
Bismillah 🤲
Happy Reading 🥳💜
*
*
Suara musik menghentak, menyambut kedatangan kelima gadis cantik yang telah di persiapkan sebelumnya, langkah salah satu dari mereka nampak ragu hingga membuat teman yang lain kembali untuk yang kesekian kali meyakinkan nya.
"Sudah lah,Ca, nggak usah terlalu kampungan lagi, kita disini tetap sama - sama, " ujar Mona semakin mendorong tubuh temannya itu kedalam.
Caca memutuskan untuk hanya mengikuti mereka, sebelumnya ia tidak pernah ikut bergabung dalam sebuah Club yang penuhi dengan suara hingar bingar para pengunjung. Namun karena beberapa temannya memaksa ikut akhirnya ia hanya bisa menyetujui.
"Aku hanya sedikit khawatir, Mon. "
Jennie berdecak sebal. "Kalau kamu tidak mau masuk lebih baik pulang saja, apa yang kamu khawatir kan? Lagian sudah biasa suasana Club seperti ini. "
Caca meneguk ludah susah payah. "Tapi kalian tidak akan ninggalin aku kan? "
"Tentu saja! " tukas Abigail dan di balas anggukan yang lainnya dengan cepat.
Sesampainya di meja yang di pesan oleh Chelsea, beberapa pelayan memberikan pesanan bahkan yang belum sempat di pesan.
"Maaf, tapi kami belum memesan apapun, " kata Caca tidak faham.
"Sudahlah, kita coba saja. Belajar lah untuk menjadi perempuan tangguh, biar kamu bisa merasakan yang namanya sebuah kenikmatan, " ujar Chelsea setelah menyesap minuman yang telah di siapkan oleh Mona.
"Bagaimana kalau aku mabuk? "
Jennie mendengus. "Sedikit saja tidak akan membuatmu mabuk. Aku yakin kamu tidak akan mau berhenti setelah mencobanya. " Jennie menyodorkan segelas Whiskey.
Caca hanya mengangguk kemudian mengambil segelas minuman tersebut, perlahan ia menyesap nya , ada sedikit rasa terbakar di tenggorokan nya namun dengan cepat semuanya menjadi baik-baik saja.
"Oh my... seperti ini kah rasanya?! Berikan lagi! " ucap Caca sambil memberikan gelas kosongnya untuk di isi kembali.
"Caca you okay? " tanya Mona cemas.
Caca menggeleng. "Hm, no worry, Dear! I'm okay, tenggorokan ku terasa terbakar. Tapi semakin lama rasanya tidak lah buruk. "
"Good! Mari nikmati malam ini untuk kita semua! " seru Jennie mengangkat gelasnya untuk mengajak bersulang.
*
Malam sudah semakin larut. Terlihat seorang lelaki mengenakan masker terus mengawasi seorang gadis yang tengah bercanda ria dengan temannya. Berkali-kali mengedarkan pandangan ke segala arah memastikan semuanya berjalan lancar.
Kelima gadis tersebut kini bangkit dan bersiap untuk pulang, nampak dari mereka sedikit sempoyongan membuat para sahabatnya menahan tubuh gadis tersebut, dialah yang tidak lain Mona.
"Cepat bawa ke mobil, " ujar Jennie.
"Huh, dasar Mona! Repotin banget! " kesal Chelsea.
"Sudah yuk balik, sudah malam, " tukas Abigail.
Semua mengangguk dan bersiap untuk pulang, namun saat itu Jennie tiba - tiba ingin pergi ke toilet sehingga membuat sahabatnya menunggu.
__ADS_1
"Kalian boleh pergi duluan, aku akan nelpon Kakak ku, " ujar Jennie.
"Memangnya tidak apa? Kalau Kakak kamu marah bagaimana? " tanya Abigail.
"No problem! Aku akan menelpon Kak Galen, " jawab Jennie.
"Yasudah kami pergi duluan, bye... sampai jumpa lagi, Dear! " ujar Chelsea.
Setelah semuanya pamit, Jennie masuk kembali kedalam Club mencari toilet Wanita. Tentu ia tidak kesusahan karena sering mengunjungi Club ini bersama Sahabatnya yang tadi. Bahkan ketika salah satu dari mereka ada acara pasti akan kesini.
Jennie mulai masuk ke dalam toilet, tanpa di sadari seorang lelaki terus mengikutinya dari arah belakang. Selang beberapa menit akhirnya Jennie keluar, ia terkejut ketika melihat lelaki tersebut ada di depan toilet yang ia masuki.
"Siapa kamu?! " tanya Jennie sedikit takut.
"Hai cantik... " ia menyapa dengan tenang, kemudian membuka maskernya membuat Jennie terpana.
Sungguh ini adalah anggota khusus dari Scale Bones, bahkan ketampanan nya bisa mengecoh wanita siapapun sehingga bisa dengan mudah menarik target.
Jennie langsung mengubah sikapnya , ia tidak lagi merasa gugup dan malah terus menatap lelaki tersebut.
"H-hai... " balas Jennie gugup.
"Bersama siapa? " tanya nya.
"Aku? Aku... sendirian, " jawab Jennie tidak menyebut ketika bersama sahabatnya tadi.
"Nama ku Chris, " ucapnya menyodorkan tangan untuk berkenalan.
"Ah ya, ha-hai Chris, aku Jennie. " ia pun membalas uluran tangan tersebut.
"Kenapa disini? Ayok keluar. " Chris mulai mengajak Jennie untuk keluar dari Club tersebut.
"Kenapa kamu tidak pulang? " tanya Chris.
"Astaga aku sampai lupa saking enaknya kita mengobrol, kalau begitu aku telpon Kakak ku dulu ya, " ujar Jennie.
Chris tertegun, kalau sampai Jennie menelpon Kakak nya ia tidak jadi untuk menangkap sang gadis.
"Aku antar kamu pulang saja, bagaimana? " tawar Chris.
Jennie terkejut. "Ha, memangnya boleh? " tanya nya Sedikit senang.
"Tentu saja, " jawab Chris cepat.
"Baiklah. "
Chris mulai mengajak Jennie untuk masuk kedalam mobilnya. Setelah mobil berjalan cukup jauh Jennie tidak sadar bahwa Chris tidak membawanya ke jalan rumah hingga tanpa sadar Chris menghentikan mobil dan langsung membekap mulut Jennie.
Jennie sempat berteriak hingga akhirnya terjatuh pingsan karena obat bius yang di taruh di sapu tangan tersebut.
"Komandan,Furio, saya berhasil menangkap target, dua puluh lima menit segera sampai kesana, " ujar Chris memberi kabar.
Chris langsung melakukannya mobil dengan kecepatan di atas rata - rata.
*
__ADS_1
Sementara disisi lain, kini Jonathan telah sadar setelah satu jam lalu, ia langsung meminta untuk segera pulang, Arzan yang tidak tega dengan keadaan sang Ayah awalnya untuk menginap satu malam meski Dokter membolehkan untuk pulang.
Namun karena di paksa oleh Jonathan akhirnya mau tidak mau Arzan mengiyakan.
"Arzan sudah mengurus kepulangan Dady untuk malam ini, " ujar Arzan.
"Dimana Jennie? " tanya Jonathan ketika tidak melihat sang Putri kesayangannya.
"Tadi sore Jennie izin keluar bersama teman - temannya, Dad, tapi sampai sekarang belum pulang, " jawab Arzan.
"Apa? Belum pulang? " kini Hanna yang baru keluar dari kamar mandi terkejut karena sudah larut malam Putrinya belum pulang.
"Kita pulang saja dulu, Dad, nanti Arzan akan telpon Jennie, jangan khawatir, " ucap Arzan menenangkan sang Ayah.
"Baiklah. "
Keluarga tersebut keluar dari RS bersiap untuk pulang kembali ke kediaman William.
*
Malam yang begitu sunyi, perasaan Nara sudah mulai tidak membaik, begitu gelisah hingga ia tidak bisa tidur. Sedangkan Reza mungkin saja telah terlelap di kamar miliknya.
Nara keluar dan menuju kamar sang Kakak, awalnya Nara tidak sanggup untuk membangunkan namun baru saja ia memutar handle pintu, pintu tersebut terbuka.
"Dek? " Reza keluar menatap adiknya. "Kenapa belum tidur? "
"Aku... " Nara tidak tau harus menjawab apa.
"Ayok masuk. " Reza segera menarik tangan adiknya.
Setelah masuk keruangan Reza menutup pintu kamar nya dan mengajak sang adik untuk duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari sana.
"Aku kita Kak Reza sudah tidur, " ujar Nara.
"Sudah , tapi Kakak tadi mau ke dapur ambil minum, kamu kenapa belum tidur? " tanya Reza.
"Kak perasaan ku tidak enak, " kata Nara jujur.
"Kenapa? Apakah ada masalah atau kamu bermimpi? " tanya Reza.
"Tidak, aku tidak bermimpi, aku hanya gelisah. " Nara merebahkan kepalanya di dada bidang sang Kakak.
Reza mendekap erat tubuh sang adik dan berusaha menenangkannya. Saat itu terdengar suara ribut dari arah bawa membuat Reza dan Nara segera keluar.
"Gimana ini, Mas? " ucap Hanna cemas. .
"Jennie tidak menelepon ku, Dad, apakah dia berbohong? " Galen kembali memeriksa ponsel nya.
"Aku sudah menelpon kesemua teman - temanya tapi tidak ada yang tau, ponsel Jennie sudah tidak aktif, " timpal Arzan.
"Kita segera lapor polisi, " putus Jonathan.
"Tidak perlu! "
*
__ADS_1
*
Hai semua... jangan lupa jejak ya🙏❤️😉