Misteri Cinta Gadis Mafia

Misteri Cinta Gadis Mafia
Berubah


__ADS_3

*


*


*


🏘️🏘️🏘️


Suasana di mansion megah itu nampak sepi setelah menyelesaikan sebuah acara yang cukup mewah, banyak dari kalangan pembisnis ikut hadir di mansion tersebut ya siapa lagi kalau bukan rekan bisnis nya Tuan Jonathan William seorang CEO yang memiliki sebuah perusahaan William Group yang saat ini sedang terkenal di kotanya.


Namun siapa sangka ia memiliki seorang pesaing yang cukup hebat sehingga perusahaan nya perlu melakukan peningkatan dalam suatu bidang dan akan mengajak beberapa klien untuk melakukan kerja sama


Ia bersama sang istri Johanna William melihat sebuah keributan yang berhasil membuat nya cukup terkejut.


"Apakah itu Reza? " tanya Hanna kepada suaminya.


"Kita kesana. "


Mereka berdua menghampiri tempat kegaduhan tersebut. "Ada apa ini ribut - ribut? "


Semua menoleh menatap ke arah suara tersebut.


"Dady, " ucap Jenni spontan.


"Reza kamu tau arah pulang juga,,, masih ingatkah kamu pertemuan di restoran itu? " tanya Jonathan mengingat mereka pernah bertemu.


"Ya saya masih ingat, " jawab nya singkat.


"Sejak kapan kamu pulang dari luar negeri? " tanya Jonathan.


"Tidak perlu tau, lagian kalian juga tidak akan peduli dengan urusan saya, " jawab Reza membuat Jonathan menahan amarah.


"Sopan sedikit terhadap orang tuamu apakah kamu tidak memiliki sopan santun? " gertak Jonathan.


"Mungkin saja, karena saya tidak di besarkan memiliki sopan santun terhadap orang yang tidak pernah menganggap saya ada, " jawab Reza dengan tatapan tajam nya.


"Bukan kah kamu yang tidak pernah menganggap kami Reza!!! " teriak Hanna seketika.


"Kalian yang tidak menganggap saya, dan kalian tau kenapa saya lebih memilih tinggal bersama nenek? Marena semenjak saya bersama kalian saya tidak pernah mendapat uang sepeserpun dari kalian, bahkan saat saya kuliah kalian kemana hah!!!!! " teriak Reza tak kalah keras nya.


Jonathan dan Hanna bungkam seketika, memang benar apa yang di ucapkan oleh Reza mereka selalu memiliki alasan saat Reza meminta kepada mereka uang untuk biaya kuliah nya dengan alasan bahwa saudaranya yang lain lebih membutuhkan dari pada dirinya dan mereka juga pernah mengatakan bahwa urusan Reza tidaklah terlalu penting karena mereka menganggap Reza tidak akan bisa melakukan apa - apa.


"Jika bukan uang dari Dady kenapa kamu bisa terus kuliah Reza? " tanya Arzan.


"Saya membayarnya dengan hasil kerja keras saya sendiri bersama nenek, jadi kalian tidak akan pernah berhak lagi mengurus apapun yang ingin saya lakukan, " ucap Reza.


"Reza apakah kamu tau siapa anak tak berguna yang ada di dekat mu? " ucap Hanna.


"Jangan pernah bilang adik saya tidak berguna, jika dia memang tidak berguna kenapa kalian melahirkan nya, " jawab Reza.


"Dia yang telah membunuh nenek mu Reza!!! " teriak Jonathan


Semua yang ada disana terkejut mendengar nya, namun tidak dengan Nara dan Reza karena dia sudah mengetahui tuduhan tersebut, ia di tuduh menukar obat Ibu Anggie namun bagaimana mungkin ia melakukan hal sekeji itu dia yang selalu memastikan keadaan nenek nya baik - baik saja.


"Jangan pernah menuduh tanpa bukti!! " suara Nara dingin, datar namun jelas di telinga mereka.

__ADS_1


"Mana mungkin kamu mengakui nya anak bodoh,, apakah kamu takut di masukkan ke penjara? " ancam Jonathan.


Nara tersenyum tipis. " Lakukan saja apa yang kalian mau dan jangan harap kalian akan selamat setelah saya di penjara, " jawab Nara menatap tajam semuanya.


"Sejak kapan kamu berani menjawab ucapan Dady, " Jennie langsung mencengkram rahang Nara dengan cukup keras, namun tidak membuat Nara kesakitan bahkan ia masih terkekeh.


"Lepaskan tangan mu atau kamu yang akan merasakannya, " ancam Nara jujur jika ia tak merasa kesulitan untuk bernafas namun ia mencoba untuk tetap mengendalikan dirinya.


"Kamu berani mengancam ku? Kamu hanya gadis bodoh, tidak berguna ,kamu punya apa sehingga berani mengancam ku ? "


Tak segan - segan Nara menggunakan kedua tangan nya dan mencekik leher Jennifer dengan sangat kuat membuat nya sulit untuk bernafas, seketika cengkraman yang ada pada Nara terlepas.


"Nara!!! " teriak mereka Jonathan bersama dengan yang lain tanpa terkecuali Reza yang hanya diam tersenyum menatap Nara.


"Diam kalian!!!! " bentak Nara dengan mata tajam nya , mereka terkejut dengan tatapan itu dan suara keras dari Nara , sejak kapan dia berubah menjadi berani seperti ini?


"Jangan sekali - kali kamu meremehkan saya dalam hal apapun, jika dirimu saja hanya seorang manusia yang hanya bisa meremehkan seseorang tanpa melihat apa keistimewaan yang sebenarnya, " ucap Nara menekan kan setiap ucapan - ucapannya.


"Kkhhhh...akkhhhh. " hanya suara itu yang keluar dari mulut Jennifer ia sudah hampir kehilangan nafas nya.


"Saya bisa saja membunuh mu sekarang, tapi melihat orang tua mu yang hampir menangis sungguh menyedihkan hahaha," Nara tertawa dan setelah itu melepas kasar cekikannya.


"Jennie apakah kamu baik - baik saja? " tanya Hanna langsung menghampiri putrinya bersamaan dengan saudara nya lain.


"Kalian semua jangan pernah ganggu ketenangan saya, karena saya masih memiliki hak tinggal dirumah ini, jika kalian mengusir kami silahkan tapi sama artinya kalian tidak memenuhi keinginan mendiang nenek, " Nara melangkah kan kaki kedalam tanpa menghiraukan ucapan yang lain.


"Apakah kalian tidak akan mengucap kan selamat datang kepada kami? Saya rasa tidak mungkin, " setelah mengucapkan hal itu Reza langsung mengejar sang adik yang sudah jauh di depannya.


"Biarkan saja mereka tinggal mereka akan merasakan neraka dunia, " ucap Jonathan bengis.


"Jangan lakukan itu pada Reza Dady " ucap Arzan.


"Maaf dad, " ucap nya menunduk.


Bohong rasanya jika ia membenci Reza karena bagaimanapun mereka suadara satu darah, satu ayah dan satu ibu , ia mengatakan benci namun lain dengan hatinya tapi karena pengaruh kedua orang tuanya ia tidak akan pernah mengungkap kan rasa itu dan ia tidak boleh menyukai mereka berdua.


Saat masuk ruangan Nara bertemu dengan Bik Rumi seorang pelayan yang pernah menolongnya.


"Tn. Muda dan Nn. Nara kapan kembali? " sapa nya ramah.


"Bik Rumi, kami baru saja sampai bibik apa kabar? " tanya Nara.


"Saya baik Nn. bagaimana dengan mu ? "


"Lebih baik dari sebelumnya, " jawab Nara.


"Yasudah bik, kami mau istirahat dulu, " ucap Reza.


"Iya Tuan. "


Nara melangkah menuju kamar nya di ikuti oleh Reza. " Kakak kenapa ikut kemari ? " tanya Nara.


"Malas ke kamar sendiri, " jawab nya.


"Bilang aja nggak mau jauh dari adek nya, " cibir Nara.

__ADS_1


"Hm. "


Setelah memasuki kamar nya ia segera menutup pintu dan membaringkan tubuh nya di atas kasur size yang cukup besar , nampak bersih mungkin saja selama ia tidak di rumah pelayan selaku membersihkan nya.


"Kenapa Kakak diam saja tadi saat aku mencekik Jennie? " tanya Nara.


"Sengaja , suka liat kamu berantem selama ini kamu selalu takut sama mereka heh, " kekeh Reza.


"Ngeselin banget sih. "


"Istirahat saja, nanti kita akan pergi, " ucap Reza.


"Pergi kemana? "


"Nanti kita lihat. " Reza langsung membaringkan tubuh nya.


"Kak Reza bikin penasaran mulu, " kesal Nara.


Ia juga ikut membaringkan tubuh nya dan mulai tertidur, hari ini mereka bermalas - malasan karena tidak ada kerjaan yang menganggu tapi hanya hari ini tidak dengan hari berikutnya.


🍂🍂🍂


Sore hari suasana terlihat padat, banyak para pemuda - pemudi keluar hanya untuk jalan - jalan dan ada pula yang melakukan lari sore, para pedagang kaki lima takm luput untuk terus menjajan kan makanan nya di pinggir jalan, jalan raya di kota itu terlihat macet karena banyak nya orang yang sudah kerja dari kantor yang sudah menjadi kegiatan sehari - hari di ibu kota.


Nara turun dari kamar nya dengan memakai kemeja kotak - kotak berwarna abu putih , celana jeans hitam tak terlalu ketat namun tak juga longgar tak lupa sneaker hitam putih yang dulu ia masih simpan saat hadiah ulang tahun dari mendiang nenek nya, rambut yang gerai asal tak lupa kacamata hitam membuat kesan keren terhadap dirinya.


Saat ia turun pemandangan pertama yang ia lihat adalah, para saudara dan kedua orang tuanya kumpul di ruang tengah melempar canda dan tawa mereka, Nara menatap sebentar lalu melanjutkan langkah nya untuk turun menuju ke arah dapur.


"Hm.. " deheman Jonathan membuyarkan lamunan mereka , sedangkan Nara tidak menghiraukan dan mengambil roti tawar yang sudah di potong - potong dan mengolesi nya dengan selai cokelat, ia tau jika dirinya dijadikan bahan tatapan namun ia malas untuk merespon ataupun berdebat, ia menarik nafas dalam - dalam dan membuang nya kasar untuk menenangkan dirinya.


Setelah selesai memasukkan roti kedalam mulut nya, ia beranjak menuju ke arah kulkas namun suara bariton dari Ayah nya menghentikan langkah nya sejenak.


"Dasar anak tidak tau sopan - santun! " ucap nya tegas.


Nara hanya menyunggingkan senyum nya dan melangkah kembali membuat mereka terkejut akan kelakuan Nara yang tak seperti biasanya, dulu Nara mungkin akan merasa takut dan memohon untuk di maafkan tapi sekarang ia tidak akan pernah sama sekali berlutut ataupun tunduk terhadap orang yang telah mengacaukan hidup serta mental nya.


"Nara..!!! " bentak Jonathan saat tak mendapat respon dari Nara.


Nara tetap melangkah dan membuka kulkas mengambil susu kotak cokelat kesukaan nya, ya selain menyukai pedas Nara juga sangat menyukai cokelat, ia meminumnya hingga habis dan berbalik menatap orang yang sedang menatap nya marah. Tanpa peduli ia melangkah meninggalkan mereka namun ia berhenti saat teriakan Jonathan menggema di telinganya.


"Berani sekali kamu berbuat kurang ajar...!! " bentak nya.


Seluruh orang disana hanya menatap datar. Mata mereka penuh benci dan emosi, Nara menatap Dady nya dingin seketika pula mereka terkejut melihat Nara seperti itu tak pernah ada Nara yang seperti itu.


"Hm, " gumannya sambil mengangkat satu alis nya.


"Dasar anak tak tau di untung kamu,, kenapa kamu tidak mati aja sekalian kemarin! " bentak Hanna dingin.


"Udah? Tidak ada yang penting kan ? " tanya Nara dingin.


"Sejak kapan kamu tidak memiliki sopan santun seperti ini ha.. " bentak Arzan menatap Nara tajam.


Jujur saja Nara sedang tidak mood hari ini, ia memilih untuk segera melangkah keluar meninggalkan mereka yang sedang di bakar api kemarahan , dengan cepat Arzan mencengkram pergelangan tangan Nara membuat Nara sedikit meringis namun tak bersuara.


"Lepas!!! " ucap Nara dingin.

__ADS_1


Tapi sayangnya cengkraman itu semakin keras. " Sini kamu!! " bentak Arzan.


"JANGAN SEKALI - KALI KAMU KASAR TERHADAP ADIK SAYA!!!! " semua teralihkan oleh seseorang yang berada di atas tangga.


__ADS_2