Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Restoran Mewah


__ADS_3

*


*


*


Sore harinya saat Nara sudah bangun dari tidur siang nya , ia tidak lupa dengan janji Reza yang akan membawanya pulang hari ini . Ia melihat sang Kakak masih duduk sambil berkutat dengan laptop nya setelah berganti pakaian yang di belikan oleh Aldo.


"Kak Reza!!! Aku kapan pulang!!! " rengek nya membuat Reza terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Nara.


"Kamu sudah bangun? " tanya Reza basa basi.


"Belum masih tidur! " jawab Nara cemberut.


Melihat wajah cemberut Nara membuat Reza semakin gemas, ia menghampiri nya dan muncul ide jahil untuk mengerjai Nara.


"Dek , Kakak khawatir loh dengan keadaan kamu ,besok aja ya pulang nya..!" ujar Reza duduk di samping nya.


Sedangkan ketiga temannya diam saja melihat tingkah laku mereka dan hanya mengikuti apa yang di perintahkan oleh Reza.


"Aku sudah sehat Kakak Reza William, aku cuma kecapean , lebih baik istirahat di rumah aja ya please kak , aku mohon...!!" rengek nya.


"Senyum dulu dong nggak usah cemberut kayak gitu, baiklah ayok siap - siap kita akan pulang..!" ujar Reza membuat wajah Nara tersenyum bahagia , sehari berada di rumah sakit membuat nya tidak betah.


Kini Reza keluar menuju administrasi setelah itu meminta persetujuan lagi kepada dokter, sedangkan Bima , Ethan dan Aldo mengeluarkan barang - barang yang sudah di bereskan sebelum nya.


"Kak maaf ya, gara - gara aku sakit jadi ganggu kerjaan kalian, " ucap Nara menatap ketiga sahabat kakak nya.


"Kamu tidak usah sungkan sama kita dek,, kita semua sudah anggap kamu jadi adek kita sendiri sama seperti Reza, bukankah sebelum nya kita pernah bilang? " jawab Bima mengingat Nara yang ketika bangun langsung di kenalkan oleh Reza.


"Hehehe makasih buat kalian semua..!" ucap Nara tersenyum, entah kenapa hati nya merasa sangat tenang dan damai berada di sekitar mereka, ia merasa sedih karena dirinya hanya mengetahui akan pulang kerumah ayah nya dan tidak bisa bertemu mereka lagi karena selama di rumah ia tidak pernah di izinkan keluar oleh Ayah nya.


Selang beberapa menit Reza datang bersama dokter untuk membuka infus Nara. "Di jaga ya kesehatan nya jangan coba - coba melukai diri lagi, luka nya masih belum terlalu kering jangan kena air dulu, " nasehat dokter sembari membuka infus di tangan Nara.


"Baik dok terimakasih, " jawab Nara.


Setelah di buka, Reza merangkul sang Adik untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Ish kak , aku bisa jalan loh nggak usah di rangkul segala, " protes Nara.


"Ck.. bawel banget sih yaudah. "


"Masih sakit aja kalian masih berantem , nggak pernah akur ya? " tanya Ethan heran melihat mereka berdua.


"Selalu gini Kak,,, Kak Reza selalu bersikap semaunya, " cibir Nara membuat Reza membulatkan mata nya.


"Kamu sih dek, kan Kakak sayang, " balas Reza keceplosan.


"Ha??? " baru pertama kalinya Nara mendengar Reza menyayangi dirinya , walau ia tau Reza sayang sama dia tapi mengungkapkan rasa sayang itu tak pernah sampai kedirinya.


"Udah lah ayok jalan .. kelamaan nunggu kalian berantem mulu, " ucap Bima berjalan mendahului mereka.


"Yeeeee sewot banget sih, " ucap Reza.


Saat Reza mau jalan , Nara menarik ujung bajunya. "Ulangi apa yang Kak Reza ucapin tadi ya nanti. " Nara langsung berlari mengekori Aldo yang berada di depannya.


"Mampus lah!! " ucap Reza pasrah , jujur saja meski Reza sering memberi perhatian kepada sang adik ia terlalu gengsi untuk mengatakan rasa sayang nya.


"Kenapa lari dek ? " tanya Aldo.


"Heheh takut di kejar singa jantan, " jawab Nara asal.

__ADS_1


Setelah sampai di parkiran, Aldo menuju ke arah mobil sambil membawa barang tersebut dan memasukkan nya kedalam bagasi.


"Ayok kak cepetan, kita cari makan ya aku lapar, " ucap Nara.


"Apapun untuk mu dek. "


Kemudian aldo memegang kemudi yang di sebelah nya adalah Bima , sedangkan Nara duduk di tengah Ethan dan Reza . Mobil pun melaju meninggalkan Rumah Sakit.


"Nar,, ingat pesan dokter jangan coba - coba melukai diri sendiri, " tukas Aldo sembari menyetir.


"Iya... " jawab nya singkat , kini Nara menikmati perjalanan dengan perasaan bahagia, jalanan lumayan macet udara begitu panas. Sekilas Nara mengingat bahwa kesenangan nya yang sekarang hanya berlangsung sebentar, ia berpikir akan kembali kerumah dan tidak dapat menikmati jalanan ini lagi.


'Aku tidak bisa lagi bersama mereka, kapan lagi aku bisa seperti ini kumpul bersama sahabat Kak Reza yang penuh dengan kasih sayang, aku takut di rumah aku tidak mau ketemu Dady lagi, hiks .. Dady kejam..! ' bisik nya dalam hati , ia berusaha membendung butiran kristal yang hampir jatuh ke pipinya ia tak ingin di lihat menangis dan di kira lemah oleh siapapun ia harus kuat apapun takdir nya ia sudah merasa pasrah dengan semuanya.


Reza menoleh sekejap ke arah adik kecil nya, bukan tanpa alasan namun ia bisa merasakan perubahan serta rasa sedih sang adik begitu kuat ikatan persaudaraan mereka meski mereka terlahir jarak satu saudari yaitu Jennifer putri Jonathan setelah Reza , namun ikatan tersebut lebih kuat terhadap Nara.


"Dek kamu kenapa ? " tanya Reza , semua menoleh ke arah Nara.


"Kenapa Za ? " tanya Bima, Reza hanya menggidikkan bahu tidak tau.


"Aku tidak apa - apa Kak, jangan khawatir, " jawab Nara berusaha menutupi rasa sedihnya dengan sedikit senyuman yang di paksa.


"Kamu jangan bohong, jangan pikir kakak tidak tau apa yang kamu rasakan hanya saja kamu memilih memendam nya sendiri, " balas Reza.


Nara tidak menanggapi omongan Kakak nya , ia hanya melihat ke arah luar lewat jendela mobil sambil melihat sekeliling nya.


Empat puluh menit perjalanan mereka sampai di sebuah restoran ternama di kota itu, restoran yang di tata dengan berbagai fasilitas mewah membuat semua orang merasa kagum di tambah dengan lilin yang di hiasi di setiap meja makan dengan berbagai macam bunga.


Air mancur yang berada di tengah - tengah sekitar meja makan, restoran tersebut lumayan besar ada yang di luar ada pula yang di dalam . Hanya orang kelas atas lah yang bisa mengunjungi tempat mewah seperti ini, restoran tersebut di isi dengan berbagai wahana permainan semakin membuat Nara berbinar dan kagum dengan semuanya.


"Wow keren.. " gumannya.


"Suka. "


"Ayok langsung masuk aja, " ajak Ethan.


Reza menggenggam tangan Nara dengan Ethan yang berada di samping nya dan di ikuti dengan Aldo dan Bima dari belakang, jika di lihat dari keseluruhan Nara akan nampak di kelilingi oleh para pangeran tampan yang membuat semua mata kaum wanita merasa iri berada di posisi nya.


Saat melangkah masuk, orang pertama yang di lihat Nara ialah ayah nya yang sedang duduk bersama para saudaranya termasuk Ibu nya.


"Kakak, " ucap Nara perlahan, Reza yang melihat arah tatapan Nara merasa terkejut namun keterkejutan itu berganti dengan rasa amarah.


"Za, kamu tenang jangan luapkan emosi mu di sini, " cegah Bima.


"Hm. "


Mereka memilih duduk di tempat yang paling pojok supaya Nara merasa nyaman . Setelah memilih tempat duduk mereka langsung memesan makanan sesuai keinginan masing-masing.


"Dek kamu pesan apa ? " tanya Ethan sambil menyodorkan menu makanan.


"Kak Ethan aja yang duluan, " ujar Nara.


"Sudah, " jawab Ethan.


"Hmmm,,, pesan makanan yang paling enak aja deh, bingung liat menu, " jawab Nara.


"Seriusan dek ? " tanya Reza.


"Heheh iya Kak. "


"Yasudah , Kakak ke chef nya dulu ya, " ujar Ethan sambil beranjak dari tempat duduk nya.

__ADS_1


"Aku ikut! " Nara menarik ujung baju Ethan.


"Kamu duduk aja di sini nanti kamu capek, " ucap Ethan.


"Hmmm , Kak Reza boleh kan pengen keliling aja? " dengan wajah memelas nya membuat Reza tidak bisa apa - apa.


"Yaudah ikut aja, hati - hati, " jawab Reza.


Setelah mendapat izin dari Reza ia berjalan sambil memegang ujung baju Ethan.


"Dek kalok jalan jangan megang ujung baju, nanti sobek, " canda Ethan.


"Heheh habisnya Kak Ethan cepet banget jalannya. "


Ethan merangkul Nara sambil membawanya menuju chef di restoran tersebut.


"Permisi ada yang bisa kami bantu ? " tanya salah satu pelayan di sana.


"Saya ingin bertemu dengan chef nya, " jawab Ethan.


"Tunggu sebentar. "


Tak lama kemudian pelayan tersebut kembali sambil membawa seorang pria dengan topi chef nya.


"Ada yang bisa kami bantu ? "


"Kami ingin memesan menu terbaru di restoran ini, " jawab Ethan.


"Baiklah, silahkan tinggalkan di meja nomer berapa biar kami langsung antar kan kesana makanan nya, " ucap Chef tersebut.


Di sisi lain Jonathan beserta istri dan anak - anak nya terkejut melihat Nara yang berjalan dalam keadaan sehat bahkan pandangannya jatuh kepada Ethan yang memegang tangannya.


"Dady, bukan kah itu Nara ? " tunjuk Arzan melihat Nara yang sedang asyik bercanda dengan Ethan.


Jonathan mengalihkan pandangan ke arah yang di tunjukkan oleh Arzan. "Benar,, berani sekali dia bergandengan tangan dengan seorang laki - laki, " ucap nya geram.


"Belagu banget si cupu, " cibir Jennifer.


"Kita samperin aja mas, sok - sok an bergaya di sini, " tukas Hanna.


"Sudah lah biarkan mereka, jangan berantem di sini banyak orang, " cegah Galen.


Setelah menyerahkan nomer meja mereka, Ethan dan Nara kembali.


"Lama banget dek ? " tanya Reza.


"Dih baru aja tinggal sebentar udah bilang lama, " balas Nara.


Lima menit kemudian makanan yang mereka pesan pun datang , sungguh aroma yang sangat lezat dan menggugah selera, daging yang di panggang tidak lupa dengan saus tomat dan beberapa menu makanan lainnya yang membuat Nara tidak tahan ingin mencicipinya.


Ia langsung mengambil pisau kecil dan garpu untuk memotong nya.


"Pelan - pelan aja dek nggak ada yang mau ambil, " ucap Reza mengelus kepala sang adik.


"Habis nya sih enak, " jawab nya sambil mengunyah daging tersebut.


"Gemes deh, " Aldo mencubit pipi Oval Nara yang terlihat menggemaskan.


"Ish main cubit aja. "


Semua tersenyum melihat tingkah Nara yang di buat kesal setelah itu mereka melanjutkan untuk menyantap makanan dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2