Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Drama pagi hari


__ADS_3

Bismillah 🤲


Happy Reading 🥳💜


*


*


Menatap kertas tersebut dengan perasaan terkejut dan syok, apakah semua ini sengaja di simpan di sini? Lalu kenapa tidak ada yang memberitahukan kepada Reza?


Dengan cepat Reza meraih ponsel nya dan mendial sebuah nomor.


"Bim? Apakah Nara sudah tidur? " tanya Reza setelah telpon tersebut tersambung.


"...."


"Baiklah kalau begitu. " Reza segera menutup tlpn. Ada perasaan kesal terhadap dirinya tetapi di samping itu ia tidak akan marah terhadap adik nya karana bagaimana pun Reza tidak tau apa alasan di balik semua ini.


Reza kembali menatap ponsel, menekan aplikasi Galeri dan mencari sebuah gambar yang terpampang Poto seorang Wanita Paruh baya dengan senyuman yang begitu manis. Perlahan air mata turun membasahi pipi.


"Segitu percaya Nenek terhadap Reza? Kenapa Reza telat mengetahui nya, Nek, hiks... " suara isakan terdengar di dalam kamar tersebut.


"Reza janji akan jaga semuanya dengan sebaik mungkin, " ucap Reza, ia menghapus air matanya lalu kembali memasukkan kertas putih tersebut ke dalam map cokelat dan menaruhnya kembali kedalam ruangan rahasia milik sang adik.


Tak ingin berlama-lama, ia memasuki kamar mandi membersihkan tubuh nya lalu beranjak ke tempat tidur.


***


Suara angin yang berhembus begitu kencang, di sambut dengan turunnya hujan yang terlihat sangat lebat. Pagi ini, cuaca tidak begitu terlihat baik, jalanan terlihat sepi tak ada seorangpun yang berani untuk keluar.


Hujan di sertai angin kencang tak membuat seorang Reza William untuk tetap berada di rumah, ia akan tetap pergi dengan alasan bahwa pekerjaan nya begitu penting, ya, menyelidiki semua informasi tentang seseorang yang bernama Arres, hal itu masih menjadi misteri dalam pikiran Reza.


Saat ini, ia telah bersiap dengan sweater nya di padukan dengan celana jens hitam tak lupa sepatu sneaker berwarna hitam, ia keluar dari kamar nya tepatnya kamar milik Nara dengan tergesa-gesa.


"Reza? " suara bariton terdengar dari sebelah.


Ya, itu adalah Jonathan, ia terlihat tidak akan berangkat bekerja, Reza berpikir mungkin saja kantor ayah nya itu sedang libur karena badai.


"Kamu pulang? Sejak kapan? " tanya nya sembari mendekati Reza.


"Tadi malam, " balas Reza singkat, sejujurnya ia tidak ingin berbicara untuk saat ini kepada sang Ayah, karena masih menyimpan perasaan kesal terhadap dirinya.


Jonathan mengangguk memaklumi sifat datar Putra ketiganya itu, ada sedikit rasa penyesalan tetapi karena rasa gengsi terhadap dirinya tidak membuatnya berbicara untuk menyatakan permintaan maaf.


"Dimana Nara? " tanya Jonathan lagi.


Terdiam sejenak, lalu menghela nafas perlahan. "Buat apa anda menanyakan tentang adik saya? Bukankah sebelumnya anda tidak perduli? " enggan! Reza enggan memanggil nya dengan sebutan 'Dady' seperti saudara nya yang lain.


Sontak, perkataan tersebut membuat Jonathan bungkam, apa yang di katakan oleh Reza memanglah benar, ia tidak pernah peduli dengan kedua adik Kakak tersebut, ia hanya sibuk dengan hartanya, bahkan sampai membedakan antara dirinya dengan saudara-saudaranya yang lain.


"Kalau tidak ada hal penting yang ingin anda bicarakan, saya harus pergi. " tanpa basa - nasi lagi, Reza membalikkan tubuh nya membelakangi Jonathan lalu melangkah untuk turun ke lantai bawah.


Jonathan memandang punggung Putranya itu, lalu ia hanya menggeleng kan kepala dan kembali masuk kedalam kamarnya.


Di bawah Reza sudah melihat Rio dan juga Vito yang sedang menunggunya namun tepat saat itu pula Galen datang dari arah dapur tak lupa membawa sebuah kantong plastik yang entah isinya apa.

__ADS_1


"Pagi, Za, apakah kamu akan pergi? " sapa Galen ramah.


Reza hanya tersenyum tipis, tumben sekali saudara ini menyapanya begitu ramah. "Mn. " Reza hanya berguman sambil mengangguk.


"Di luar hujan, Za, apakah tidak apa kita pergi? " tanya Vito ragu.


"Kalau kamu tidak ingin ikut aku bisa sendiri, " balas Reza.


Vito hanya bisa menepuk mulutnya, bisa - bisanya dirinya berbicara seperti itu. "Eh... heheh, i-iya kami akan ikut kok, " ujar nya nyengir kuda.


"Za, ini makanan untuk mu, aku tau kamu tidak akan sarapan jadi aku membuat kan ini, " ucap Galen sambil menyerahkan kantong plastik tersebut.


Reza mengerutkan kening, sedikit terkejut, ia tidak pernah tau kalau Galen bisa memasak.


"Wow! Hey, bro apakah kamu pandai memasak? " tanya Rio.


"Tidak terlalu pandai, aku hanya pernah belajar dari teman ku dulu, " jawab Galen.


Reza mengerti, lalu mengambil plastik tersebut. "Terimakasih, " ucapnya dan di angguki oleh Galen.


"Ayok pergi. " Reza kemudian melangkah meninggalkan tiga orang yang masih menatapnya dalam diam.


"Seperti nya sifat kulkas Reza datang, Vit, " ujar Rio sembari menaruh lengannya di pundak Vito.


"Mana aku tau, aku kan ikan... " balas Vito enteng.


"Kamu bukan ikan gobl*k! Kamu manusia!! " sembur Rio menggeplak kepala sahabatnya itu.


Galen tersenyum melihat tingkah keduanya. "Kalian tidak ingin mengejarnya? " tanya nya.


***


Mobil berjalan menyusuri jalanan yang terlihat sepi, hujan semakin terlihat lebat, didalam mobil Reza hanya fokus menatap jalanan, tak sedikitpun ia berbicara.


Hal itu duo sahabat itu terheran, tetapi ia juga tidak langsung menanyakan. Dengan bodoh amat nya Rio memasang heandset di kedua telinganya lalu mulai menyetel musik dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, tidak lupa memejamkan mata sembari menikmati alunan musik tersebut.


"Kita akan kemana, Za? " tanya Vito tidak tahan hanya untuk berdiam diri.


"Ke markas Rain, " jawab Reza sekenanya.


"Untuk apa kesana? " tanya Vito.


"Bukankah dia pernah menjadi anak buah Arres? Jadi tidak ada salahnya untuk meminta bantuan, " jawab Reza.


"Kamu yakin? "


"Tentu saja, kalaupun aku tidak yakin, aku tidak akan melibatkan nya lagi. "


Vito hanya mengangguk mendengar penjelasan Reza.


"Tetapi sebelum itu, aku akan mampir ke Cafe milik Nenek ku, sudah lama aku tidak kesana, " ucap Reza.


"Baiklah. "


***

__ADS_1


Tok...tok...tok...


Seperti nya, hujan lebat ini membuat seseorang tidak ingin beranjak dari tempat tidur nya, ia hanya ingin bermalas-malasan. Di tambah dengan suasana hutan yang begitu terlihat berbeda dari biasanya ketika hujan telah mengguyur nya.


Nara tidak menggubris suara ketukan pintu, ia kembali menarik selimut dan memejamkan matanya.


Seseorang yang tadi mengetuk pintu tidak mendapatkan jawaban, ia dengan berani memutar kenop pintu lalu masuk kedalam, beruntung tidak di kunci.


Suasana kamar yang terlihat gelap, namun sedikit cahaya melalui jendela samar-samar membuat nya bisa melihat tubuh yang masih setia meringkuk di atas tempat tidur.


Ia mendekat. "Sayang... apakah kamu tidak ingin bangun? " suara lembut tersebut tidak berhasil membuat Nara untuk bangun, ia terlihat begitu pulas.


"Sayang, ini sudah pagi, ayok kita sarapan sama - sama, nanti perut kamu sakit. " lagi dan lagi suara tersebut tidak membuat nya bergerak sedikitpun.


Ethan menghela nafas, dengan ide jahil nya ia merangkak ke atas kasur dan mendekati Nara. "Apakah kamu tidak benar-benar ingin bangun? Atau.... maukah kamu_ "


"Aku bangun!!!!! " seru Nara kencang, tidak bisa di pungkiri jantung nya berdetak begitu kencang, sungguh ia tidak siap jika Ethan seperti ini.


Ia meloncat dari atas kasur dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, Ethan yang melihat hal itu hanya terkekeh. "Kenapa? Apakah kamu takut? " tanya Ethan.


"Te-tentu saja tidak! " elak Nara dengan perasaan gugup.


Ethan menautkan alis nya. "Lalu kenapa kamu meloncat dari tempat tidur? Kalau begitu ayok lanjut kan, " ucap Ethan sembari mendekati Nara.


Nara yang merasa dalam zona berbahaya hanya bisa mundur kebelakang ketika melihat Ethan berjalan ke arah nya. "Ka-kakak mau apa? " tanya Nara kikuk.


Saat berjalan mundur, Nara merasakan benda dingin menyentuh punggungnya.


'Mati! Tamatlah riwayat mu, Nara! Dasar bodoh! ' gerutu Nara dalam hati, ia tidak bisa kabur karena dinding sudah berada di belakang nya.


Ethan yang melihat Nara gelagapan hanya bisa menampilkan senyum smrik nya. "Apakah kamu sedang mengumpati dirimu, sayang? "


Nara tersentak, bagaimana dia bisa tau? Pikir nya.


Dengan cepat, Ethan mengunci tubuh Nara dengan kedua tangannya. Memandang lekat ke arah mata bulat dengan manik hitam pekat sungguh membuat Ethan semakin menaruh perasaan yang semakin dalam terhadap dirinya.


"Ka-kakak mau apa? " tanya Nara pelan.


"Sssttt... sudah ku bilang jangan memanggil ku Kakak, " bisik Ethan tepat di telinga Nara membuat bulu kuduk Nara meremang.


Nara hanya bisa menarik nafas berat, melihat Ethan yang mendekatkan wajah nya, ia hanya bisa pasrah lalu memejamkan matanya dengan rapat.


Cup!


Satu kecupan di keningnya membuat Nara membola, sialan! Bisa - bisanya ia berharap di cium di bibirnya.


"Ayok makan, " ajak Ethan sembari mengacak rambut Nara.


"CK... dasar laki - laki mesum! Minggir! " sentak Nara mendorong tubuh Ethan dari hadapannya.


Nara dengan tampang kesal nya melewati Ethan yang masih terkekeh melihat tingkahnya.


"Hehe, hey sayang tunggu aku!! " seru Ethan.


"Bodo! " sembur Nara yang sudah di ambang pintu.

__ADS_1


Ethan berdecak sebal melihat Nara yang sudah kesal terhadap nya. "F*CK, Ethan kamu sangat tolol! " makin nya terhadap diri sendiri, setelah itu ia berlari mengejar Nara yang sudah keluar.


__ADS_2