My Poor Wife

My Poor Wife
Serba Salah


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Sabilla keluar dari kamar ganti dengan memakai gaun yang cantik dan begitu indah di pandang mata tersebut. Ia berjalan kearah Farrel diiringin oleh 2 orang karyawan Sari.


Sari yang memang masih berada di dekat Farrel, tersenyum berjalan ke arah Sabilla. "Cantik banget kamu sayang" Sari melirik Sabilla dari atas sampai ke bawah dengan senyum yang tidak terhenti terukir dari sana. Sedangkan Farel, pria itu masih setia duduk di atas sofa sibuk memainkan ponsel miliknya tanpa menoleh ke arah Sabilla.


"Farrel, sini dong. Liat nih calon istri kamu cantik banget kan? Sari melambaikan tangannya ke arah Farrel. Mengajak pria itu menghampiri Sabilla.


"Ck! Cantik apanya?" gumam Farrel pelan, kemudian ia mengikuti perintah Sari mendekat ke arah Sabilla. "Gimana? cantik kan?" tanya Sari lagi.


"Hehe iya tan" balas Farrel cengengesan. Sudah jelas keterpaksaan ia tampilkan dari raut wajahnya yang tampan tersebut. Sedangkan Sabilla, pandangan gadis itu tak terlepas dari Farrel, ia sangat mengetahui bahwa pria itu tidak menginginkan pernikahan ini. Apalagi bersama dirinya.


***


"Sabil pamit dulu ya tan" Sabilla menyalami punggung tangan wanita pemilik butik tersebut. "Iya hati-hati ya" Seru Sari mengelus lembut rambut Sabilla.


Setelah berpamitan pada Sari, dua remaja yang masih belum genap berusia 20 tahun itu berjalan menuju mobil Farrel. Sabilla berjalan mengiringi Farrel di belakangnya. Ia tidak berani mengajak pria itu berbicara.


Di sepanjang jalan, hanya keheningan yang mereka dapatkan. Sesekali Sabilla melirik pria yang tengah mengemudi di samping dirinya itu.


"Kak Farrel" Panggil Sabilla, wajahnya jelas menunjukkan raut ketakutan. Ia tak hentinya memegangi kedua jari-jari tangannya. Melirik Farrel dengan begitu gugup.


"Hmmmm" saut Farrel tanpa menoleh ke arah Sabilla dan masih tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Kak Farrel kenapa sih nggak nolak pernikahan ini aja"


Mendengar ucapan Sabilla, Farrel sontak menoleh ke arahnya. Menatap dengan tatapan tak ramah membuat Sabilla kembali ciut dan takut.


"Mati gue, salah lagi" gumam Sabilla dalam hati yang kembali menoleh ke arah depan memperhatikan jalanan seolah tidak melihat Farrel.


"Kenapa lo nanya gitu? lo nggak mau dijodohin sama gue? lo malu?. Lo sadar nggak sih, harusnya gue yang malu jadi suami lo. Apa jadinya kalau anak kampus tau gue akan menikah sama lo?"


"Kak, maksud aku bukan gitu..."


Belum selesai Sabilla melanjutkan ucapannya, Farrel kembali memotong pembicaraan gadis tersebut.


"Apa? bukan apa? asal lo tau, sampai kapanpun gue nggak akan sudi jadi suami lo. Gue udah pernah bilang kan, gue ngelakuin ini semua cuma karena nggak mau bikin Mama dan Papa gue malu. Tapi suatu saat nanti, lo liat aja apa yang akan terjadi. Sekarang lo turun dari mobil gue" bentak Farrel yang seketika membuat Sabilla menunduk takut.


"Tapi kak, ini udah malam" Sabilla melirik jam yang ada di tangannya. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 19.30. "Lagian aku nggak tau ini dimana kak" seru Sabilla lagi.


"Lo fikir gue bodoh? mana mungkin lo nggak tau jalan ini. Sekarang cepat lo turun dari mobil gue. Gue benar-benar muak liat muka lo" Bentak Farrel.

__ADS_1


"Ternyata kakak setega ini ya, bahkan kakak nggak mau dengerin penjelasan aku dulu. Padahal aku cuma mau bilang, kalau kakak mau batalin pernikahan ini juga nggak papa. Karena aku tau kakak memiliki seorang kekasih. Aku sempat berfikir kalau kakak memang pilihan terbaik dari Ayah. Tapi ternyata aku salah. Ternyata kakak lebih kejam dan nggak punya hati." Sabilla segera turun dari mobil Farrel.


Tanpa memperdulikan Sabilla, Farrel dengan tidak punya hatinya segera pergi dari sana. Sementara Sabilla, tak henti-hentinya menggerutu kesal menatap kepergian pria menyebalkan tersebut.


Sabilla berjalan menelusuri jalanan yang saat ini benar-benar padat oleh pengendara tersebut. Saat ini ia benar-benar merasa bingung bagaimana cara agar dirinya bisa pulang.


Sabilla sebenarnya tidak berbohong pada Farrel, ia benar-benar tidak tahu jalan ini. Sabilla meraih ponsel yang ada di dalam tas samping miliknya. Gadis itu masih terlihat ragu untuk menelfon Ayahnya.


Saat Sabilla memutuskan untuk menekan tombol hijau yang akan terhubung pada sang Ayah, tiba-tiba Mobil mewah berhenti di sampingnya. Sabilla melirik mobil tersebut, keningnya mengernyit bingung.


"Kenapa mirip mobil kak Farrel ya?" gumam Sabilla yang tak henti memperhatikan mobil tersebut. Farrel pun segera membuka kaca mobil. "Mau masuk nggak?" tanya Farrel.


"Lah, Kak Farel? bukannya kak Farel tadi udah pergi?" tanya Sabilla bingung sembari memperhatikan suasana sekitar.


"Apa lo nggak liat kalo gue udah balik lagi?" sahut Farrel sinis.


"Ya liat, tapi kenapa balik?"


"Lo beneran mau gue tinggal sendiri disini?" tanya Farrel yang sudah tampak kesal.


"Lah, jadi barusan kak Farel becanda?"


"Oo gitu" sahut Sabilla santai.


"Oo gitu doang?" tanya Farrel dengan kening tertaut.


"Lah, terus aku mau jawab apa dong?"


"Lo nggak ketawa gitu?"


"Kenapa harus ketawa? emangnya ada yang lucu?"


"Ck! Capek banget gue lama-lama ngomong sama lo. Cepetan masuk mau pulang nggak lo? kalo nggak beneran gue tinggal nih" Ancam Farrel yang hendak menancapkan gas mobilnya.


"Yaudah, tinggal aja, ntar juga kak Farel balik lagi" Sahut Sabilla santai sembari tertawa kecil tanpa merasa bersalah sedikitpun. Hal itu benar-benar membuat Farel semakin jengkel.


"Lo benaran mau main-main sama gue?" seru Farrel yang hendak menancapkan gas mobilnya. Membuat Sabilla dengan cepat memasuki mobil mewah tersebut.


"Yaudah jalan" seru Sabilla.


"Lo sengaja ya nggak masang seatbelt nya? mau gue pasangin lagi?" Farrel menatap Sabilla dengan tatapan menggodanya, membuat Sabilla dengan cepat memasang seatbeltnya sendiri. Farrel pun segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kak Farrel..."


"Mau apa lagi lo?" tanya Farrel sebelum Sabilla menyelesaikan ucapannya.


"Galak banget sih" gumam Sabilla pelan, namun siapa sangka telinga Farrel yang masih sangat sehat tetap bisa mendengarnya. "Sekali lagi lo ngomong beneran gue turunin lo di sini" delik Farrel.


"Dari tadi ancamannya itu mulu" gerutu Sabilla. "Kak Farrel, kakak nggak mau ngajak aku makan dulu gitu sebelum pulang? lapar tau dari tadi sore sampe malam gini belum makan. Kalo kak Farrel nggak ada duit biar aku yang bayarin deh, tapi jadi hutang ya, kalo ada duit jangan lupa bayar. Soalnya aku dikasih ayah uang jajan pas-pasan"


"Lo bisa nggak sih diem?" Seru Farrel yang benar-benar merasa kesal pada gadis disampingnya itu. "Dasar cewek ****! itu mah namanya lo nyuruh gue ngutang. Dikira gue nggak mampu apa cuma bayar makanan." Ucap Farrel yang tak hentinya menggerutu kesal melirik Sabilla, namun gadis tersebut hanya diam tak bergeming berlagak cuek dan seolah tidak mendengar ucapan Farrel.


Hening beberapa saat.


"Kenapa lo nggak nyaut sih dari tadi gue ngomong?" seru Farrel melirik Sabilla.


"Lah, tadi kakak suruh aku diam. Udah diam disuruh ngomong? gimana sih?" gerutu Sabilla menatap Farrel dengan begitu bingung.


"Memang susah ya kalo ngomong sama bocah!" gerutu Farrel."


"Bocah itu masih kecil kak, aku udah remaja, bukan bocah. Kakak lupa, umur kita hanya beda 1 tahun?"


"Udah ah ah terselah lo deh, capek gue ngomong sama lo. Kalo bukan karna Mama bener-bener gue tinggalin lo disini."


"Tadi katanya karena ayah aku? sekarang kenapa karena Mama kakak?"


"Lama-lama gue sama lo bisa gila gue."


"Nanti setelah menikah juga bakal sama aku terus."


"Siapa bilang?"


"Aku"


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2