
...Budayakan like setelah baca ya,Author juga menerima kritikan dan saran, happy reading 😘...
Akhirnya kini Regan dan Ryan sampai di kediaman Adiwijaya,Jujur saja kini Nyali Ryan mendadak menciut melihat pintu rumah yang masih terbuka lebar padahal waktu telah menunjukkan jam 12 malam
“Tunggu apalagi?ayo masuk! semua orang sudah menunggu mu!” dengan senyum manis yang penuh arti ia mengajak kakak nya masuk dengan niat lain di hati nya
“Kau benar benar tak sabar melihat ku di hajar habis habisan rupanya!” ucap Ryan mencebik,kesal lantaran Regan terus saja menyuruh nya untuk segera masuk,padahal saat ini ia tengah mengatur nafas untuk menatap wajah kedua orang tua nya
“Ayo ku bantu kau berjalan!” lagi ia menawarkan bantuan yang tentu nya karena memiliki alasan,apa lagi kalau bukan untuk melihat kakak nya di hajar oleh sang papa
“Dasar kejam!” tak ada lagi kata kata yang bisa mewakili perasaan nya pada adik nya saat ini,ingin sekali ia menghajar wajah tampan adik nya itu,namun ia cukup sadar jika saat ini tubuh nya cukup lemah
“Selamat malam semuanya.” sapa Regan begitu mereka memasuki rumah Adiwijaya,tampak kini kakek,Papa dan paman Agus nya yang tengah duduk di sofa seperti nya memang sedang menunggu kedatangan mereka,lebih tepat nya kedatangan Ryan
sedangkan mama nya mungkin kini tengah berada di kamar menemani Yoonia yang sedang hamil besar
“Pemeran utama nya sudah datang.” lagi Regan berucap dengan senyuman,padahal kini ketiga pria itu tengah memasang raut wajah marah dan kecewa pada Ryan
“Kak Ryan duduk lah dulu,pasti tubuh mu masih terasa sakit.” benar benar handal dalam berakting kenapa ia tak mencoba untuk menjadi seorang aktor saja? pikir Ryan yang kini menatap tajam ke arah Regan,padahal kini diri nya di tatap tajam oleh ketiga Pria yang sangat ia hormati
“Papa,aku..”
Bugh!
“Dasar memalukan!”
__ADS_1
Bugh!
“Sejak kapan kau menjadi pria yang tidak bertanggung jawab seperti itu?”
Bugh!
“Papa kecewa!”
“Akhirnya papa merasakan kekecewaan juga pada anak yang selalu papa banggakan.” timpal Regan yang merasa puas melihat kekecewaan pada ayah nya yang disebabkan oleh Kakak nya
karena selama ini papa nya selalu saja membandingkan dia dengan kakak nya yang begitu ahli mengelola perusahaan, sedangkan Regan tidak tertarik sedikit pun pada dunia bisnis,ia lebih tertarik pada dunia medis,itulah sebab nya ia memilih untuk tinggal bersama Adiwijaya yang tak pernah memaksa kehendak nya pada Regan
“Diam Regan!” sentak Maheswara yang kesal mendengar ejekan dari putra kedua nya. jujur saja ia tidak terlalu dekat dengan Regan karena Regan yang selalu membangkang pada nya,berbeda dengan Ryan yang selalu menuruti permintaan nya
“baiklah aku akan masuk ke kamar saja.” ucap nya yang benar benar tak tertarik mendengar penjelasan Ryan dan lebih memilih untuk istirahat di kamar nya. “Semoga beruntung bro!” bisik nya sebelum ia pergi meninggalkan ruang keluarga itu
Regan naik ke lantai atas namun ia tak benar benar memasuki kamar nya seperti ucapannya,ia berdiri di balik tembok menyaksikan bagaimana Ryan di interogasi oleh papa nya. “mana mungkin ku lewatkan begitu saja!” ucap nya menyilang kedua tangan di dada
sedangkan di bawah,Kini ketiga pria itu mulai menginterogasi Ryan setelah kepergian Regan yang mereka yakini kini telah beristirahat di kamar nya,bukan tak ingin Regan juga ikut dalam menginterogasi Ryan,hanya saja mengingat Regan yang memiliki sikap sedikit berbeda membuat mereka tak ingin jika nanti mereka tak bisa mengontrol emosi
“Apa hubungan mu dengan Sindy?” tanya Maheswara pada Ryan yang kini tengah memegangi perut nya yang terasa ngilu akibat pukulan dari sang papa
“kami berpacaran... dulu.” memang tak bisa mengelak lagi untuk tidak berbicara jujur,lagi pula memang ia tak ingin berbohong agar keluarga nya bisa membantu nya untuk bersama dengan Sindy juga anak nya
“dulu? kapan?” tentu saja Maheswara terkejut lantaran Regan tak memberitahu nya secara rinci tentang masalah yang Ryan hadapi,ia hanya mengatakan Bahwa Ryan memiliki putra dengan Sindy
__ADS_1
“7 tahun yang lalu,kami berhubungan selama 4 tahun,lalu tiga tahun yang lalu kami mengakhiri hubungan kami,ralat lebih tepatnya Sindy yang mengakhiri hubungan kami.” jelas nya mengingat bagaimana dulu memutuskan nya secara sepihak hanya karena sebuah kesalahpahaman
“7 tahun lalu? saat papa bekerja sama dengan tuan Albert?” tanya Maheswara dan di balas anggukan oleh Ryan
Maheswara membelalak kan mata nya. “Tapi dia masih SMA saat itu!” ia masih ingat saat diri nya bekerja sama dengan perusahaan tuan Albert,Sindy masih SMA saat mereka mengadakan jamuan makan malam di kediaman mereka
Lagi Ryan mengangguk, membenarkan perkataan Papa nya,dan hal itu membuat Maheswara kembali melayangkan bogem pada Ryan. “Dasar gila!! kau memacari anak SMA yang seumuran dengan adik mu?” pekik Maheswara yang sangat kecewa pada Putra sulung nya
Bagaimana tidak? putra memacari anak rekan bisnis nya yang masih SMA yang masih berumur 17 tahun sedangkan umur Ryan sudah 24 tahun saat itu
“Apa itu salah pa? bahkan tak jarang sepasang kekasih menikah dengan umur terpaut belasan tahun!” protes nya karena sang papa yang mempermasalahkan umur di sini,jujur saja ia menolak di Katai tua hanya karena angka,sedangkan wajah nya masih sangat tampan dan awet muda
“itu tidak salah,yang salah kau meninggalkan nya setelah mendapat kepuasan Ryan!” ya memang itu lah hal yang paling utama yang di permasalahkan saat ini,kesalahan fatal yang Ryan lakukan pada Sindy bahkan sampai mereka memiliki seorang putra
“Sudah ku katakan aku tidak meninggalkan nya pa,dialah yang meninggalkan ku,jika aku tahu dia sedang mengandung maka aku tidak akan pernah melepaskan nya!” tak kalah marah,Ryan pun ikut berteriak kala sang papa menuduh nya yang tidak tidak
“Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk membujuk nya?” Heran pada pikiran Ryan yang tak seperti biasa nya,Ryan termasuk orang yang tak suka mencari masalah,bahkan ia akan lebih sering mengalah agar tak menimbulkan masalah,lalu kenapa ia tak membujuk Sindy saat itu? dan apa masalah yang mereka hadapi sehingga Sindy memutuskan hubungan mereka? pikir Maheswara
Sedangkan Ryan diam mematung,ya itu lah kesalahan terbesar nya yang tak bisa mencegah kepergian Sindy hanya karena Sindy mengucapkan kata yang mereka jadikan prinsip dalam hubungan,jika sekali mengatakan hal itu maka itu adalah keputusan mutlak yang tak bisa di ganggu gugat oleh siapapun
namun prinsip itu justru membawa penderitaan pada mereka berdua,jika saja waktu bisa di ubah maka Ryan tidak akan peduli dengan prinsip hubungan mereka,dan semua ini tidak akan kacau seperti saat ini
“Karena ini semua kesalahan papa!” pekik Ryan saat setelah beberapa saat terdiam! sorot mata nya tajam,bahkan terlihat cairan bening di pelupuk mata nya
Plakk!!
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca karya ku sampaii bab ini, semoga readers suka,dan jangan lupa untuk memberi kritikan dan saran jika ada kesalahan atau ketidakpuasan dalam ceritaku 🥰
Author minta tolong kasi rate nya ⭐⭐⭐⭐⭐ ya,sesuai penilaian readers supaya author rajin up🥰🙏