My Poor Wife

My Poor Wife
Sahabat Terbaik


__ADS_3

Farrel yang saat ini tengah berbaring di samping Sabilla sembari memainkan ponsel miliknya, tak henti melirik ke arah Sabilla. Ia jelas melihat tubuh wanita tersebut gemetaran. Dan Farrel sudah dapat memastikan bahwa Sabilla saat ini tengah menangis.


Beberapa kali Farrel memalingkan pandangannya pada Sabilla, namun lagi dan lagi ia urung niat untuk memeluk istrinya itu entah kenapa, padahal Farrel sejujurnya juga tidak tega memperlakukan Sabilla seperti sekarang ini. Entah apa yang dikatakan Tasya pada mereka semua hingga Farrel begitu marah pada Sabilla.


Sabilla sudah sebisa mungkin menahan tangisannya, namun tetap saja tidak bisa. Cairan bening tersebut telah berhasil lolos menetes dari mata indahnya ke pipi mungilnya. Namun tetap saja sebisa mungkin ia menahan suaranya agar Farrel tidak mengetahuinya. Namun, dari gerak gerik Sabilla jelas saja Farrel sangat tahu bahwa istrinya itu tengah menangis.


"Apa? jadi udah empat hari ini lo tinggal di rumah tante Yasmin? dan disana ada siapa? anak teman tante Yasmin? perempuan? Maba di kampus kita? Cantik? Naksir kak Farrel?"


Aura yang hendak meneguk milk shake yang saat ini ada di tanggannya itu urung niat saat mendengar curhatan Sabilla. Saat ini mereka tengah duduk di sebuah Kafe yang ada di pinggiran kota. Sabilla memang sengaja mengajak Aura kesana hanya untuk mencurahkan isi hatinya.


Aura yang kaget dengan curhatan Sabilla itu juga tidak tanggung-tanggung dalam melontarkan pertanyaan. Ia melontarkan banyaknya pertanyaan sekaligus hingga membuat Sabilla sedikit bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.


"Dan sekarang seisi rumah itu hanya diamin lo dari kemaren? dan lo nggak tau alasannya apa?" Tanya Aura lagi.


Sabilla mengangguk dengan raut wajah yang begitu tidak bersemangat. "Hmm gue sih nggak tau kenapa, tapi yang jelas mereka semua berubah saat Tasya jatuh ke dalam kolam renang malam itu, dia hampir aja meninggal karena kehabisan nafas. Gue rasa Mama Yasmin, Papa asep Kak Farrel dan Kak Faris salah paham sama gue. Gue sih nggak mau suuzon wa, tapi mungkin mereka salah paham dan mengira bahwa gue yang membuat Tasya jadi seperti Itu. Padahal gue nggak ngapa-ngapain dia sama sekali. Malahan Tasya duluan yang mencoba mengganggu dan ngata ngatain gue." Sabilla menundukkan pandangannya dengan raut wajah yang begitu sedih.


"Hmm kenapa mereka jadi berubah semua ya Bil sama lo. Gue jadi ikutan heran juga?" Aura memegang dagunya seolah sedang berfikir keras. "Oiya, cewek yang namanya siapa? Tasya? Itu cantik?" Tanya Aura dengan polosnya.


"Hmmmm kalau masalah cantik sih memang dia cantik Wa, banget malahan"


"Apa jangan-jangan mereka semua tergoda sama Tasya dan siapa tau mau jadiin dia menantu" Tutur Aura menggoda Sabilla dengan maksud bercanda.


"Gue lagi nggak mood becanda Aura" Balas Sabilla melemas.


"Hehe oke oke maaf gue cuma mau menghibur lo kok" Balas Aura cengengesan.

__ADS_1


Hening


Hening


"Wa, gue boleh nggak ikut ke rumah lo?" pinta Sabilla dengan sedikit ragu.


Aura menoleh. "Boleh banget dong. Justru gue senang banget kalo lo mau ke rumah gue. Dari dulu juga gue sering ngajakin lo, tapi lo nya aja yang nggak pernah mau" Gerutu Aura cembut pada Sabilla sembari meneguk milk shake yang ada di tangannya.


Sabilla tersenyum, menundukkan pandangannya tanpa menjawab ucapan Aura.


Setelah selesai membayar minuman mereka di kasir. Sabilla dan Aura segera keluar dari Kafe tersebut dan berjalan menuju parkiran tempat dimana sopir Aura yang sedang menunggu mereka.


Namun, langkah Sabilla terhenti tatkala melihat sebuah mobil yang begitu Familyar di matanya. Mobil yang selalu ia naiki bersama Farrel yang tidak lain ialah mobil Farrel.


"Tunggu-tunggu" Sabilla menghentikan langkah kakinya dan menarik tangan Aura hingga langkah mereka benar-benar terhenti.


"Kok gue ngerasa mobil ini nggak asing ya Wa dimata gue. Ini mirip banget sama mobil kak Farrel. Apa kak Farrel ada disini juga?" Sabilla mencoba mengamati tempat sekitar, mencari tahu apakah benar disana ada Farrel.


Aura memegang pundak Sabilla" Aduh Sabil sayang, yang punya mobil beginian bukan cuma kak Farrel doang. Dimana-mana juga banyak yang make mobil begini. Lo itu cuma halu, karena fikiran lo itu dari kemaren-kemaren cuma kak Farrel. Jadi apa-apa mikirnya kak Farrel, kak Farrel mulu.


Udah ah, pulang! Ngapain juga ngurusin mobil orang, ntar dikira kita mau maling lagi." Aura menarik tangan Sabilla menjauh dari sana.


Namun, sesekali Sabilla masih menoleh ke arah belakang berharap bahwa itu memang mobil Farrel suaminya.


***

__ADS_1


Aura dan Sabilla baru saja sampai di rumah mewah milik keluarga Aura tersebut. Sabilla yang memang belum pernah ke sana hanya bengong memperhatikan suasana sekitar rumah mewah itu. Selama lebih kurang satu tahun Sabilla dan Aura saling mengenal, dan menjadi sahabat, meskipun berkali-kali Aura berusaha mengajak Sabilla ke rumahnya, namun gadis itu selalu saja menolak. Dan ini adalah kali pertama Sabill menginjakkan kaki di rumah Aura sahabatnya.


Sabilla duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Aura. Ia masih memperhatikan seisi rumah tersebut, memperhatikan foto-foto keluarga besar Aura yang terlihat masih sangat lengkap.


Aura memang barusan permisi sebentar meninggalkan Sabilla di ruang tamu karena dirinya ingin membersihakn kamar miliknya terlebih dahulu. Aura memang termasuk gadis pemalas dan sangat jarang mau membersihkan kamar. Tapi tentu saja ia masih mempunyai rasa malu jika Sabilla melihat betapa berantakan kamar dirinya. Tidak seprti kamar Sabilla yang selalu terlihat rapi.


Setelah selesai merapikan kamar miliknya, Aura segera menghampiri Sabilla yang masih setia duduk di ruang tamu setelah disuguhkan minuman oleh asisten rumah tangga Aura.


Aura segera mengajak Sahabatnya itu untuk segera memasuki kamarnya, namun langkah mereka terhenti tatkala Hafis, kakak pertama Aura yang baru saja datang dari arah dapur menghentikan langkah mereka.


Hafis berdiri di depan Aura dan Sabilla dengan secangkir kopi yang masih ada di tangannya. Hal itu membuat Sabilla mengerutkan keningnya bingung. Namun tidak dengan Aura, Gadis itu tidak memiliki rasa takut sedikitpun pada laki-laki yang berusia 21 tahun itu dan justru Aura melototkan matanya pada Hafis.


"Apa lo liat-liat?" bentak Aura pada kakak pertamanya itu. Terlihat tidak sopan memang, namun itu sudah menjadi kebiasaan mereka sehari hari. Sudah bumbu hidup mereka untuk berdebat dan bahkan sampai bakuhantan antara kakak dan adik itu.


Hafis melirik Sabilla dengan tatapan kagum serta menggoda. Menggoda disini bukan menggoda mesum ya, namun lebih tepatnya terpesona. " Teman lo?" tanya Hafis berganti melirik Aura.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2