
"Kak Diara harusnya sadar, ini semua karma buat kakak. Dulu, mungkin Kak Farrel memang sangat mencintai kakak, tapi siapa yang bikin Kak Farrel pergi? siapa yang udah bikin kak Farrel menghilangkan semua kenangan itu dengan begitu mudah? Kakak sendiri! Kakak sendiri yang membuat Kak Farrel berubah!".
"Sekarang kakak seenaknya menuduh dan menyalahkan aku sebagai perebut? tidak tahu malu? Astaga kak Diara cepat sadar dong kak sadar, disini yang tidak tahu malu siapa? dan aku sepertinya nggak harus memperjelas semuanya deh, takutnya kakak malah makin malu, tapi sayang kak Diara nggak pernah sadar diri!"
Diara tidak mampu lagi berkata-kata, rasanya ia saat ini benar-benar merasa malu, karena ia tidak menyadari bahwa Sabilla telah mengetahui semuanya.
Author : Yaiyalah orang dikasih tau lakinya. Wkwkwk
Merasa kalah, Diara tak mampu lagi menjawab ucapan Sabilla. Dengan begitu kesal, Diara menghentakkan kakinya, mengacak rambutnya merasa frustasi dan segera pergi dari sana.
Setelah tubuh Diara tak terlihat lagi, Sabilla terjatuh begitu saja di lantai, tubuhnya gemetaran, nafasnya terasa begitu sesak. Sungguh, ini kali pertama Sabilla berani melawan senior yang selama ini menyakitinya itu. Karena kata-kata Farrel selalu terngiang di telinga Sabilla. Itulah sebabnya gadis cantik itu memaksakan diri agar tidak terus-terusan di injak-injak oleh Diara dan memberanikan diri untuk melawan.
"Bil, lo nggak papa?" Aura memengan bahu Sabilla dengan begitu cemas. Ia melihat dengan jelas keringat dingin keluar dari dahi sahabatnya itu. Namun, tanpa menjawab pertanyaan Aura, Sabilla justru menangis sejadi-jadinya, memeluk Aura dengan begitu erat.
"Hei Sabil, lo kenapa?" Tanya Aura dengan begitu bingung.
"Gue takut menyakiti orang lain Wa" Lirih Sabilla disela isak tangisnya.
Aur menghela nafas pelan, ia menghapus air mata yang saat ini bercucuran di pipi Sabilla, gadis itu menggenggam tangan Sabilla dengan begitu erat. "Bil, lo nggak salah, lo nggak perlu takut! Orang kayak si nenek lampir itu memang harus mendapat pelajaran agar dia nggak bisa menindas lo seenaknya lagi. Sekarang lo tenang dulu ya" Aura mencoba menenangkan Sabilla yang masih sedikit gemetar, ia juga mengelus lembut rambut sahabatnya itu.
***
"Di toilet kampus, Diara tengah berdiri di depan wastafel setelah selesai mencuci muka barusan. Gadis itu menatap pantulan wajahnya dari kaca dengan tatapan begitu geram.
__ADS_1
"Arkkkkkkhhhhhhhhhh" Teriak Diara sejadi jadinya.
"Makannya jadi manusia punya hati, punya perasaan dipake, jangan buat pajangan organ tubuh aja. Orang diam bukan berarti takut, sekali ngamuk lo yang dibikin ciut"
Diara meneloh ke arah belakang, dimana asal suara yang jelas tertuju pada dirinya itu berada. Matanya menatap kesal mengikuti langkah kaki Aura yang baru saja datang hingga kini, Aura berdiri tepat di sebelah dirinya tengah mencuci tangan.
Sebelum keluar dari toilet, Aura sejenak berdiri dengan tangan dilipat dipinggang terlebih dahulu di depan Diara dengan begitu songongnya. Ia tidak lagi memiliki rasa takut dan juga segan pada seniornya yang sungguh kurang ajar menurut dirinya itu.
"Apa lo liat-liat? Mau marah? silahkan! Gue nggak takut, meskipun lo senior disini! Mau dihargai? Hargai orang lain terlebih dahulu!"
Diara tidak menjawab satu katapun yang keluar dari mulut Aura. Ia hanya menatap Aura dengan tatapan tajam seolah ingin membunuh sahabat Sabilla itu saat ini juga.
"Kakak seniorku yang cantik" Aura melangkah mendekati Diara. "Besok-besok, jangan suka remehin orang lagi ya. Jangan kurang ajar kalo nggak mau sakit hati!" Aura mendorong bahu Diara dengan jari telunjuknya, sementara mata Diara mengikuti arah jari telunjuk seniornya itu. "Oiya, mulai saat ini, lo jangan pernah ganggu hidup Sabil lagi. Kalo sampai itu terjadi, lo liat aja akibatnya nanti. Jangan sampai lo membangunkan singa yang lagi tertidur. Paham lo!" Aura berbicara dengan penuh penekanan, melirik Diara dengan tatapan sinis seperti apa yang biasa ia lakukan pada Sabilla kemudian pergi berlalu dari sana.
Setelah keluar dari toilet, Aura berjalan sendiri di koridor kamupus, melirik pemandangan dan suasana kampus yang juga sudah ia lihat setiap harinya. Hingga dirinya tidak sengaja melihat Kevin tengah berjalan di depan dirinya.
Jantung Aura berdetak tidak karuan, sebisa mungkin ia memalingkan pandangannya pura-pura tidak melihat Kevin di sana. Hingga saat mereka berpapasan jalanpun, Aura sama sekali tidak menyapa senior yang sangat ia kagumi itu.
Kevin yang awalnya tengah sibuk dengan ponsel di tangannya itu, memalingkan pandangannya ke arah belakang setelah menyadari bahwa dirinya baru saja berpapasan dengan Aura. Ia sejenak menatap punggung Aura yang semakin lama semakin menjauh dari jangkauan matanya. Pria itu mengernyit bingung, heran, sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya.
***
Di rumah mewah milik Asep itu, Yasmin, Farris dan Asep sudah menyiapkan banyaknya makanan untuk makan malam spesial malam ini di halaman belakang rumahnya yang sudah dihiasi dengan lampu-lampu yang begitu indah. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Farrel dan Sabilla yang saat ini masih berada di perjalanan.
__ADS_1
"Kak Farrel, Mama ngapain sih tiba-tiba suruh kita kerumah?" tanya Sabilla pada Farrel yang saat ini tengah sibuk menyetir mobil di sebelah dirinya.
"Emang kenapa? kamu nggak mau ketemu sama Mama?" tanya Farrel balik bertanya.
"Bukan gitu maksud aku, tapi kenapa mendadak gini? Biasanya kan Mama kalo ada apa-apa ya ngomong dulu"
"Kan Mama udah bilang dari tadi pagi, itu namanya nggak mendadak sayang" Farrel mencibit pipi Sabilla dengan begitu gemas sembari masih fokus menyetir mobilnya dengan sebelah tangan.
"Itu namanya mendadak lo Kak Farrel" Jawab Sabilla dengan penuh paksa.
"Enggak Sabil sayang"
"Iya, pokoknya iya ih Kak Farrel" Celetuk Sabilla memanyun manyunkan bibirnya dengan manja.
Farrel tersenyum melirim Sabilla, kamu sekarang kenapa jadi nyebelin sih?" Pria itu menggenggam tangan Sabilla dengan begitu erat.
"Kan belajar dari Kak Farrel. Kak Farrel dari dulu selalu bilang aku bocah. Bocah kan beo, suka ngikutin orang" Jawab Sabilla dengan polosnya hingga membuat Farrel benar-benar merasa gemas pada dirinya.
"Dasar bocah" Farrel tertawa mengacak-acak rambut Sabilla dengan begitu gemas. Hingga canda dan tawa pun menemani perjalanan mereka menuju rumah Yasmin.
"Bocah" Ledek Farrel sesekali menoleh ke arah Sabilla dengan tangan yang tidak terlepas dari tangan Sabilla. Ia sedikitpun tidak melepaskan genggaman tangan istrinya itu.
"Apaan sih" Celetuk Sabilla memalingkan pandangannya merajuk pada Farrel hingga membuat Farrel tersenyum gemas pada gadis cantik yang ada di sampingnya itu.
__ADS_1