My Poor Wife

My Poor Wife
Jangan menjauh


__ADS_3

"Apa lo mau gue perjelas Ra? Lo fikir waktu itu gue becanda? Gue serius! Gue nggak tau sejak kapan rasa ini ada buat lo. Tapi semenjak gue sering liat lo bersama Sabil, gue suka sama lo, rasa itu datang aja tanpa gue sadari. Masih nggak paham juga lo maksud gue apa? Dan gue tau, lo lebih menyukai Kevin daripada gue"


Deg


Jantung Aura berdetak seketika. Gadis itu merasa kaget dengan ucapan Faris. Bibirnya kaku, Aura tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya, dari canda-candaan Faris sebelumnya, Aura juga sudah paham, dan ia juga sudah bisa menebak, bahwa Faris menyukai dirinya.


Namun, Aura juga tidak mau terlalu kegeeran, itulah sebabnya gadis itu memilihuntuk bersikap pura-pura tidak tahu. Padahal hati kecilnya juga merasakan, dan sejujurnya juga entah kenapa Aura merasa nyaman saat dekat dengan Faris.


Aura tertawa. "Kak Faris ada-ada aja, becandanya nggak lucu ih" Sahut Aura.


Kening Faris tertaut, pria itu menatap Aura dengan tatapan khas dirinya. Ia tahu, bahwa Aura hanya berpura-pura bodoh, berpura-pura tidak paham, dan berpura-pura tidak mengerti.


"Bahkan saat gue udah ngomong dengan jelas lo masih aja menganggap semua ini candaan" Sahut Faris datar. Hal itu sontak membuat Aura menghentikan tawanya. Gadis itu menatap Faris dengan raut wajah datarnya.


Mereka terdiam sejenak dengan tatapan saling beradu pandang.


"Kak, aku..."


"Gue tau lo lebih tertarik sama Kevin dibandingkan gue Ra. Gue sadar, kalo gue juga terlalu tua buat lo" Potong Faris saat Aura belum selesai melanjutkan ucapannya.


"Kak, bukan itu maksud aku..."


"Nggak papa Ra, lo nggak perlu sungkan sama gue. Gue tau gue nggak boleh maksa lo untuk mencintai gue juga. Tapi gue minta sama lo. Lo boleh nggak menyukai gue, tapi jangan sampe gara-gara gue ungkapin perasaan gue kaya gini, lo malah menjauh, gue nggak mau kita jadi canggung"


"Gue akan berusaha menerima kenyataan, setelah ini gue nggak mau lo menghindar, lo boleh lupain apa yang udah gue bilang hari ini. Tapi jangan menjauh, setidaknya gue masih bisa melihat lo, walaupun cuma sebagai adik. Dan gue, juga selalu berdo'a yang terbaik untuk lo."


Faris tersenyum, menatap Aura dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Bibirnya boleh berkata ikhlas dan merelakan, tapi tidak dengan hatinya.


Jika saja berharap masih memungkinkan, rasanya Faris sangat sangat mengharapkan sebuah keajaiban. Berharap agar suatu saat Aura akan membuka hati untuk dirinya.


Egois memang, tapi apa salahnya berharap, asal jangan memaksa. Siapa tahu tuhan menjawab semuanya.


"Kak Faris" Bibir Aura bergerak pelan menatap Faris. Entah apa yang ada di fikiran gadis itu. Apakah menyadari ketulusan Faris, atau hanya justru tatapan kasihan? Entahlah, hanya Aura yang tahu dan paham akan isi hatinya.


***


Di rumah sakit, Farrel baru saja kembali sekitar dua puluh menit yang lalu. Pria itu tidak berhenti bersikap manja pada Sabilla. Farrel sedari tadi hanya duduk di samping brankar istrinya dengan tangan yang tidak terlepas menggenggam tangan Sabilla.

__ADS_1


Yasmin, Tasya, dan Kevin juga sudah pergi dari sana sekitar sepuluh menit yang lalu. Dan saat ini, hanya ada sepasang suami istri muda itu di dalam sana.


Farrel menatap lekat mata Sabilla, bibirnya tak berhenti membentuk senyum manis. Hal itu membuat Sabilla mengerutkan keningnya bingung.


"Kak Farrel kenapa sih? aneh banget dari tadi senyum-senyum mulu" Tutur Sabilla merasa malu, ia juga terlihat salah tingkah. Entahlah, terkadang sampai saat ini Sabilla masih saja merasa malu setiap Farrel menatap dirinya dengan tatapan itu.


"Kenapa kenapa sayang? aku nggak papa kok, salah ya senyum sama istri sendiri? apa kamu maunya aku senyum senyum sama istri orang lain?" Sahut Farrel asal berbicara tanpa merasa bersalah.


"Yaudah, pergi aja sana kalo memang itu mau kak Farrel"


"Adududu udah mulai ngambek-ngambekan ni ye" Rayu Farrel.


"Apaan sih" Sabilla memalingkan pandangannya.


Hingga cup, Farrel mengecup bibir mungil itu tanpa aba-aba. Sabilla menoleh, hingga ia mendapati wajah Farrel yang sangat dekat dengan dirinya. Mereka beradu pandang sejenak sebelum Farrel kembali mengecup bibir mungil Sabilla.


"Dasar genit" Gerutu Sabilla.


"Genit tapi kamu senyum" Sahut Farrel.


"Enggak, biasa aja"


"Aku benar-benar sangat beruntung bisa memiliki kamu. Jadi suami kamu, bisa sama-sama terus sama kamu. Aku harap kita akan selalu seperti ini selamanya. Aku akan jaga kamu, aku janji.


Farrel mengecup kening Sabilla dengan penuh kasih sayang, pria itu memejamkan matanya hingga tanpa ia sadari air mata berhasil lolos dari matanya.


Entah mengapa, Farrel teringat akan nasib Sabilla. Ia benar-benar merasa salut pada gadis itu. Farrel juga tahu, dalam kesendirian Sabilla masih sering menangis. Tapi ia berusaha untuk kuat.


Bahkan Farrel sendiri sebagai laki-laki tidak sanggung membayangkan jika nasib Sabilla di balikkan pada dirinya.


"Kak Farrel nangis?"


Bukan menjawab, Farrel justru memeluk Sabilla dengan sangat erat. Hal itu benar-benar membuat Sabilla bingung. Ia mengusap punggung Farrel.


Farrel melepaskan pelukannya, menatap lekat mata Sabilla.


"Kak Farrel kenapa sih? kenapa tiba-tiba nangis?" Tanya Sabilla.

__ADS_1


"Aku nangis bahagia, nggak usah bawel. Aku bahagia udah bisa seperti saat ini sama kamu. Aku bahagia punya istri cantik, baik hati kayak kamu. Pokoknya aku bahagia bersama kamu. Aku sangat sangat menyayangi kamu."


"Eleh gombal"


"Nggak gombal, serius sayang"


"Aku juga bahagia. Ternyata pilihan ayah memang yang terbaik. Aku terkadang masih aja nggak menyangka benar-benar akan menikah muda seperti saat ini. Saat remaja di usia aku masih tidur sendiri, apa-apa sendiri, tapi aku? aku masih nggak percaya aja kalo aku udah punya suami." Sabila tersenyum, menatap langit-langit kamar rumah sakit.


Farrel berkali-kali mengecup tangan Sabilla, menggenggam tangan itu dengan sangat erat mengutarakan kasih sayang pada gadis itu.


"Oiya Kak Farrel, sekarang mumpung lagi kepikiran, aku mau nanya sesuatu sama Kak Farrel"


"Kamu mau nanya apa?"


"Sebenarnya aku mau nanya ini sama kak Farrel udah lama banget. Tapi lupa terus"


"Iya mau nanya apa sayang?" Farrel mencubit hidung Sabilla gemas.


"Aku mau nanya, setelah aku perhatiin, dari awal aku masuk kampus, aku nggak pernah liat kak Farrel punya teman."


"Maksud aku, kak Farrel di kampus kan terkenal, banyak cewek cewek yang naksir, terpesona akan ketampanan kak Farrel. Dan biasanya, cowok-cowok kayak gitu punya geng dong, atau seenggaknya punya teman lah satu yang bisa di bawa kemana-mana, tapi kak Farrel kok enggak sih?"


"Sekarang kak Farrel kemana mana cuma sama aku, sebelum kita sedekat ini, waktu kak Farrel benci aku..."


"Aku nggak pernah benci kamu" Potong Farrel sebelum Sabilla menyelesaikan ucapannya.


Sabilla terkekeh. "Maksud aku, sebelum kita sedekat ini, sebelum kak Farrel ungkapin isi hati kak Farrel, lebih tepatnya waktu kak Farrel masih suka marah-marah sama aku, aku cuma liat kak Farrel sendiri terus, aku nggak pernah sekalipun liat kak Farrel jalan berdua, bahkan ke kantin aja selalu sendiri. Kak Farrel beneran nggak punya teman dekat atau sahabat gitu?"


Mendengar pertanyaan Sabilla, Farrel terdiam, pria itu tampak melamun memikir sesuatu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like. Makasih :)


__ADS_2