
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Farrel dan Sabilla saat ini sudah berada di dalam mobil. Setelah selesai sarapan barusan, pasangan suami istri muda itu bergegas untuk berangkat ke kampus karena takut telat.
Sedari tadi, pandangan Sabilla tak teralih dari pria yang saat ini duduk di sampingnya, kepala pria itu tak henti terangguk-angguk mengikuti lantunan lagu yang keluar dari dashboard mobil miliknya. Sabilla melihat raut kebahagiaan di wajah Farrel hari ini, tidak seperti hari-hari biasanya.
"Kenapa lo dari tadi liatin gue terus?"
Farrel yang sedari tadi menyadari bahwa Sabilla hanya menatap dirinya, bertanya tanpa menoleh. Pria itu masih fokus ke depan mengendarai mobilnya. Bibirnya bergerak mengikuti lantunan lagu dengan jari jemari yang bergerak menari-nari di setir mobil.
"Hmm gapapa" Sabilla memalingkan kembali wajahnya ke depan. Menikmati pemandangan pagi di jalanan yang cukup padat pagi itu.
"Nanti lo pulang jam berapa?" tanya Farrel tanpa menoleh ke arah Sabilla.
"Hmm jam 10 kak"
"Nggak ada kuliah siang?" lanjut Farrel bertanya.
"Nggak, hari ini cuma satu mata kuliah"
"Kalo gitu lo harus nunggu gue sampe jam 12 siang nanti di kampus!"
Sabilla menoleh, mengerutkan keningnya mencerna ucapan Farrel. "Kenapa harus gitu?" tanya Sabilla.
"Lo nggak denger apa yang gue bilang di rumah barusan? mulai saat ini, lo harus kemana-mana sama gue!"
"Tapi kak, aku nggak mungkin nungguin kakak kuliah sampe jam 12 saat aku nggak ada kelas?" Celetuk Sabilla yang sedikit kesal dengan Farrel yang ia rasa berlaku seenaknya.
"Emangnya kenapa? emangnya kenapa kalo lo harus nungguin gue?"
Sabilla diam tanpa ingin menjawab. Farrel menoleh ke arah Sabilla. "Gue nanya Sabilllll" Sorak Farrel menatap Sabilla kesal.
"Terserah kak Farrel aja deh terserah. Kakak sama aja sama Ayah. Berlaku seenaknya, menjadikan aku layaknya boneka!" Sabilla memalingkan pandangannya ke kaca mobil, menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Setelah sampai di kampus, Sabilla segera turun dari mobil tanpa permisi, ia berlari sembari menyandang tas samping miliknya. Farrel hanya menatap punggung Sabilla yang semakin menjauh darinya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 09.30, setengah jam lagi perkuliahan hari ini akan selesai. Sabilla menatap kosong ke sembarang arah saat dosen masih menerangkan pelajaran di depan kelas.
Entah kenapa, rasanya Sabilla begitu malas untuk mengikuti perkuliahan hari ini, tidak seperti hari-hari biasanya.
Aura yang menyadari sikap Sabilla tiba-tiba saja berubah hari ini, berkali-kali melambaikan tangan pada sahabatnya itu, namun masih saja tidak mendapatkan respon dari Sabilla.
"Sabilllll" Teriak Aura dengan begitu nyaring hingga membuat semua teman kelas menoleh ke arahnya. Tidak terkecuali dengan dosen yang tengah mencatat tugas minggu depan di depan. Dosen yang terkenal garang tersebut memalingkan pandangannya menoleh ke arah belakang, wajahnya sudah terlihat benar-benar tidak ramah, membuat Aura ciut menunduk takut.
"Mati gue" gumamnya pelan.
"Anda kenapa Aura?" tanya Pak Afri dengan tatapan masih tertuju pada Aura.
Aura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Ee anu Pak, hmmm sss saya..."
"Aura tadi kaget saat saya nggak sengaja nginjak kakinya Pak" Sabilla mebuka suara, membuat Aura menghembuskan nafas dengan begitu lega. Kalau tidak, bisa-bisa nilainya semester ini auto E dan mengulang semester depan.
__ADS_1
"Makannya anda hati-hati Sabilla, jadi memecah konsentrasi saya saja" Gerutu Pak Afri sebelum kembali mencatat tugas yang hanya ada di kepalanya tanpa melihat buku.
***
Siang itu, terik matahari begitu panas, Sabilla dan Aura saat ini tengah berada di kantin untuk mengisi makanan di perut mereka karena cacing yang ada di dalam sana sudah meronta-ronta meminta makan.
Sabilla melipat kedua tangannya di atas meja, memperhatikan sekeliling mahasiswa yang ada di kantin tersebut. Merasa bosan, Sabilla menghembuskan nafas pelan, berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Mau kemana lo Bil?" tanya Aura.
"Gue mau ke toilet bentar ya Wa" Sabilla berjalan melangkahkan kaki menuju toilet melewati beberapa kelas lainnya.
Sesampai di toilet, Sabilla berdiri di depan wastafel, menatap pantulan wajahnya dari kaca kemudian mencuci muka.
Sabilla kembali berjalan ke luar setelah selesai mencuci muka dan merapikan pakaiannya. Ia kembali berjalan hendak menuju kantin. Namun, langkah Sabilla terhenti tatkala melihat Farrel dan Diara saling berpelukan mesra dengan Farrel yang membelakangi dirinya dan Diara yang jelas-jelas melihat Sabilla.
Diara tersenyum menyeringai saat melihat Sabilla yang tidak jauh dari pandangannya. Seniornya itu justru semakin mempererat pelukannya dengan Farrel. Tampak jelas, tangan Farrel mengelus lembut punggung Diara.
Melangkah menjauh, Sabilla berhenti tepat di depan kelas lainnya. Ia memgang dadanya yang ia rasa begitu sesak. Sabilla benar-benar tidak tahu itu kenapa. Beberapa mahasiswa yang ada di sana, yang sama sekali tidak dirinya kenal, terlihat menghampiri Sabilla.
"Lo nggak papa?" tanya dua orang gadis yang terlihat seusianya memegang pundak Sabilla.
"Enggak, nggak papa kok" Sabilla tersenyum kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju kantin.
Sabilla kembali mendudukkan tubuhnya saat telah kembali ke kantin dengan raut wajah begitu murung. Aura yang menyadari hal itu, mengerutkan keningnya bingung.
"Lo kenapa Bil?" tanya Aura membuyarkan lamunan Sabilla.
"Hah? nggak Wa gapapa" Sabilla mengaduk makanan yang sudah ada di depannya. Gadis cantik itu hanya mengaduk-aduk makanan tersebut tanpa berniat untuk memakannya.
"Enggak kok, gua nggak papa. Lagi nggak enak badan aja kayaknya"
"Itu makanan kenapa cuma di aduk-aduk?" Makanan itu untuk di makan Sabil, bukan untuk di aduk-aduk begitu!"
"Hmm gue udah kenyang Wa"
"Kalo udah kenyang kenapa tadi lo pesan?" Sabilla hanya diam tanpa membalas ucapan Aura.
***
Di sebuah pohon yang terletak di taman Fakultas teknik, Sabilla tengah duduk di atas kursi besi yang ada di sana. Berkali-kali Sabilla melirik jam di tangannya, berharap waktu cepat berlalu. Namun, jarum jam pendek terasbut masih terletak di angka 11, menunjukkan waktu masih pukul 11.00 siang. Satu jam lagi Sabilla harus menunggu Farrel disana.
Sabilla memperhatikan pemandangan sekitar, pemandangan dengan masih banyaknya mahasiswa yang masih berkeluyuran. Ada juga yang sibuk belajar di kursi lainnya. Berbagai macam mahasiswa ia lihat di sana.
"Bil, lo belum pulang?" Kevin yang baru saja datang dari arah belakang memegang pundak Sabilla.
"Astaga kak Kevin?" Sapa Sabilla sedikit kaget. Kevin yang posisisnya masih berdiri, melihat jelas raut wajah Sabilla yang tidak bersemangat.
"Kamu kenapa Bil?" Kevin menatap kedua manik mata Sabilla seraya mendudukkan tubuhnya di sebelah gadis cantik itu.
"Hmm nggak papa kok kak" Sabilla menunduk tanpa menoleh ke arah Kevin.
Kevin segera berjongkok di bawah Sabilla. "Kenapa kamu belum pulang? bukannya hari ini nggak ada kelas ya?"
__ADS_1
Kevin memang mengetahui bahwa setiap hari senin, Sabilla hanya kuliah sampai jam 10. Karena memang, sebelum-sebelumnya Sabilla dan Aura lebih sering menghabisakan waktu bersama Kevin.
"Iya kak, aku lagi nunggu kak Farrel."
"Nunggu Farrel? tumben kamu nungguin dia?" Kevin bertanya dengan alis tertaut.
"Hmm aku juga bingung kak, tadi pagi Kak Farrel nyuruh aku nungguin dia pulang kuliah dan pulang sama dia"
"Gila ya si taik kerbau, dia aja keluarnya jam 12 Sabil, ngapai coba nyuruh kamu nunggu sampe jam segitu? Mending pulang sama aku aja sekarang" Kevin menarik tangan Sabilla. Namun, gadis itu tampak masih enggan untuk bergerak. Kevin kembali menoleh ke arah belakang dengan tangannya yang masih memegangi tangan Sabilla.
Ia melihat Sabilla saat ini tengah menunduk.
Kevin kembali berjongkok di depan Sabilla, memegang pipi Sabilla dengan kedua tangannya, mendongakkan kepala gadis itu ke atas.
"Sabil kamu nangis?" tanya Kevin saat melihat cairan bening itu menetes di pipi mungil Sabilla.
Kevin kembali mendudukan tubuhnya di sebelah Sabilla. "Kamu kenapa?" tanya Kevin bingung, karena ini benar-benar kali pertama ia melihat Sabilla menangis. Karena biasnya, seperti apapun Sabilla ditindas oleh Diara dan juga Farrel, Kevin tidak pernah sekalipun melihat gadis itu menangis. Bahkan ia justru tersenyum.
"Kak, aku nggak ngerti lagi kenapa hidup aku harus kayak gini?" Sabilla berbicara dengan suara sedikit berat.
"Maksud kamu?"
"Aku kangen Bunda aku kak" Cairan bening itu telah kembali menetes dengan deras di pipi Sabilla, membasahi rambut-rambutnya yang menutipi wajahnya.
"Sabil, sebenarnya kamu ada masalah apa?" kamu cerita dulu sama aku.!"
"Kak, apa aku salah merasakan hal ini? Apa aku egois? Apa aku nggak pantas merasakan ini semua? Apa aku salah? Barusan aku lihat kak Diara sama kak Farrel pelukan kak. Aku tau itu hanya sekedar pelukan, bukan ciuman ataupun yang lainnya. Tapi kenapa rasanya hati aku sakit banget kak. Padahal aku tau, kak Farrel dan kak Diara memang saling mencintai, bahkan sebelum ada aku mungkin mereka sudah sering melakukan itu. Bahkan hubungan mereka kandas gara-gara aku, tapi kenapa hati aku rasnya sakit banget kak. Aku nggak tau kenapa."
"Nggak Sabil!, hubungan mereka kandas bukan karena kamu. Hubungan mereka berakhir memang karena mereka berdua. Kamu jangan menyalahkan diri kamu terus!"
"Tapi kak..."
"Sabil, berhenti menyalahkan diri kamu atas kandasnya hubungan mereka, kamu nggak salah, sama sekali nggak salah. Dan kamu berhak marah, kamu berhak marah saat kamu melihat Farrel dan Diara seperti itu, karena kamu istrinya, sedangkan Diara hanya sebagian dari masa lalunya. Sebagai perempuan normal, kamu sama sekali nggak salah."
Tanpa aba-aba, Kevin merengkuh memeluk tubuh Sabilla dengan erat. Sabilla berusaha mengelak dan menepis tangan Kevin, namun Kevin malah semakin mempererat pelukannya.
"Silahkan menangis sepuasnya, silahkan keluarkan apa yang selama ini kamu pendam. Aku tau selama ini kamu hanya pura-pura kuat Sabil. Silahkan lepaskan semuanya, aku siap jadi tempat untuk kamu bersandar.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like ya. Semoga suka, terimakasih:)
Yang belum follow ig aku dan yang berminat silahkan di follow ya. Hehehe
__ADS_1
Ig @Afrialusiana