
...Budayakan Like setelah baca ya, Author juga menerima kritikan dan saran, Happy reading 😘...
Kesal lantaran Agus yang berbicara tanpa rasa malu, akhirnya Yoonia menghadiahkan beberapa cubitan di perut suami nya itu,tak peduli jika kini ia menghukum suami nya di depan mertua dan keluarga suami nya,bahkan ia tak peduli mendengar rintihan Agus yang merasa kesakitan mendapat serangan dari Yoonia
“Sakit sayang! jangan suka jadi brutal entar nular ke anak kita!” bukan nya membuat Yoonia merasa tenang,ia kembali membuat Yoonia mendarat kan cubitan
“Kalau ngomong itu di pikir pikir dulu! entar beneran terkabul gimana?” kesal Yoonia karena mulut Agus yang bicara tanpa berpikir terlebih dahulu,apalagi ia membicarakan tentang bayi mereka yang masih dalam kandungan
Melihat mata Yoonia yang memerah lantaran menahan tangis setelah mendengar ucapan nya,Agus pun mendekati sang istri berniat untuk meminta maaf,namun seketika Yoonia menghindar lalu pamit untuk beristirahat,mau tak mau Agus pun menyusul sang istri jika tidak maka akan merugikan diri nya sendiri nanti
salah nya sendiri yang berbicara sembarangan pada sang istri,padahal ia ingat dengan jelas jika kini istri nya tengah mengandung dan suasana hati istri nya pun sering berubah ubah,namun ia tak bisa menghentikan kebiasaan berbicara asal
“Dasar suami takut istri.” memang tak ada sopan sopan nya berbicara meskipun pada paman nya sendiri,sama seperti Agus yang selalu bicara asal begitu pula dengan Regan
“Kau juga begitu nanti setelah menikah.” bak seorang peramal Ryan berucap,ia percaya jika tipe tipe pria dingin seperti paman dan adik nya itu akan menurut pada wanita yang telah di persunting menjadi istri
“Aku? untuk apa aku harus takut pada istriku?” begitu percaya jika nanti diri nya tak akan sama dengan sang paman,Regan menyangkal semua ucapan Ryan padanya
“kau akan mengerti nanti.” ucap Ryan menarik sebelah sudut bibir nya, terlihat sekali kini ia tengah meremehkan Regan
“Berbicara seolah olah sudah pernah menikah,kau hanya menghamili anak perempuan orang,bukan menikahi nya!” niat hati Ryan ingin membuat kenal Regan,namun bukan Regan melainkan diri nya yang kini merasa kesal pada ucapan Regan
__ADS_1
“Regan! jaga bicara mu,dia kakak mu!” ucap Naya menghentikan perdebatan antara kakak adik itu,sedari dulu mereka selalu saja bertengkar bahkan hanya karena masalah sepele saja
Regan pun menuruti perkataan sang mama,ia kembali duduk manis di sofa menatap Ryan dengan tatapan entah lah, terbiasa menatap orang dengan wajah datar dan sorot mata tajam membuat orang tak bisa membedakan arti dari tatapan Regan
“Ryan sekarang tujuan utama mu adalah meyakinkan Sindy dan keluarga nya agar bisa menerima pertanggung jawaban mu! dan tidak akan ada yang membantu mu,kau harus berusaha sendiri!” setelah mengatakan hal itu Naya pun masuki ke dalam kamar tanpa menunggu sang suami
“Jika kau memang anak papa,maka buktikan bahwa kau bisa!” Maheswara pun memberi semangat lada sang putra, meskipun ia masih merasa kecewa namun melihat niat tulus sang putra yang ingin bertanggung jawab pun membuat hati nya sedikit luluh
begitu pula dengan Adiwijaya yang memasuki kamar nya setelah melemparkan tatapan tajam pada Ryan,dan tentu saja Ryan tak berani natap balik pada pria yang di hormati oleh keluarga nya
“Jangan Semangat dan cepat menyerah!” di saat semua orang berusaha memberi semangat pada Ryan, namun berbeda dengan Regan yang malah mendo'akan kakak nya agar segera menyerah
Ryan tak menanggapi ucapan Regan,ia pun juga menyusul semua orang untuk beristirahat,namun entah kenapa sedari tadi perasaan nya mendadak jadi tidak enak, pikiran nya selalu tertuju pada Sindy dan anak mereka
esok pagi nya Yunita terkejut kala mendapat notif pesan dari Sindy yang mengatakan bahwa ia akan berangkat ke negara B hari ini,tentu Yunita terkejut karena sebelumnya Sindy mengatakan jika ia akan berada di negara kelahiran nya itu selama 3 hari
Namun baru 2 hari di sini,ia memutuskan untuk kembali ke negara B bahkan secara mendadak,Yunita tau alasan Sindy kembali tentu saja untuk menghindari bertemu dengan Ryan,Yunita pun tak bisa memaksa Sindy untuk tetap tinggal karena itu sudah menjadi keputusan nya,hanya saja ia ingin menghabiskan waktu bersama Sindy sebelum keberangkatan nya
Yunita bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya,tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tak banyak tersisa, sebenarnya bisa saja ia mengunjungi Sindy di negara B,tapi belum tentu akan mendapatkan izin dari keluarga nya terutama calon suami nya itu
setelah beberapa menit ia akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terasa segar,langkah nya terhenti kala ponsel nya berdering ,tertera nama Regan disana yang melakukan panggilan video, beruntung tubuh nya berbalut kimono hingga ia tak perlu repot harus mengganti pakaian terlebih dahulu
__ADS_1
“Apa?” tanya Yunita ketus setelah mengangkat panggilan video dari Regan
“Oh jadi kau tadi sedang mandi?” padahal terlihat jelas jika kepala Yunita kini berbalut handuk dan menandakan wanita itu baru saja menyelesaikan ritual mandi nya
“Katakan ada apa?” kesal nya masih berlangsung pada Regan yang pagi pagi sudah mengganggu nya padahal hari ini adalah hari terakhir nya bertemu dengan sahabat nya itu,entah kapan lagi ia akan berkesempatan untuk bertemu dengan sahabat nya itu
“Tidak ada,aku hanya ingin memastikan jika kau tidak pergi kemana pun apalagi bertemu badjingan itu!” masih saja membahas Harlan yang sekarang kabar nya pun tak pernah terdengar oleh Yunita
“Aku sudah Resign dari kantor,kau puas?” bukan sembarang bicara,karena nyata nya memang ia sudah resign dari kantor papa nya,bukan ingin menyerah untuk membuktikan pada papa nya bahwa ia bisa,hanya saja kedua orang tua nya meminta agar ia bisa fokus mengurus rumah tangga setelah menikah nanti nya
lagi pula ia juga merasa tak cocok dengan pekerjaan kantor yang menurut nya hanya bisa di lakukan oleh orang orang pintar,sedangkan otak nya tidak mampu untuk hal itu
Regan tersenyum tipis bahkan tidak kelihatan,namun hati nya merasa bahagia mendengar Yunita akhir nya berhenti dari kantor,hingga ia tak perlu khawatir jika nanti Yunita bertemu dengan Harlan
“Sudah kan? bisa aku matikan?” sudah ia duga jika melakukan panggilan video dengan Regan akan memakan waktu yang lama,entah mengapa Regan selalu betah melihat wajah ketus Yunita yang selalu kesal mendengar ucapan nya
“Kenapa buru buru sekali? kau mau kemana?” heran juga lantaran Yunita sejak dari awal sudah terlihat gelisah dan seperti ingin segera mematikan telepon nya,apa dia sakit? pikir Regan
“aku harus bertemu Sindy,karena nanti sore ia akan berangkat ke negara B”
“apa?!!”
__ADS_1
*Terima kasih sudah membaca karya ku sampaii bab ini,semoga readers suka, dan jangan lupa untuk memberi kritikan dan saran jika ada kesalahan atau ketidakpuasan di cerita ku🥰🙏
Author juga minta tolong kasi rate nya ⭐⭐⭐⭐⭐ ya sesuai penilaian readers,terima kasih🥰🙏*