Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Aku akan baik - baik saja


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Malam begitu larut, keadaan di sebuah Mansion Jungle Kingdom begitu tegang ketika Nara bersedia untuk menemui keberadaan musuh. Semua tidak rela, namun karena Nara memberikan mereka keyakinan mereka hanya bisa menurut dan memaki dalam hati.


"Maafin Kakak, dek, " ucap Reza memeluk adiknya, setelah itu menaruh laptop di meja dekat sofa yang ada disana.


"Jangan khawatir, aku akan baik - baik saja, " ucap Nara, ia duduk di dekat Reza.


"Kalian bisa cepat nggak sih? Putri ku tersiksa disana! " bentak Hanna.


Dengan rasa amarah yang sedari tadi di tahan oleh Sherly, ia maju secepat kilat tanpa ada siapapun yang mengetahui kapan ia ada di belakang Hanna.


"Sekali lagi kamu bicara leher mu akan aku sayat! " ancam Sherly, ia menahan kedua tangan Hanna ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan! Lepaskan Momy! " Galen mendekat.


"Mom, sudahlah... kita harus fokus mencari Jennie, jangan terus - terusan buat mereka marah. " kini Arzan tidak tahan sedari tadi mendengar ucapan yang tidak enak di dengar dari mulut Ibunya.


"Hanna, duduklah, lebih baik kamu diam! " Jonathan memandang tajam.


Perlahan Sherly melepaskan tangannya dari Hanna, Wanita itu menarik nafas kuat-kuat karena begitu terkejut ketika belati ada di lehernya.


"Aldo, siap mencari lokasi? " menekan link yang sudah di pindahkan ke laptop.


"Siap, Reza! " angguk Aldo, ia menyeka sudut matanya karena dari tadi ia merasa sedih melihat Nara harus menanggung semuanya. "Dek,, usahakan berbicara lebih dari tiga menit supaya Kakak bisa menemukan lokasi tepat mereka. "


"Tentu saja, Kak, " jawab Nara.


"Nar, kuatlah, kami akan datang setelah ini. " Ethan menepuk pelan bahu Nara.


"Tidak ada yang boleh menyakiti Nara setelah ini! " Reza mencium kening adiknya.


"Selama kalian ada aku pasti akan tetap aman dan selamat, " ucap Nara.


"Mulai! " Reza segera menekan link tersebut, layar terlihat masih berwarna hitam hingga.


"Hahaha, akhirnya...! Aku bisa melihat wajah cantik yang bernama Gadis Adonara, seorang anak yang tidak di akui oleh keluarganya ternyata cukup berani, " sapa seorang lelaki yang mengenakan penutup wajah.


"Oh ya sebelumnya, perkenalkan, nama ku adalah Furio, termasuk orang pribadi dari atasan ku. " wajah Furio terlihat begitu angkuh.


"Cepat katakan apa yang kamu inginkan! Dimana Jennie! " ucap Nara datar dan dingin, ia tidak peduli dengan nama tersebut.


"Oh wow! Dingin sekali, hahahaha tenang dia ada didalam penjara, " kekeh Furio tersenyum culas. "Jadi apakah kamu akan datang kemari untuk di tukar dengan saudara mu? " berhenti tertawa dan langsung berubah begitu dingin.


"Ya, saya akan kesana, tapi serahkan bukti bahwa Jennie masih hidup dan ada di tangan kalian, " ucap Nara, ia memandang sebuah waktu yang sedang berjalan, masih tersisa dua menit.

__ADS_1


"Kamu akan berbicara jika Tuan ku mengizinkan nya! Sekarang dengar syarat dariku gadis j*l*Ng! " bentak Furio.


"Jangan sebut adik ku dengan ucapan kotormu, you f*ck sh***! Aku bersumpah setelah ini akan menghabisi seluruh anggota Scale Bones! Mati kalian semua! " bentak Reza menggebrak meja.


"Hahahah, oh wow! Aku rasa tidak semudah itu, " ejek Furio.


"Kak, tenanglah, " ucap Nara memegang tangan Kakaknya.


Nara melihat tanda sudah mencapai satu menit, ia mengelus pelan punggung Kakak nya untuk meredam amarahnya.


"Za, tenanglah, biarkan Nara menyelesaikan nya, " bisik Bima.


"Pergilah dari layar, Reza! Atau aku tidak akan mengembalikan Jennie kepada kalian semua hahaha, kalau tadi aku hanya mencambuknya sedikit karena dia sangat nakal, " kekeh nya begitu terdengar kejam.


Hanna tidak tahan, ia langsung menarik Nara sehingga membuat Nara terhempas ke bawah. "Kembalikan Putri ku, aku janji akan menyerahkan Nara seperti yang kalian inginkan! " ucapnya tak peduli dengan kata - kata yang keluar itu membuat gemuruh di dada panglima Jungle Kingdom.


"Hm, aku kasihan sekali melihat Ibu seperti mu, rela dan begitu mudah langsung membuang anak nya sendiri hahaha. " tawa begitu terdengar menggelegar.


"Pergi dari sana atau anak mu saya biarkan saja disana! " bentak Nara menatap tajam.


"Mom, jangan buat masalah! " kini Arzan meninggikan suaranya.


Jonathan segera menarik istrinya secara paksa, Nara kembali duduk di depan layar. "Katakan persyaratan mu. "


"Aku akan mengirim lokasi pertemuan, katakan kepada siapapun yang ada disana agar mensiagakan jalur internet yang ini, aku akan memberikan informasi melalui satu jalur, yang ini saja. "


"Baiklah, saya butuh bukti yang pasti kalau Jennie kembali dengan selamat! " ucap Nara datar.


"Jangan khawatir, setelah kamu datang kemari saudara mu akan baik-baik saja, aku yakin Tuan ku akan senang menyambut kedatangan mu, " jawab Furio tersenyum dingin.


"Kamu tenang saja, tidak usah terlalu mengancam saya tidak sebodoh yang kamu kira, " cibir Nara, ia tersenyum mengejek.


"Kapan waktunya? " tanya Nara lagi.


"Besok pagi! "


Semua mata terbelalak mendengar Nara begitu tenang mengahadapi musuh, bahkan ia tidak merasa takut sedikitpun.


"Hm, sesuai dengan waktu, kalau saja kamu berani membohongi saya dan tidak memberi kabar apapun, kita lihat siapa yang akan mati di peperangan nanti! " desis Nara menyeringai.


" Baiklah, gadis kecil yang pemberani, kita bertemu besok! Dan ingat sendiri! " tepat tiga menit layar tersebut kembali seperti semula.


Semua memeluk Nara saat itu, menangis tidak rela keceriaan Nara di renggut oleh mereka. Nara adalah gadis yang begitu ceria di mata mereka, bagi mereka Nara adalah adik kecil yang selalu memberikan sebuah semangat untuk seluruh keluarga Jungle Kingdom.


"Hey, kenapa kalian cengeng? Ayok ini sudah malam, kalian tidur disini, Sherly akan tidur bersama ku, " ujar Nara.


"Pasukan ada di luar, " ujar Bima.


"Tenang, aku ada suatu tempat untuk mereka, " ucap Nara.


Ia segera melangkah menuju ke luar di ikuti oleh yang lain, namun saat itu suara Arzan menghentikan nya.

__ADS_1


"Nara. "


Nara berhenti dan membalikkan badannya, Arzan mendekat menarik tangan Nara.


"Jangan sakiti adikku! " ancam Reza.


"Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Nara, tenanglah, Za, aku tidak akan menyakiti nya, kalian boleh tunggu di luar, " ucap Arzan meyakinkan.


"Awas saja kalau sampai kamu kasar, " ancam Reza.


Arzan mengangguk dan membawa Nara ke sebuah ruangan pribadi miliknya, Hanna dan Jonathan kembali ke kamar mereka untuk mencoba beristirahat dan menenangkan


pikirannya, begitu pula dengan Galen.


"Cepat katakan! " tegas Nara.


Arzan duduk di seberang Nara. "Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu begitu berubah? "


"Pertanyaan konyol macam apa ini? Kamu kira aku orang lain yang operasi plastik? " Nara menautkan kedua alisnya.


"Kamu bukan Nara yang aku kenal, " ungkap Arzan.


"Sejak kapan kamu mengenali saya? Kamu sejak dulu tidak peduli, dan sekarang bertanya saya siapa? " Nara sedikit meninggikan suaranya.


Arzan menunduk. "Te-terimakasih, " ucap nya lolos begitu saja.


Nara terkejut. "What? Saya tidak salah dengar? "


"Terimakasih karena sudah mau menyelamatkan Jennie, " ujar Arzan.


Nara berdecih. "Kalau saja ini bukan demi Kak Reza saya enggan menyelematkan adik mu, kamu tau? Sedari dulu adik mu begitu benci terhadap saya, dan sekarang saya harus berkorban demi menyelamatkan nyawa kalian, " ungkap Nara, air matanya hampir jatuh tapi ia tahan begitu saja.


"Dan Ibu sialan mu itu, malah memanfaatkan hal ini untuk menyingkirkan saya dengan Kak Reza? Kamu pikir saya tidak tau ha?! " cukup sudah, air mata lolos begitu saja.


"Ibu mu, ibu sialan mu begitu senang saya di tukas dengan Jennie, tapi saya hanya berharap mereka tidak berbohong untuk mengembalikan Jennie besok pagi. " Nara segera mengusap air matanya.


Arzan hanya bungkam, ia merenungkan ucapan Nara yang terdengar begitu tulus menyelamatkan Reza, ada sedikit rasa cemas menyelimuti perasaannya ketika Nara bersedia menyerahkan dirinya besok.


"Baiklah, pembicara cukup sampai disini, semuanya tidak penting. " Nara beranjak dari duduknya.


"Tunggu! " Arzan menahan tangan Nara.


"Apa? " Nara menoleh.


"Hati - hati. " terlihat ketulusan dalam tatapan Arzan membuat Nara tersenyum tipis.


"Of course! " Nara keluar dari ruangan tersebut.


Arzan menatap punggung Nara yang menghilang di balik pintu, ia menghela nafas panjang, meremat rambutnya pusing memikirkan perasaan nya yang begitu kalut saat ini.


*

__ADS_1


*


Jejak jangan di lupa🥳


__ADS_2