Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
War pt. 8


__ADS_3

Bismillah 🀲


Happy Reading πŸ₯³πŸ’œ


*


*


Matahari telah mulai tenggelam, hembusan angin semakin terasa kencang, bulan purnama telah menampakkan sinar nya. Suara hiruk-pikuk di tengah gelapnya hutan semakin menambah suasana malam, tetapi sayangnya suasana tersebut sungguh sangatlah begitu mencekam.


Entah sudah lebih dari berapa jam peperangan terjadi namun terlihat tak kunjung untuk selesai, para anak buah terus bertambah hingga setiap pasukan pada Jungle Kingdom nampak begitu lelah bahkan sudah banyak mendapatkan luka pada sekujur tubuh mereka.


Saat ini Ethan terus mengomando anak buah nya untuk terus menyerang maju ke arah dalam, memojokkan musuh terus - menerus hingga ia berada pada posisi depan pintu masuk.


Hati nya seolah-olah berkata bahwa ia harus menyelematkan Nara yang ada didalam. Dengan gerakan cepat nya ia mengambil pistol Desert Eagle lalu menembak setiap musuh yang menghalanginya.


"Jangan berani menghalangi jalan ku! " tekan Ethan sembari menarik pelatuk nya hingga seorang penjaga yang telah menghalangi jalannya kini telah berjatuhan satu persatu.


"Bereskan yang di luar, aku masuk kedalam! " perintah Ethan dengan wajah dinginnya.


"Siap, Komandan! " jawab Chen yang berada di sisi Ethan.


Ethan bagaikan angin langsung melesat masuk kedalam gedung tersebut, ia tak peduli akan ada bahaya yang entah seperti apa ia temukan didalam nanti.


Sedari tadi ia berharap bisa segera masuk tetapi kekuatan pasukan Scale Bones begitu tak bisa di anggap remeh, amarahnya telah sampai di ubun-ubun hingga ia terus bergerak maju lalu menyerang musuh tanpa ampun.


Kini ia telah berhasil masuk kedalam tanpa anak buah, bergerak begitu senyap bahkan tak ada sedikitpun suara jejak kaki pada lantai. Dengan instingnya ia berjalan dengan percaya diri menuju keruang bawah tanah.


Melewati tangga yang menghadap ke bawah dengan suasana yang begitu gelap, ruangan ini sungguh sunyi tak ada siapapun, ah mungkin saja para anak buah Scale Bones telah keluar semuanya.


***


Disisi lain, Rain berserta di dengan Reza masih terus mengatasi puluhan anak buah Scale Bones yang terus bergerak maju menyerang nya, tetapi tak ada luka sedikitpun yang didapatkan oleh kedua lelaki tersebut.


"Tuan, anda masuk saja kedalam biar saya yang menghadapi mereka. " Rain dengan percaya diri menyerah dirinya demi keselamatan sang adik dari pemimpin Jungle Kingdom.


"Tidak, kita harus pergi bersama - sama, aku tidak akan meninggalkan mu disini! " Reza menolak dengan cepat, sungguh hati Reza saat ini tak ingin ada siapapun bergerak sendiri melawan begitu banyaknya musuh, ia harus bersama dan bersatu untuk melawan musuh yang sama.


Disana Furio terdengar terkekeh mendengar keduanya berbicara, saat ini ia terluka akibat dari timah panas yang di lesakkan oleh Reza ke arah kakinya. Kenapa Reza tidak langsung membunuh?


Reza pikir membunuh itu mudah, ia tak akan membunuh semudah itu, siapapun yang telah melukai sang adik bahkan harus merasakan apa yang telah di rasakan oleh Nara, bila perlu lebih dari apa yang di rasakan oleh Nara selama ia berada di ruangan bawah tanah.


Rain yang mendengar itu sedikit tersentuh akan kesetiaan Reza terhadap orang lain, seperti nya ia harus bisa menjalin kerja sama antara dirinya dengan Reza.


Ketika kekacauan melanda seluruh pasukan Jungle Kingdom kini dua helikopter telah terbang di atas mereka, semua mendongak menatap helikopter tersebut.


"Yeru!! " terdengar teriakan dari Zhu melihat sahabatnya yang telah lama tidak ia ketahui.


"Jangan berteriak bodoh! Tidak ada gunanya! " cetus Eren yang sedang berada di dekatnya.


"Old man! Kenapa kamu selalu ikut campur? " ujar Zhu dengan mimik wajah kesal nya.


"Cih... membosankan! " Eren langsung maju menyerang kembali.


Dor!


Dor!


Dor!


Puluhan butir peluru menerjang dari atas, setiap musuh yang tidak menyadari akan hal itu telah tumbang bersimbah darah. Yeru telah bekerjasama denagn Qui menyerang musuh yang telah bertambah.


Aldo yang juga berada di atas bersama yang lainnya telah sampai di mana area Reza saat ini tengah berjuang untuk masuk kedalam.


"Mati kalian semua! " desis Aldo langsung melempar bom yang telah ia rakit.


"Rain minggir! " Reza menarik Rain ke arah tempat yang cukup jauh dari bom yang telah di lontarkan oleh Aldo.

__ADS_1


Ledakan yang tidak terlalu besar namun berhasil melukai beberapa musuh, beruntung Reza menarik Rain dengan cepat sehingga berhasil menghindari ledakan itu.


"F*ck, Aldo! Kenapa tidak ada otak! Bagaimana kalau kami terluka! " amuk Reza pada alat komunikasi nya.


Aldo terkekeh. "Hahahah, maafkan aku, Za, aku terlalu bersemangat! "


Arzan yang melihat keadaan bawah kini mengambil pistol yang di berikan oleh Aldo sebelum selesai menggunakan teropongnya.


"Kita akan turun! " ucap Aldo menatap pilotnya.


"Siap, Komandan! "


Berjarak enam meter dari arah pertempuran helikopter turun di area yang sedikit luas tersebut. Aldo langsung meloncat bersama yang lainnya segera menemui Reza.


"Sisa hanya sedikit, Reza pergilah aku disini yang akan mengatasi mereka, " ucap Aldo.


"Baiklah, kembali dengan selamat! " ucap Reza menepuk pundak sahabatnya itu.


"Tentu saja, aku belum menikah aku tidak ingin cepat mati, " kekeh Aldo.


Reza hanya memijit pelipisnya, lalu menatap kedua saudara nya yang ada disana. "Kalian tetaplah disini, didalam sedikit berbahaya, saya akan masuk kedalam, " ucap Reza menatap keduanya.


"Semoga berhasil, " ucap Arzan, sebenarnya dalam hati ia tak rela melihat Reza akan masuk kedalam tetapi saat ini Reza adalah pemimpin di antara semuanya jadi mau bagaimana lagi jika tidak menurut?


"Mn. " Reza mengangguk lalu segera berlari ke arah pintu yang sebelumnya di tunjuk oleh Rain.


"Mari bersatu menghabisi mereka! " teriak ChiFeng semangat.


"HIDUP JUNGLE KINGDOM!!! HURRRRAAAHHHH!! " teriak Choi langsung berlari menerjang musuh.


"Tetap di belakang, jangan berpisah, aku tidak ingin tanggung jawab kalau sampai kalian terluka, " ujar Aldo.


"Baiklah, " angguk kedunya.


***


"Cepat masuk, aku sudah tidak sabar menembak kepala Arres! " tekan Vito menahan geram.


"Jangan gegabah, Arres bagian Reza, kita cukup lumpuhkan bersama yang lainnya! " ucap Rio mengingat kan.


"Terserah saja, cepatlah masuk! "


Rio langsung mendorong balok kayu tersebut hingga kini setelah bergeser begitu tampak sebuah tombol kecil yang ada disana, ia menekan tombol teras setelah mengira itu adalah tombol untuk membuka pintu.


Setelah di tekan, pintu tersebut terbuka cukup lebar.


"Biarkan aja terbuka, " ujar Vito.


"Mn. Cepat kita tidak boleh terlambat! "


Keduanya langsung berlari menuju ke dalam, tak peduli ruangan begitu gelap asalkan dengan cepat ia bertemu dengan sang Queen yang kini sedang banyak orang yang mengkhawatirkan keadaan nya.


***


Terlihat kecepatan yang begitu tak dapat di remehkan, Sherly berhasil melumpuhkan beberapa musuh, ia kini tak sengaja melihat Ethan telah menerobos masuk akhirnya tanpa pikir panjang ia melesat langsung mengikuti tanpa ada yang menyadarinya.


Kini tinggallah Bima sendirian yang berada di luar bersama para pasukan untuk menyerang musuh yang tersisa, para pasukan Jungle Kingdom tak ingin menyerah, meski di tubuh mereka terdapat banyak luka tetapi tak membuatnya surut untuk terus menyerang lawan demi Queen mereka.


Sherly masuk dengan langkah pelan, tetapi ketika ia baru saja beberapa langkah tiba - tiba dua orang laki - laki langsung menyerangnya, dengan gesit Sherly menangkis serangan itu, mengambil sebilah belati dan langsung menusuk nya ke leher dua lelaki tersebut.


"Akkkhhh! " jeritan yang tertahan pada kedua musuh yang kini ambruk dengan nyawa yang sudah melayang.


Seringai puas tercetak pada wajah Sherly, ia terus menyusuri ruangan tersebut, menoleh ke kesana-kemari apakah posisi nya aman. Ketika sudah di rasa aman, Sherly akan berjalan secepat mungkin.


"Ck... Ethan kemana sih? " decak Sherly sebal, ia terus melihat ruangan gedung tersebut hingga pandangannya jatuh pada lorong yang gelap.


Sherly mulai melangkahkan kaki nya kesana secepat mungkin, hingga kini ia telah sampai pada tangga yang menghadap ke bawah, sepertinya Ethan telah melewati tangga ini. Tanpa pikir panjang Sherly turun dengan penuh waspada.

__ADS_1


Hap!


Ruangan begitu gelap, ia tak dapat melihat situasi didalamnya, sehingga tanpa disadari seseorang menariknya lalu membekap mulutnya.


"Mmmm...mmmm! "


Sherly berusaha meronta, tetapi lelaki tersebut terus menutup mulutnya.


"Diam... " perlahan ia melepas bekapannya.


"F*ck, kenapa kamu membekap ku tiba - tiba, " amuk Sherly menghirup nafas dalam - dalam.


"Maaf, " ucap Ethan.


"Kenapa kamu masuk kesini? " tanya Ethan.


"Aku? Tentu saja aku sudah berjanji sama Rio dan Vito untuk menyusul mereka ke dalam, " jawab Sherly.


"Ha? Mereka berdua disini? " Ethan mengerut keningnya.


Sherly mengangguk. "Kamu kenapa kesini? " tanya balik Sherly.


"Aku.... aku... " hal yang ingin Ethan ucap kan mendadak tersangkut di tenggorokan, ia merutuki dirinya ia harus bilang apa?


"Hm.. sudah jangan beritahu, aku tau kamu khawatir kan sama Nara? " goda Sherly.


Muka Ethan bersemu merah, andai saja suasana di ruangan tersebut terang pasti Sherly akan semakin mengejeknya.


"Cih... membosankan! " ucap nya datar.


Ethan berjalan melewati Sherly membuat perempuan itu menatap nya sebal.


"Tunggu! " Sherly mengikuti langkah Ethan dari belakang.


Kedua nya berjalan perlahan menggunakan indera perasa serta insting yang kuat demi merasakan keadaan musuh yang bersembunyi di tempat gelap tersebut.


Ethan berjalan mengikuti jalan ruangan yang ia lewati, hingga kini kakinya telah sampai di sebuah ruangan yang terlihat berbeda tetapi melihat dindingnya yang begitu luas dari arah luar dengan satu pintu kecil, ia dapat menebak bahwa disinilah Nara sebelumnya di kurung.


"Apakah pintu nya di kunci? " tanya Sherly.


"Tidak tau. " Ethan melangkah ke depan, mencoba mendorong pintu tersebut.


"Tidak di kunci, " ucapnya.


"Masuklah! " ucap Sherly yang di angguki oleh Ethan.


Ketika keduanya masuk, Ethan melihat balok kayu hal yang sama di lihat oleh Rio dan Vito kemudian pandangan nya terjatuh melihat dinding yang terbuka.


"Itu jalan rahasia nya, " ucap Ethan menunjuk lorong gelap.


"Kenapa gelap sekali? Aku tidak bisa bayangin Nara bertahan di tempat ini, " ucap Sherly merasa sedikit sesak dan rasa marah secara bersamaan.


"Aku juga berpikir begitu, ayoklah cepat masuk, mungkin saja Vito dan Rio yang sengaja membukanya supaya kita bisa masuk, " ucap Ethan.


"Baiklah. "


*


*


Vote


Like


Komen😌❀️❀️


Maaf typo bertebaran dimana-mana πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2