MY COLD DOCTOR

MY COLD DOCTOR
BAB 101


__ADS_3

Regan memasuki ruangan rawat Yunita dengan tergesa gesa padahal istri nya itu masih dalam keadaan tak sadar, ia menghela nafas lalu duduk di kursi yang berada di samping brankar.


Tatapan nya kini menuju pada perut Yunita yang kembali datar, ada perasaan sakit di hati nya melihat perut istri nya yang saat ini tak lagi di isi dengan calon bayi mereka.


Tangan nya kini meraih jemari Yunita yang terasa dingin, Regan pun meniup seraya menggosok gosok telapak tangan Yunita agar merasa hangat.


Regan termenung membayangkan bagaimana jika nanti Yunita tahu jika mereka kehilangan calon bayi mereka yang sangat mereka nantikan, dia sendiri saja saat ini merasa sakit apalagi Yunita.


“Maaf kan aku, ini semua salah ku yang tak bisa menjaga kalian, aku memang tidak becus.” ucap Regan menangis seraya mengecup punggung tangan Yunita.


Seluruh keluarga kini hanya mampu melihat dari luar saja, mereka tak memiliki keberanian untuk menghampiri sepasang suami istri itu yang baru saja kehilangan calon bayi mereka.


“Kenapa semua ini harus terjadi pada mereka?” ucap Sindy seraya menyeka air mata, tak hanya Regan namun diri nya juga bisa merasakan sakit yang di rasakan Regan saat ini sebagai seorang ibu.


Ryan yang melihat istri nya itu terbawa suasana sontak memeluk tubuh Sindy, bagaimana pun mereka tak bisa menyalahkan takdir, ingatlah rencana Tuhan lebih indah dari pada rencana manusia.


“Jangan terlihat sedih di depan mereka.” ucap Agus kemudian, jika mereka juga terlihat sedih maka siapa yang akan menghibur sepasang suami istri yang tengah berduka itu.


“Agus, sebaik nya kau pulang saja, kasian Yoonia di rumah.” ucap Brasmayanto, mengingat istri dan Putri nya kini pasti menunggu kabar dari mereka tentang keadaan Yunita.


Agus mengangguk, Ya lebih baik dia pulang agar ibu mertua nya bisa datang ke rumah sakit dan menjenguk keadaan Yunita saat ini, karena kehadiran sang ibu yang paling di butuhkan oleh Yunita.


Setelah berpamitan dengan keluarga dan juga Regan, Agus pun pulang ke rumah nya mengingat istri nya juga membutuhkan nya saat ini karena bayi mereka benar benar tak ingin berjauhan dari nya dan hal itu akan membuat Yoonia kesulitan menenangkan tangisan bayi mereka.


Waktu kini menunjukkan tengah malam, namun mata Regan juga tak kunjung merasa mengantuk, ia masih setia menatap wajah pucat Yunita yang kini terbaring lemah.


Seluruh keluarga nya sudah menawarkan pada Regan untuk beristirahat mengingat Regan juga mengalami luka yang cukup berat, namun pria itu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan Yunita.

__ADS_1


“Aku ingin menjadi orang pertama yang ia lihat saat ia sadar.”


Itulah yang Regan ucapkan sejak tadi jika keluarga nya meminta untuk beristirahat saja, ia benar benar tak ingin meninggalkan Yunita barang sedetik pun.


Hingga menjelang pagi, tanpa di sadari Regan tertidur dengan posisi duduk, kepala nya berada di atas brankar tepat di samping tubuh Yunita dengan tangan masih menggenggam tangan istri nya.


“Hmm.” Yunita perlahan membuka mata nya, kepala nya terasa berat dan tubuh nya terasa sangat lemah, namun ia merasa sesuatu kini menggenggam tangan nya.


Yunita mencoba membuka mata sepenuh nya, mengerjap kedua mata berkali kali lantaran pandangan nya masih terasa buram, Hingga hal yang pertama ia lihat adalah dinding putih ruangan itu.


“Regan!”


Regan yang masih tertidur lantaran merasa sangat lelah dan lemah pun tak menyadari jika Yunita sudah sadar, Yunita menatap suami nya yang kini berada di samping nya lalu tatapan nya tertuju pada perut nya yang sudah rata.


“B-bayi ku? Apa sudah lahir?” ucap nya seraya mengusap perut nya.


“Regan bangun!” ucap nya mengusap kepala Regan dan membuat pria itu akhir nya terbangun dari tidur nya.


“Sayang, kau sudah bangun?” ucap Regan kemudian


Namun bukan nya menjawab, Yunita justru menanyakan pertanyaan yang sangat sulit untuk Regan jawab.


“Dimana bayi kita? dia sudah lahir kan?” tanya nya membuat Regan seketika membeku.


“Sayang, tenang dulu, bagaimana keadaan mu? kau sudah lebih baik kan?” tanya Regan sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku baik baik saja Regan, aku ingin tau dimana bayi kita?” tanya Yunita dengan sedikit meninggi pasalnya ia merasa jika Regan sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


Regan diam lalu tak lama memeluk tubuh Yunita dengan sangat erat, bagaimana cara nya memberitahu Yunita jika bayi mereka tidak selamat?


“Regan, jangan membuat ku khawatir!” ucap Yunita yang masih berada di dalam dekapan Regan.


“Maaf kan aku, ini semua salah ku.” ucap Regan dengan linangan air mata yang akhir nya tumpah.


“Maaf? kenapa? ada apa? apa terjadi sesuatu?” Cecar Yunita, entahh mengapa mendadak perasaan nya menjadi tidak enak saat ini.


Regan mengurai pelukan nya lalu menatap Yunita dengan lekat, masih ada luka luka yang berada di wajah Yunita dan jika terkena air maka akan terasa sangat perih.


“Berjanji lah kau tidak akan menangis dan terluka?” ucap Regan


Namun sayang, meski pun Regan beluk memberitahu Yunita, wanita itu sudah lebih dulu meneteskan air mata saat mendengar ucapan Regan.


“Pasti terjadi sesuatu kan?” ucap Yunita terisak.


Regan kembali menunduk seraya menyeka air mata nya yang kian deras, rasanya benar benar tak mampu untuk mengucapkan sepatah kata pun.


“Dia sudah tiada.”


Duar!!


Bak petir di pagi hari, Yunita kini mematung, ia bahkan tak berpikir akan kehilangan bayi nya, ia hanya mengira jika kemungkinan bayi nya hanya sedikit lemah karena lahir secara prematur.


“Jangan bercanda, this is really not funny!” ucap Yunita sedikit mendorong tubuh Regan, namun lagi lagi pria itu mendekat.


“Andaikan ini hanya sebuah candaan sayang.” ucap Regan kembali memeluk erat tubuh Yunita yang kini terasa melemah hingga wanita itu kini kembali kehilangan kesadaran nya.

__ADS_1


“Yunita!”


__ADS_2