
"Suamimu gak ikut ke sini Dir?" Tanya Nafisa.
"Dia pulang nanti malam fiss, masih di sana dia." Jelas Nadira sedikit kesal.
"Ow ya. Kok bisa misah gini, kamu pulang sendirian?"
"Iya aku pulang sendiri. Tapi apa boleh buat, demi bisa jemput Natasya tepat waktu. Apapun akan ku lakukan" Nadira tersenyum manis.
"Ka..... "
Ucapan Nafisa tercekat , karena teriakan kecil seseorang dari sebrang.
"Mamaaahhh!!!"
Nadira menatap ke arah Sumber suara yang sangat ia rindukan, tetapi demi misinya bersama Nafisa. Iya tepis rasa itu, dan lebih mementingkan misinya yang sudah seperempat jalan.
Natasya berlari dan berakhir di dekapan sang Mamah tercinta. "Mamah udah pulang!!!" Ucap Natasya riang.
"Iya sayang Mamah baru aja sampai" Melepaskan dekapannya dan menatap intens wajah putri semata wayangnya dengan gemas.
"Auuuh" Natasnya mengaduh kesakitan karena pipinya yang sedikit berisi di cubit gemas oleh Mamah Dira.
"Sory sayang. Abisnya sekarang pipi kamu nambah Chubby!" Ucap Nadira sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya dong, soalnya di paksa Mommy makan terus si" Jawab Bianca asal sembari turun dari tangga menyusul Natasya. Membuat Natasya dan Nafisa serentak Mendelik tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Emang iya kan. Seminggu belakangan ini, Aunty maksa aku sama kak Tasya makan terus. Sampe aku harus diet diam-diam, tadi malam" sambung Bianca mengeluarkan uneg-uneg nya sambil menunjukkan Lengan dan pipinya yang juga berisi.
"Tapi kan bagus, kalian jadi agak isi. Mommy lebih suka kalian yang begini, dari pada yang kurus-kurus. Mau kurus boleh, tapi yang ideal, jangan kekeringan". Ujar Nafisa menjelaskan segala yang ia ketahui sembari mencubit pipi Bianca.
'Uhhh, Unty gak kira-kira nyubitnya, di kira bakpao kali'Gerutu Bianca pelan.
"Iya Fis, aku setuju, 1000%. Karena Asya ku itu memang susah sekali makan banyak. Jadi lebih baik dia tinggal di sini kalau begitu, agar lebih berisi". Celetuk Nadira. Bukannya membantu anaknya, malah menyetujui. Memang benar Persahabatan itu lebih tinggi derajatnya dari pada apapun.
'Aduh, aku merasa ada tanda-tanda lemak yang akan bersarang di tubuh mungkilku'batin Keduanya.
"Udah lah kak. Kita tinggalkan mereka berdua, karena mereka itu sama-sama konyol!" Bisik Bianca perlahan.
"Iya Bi, sepertinya kita memang tidak di butuhkan di sini" Balas Natasya sambil mengendap-ngendap pergi dari ruang tamu.
.........
"Hmmm, aku Juga. Tapi syukur deh Mamah udah pulang, jadi aku bisa pulang nanti" Jawabnya senang.
Mereka kabur ke arah dapur untuk menyelesaikan sesuatu. Karena Nafisa mengajarkan Natasya agar menjadikan Rumah ini seperti rumahnya sendiri. Jadi ia mulai terbiasa, ia sudah tidak canggung lagi atau bingung harus berbuat apa di sini. Apa lagi dengan adanya keberadaannya Bianca. Itu membuatnya tidak merasa sungkan.
"Kalau saja orang tuaku masih lengkap, pasti aku akan seperti itu." Bianca berucap sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
Natasya memeluk erat bahu Bianca, "Jangan sedih dong, kamu masih punya keluarga yang sayang sama kamu Bi"
"Tenang aja, aku gak akan sedih kaya dulu. Karena sekarang aku udah bisa melupakan hal, yang tidak harus aku ingat" Ucap Bianca tersenyum manis.
__ADS_1
"Itu lebih baik" Balas Natasya.
"Ckck" Seseorang berdecak.
Ia bersedekap dan bersandar pada dinding. "Kalian mau ngapain lagi?" tanyanya.
"Bukan urusan lo!!!" Pekik Natasya dan Bianca bersamaan. Menatap tajam ke arah orang yang bertanya.
"Dih!!!, rumah siapa? yang berkuasa siapa!" Sindirnya.
"Eh Nathan, klo Aunty gak bilang suruh anggap ini rumah sendiri juga Natasya gak mau!!!. Apa lo??? ngajak Gelud , ayooo" Ucap Bianca memburu kesal.
Nathan berjalan ke arah Bianca yang terdiam, tiba-tiba nyalinya menciut seketika. "Ikhh, ngapain lo deket-deket!!" Natasya mendorong pelan Dada bidang Nathan yang semakin menghimpit keduanya.
"Bwahahha, kalian takut ya. Sampe keringat dingin begitu" Gelak Nathan melihat ekspresi ketakutan yang ia liat dari wajah mereka.
"Dasar lo, Mentang-mentang cowo. Nanti klo kak Rendy datang!, aku ngadu ke dia. Liat aja nanti" Bianca memeletkan lidahnya, sambil berlari menarik Natasya.
"Huuu dasar!, punya banyak kubu aja bangga" Teriak Nathan Agar terdengar oleh mereka. Tetapi ekspresi mereka hanya acuh dengan pipi yang mengembung seperti bola.
Nathan geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang menurut nya lucu. 'Gue suka banget jahilin mereka berdua, awalnya Cukup Bianca. Tapi gue lebih tertarik ke Natasya' Ucapnya tersenyum genit mengingat kejadian beberapa hari lalu bersama Natasya.
"Eh apaan sih!. Gue gak boleh naksir sama tu anak!, hiiii, gak boleh" Ujarnya sambil geleng-geleng kepala dan bergidik ngeri.
"Ngapain lo geleng-geleng?" .......................
__ADS_1
Skip √