
Detik jam terus berputar. Bumi yang semula diterangi oleh Bulan, sekarang sudah digantukan oleh matahari yang cahayanya tak kalah terang untuk menerangi bumi. Membantu setiap manusia agar lebih bisa melaksanakan aktivitas sehari hari.
Setelah selesai bertukaran kado semalam, Sabilla dan Farrel benar-benar merasa lelah hingga membuat kedua manusia itu tanpa sadar sudah tertidur begitu pulas di atas ranjang setelah membersihkan diri semalam. Mereka tertidur saling memeluk mesra. Tidak ada lagi kecanggungan antara keduanya.
Pagi ini, Sabilla sudah terbangun lebih dulu dari Farrel. Setelah mengerjap beberapa kali dan mengumpulkan kesadarannya, gadis itu tersenyum saat menatap pemandangan pertama yang ia lihat saat pertama kali dirinya membuka mata. Sabilla juga merasakan sesuatu yang berat di pinggannya. Gadis itu melirik tangan Farrel yang saat ini melingkar memeluk tubuhnya.
Sabilla masih saja merasa tidak percaya, bahwa di usia yang baru menginjak angka 19 tahun, ia sudah memiliki seorang suami. Ia sudah tidak lagi tidur sendiri di usia yang masih muda tersebut. Namun, bukankah sebenarnya hal itu lebih baik daripada mereka harus menghabiskan waktu untuk berpacaran namun belum tentu berjodoh?
Ternyata benar yang dikatakan oleh orang-orang. Bahwa tidak akan ada orang tua yang akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada anak-anaknya. Setiap orang tua bertindak pasti ada alasan di balik semuanya.
Dulu mungkin Sabilla pernah membenci ayahnya karena telah menikahkan dirinya di usia se muda ini. Namun dibalik semua itu, bukankah saat ini Sabilla justru sangat mengucapkan rasa syukur? karena saat ini dirinya telah bersama dengan orang-orang baik yang memang dipercaya oleh Ayahnya.
Bisa dibayangkan jika dulu Sabilla membangkang dan malah menolak dinikahkan, mungkin saat ayahnya sudah pergi Sabilla hanya akan hidup sendiri, dan lebih kesepian lagi dari sebelumnya.
Sabilla mengelus rambut Farrel dengan lembut, memainkan jari lentiknya di kepala suamia Itu. Ia tak henti-hentinya menatap lekat wajah Farrel yang masih saja terlelap akan tidurnya.
Sejujurnya, Sabilla sudah sangat menyayangi pria yang ada di hadapannya saat ini. Rasanya Sabilla benar- benar tidak sanggup jika harus kehilangan Farrel. Ia kembali menarik selimut dan membaluti selimut tersebut pada tubuh suaminya itu. Karena berhubung hari ini adalah hari minggu, jadi mereka bisa bangun lebih siang sedikit karena tidak kuliah.
Farrel baru saja membuka mata, ia mengerjap beberapa kali menyesuaikan pandangamnya. Tak jauh berbeda dengan Sabilla, pria itu tersenyum saat melihat pemandangan pertama yang ia lihat saat membuka mata.
Farrel melihat jelas wajah istri cantik yang tidak bosan-bosannya ia pandang setiap hari yang saat ini tengah tersenyum manis pada dirinya. Farrel sejenak menatap lekat wajah Sabilla, memegang pipi istinya itu serta mengelus dengan lembut.
"Good Morning sayang" Lirihnya dengan bibir yang masih melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Morning to Sayang" Sabilla membalas dengan senyuman manisnya.
Farrel kembali mendekap tubuh Sabilla, memeluk gadis itu dengan sangat erat. Ia mengecup lembut kening, pipi dan juga bibir Sabilla. Kemudian pria itu menenggelamkan wajah Sabilla di dada bidang miliknya. Sabilla tersenyum bahagia, menghirup aroma tubuh Farrel yang memang sudah sangat Familyar bagi dirinya.
"Sayang" Panggil Farrel.
"Hmmm" Jawab Sabilla.
"Kita nikah udah berapa lama?" Tanya Farrel.
Sabilla mendongakkan kepalanya ke atas. "Kak Farrel amnesia?" Tanya gadis itu dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Enggak ? kenapa emang?" Tanya Farrel tanpa merasa bersalah.
"Lah, terus kak Farrel nggak sadar semalam kita habis ngerayain apa?" Tanya Sabilla dengan raut wajah yang sudah mulai kesal.
__ADS_1
"Sadar kok, kan semalam kita habis rayain ultah kamu"
Jawaban Farrel lagi dan lagi membuat Sabilla cemberut. "Ck! Nyebelin banget sih ini orang, ngapain coba bikin pesta senang-senang dengan perayaan Anniversarry semalam kalo ujung-ujungnya lupa juga. Untung gue sayang" Sabilla tak henti menggerutu dalam hati, melepaskan pelukan Farrel serta memalingkan pandangannya.
Farrel tersenyum licik. "Nggak peka banget sih kamu jadi istri" Farrel ikut memalingkan pandangannya dari Sabilla.
Sabilla kembali menoleh, menatap Farrel dengan tatapan tajam. "Kak Farrel yang nggak peka!" Ketus Sabilla ikut memalingkan pandangannya seraya melipat kedua tangan di pinggangnya.
"Aku peka kok, yaudah ayok sekarang" Tanpa aba-aba Farrel menindih tubuh Sabilla hingga posisi pria itu saat ini tepat berada di atas Sabilla. Sabilla sontak membulatkan matanya kaget. Bibirnya seketika kaku tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdetak 1000 kali lupat dari biasanya. Pipi Sabilla memerah padam.
"Selama satu tahun kita kita menikah, yang kita lakukan cuma tidur bareng, pelukan, ciuman, padahal kita udah jadi suami istri. Apa aku udah boleh mendapatkan hak aku sebagai suami kamu sekarang?"
Deg. Lagi dan lagi, Sabilla membulatkan matanya saat mendengar ucapan Farrel. Ia jelas tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Karena sejujurnya memang, selama satu tahun mereka menikah, hubungan dua manusia itu hanya sekedar tidur bersama, ciuman, dan pelukan. Mereka sama sekali belum melakukan kewajiban sebagai suami istri.
"Ta-tapi kak Farrel. Aa-aku" Sabilla berbicara terbata-bata.
Namun, Farrel justru tertawa sekeras mungkin karena telah berhasil menjahili Sabilla. Pria itu segera bangkit dan mendudukkan tubuhnya di samping Sabilla yang masih tertidur kaku dengan jantung yang masih berdetak tidak karuan. Gadis Itu menoleh ke arah Farrel dengan kening berkerut.
"Kak Farrel kenapa ketawa? ada yang lucu?"
"Ada, kamu lucu"
"Kenapa? kamu takut kan?" Ejek Farrel. Hal itu membuat wajah Sabilla memerah padam. "Takut apaan sih? gajelas banget"
"Kalo nggak takut, yaudah ayok" Tantang Farrel.
"Ya ayok, tapi ngapain?" Tanya Sabilla sok polos.
"Tadi kamu ngerti, sekarang pura-pura nggak ngerti?"
"Ya aku bener-bener nggak tau maksud kak Farrel apa"
"Nggak tau tapi kenapa pipi kamu merah gitu? kenapa jadi salting juga?" Goda Farrel.
"Enggak ih kak Farrel, siapa yang salting?"
Farrel merubah posisi menghadap Sabilla. Ia memegang kedua pipi mungil dan menggemaskan istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku becanda sayang. Nggak usah takut gitu ih. aku cuma pengen liat ekspersi wajah kamu gimana aja. Eh ternyata lucu" Farrel kembali tertawa setelah benar-benar merasa puas menjahili istinya itu.
__ADS_1
"Seneng banget tiap kali liat aku susah" Gerutu Sabilla memalingkan pandangannya. Gadis itu memanyun manyunkan bibirnya merasjuk pada Farrel. Hal itu benar-benar membuat Farrel merasa malah makin gemas. Ia mengecup bibir Sabilla sebelum kemudian pria itu berdiri berniat untuk membersihkan diri.
Namun, Sabilla kembali menarik tangan Farrel, hingga Membuat Farrel kembali memalingkan pandangannya ke arah belakang. Ia melihat sabilla menunduk sambil memegang tangannya.
Farrel berjongkok di hadapan Sabilla yang saat ini duduk di tepi ranjang.
"Kamu kenapa?" Tanya Farrel.
"Kak Farrel beneran nggak papa gitu? beneran cuma becanda? Bukankah seharusnya kak Farrel memang udah seharusnya mendapatkan hak kak Farrel sebagai suami? Tapi aku malah egois hanya karena aku belum siap. Padahal aku tau kalau itu udah kewajiban aku sebagai istri."
Farrel menggenggam kedua tangan sabilla. Mengelus lembut tangan mungil tersebut. "Sabil sayang. Aku nggak akan pernah maksa kamu. Tadi aku bener-bener becanda, mau gangguin kamu aja. Aku bisa nunggu kamu sampe benar-benar siap. Jadi kamu nggak perlu mikir yang macam-macam ya sayang."
"Tapi kak, aku udah..."
"Sabil, aku ngerti kalau kamu memang belum siap dan aku nggak akan maksa. Jadi, nggak usah difikirin ya, aku nggak mau itu menjadikan beban buat kamu. Sekarang aku mandi dulu ya" Farrel mengecup kening Sabilla.
"Tapi kak, aku udah siap kok"
"Sabil, kamu liat mata aku. kamu nggak perlu ngelakuinnya karenna terpaksa. Aku serius, aku bisa nunggu sampe kamu benar-benar siap"
"Hmmm aku nggak terpaksa kak Farrel."
"Kamu serius? Jangan goda aku terus dong"
"Iya aku serius"
Tanpa berfikir panjang, Farrel segera mendekap tubuh Sabilla, ia ******* bibir istrinya itu dengan lembut, membawa Sabilla ke atas ranjang hingga terjadilah hal yang memang seharusnya terjadi di antara mereka setelah satu tahun lamanya.
(Selanjutnya bisa di bayangkan sendiri aja ya apa yang akan terjadi. Maaf kalo gaje, karena jujur aku nggak bisa mendeskripsikannya karena belum berpengalaman wkwk****😂)
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih yang masih mau membaca cerita recehku ini. Salam sayang untuk kalian semua😘