Musuhku Adalah Pangeranku

Musuhku Adalah Pangeranku
Kecupan Pipi


__ADS_3

Selesai sholat


Natasya melihat Nathan tengah duduk di bibir ranjang, dengan wajah masam.


"Apa yang terjadi pada kucing kesayangan Mommy itu?" tanya Natasya sedikit penasaran.


"Lauren meninggal tadi sepulang sekolah. Aku bingung, bagaimana cara memberitahu Mommy" jawab Nathan lirih.


Mendengar jawaban Nathan, Natasya langsung faham akar dari kesedihan Nathan. Mungkin saja Nathan begitu sayang dengan Lauren, dan juga ia takut Mommynya ikut bersedih.


"Aku akan membantumu untuk bicara dengan Mommy. Kamu tenang saja. Sekarang, Aku akan ke dapur, kamu ingin di bawakan apa" Ucap Natasya sembari mengelus rambut halus Nathan.


Nathan menghentikan tangan Natasya dan menariknya, sehingga membuat Natasya jatuh dalam pangkuan Nathan.


"Bawakan aku Es Cream Strawbery" Kata Nathan, lalu mengecup pipi Natasya berulang kali.


Cup


Cup


Cup


Cup


'Kyaaa, apa yang dia lakukan padaku'batin Natasya Panik.


Dengan gugup, Natasya kembali berdiri. Dan berjalan tergesa-gesa keluar kamar.


Nathan yang melihat tingkah Natasya tersenyum smirk. Setelahnya ia bangkit menuju balkon.


Sedangkan Natasya menuruni tangga dengan tangan yang berada di dada. "Aku sangat gugup!" Ucapnya lirih, kemudian memegang pipinya yang memerah.


'Dia menciumku tepat di sini tadi'mengelus pipinya.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Bianca tiba-tiba muncul di hadapan Natasya.


"Ah em. Tidak ada. Kok kamu ada di sini?" tanya Natasya terkejut melihat keberadaan Bianca. Pasalnya kemarin Bianca sudah pulang ke rumahnya. Tapi mendadak ia ada di sini sekarang.


"Ahh.....Aku akan menginap lagi, Papi Revan akan lembur malam ini" jawab Bianca jujur.


"Owh baiklah. Kakak mau ambil es Cream dlu di dapur. Apa kamu mau ikut?" ajak Natasya.


Bianca menggeleng dengan bibir mengerucut. "Tidak! , aku malas. Mending ke kamar aja" ucapnya lalu berjalan meninggalkan Natasya sendiri.


"Dasar anak itu! " Gerutu Natasya.


Sesampainya di dapur, Natasya langsung mengambil dua Cup Es Krim berukuran sedang dari freezer. Kebetulan di situ Ada Mommy yang sedang memasak udang kesukaan Daddy.


Natasya berniat menghampiri sebentar. "Mommy lagi apa?" tanyanya, sambil mengintip apa yang di masak Nafisa.


"Ahh. Mommy lagi masak Udang Saos tiram!" jawab Nafisa sedikit terkejut.


Nafisa mengaduk-aduk udang itu, lalu setelah matang, ia mematikan kompor.


"Tidak Mom. Tasya hanya ingin bertanya. Apakah selama ini Mommy memiliki hewan peliharaan??" tanya Natasya dengan hati-hati.


"Iya, Lauren adalah hewan peliharaan Mommy. Dia sejenis kucing anggora, yang sangat cantik"


"Apakah kamu ingin menemuinya?" sambung Nafisa kemudian.


Dengan gugup Natasya menjawab. "Bukan begitu. Sebenarnya, ada yang ingin Tasya sampaikan tentang Lauren"


Kening Nafisa bertautan. Seakan-akan bertanya pada Natasya.


"Lauren meninggal Mom tadi siang" Ucapnya Dengan lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


Sejenak, Nafisa terdiam dengan bibir rapat. Lalu setelahnya ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak mungkin Sya, Tadi pagi Mommy melihatnya, and it's fine" Jawab Nafisa dengan percaya diri.


"ok Mom then, Natasya goes up to the room first" (baiklah Mom kalau begitu, Natasya naik dulu ke kamar) Pamit Natasya.


"Yes. Don't forget to have dinner soon" teriak Nafisa, di angguki Natasya.


"Apakah benar, Laurenku meninggal, itu sangat tidak mungkin!" Gumam Nafisa, berjalan menuju kandang Lauren.


"Sayang kamu mau kemana?" Daddy Nicho menghentikan Nafisa.


"Aku mau lihat keadaan Lauren, Kata Natasya, dia.......Akh sudahlah, aku mau melihatnya" menepis tangan Nicho.


"Dia baik-baik saja. Aku baru saja memberi dia makanan" Ucapan Nicho membuat Nafisa menghentikan langkahnya.


Nafisa mendongak. "Apa benar yang kamu katakan?"


Nicho mengangguk mantab.


"Ayo, kita siap-siap dulu. Habistu kita makan malam" Kata Nicho menggandeng tangan Nafusa.


"Aku sudah memasak udang Saos Tiram tadi" Ucap Nafisa dengan tatapan kosong, Dia masih ragu dengan kondisi Lauren.


"Tenang saja sayang!, aku akan memakan udang itu" Goda Nicho.


Nafisa tersenyum. "Baiklah, ayo kita masuk kamar sebentar" Mencium pipi kanan Nicho, dan berlari pergi.


"Hmmm, Aku senang melihatmu begitu. Secepat mungkin, aku harus mencari pengganti Lauren" gumam Nicho, lalu menelfon Rendy.


"Ren, Kamu harus mencari Pengganti secepat mungkin. Daddy tak ingin Mommy bersedih seperti dulu"


^^^"Iya Dad. Rendy akan bertanya pada Mama dan Papa dulu, siapa tau masih ada Kucing yang Spesies dengan Lauren" ^^^


"Bergegaslah!!"

__ADS_1


^^^"Baik Dad"^^^


Skip√


__ADS_2