
"Sa-saya??, tadi mau beliin guru kelas saya Makanan. Karena hari ini hari spesial nya. Jadi saya dan teman saya, berniat membelikan beliau Makanan dari kantin ini" Lusi Beralasan, agar mereka selamat. iya yang maju terlebih dahulu itu Lusi. Gadis yang sama sekali tidak memiliki rasa takut, dan selalu maju pertama kali. sebelum di minta.
"Iya pak, beneran. Pak G hari ini berulang tahun. Awalnya kami berniat membelikan beliau kue ulang tahun. Tapi? karena waktunya tidak mendukung kita untuk keluar sekolah. Jadi! kita beli aja di kantin" Timpal Ara dengan berusaha memperlihatkan ekspresi yang sesedih mungkin. dan kebetulan memang hari ini Pak G berulang tahun.
Pak Satpam menyerinyit bingung melihat kekompakan mereka berdua. Tetapi ia masih belum sepenuhnya yakin.
Melihat keraguan dari wajah pak satpam membuat Natasya maju dan berkata. "Iya pak satpam. Kita terlambat masuk, karena ingin membeli sesuatu. Setelah ini kami janji akan langsung masuk ke dalam kelas kok. Maafkan Kami pak" Jelas Natasya membuat keraguan dalam hati pak Satpam sedikit berkurang.
"Oke, Saya Memaafkan kalian"Ucap Pak satpam.'
Tetapi bukan sampai disitu saja, Pak Satpam tetap tidak perduli apapun alasannya. Walau mereka memohon, atau berlutut sekalipun. Peraturan tetaplah peraturan. Ia akan berlaku di tempat yang memang di haruskan.
"Saya tahu, niat kalian memang baik. Tapi saya sebagai satpam. Tidak boleh melanggar peraturan apapun itu. Kalau ingin membeli sesuatu! ingat waktu?, jangan membeli pada waktu yang tidak tepat!!" Jelasnya. Membuat nyali ketiganya menciut seketika.
"Saya ingin bertanya?, dahi kamu kenapa sampai di plester dua begitu" Tanya pak Satpam membuat ketiganya mendongak. Dan mencari seseorang yang di maksud.
Natasya yang merasa terpanggil pun hanya menjawab dengan pelan "Terjeduk dinding pak" Ucapnya berbohong. Karena ia tak ingin memberitahu siapapun, kalau ia terjeduk kepala batu si Ganteng Nathan.
"Owh. Makannya kalau berjalan itu hati-hati"
"I-iya pak"
.
"Karena kalian bertiga niatnya sama, Jadi lebih baik kalian di hukumnya sama-sama Juga" Ujar pak satpam.
"Yah pak!, sebelumnya saya anak murid teladan loh. Kok jadi di hukum si" Ara memelas, berharap di beri keringanan untuk masuk pelajaran pertama.
"Tidak ada bantahan!" Akhinya trio cantik itu pasrah, menurut apapun hukuman yang akan di berikan kepada mereka nantinya.
sebelum itu Natasya diam-diam menaruh uang pecahan berwarna biru, di bawah gelas es jeruk tadi.
.
.
"Kalian berdiri di depan tiang bendera ini, sambil hormat" Ucap Pak Satpam.
__ADS_1
"Hah seriously!!! , Pak satpam. Baru aja tadi kita gosong-gosongan upacara bendera. Sekarang!! main suruh hormat bendera lagi" Adu Lusi dengan sedikit logat inggris nya.
"Siapa yang nyuruh kamu main ke kantin tadi? , Kalau tidak mau. kamu bisa keliling lapangan sampai istirahat pertama" Ungkit pak satpam sekalian memberikan negosasi yang lebih susah.
"Iya deh, iya. saya Akan menerima ini semua dengan lapang dada. Yang penting jangan lari keliling lapangan" Pasrah Lusi.
"Ingat! Jangan ada yang kabur setelah ini" Ucap Pak Satpam memperingati, sembari berjalan ke arah Kantor untuk mencatat hukuman mereka di Map.
Mereka menganggat tangannya, hormat pada Bendera Merah Putih. Padahal sekarang matahari sedang terik teriknya. Walaupun matahari pagi itu sehat, tapi tetap saja panas.
"Sya, Kok gue Baru sadar ada tu plester!" Ucap Ara membuka obrolan, karena sangking garingnya.
"Iya, tadi pagi kejedot dinding kamar, gue" Alasan yang Masuk akal sih. Tapi Seorang Tiara Tidak mudah di Tipu.
"Masak, kok gue gak yakin??"
"Kan gue yang ngerasain, kenapa lu yang nanya gue balik" Jelas Natasya. Sepenasaran apapun Tiara, kalau sudah berdebat dengan Natasya. Pasti akan kalah juga ๐.
"Hmmm.. iyain deh"
.
.
Natasya menghadap ke arah Lusi, karena posisi Natasya di tengah-tengah. "Kenapa Memangnya??"
"Kan gue juga mau nanyain keadaan lo. Lo baik-baik aja kan"
"Iya gue baik"
"Hauredang Hauredang hauredang panas panas panas!!" Ara berkicau seperti seekor burung.
.
.
Skip Bagian Trio cantik. Sekarang Bagian Nathan.
__ADS_1
Flashback On
Saat Nathan masuk kelas.
"Hahahaha" Satu kelas menetertawakan Nathan,
'Kenapa, pada ngetawain gue' Batin Nathan.
"Baru tau, Nathan orang London yang ganteng. Bisa Cute juga ๐ Jadi gemesh deh" Gelak seorang siswi yang mengidolakan Nathan.
Nathan mengerutkan Keningnya bingung. Melihat Sohibnya kebingungan, Rendy menarik Nathan ke tempat duduknya. "Lo ngapain??" Tanya Rendy membuat Nathan tambah bingung.
"Itu!" tunjuknya pada Plester Doraemon yang di berikan oleh Natasya.
Nathan meraba pelipisnya yang terasa ada sesuatu. Lalu ia menautkan kedua alisnya.
Rendy mengambil Handphond miliknya, dan menyalakan Apk Camera. Agar Nathan melihat apa yang mereka tertawakan.
Seketika Nathan membanting Handphond Rendy, Brak! HP itu pecah berkeping keping.
Semua Mata menatap sayang, melihat handphond mahal itu tergeletak tak berdaya di lantai. Ada yang merasa takut, karena sudah menetertawakan Nathan. Ada juga yang terlihat biasa-biasa saja.
Tanpa memperdulikan sekitarnya, Nathan merobek Paksa Plester itu dan segera menyimpan di kantong celananya.
Walaupun Luka itu tambah memerah, karena tarikan kuat yang Nathan berikan, ia tetap santai. Seperti tidak terjadi Apa-apa.
'Awas aja lo, cewek gila. Lo akan gue balas'Gumam Nathan kesal, berlalu pergi ke luar Kelas.
"Kurang Ajar!. maen tinggal aja tu anak" Ucap Rendy geram.
Ia segera memesan Handphond baru di toko Online, dan segera mengambil kartu, dan Memori di HP lamanya yang sudah tak berbentuk.
"Biar gue bantu Kak Rendy" Tawar teman sekelas Rendy yang terlihat lebih muda.
Rendy tersenyum. "Gak usah, biar gue sendiri aja" Jawabnya. Sambil terus membersihkan Bekas pecahan HP nya.
Setelah selesai, ia membuang HP itu di tong sampah. Dan bersiap-siap mengikuti upacara bendera.
__ADS_1
Skipโ
Kalo suka, boleh minta Likenya gak ๐๐ญ