sudah saat ini, hilang kewarasan Nara.
'F*ck! Kak Ethan kenapa kamu tampan sekali! ' batin Nara meracau.
Mata sedikit sipit namun indah, hidung mancung dengan kulit berwarna putih serta bau harum maskulin begitu melekat dan kini tubuh gagah tersebut mendekap tubuh ringkih miliknya.
Reza berhenti seketika melihat adegan tersebut, seakan-akan itu adalah slowmo untuk adiknya. Begitu pula para anak buah, mereka terpana melihat pemandangan tersebut.
"Jatuh cinta! " bisik Bima ke arah Reza.
__ADS_1
"Aku kapan,Bim? "
"Pertanyaan konyol! " Bima menjitak kening sahabatnya itu.
"Cie......cie......" sorakan bergema di halaman Mansion Jungle Kingdom hingga membuyarkan suasana romantis tersebut.
"Ah,ma-maaf, " ucap Nara mendorong pelan tubuh Ethan.
SALTING! Tentu saja ia SALTING!
Mukanya bersemu merah, ingin sekali ia menyeburkan dirinya ke arah dasat kolam karena merasa malu.
"You okay? "
Pertanyaan itu semakin membuat degup jantung Nara semakin kencang, begitu lembut nan syahdu.
'Perasaan kurang ajar macam apa ini! " maki Nara dalam hati.
"I-iya, te-terima kasih, " gugup Nara.
"Baguslah, sama - sama, " ujar Ethan tersenyum.
"Cieee... ada yang sedang di taburi bunga nih! " ledek Sherly mendekat ke arah Nara.
"Ly, jangan ikut-ikutan! " ucap Nara datar.
"Ekhem! " Reza tiba-tiba menjewer telinga Nara hingga Nara meringis.
"Awh awh! Kak please lepasin ya... awh sakit!! " ucap Nara mengaduh
Semua tertawa kencang melihat tingkah Nara. "Hm, berani ya kamu lari dari Kakak, " ucap Reza.
"Kamu pikir Kakak akan tertipu? " sinis Reza.
"I-iya, maaf, tidak akan menipu Kakak deh, tapi tolong lepasin! " iba Nara. "Kak Al, tolong dong..." rengek Nara.
Yang di suruh menolong hanya bisa tertawa bersama yang lainnya, namun seketika suara rengekan Nara berhenti, pandangannya kosong hingga kini tubuh nya menjadi kaku.
Reza sadar adiknya telah memasuki alam lain, ia segera melepas jewerannya. "Dek! Sadar! " teriak Reza.
"Apa yang terjadi? " kini Sherly yang panik, pasal nya ia belum tau bahwa Nara mempunyai kelebihan bermimpi seperti itu.
"Nara... bangun! Nara!! " Reza terus mengguncang bahu Nara, tetapi nihil tubuh itu berubah kaku.
"Katakan apa yang terjadi?! " kesal Sherly karena tak di jawab.
"Nara sedang berada di alam bawah sadar! Diamlah! " ucap Reza meninggikan suaranya.
Ethan, Bima dan Aldo segera menepuk punggung Nara, seketika itu Vito datang. "Biarkan,jangan ganggu! " ucap nya.
"Tapi_"
"Biarkan dia melihat apa yang terjadi, " ujar Vito cepat.
Reza hanya mengangguk pasrah, ia terus menjaga tubuh adiknya begitu pula yang lain, kini hanya Nara yang berdiri, semuanya duduk dan terdiam tak ada sedikitpun yang berbicara.
Sedangkan dalam alam bawah sadar Nara, kini lagi dan lagi mimpi kemarin malam pun menghampirinya. Seketika awan berubah begitu hitam, suasana menjadi sunyi dan gelap.
Nara melangkah dengan perlahan hingga terdengar lah suara yang begitu membuatnya terkejut.
"Bunuh keluar William! "
__ADS_1
"Bunuh! Bunuh! Bunuh! "
"Habisi semuanya! "
Nara terkejut, ia tiba - tiba melihat Jennie yang tidak berdaya, sungguh ini mimpi yang serupa namun dalam versi berbeda.
"Siapa kalian! " teriak Nara dengan dada kembang kempis.
Terdengar suara pistol yang di layangkan.
Dor!
Dor!
Nara memejamkan matanya rapat berusaha keluar dari alam mimpi, namun itu nihil, ia sudah menduga bahwa Jennie juga disini ikut terkena peluru tersebut hingga ia mencoba menegakkan kepalanya.
Dan benar saja, Jennie terkulai dengan tubuh yang di penuhi darah. Nara memandang dadanya, seketika ia juga bergemetar, merasakan sesak serta sakit yang tidak tara hingga pandangannya kian mengabur dan menjadi hitam.
"Jennie.. " lirih Nara tertahan, air matanya kian mengalir.
Brugh!
Tubuhnya terjatuh begitu saja setelah mengucapkan satu kata tersebut.
"Dek bangun! " teriak Reza melihat tubuh adiknya masih kaku, bahkan ia terkejut melihat Nara mengeluarkan air mata.
"Apa yang terjadi dengan adikku! " racau Reza.
"Tenanglah,Za, " ucap Bima menenangkan.
"Nara, bangun...." ucapan lembut dari Ethan tepat di telinga Nara.
Nara seketika membuka matanya, namun saat itu pula tubuh nya lemas akhirnya ia lunglai dan terjatuh, beruntung Reza cepat menangkap adiknya.
"Sa-sakit! " lirih Nara, meskipun ia sudah sadar, rasa sakit karena terkena peluru di alam bawah sadar nya kini terasa nyata saat ini.
"Apa yang terjadi? " tanya Reza panik.
"Nara, kamu kenapa? Kenapa bisa seperti itu? " tanya Sherly panik.
"Kak, kalau aku pergi, jangan menangis ya. " ucapan Nara membuat Reza terkejut.
"Apa yang kamu katakan ha! Kamu pikir Kakak akan biarin kamu pergi? " tatapan Reza tajam.
"Mereka akan membunuh kita semua, " ujar Nara lemah.
"Kita disini akan melindungi semuanya, jangan takut! " ucap Reza memeluk tubuh adiknya.
"Dek...tenang, bukan kah mimpi mu itu adalah sebuah peringatan, kita harus tetap waspada, percayalah semuanya akan baik-baik saja, " ucap Aldo.
"Benar, dek, jangan khawatir, kita disini akan saling melindungi, " tambah Bima.
Sementara Nara hanya bisa tersenyum pilu, siapakah yang ingin membunuhnya itu? Apakah dia benar-benar akan tertembak bersama Saudara perempuannya ? Sungguh saat ini Nara tidak bisa berpikir, meski ia benci dengan keluarganya namun tugas nya sebagai anak harus melindungi mereka selama ia bisa.
"Apa yang kamu lihat? "
*
*
Komen and like jangan lupa vote 😅🙏🥰
__ADS_1