Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 7


__ADS_3

Bismillah 🀲


Happy Reading πŸ₯³πŸ’œ


*


*


"AAAAAAAA!!!! "


Jeritan Jennie yang hampir saja kulit telinganya tergores oleh peluru tersebut membuatnya merasa di ambang kematian. Apakah ia bersalah lagi? Tidak! Ia tidak salah, semua ini akibat kelicikan Arres.


Reano ingin sekali mengumpat karena kini tempat persembunyian nya di ketahui oleh sang Pemimpin musuh, ia tidak bisa berbuat apapun lagi, jika seandainya mereka tidak keluar maka habislah sudah ketiganya di tempat tersebut.


"KELUAR! " teriak Arres dengan begitu kencangnya.


Jennie yang sudah pasrah akan hidup nya memilih untuk segera keluar, biarkan saja sudah pikirnya, ini semua salah nya karena yang terlalu penakut sehingga membahayakan dirinya sendiri.


"Nona.... " Reano menatap Jennie untuk melarangnya keluar.


"Tak apa. " Ketika Jennie hendak melangkah, Nara yang kini telah sadar menarik tangannya.


"Nona Nara.. " kembali Reano menggeleng.


Nara tak menggubris Reano, ia langsung berdiri meski ia sedikit limbung karena terlalu banyak kehilangan darah. Tetapi semenjak ia tertidur tadi ia sedikit merasa lebih baik.


"Puas?! "


Suara yang begitu berat dengan tatapan dingin menatap tajam ke arah Arres yang menyeringai ke arah nya.


"Akhirnya kamu keluar, " kekeh Arres. "Kemari! "


Suara dingin Arres tak bisa di bantah oleh siapapun tetapi Nara tetap bergeming di tempatnya. Hal itu semakin membuat Arres murka dan menembak ke arah nya, tetapi dengan gerakan gesit Nara menghindar.


"KALAU KAMU TIDAK KEMARI AKU AKAN MENEMBAK KEPALA SAUDARA MU! " bentak Arres murka.


"JANGAN COBA - COBA MENGANCAM SAYA LAGI BR*NGS*K!! " amuk Nara tak kalah keras.


"KAMU BERANI BERTERIAK! " Arres kembali mengarahkan pistol ke arah Nara, tetapi Nara lagi - lagi menghindar dengan melompat ke samping.


Reano ingin keluar, tetapi melihat tatapan Nara yang begitu tajam ke arah nya ia paham bahwa dirinya tidak boleh keluar karena harus menjaga Jennie disana.


"BERANI - BERANINYA KAMU! KAMU MATI HARI INI J*LA*G!! "


Suara Arres begitu keras di ruangan tersebut, membuat bulu kuduk Jennie semakin berdiri, tetapi tidak untuk Nara, Nara menatap meremehkan terhadap Arres dengan seringainya ia tetap menatap tajam.


"Kamu atau saya?! " kekeh Nara perlahan.


Dor!


Dor!


Dua kali terdengar suara tembakan memenuhi ruangan tersebut, Arres maju melawan Nara dengan pisau yang ada di tangan satunya. Begitu pula Nara mengambil belati kecil miliknya untuk di jadikan senjata.


"Nona hentikan!! " Reano yang tak tahan terus bersembunyi akhirnya keluar karena takut terjadi apa - apa dengan Nara.

__ADS_1


Arres terkejut melihat muncul nya Reano, sudah lama sekali ia tak memperhatikan lelaki itu semenjak dirinya masih berada disini. Hingga ia paham bahwa Reano lah yang bisa menemukan jalan keluar rahasia tersebut dan pastinya Rain lah yang membantunya.


"Ternyata kamu, Reano? Kamu berani bermain - main dengan ku? " wajah Arres terlihat menggelap hingga tanpa aba - aba langsung menyerang Reano.


Reano yang tak siap pun tersungkur akibat tendangan Tuan nya itu, Nara yang melihat hal itupun segera berlari dan melayangkan tendangan juga terhadap Arres.


"D*MN IT! " umpat Arres.


Nara tidak berkata apapun, ketika Arres mendekati nya ia menghindar, berkali - kali letusan pistol mengarah ke dirinya namun dengan gesit Nara menghindar.


Berkali - kali pula Arres mengatakan bahwa ia harus mati hari ini, namun Nara seakan-akan menulikan pendengaran nya, ia tak peduli apapun yang di ucapkan Arres asalkan dirinya bisa segera bebas dari sini.


Bila hari ini adalah hari untuk nya mati, maka ia harap mati secara terhormat karena baginya mati dengan menyerah terhadap musuh sama saja merendahkan dan mempermalukan diri sendiri.


"Reano,, to-tolong bantu Nara! " pinta Jennie yang keluar membantu Reano yang memegang perutnya karena terlalu sakit.


"Tetaplah disana, Nona, saya akan berusaha, " ucap Reano sembari berusaha berdiri.


Beberapa anak buah Scale Bones yang tadi sempat mengikuti Arres kini ikut menyerang ke arah Reano, sedangkan Jennie kembali bersembunyi di balik tong tersebut.


Dua melawan dua puluh orang, itu sungguh tak bisa di bayangkan betapa lelah nya Nara, bahkan dengan beraninya Nara melawan pemimpin nya yang begitu kejam. Darah semakin merembes dari tubuh nya, sepertinya luka Nara kembali terbuka, tetapi Nara tidak peduli dengan hal itu.


"Reano, kasih tau Kakak untuk segera! " teriak Nara di sela - sela pertarungan nya.


"Baik, Nona. " Reano kembali mengaktifkan alat komunikasi nya, dengan suara terengah-engah Reano mengubungi Rain.


"Reano, aku akan segera kesana! "


Tanpa di beritahu apapun, Rain dapat memastikan kalau Reano sedang bertarung saat ini karena mendengar suara erangan kesakitan dari mulut musuh yang di lumpuhkan oleh Reano.


"Kamu, akan, mati hari ini!! " tekan Nara dengan serangan membabi buta.


Nara cukup lincah ketika menyerang Arres, bahkan pistol yang di pegang oleh Arres seakan-akan tak berguna akibat Nara tidak memberinya celah untuk menyerang nya.


Nara menusuk-nusuk kan pisau nya ke arah depan, tetapi Arres pula cukup lihai, dengan seringai di wajah Arres semakin membuat Nara menyerang dengan gesit nya.


"Hahaha, aku tidak peduli, antara kamu dan aku, lebih baik kita bersama-sama, " kekeh Arres.


"Menjijikkan! " singkat, padat dan jelas suara itu terdengar begitu dingin.


"Hm... aku berpikir akan bisa menyentuh tubuh mu sebelum peperangan ini, tetapi Kakak br*ngs*k mu itu cukup cepat dari yang ku kira. "


"Tutup mulut mu, d*mn it! " erang Nara semakin memerah marah.


Sepertinya Arres sengaja memancing emosi Nara, karena dengan begitu Nara tidak peduli dengan posisinya di saat menyerang, ia akan fokus hanya untuk melukai Arres.


Tetapi tebakan Arres salah, meski begitu Nara tetap begitu menjaga posisi nya, menghindari pukulan yang akan mengenai area vital Nara.


Peperangan di ruangan tersebut kini semakin panas, sampai akhirnya mereka tak menyadari bahwa Jennie telah berhasil di seret oleh salah satu anak buah Scale Bones.


"Aaaa...lepas! Lepaskan! " teriak Jennie memberontak.


"Diam! You bi*ch! " amuk lelaki tersebut.


Arres yang melihat itu menyeringai kemudian menatap Nara yang sedang menatap datar ke arah nya. "Lihatlah saudara mu, apakah kamu siap melihat dia mati?! " kekeh Arres.

__ADS_1


Benar saja, Nara sedikit terhentak ketika melihat Jennie sudah di todongkan senjata oleh musuh, Nara semakin mengepalkan tangannya erat, namun sebelum ia kembali menyerang Arres sudah menarik kuat kedua tangan Nara ke arah belakang lalu menahannya.


"F*ck sh***! " umpat Nara karena lengah.


"Lepaskan dia! " teriak Reano.


"Hahahahah, silahkan menikmati acara hari ini... " kekeh Arres.


Bugh!


Satu pukulan dari salah satu musuh berhasil mengenai titik vital Reano sehingga membuat nya pingsan dan ambruk ke lantai.


"Reano!! " teriak Nara. "B*ngs*t kamu!! Benar - benar bukan manusia!! " amuk Nara, tetapi percuma saja ia berteriak, ia hanya akan menghabiskan tenaganya.


***


Di sisi lain, Vito dan Rio yang kini telah bersama melewati lorong yang telah di masuki oleh anak buah Scale Bones telah sampai dimana tempat sebuah pintu yang terbuka.


Mereka memasuki ruangan yang sedikit gelap tersebut dengan tetap hati - hati.


"Kemana mereka pergi? " tanya Vito pelan.


"Disini terlalu gelap, " timpal Rio.


"Apakah kita harus meraba? "


"Kamu gila, Vito, bagaimana kalau kamu malah meraba musuh? " kekeh Rio.


"Aku akan langsung mencekiknya, " jawab Vito.


"Jangan banyak bicara, cepat temukan pintu itu, kita harus menyelamatkan Nara, " ucap Rio kembali berjalan perlahan.


Vito terus berjalan hingga tak sengaja menubruk sebuah balok kayu yang berbentuk seperti lemari, berkali-kali ia mengumpat akibat terasa sakit di bagian hidungnya, Rio yang mendengar hal itu hanya bisa menahan tawa nya.


"F*ck siapa yang menaruh balok sialan disisi! " amuk Vito.


"Jangan menyalahkan sesuatu yang tidak bisa berbicara, tidak ada gunanya! " sarkas Rio.


Vito menahan amarah nya, tetapi saat itu ia sedikit janggal ketika berada disana.


"Rio, aku mendengar suara letusan! " Vito mendekat kan telinga ke arah balok kayu tersebut.


"Mungkin di luar, " timpal Rio.


"Bukan, ini berbeda, seperti suara orang tertawa. "


Rio yang penasaran akhirnya mulai mendekat ke arah Vito lalu ikut menempel kan telinga ke balok tersebut. Setelah itu mereka saling pandang meski sedikit samar-samar saling melihat akibat pencahayaan yang begitu sedikit.


"Nara di dalam! " ucap keduanya serempak.


*


*


Maaf kalau alurnya bertele - tele dan Membosankan πŸ™πŸ™πŸ™author sedikit bingung adegannya seperti apa, jadi hanya ini yang author bisa πŸ™πŸ˜

__ADS_1


like, Vote and KomenπŸ™β€οΈπŸ‘πŸ™‚


__ADS_2