
Kecelakaan tak dapat di hindari, kini mobil yang Regan dan Yunita kendarai menabrak pembatas jalan lantaran ingin menghindari truk yang tiba tiba muncul di hadapan mereka.
Regan kini mencoba menyadarkan diri menatap pada Yunita yang terlihat pingsan, kondisi cuaca yang buruk membuat jalanan kini sepi padahal sebelumnya banyak mobil yang melintas.
“sayang.” ucap Regan seraya mencoba untuk membangunkan Yunita namun seperti nya benturan yang terjadi pada istri nya itu sangat keras hingga membuat nya pingsan
Regan pun berusaha untuk keluar dan membantu istri nya, tak peduli jika saat ini ia juga terluka parah karena yang terpenting adalah kondisi istri dan calon anak mereka.
“Bertahan lah, aku akan segera membawa kalian ke rumah sakit.” ucap Regan seraya membopong Yunita yang kini tak berdaya.
Regan mencoba menghentikan beberapa mobil yang melintas namun tak ada satu pun yang bersedia untuk menolong.
“Sial!!! kalian tidak punya hati nurani!” umpat Regan kesekian kali nya lantaran para pengemudi itu tak ada yang berhenti.
Hingga akhirnya ia melihat sebuah mobil yang akan melintas dengan cepat Regan berhenti di depan mobil itu tak peduli jika ia akan di tabrak saat itu juga.
“Tuan, aku mohon bantu aku, istriku sedang mengandung tuan.” ucap Regan pada pengemudi mobil itu yang bahkan tak menurunkan kaca jendela mobil nya.
Lalu tak lama orang itu memberi mereka tumpangan tanpa sepatah kata pun, dengan cepat ia melajukan kendaraan nya itu menuju rumah sakit terdekat.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah sakit lantaran pria itu yang memang sangat lihai dalam mengemudi.
Regan pun segera membawa Yunita pada dokter dan langsung di bawa ke ruang UGD, Regan kini hanya bisa menatap dari luar berharap jika istri dan calon bayi mereka baik baik saja.
“Ya tuhan, selamat kak kedua nya.” ucap Regan berdo'a seraya mengadah kedua tangan nya
Lalu ia teringat dengan pria yang menolong mereka, ia belum sempat mengucapkan terima kasih pada pria itu lantaran panik dengan kondisi Yunita.
Regan pun keluar dari rumah sakit hendak mencari pria itu namun sayang ia tak melihat mobil yang ia tumpangi menuju ke rumah sakit itu lagi di sana.
“Siapapun dia, aku sangat berterima kasih.” gumam Regan lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit
Hampir 30 menit Yunita di periksa oleh dokter namun tak ada tanda tanda dokter itu akan keluar dari ruangan itu hingga kini seluruh keluarga mereka datang setelah Regan menghubungi mereka kecuali Yoonia dan sang bunda lantaran Cellyn yang masih sangat kecil.
__ADS_1
“Regan, kau baik baik saja?” ucap Ryan melihat kondisi Regan yang terlihat sangat tidak baik
Darah yang keluar dari pelipis nya dan beberapa pada bagian tubuh nya membuat nya merasa khawatir dengan keadaan Regan saat ini.
Regan menggelengkan kepala, ia kini benar benar tak menyadari dan tak menghiraukan bagaimana kondisi nya lantaran ia hanya mencemaskan kondisi Yunita saja saat ini.
“Lebih baik kau di obati dulu.” ucap Sindy kemudian
Semua orang setuju dengan ucapan Sindy, karena bagaimana pun Regan juga tak bisa membiarkan luka nya semakin parah, namun Regan tetap saja menggelengkan kepala lantaran tak ingin meninggalkan Yunita.
“Tidak apa, kami akan memberitahu mu jika dokter sudah keluar.” ucap Sindy yang mengerti kenapa Regan tak ingin di obati.
Regan diam sejenak lalu akhir nya menurut saja dengan mengikuti papa dan mama nya untuk segera membawa nya ke ruangan lain.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” ucap Agus setelah kepergian Regan
Sebagai seorang yang berpengalaman jelas saja ia merasa aneh dengan kejadian ini, bagaimana mungkin rem mobil Regan bisa tiba tiba tak berfungsi padahal saat mereka pergi keadaan mobil masih sangat baik.
Agus menggeleng, ia benar benar merasa aneh dengan hal ini dan tentu saja ia takkan tinggal diam dengan apa yang menimpa adik iparnya itu.
Lalu tak lama dokter pun keluar dari ruangan itu dengan wajah yang murung seperti akan memberikan kabar yang buruk pada mereka.
“Bagaimana dok?” tanya Agus kala melihat dokter yang kini sudah berada di hadapan nya
“Dia sudah melewati masa kritis nya tapi kami minta maaf karena kandungan nya tak bisa di selamat kan akibat benturan yang sangat keras.”
Deg!
semua orang kini mematung mendengar penjelasan dokter, bagaimana cara mereka memberitahukan Regan dan Yunita tentang hal ini, bayi yang selama ini mereka nanti nantikan justru tak bisa mereka lihat.
Setelah menyampaikan kabar setengah baik dan buruk dokter itu pun pamit undur diri, lalu tak lama Yunita keluarr dari ruangan itu di bawa oleh beberapa perawat untuk di pindah kan ke ruangan lain.
Sindy yang sudah berjanji akak memberitahu Regan kini datang menghampiri Regan yang tengah di obati, namun nyali nya menciut kala melihat Regan yang termenung tanpa merasa sakit sedikit pun saat dokter mengobati luka nya
__ADS_1
“Bagaimana caraku memberitahu nya?” ucap Sindy membatin
Ia pun memilih untuk pergi saja tanpa memberitahu Regan namun belum sempat ia pergi, Regan justru menyadari kehadiran nya di sana.
“Sindy bagaimana? dia baik baik saja kan? bayi kami baik baik saja kan?” cecar Regan yang kini hendak berdiri menghampiri Sindy namun di tahan oleh kedua orang tua nya.
“Nak, bagaimana?” tanya mama Regan yang juga merasa penasaran dengan keadaan menantu mereka.
Sindy diam mencoba untuk tenang agar tak membuat Regan dan kedua mertua nya merasa khawatir.
“Yunita sudah melewati masa kritis nya.” ucap Sindy membuat Regan dan kedua orang tua nya kini bernapas lega.
“Tapi...” ucap Sindy seraya menggigit bibir nya kala merasakan berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya
“Apa?” tanya Regan kemudian
Sindy menutup kedua mata nya. “Bayi kalian tidak bisa di selamat kan.” ucap Sindy membuat Regan dan kedua tua nya terdiam
“Ja-jadi maksud mu bayi kami meninggal?” ucap Regan tak percaya dengan ucapan kakak ipar nya itu
Sindy mengangguk lantaran tak mungkin berbohong, ia tahu bagaimana hancur nya hati Regan saat ini dan juga Yunita nanti nya setelah sadar jika bayi mereka telah tiada.
“Ya tuhan, bagaimana cara ku menjelaskan nya pada Yunita?” ucap Regan menangis, pikiran utama nya hanya pada sang istri.
Ia benar benar tahu bagaimana tidak sabar nya sang istri menunggu kelahiran sang buah hati.
“Sabar nak, kita akan mengatakan nya dengan Yunita, kau hanya perlu memberinya dukungan.” ucap Mama Regan seraya mengelus punggung putra nya itu
Di saat seperti ini Regan dan Yunita butuh dukungan semua orang, Regan pun meminta sang perawat untuk segera menyelesaikan tugas nya lantaran ia ingin segera menemui sang istri.
Karena takut, perawat itu pun segera menyelesaikan tugas nya lantaran tak ingin mendapatkan amukan dari pasien nya itu, setelah selesai Regan pun dengan cepat melangkahkan kaki nya mencari keberadaan sang istri.
“Yunita.”
__ADS_1