
Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕
Sabilla kembali menoleh ke arah belakang, mengambil figura yang ada di tangan Farrel.
"Kak Nabila udah pergi jauh" Jawabnya.
"Kenapa nggak dia aja sih yang dijodohin sama gue? kenama harus lo?" seru Farrel tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kemudian, ia kembali masuk ke dalam kamar meninggalkan Sabilla yang masih enggan untuk masuk.
Farrel kembali mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang ada di kamar Sabilla. Sedangkan Sabilla, masih menatap figura yang ada di tangannya dengan raut wajah yang begitu sedih.
Cuaca semaking dingin, hujan yang sedari tadi tanpa henti, memaksa Sabilla untuk kembali masuk ke dalam kamar. Di sana, ia melirik Farrel yang belum tertidur dan masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Kak Farrel belum tidur?" tanya Sabilla.
"Maunya sih gitu, tapi lo pikir gue harus tidur dimana?" tanya Farrel dengan begitu sinis tanpa menoleh ke arah Sabilla dan masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Hmm kalau gitu kak Farrel tidur disini aja, biar aku yang tidur di sofa" Sabilla mengambil satu bantal dan selimut yang ada di dalam lemari, kemudian ia melangkahkan kakinya perlahan mendekati Farrel.
"Ngapain lo kesini?" tanya Farrel menatap Sabilla dengan tatapan yang tidak begitu ramah.
"Mau tidur" balasnya singkat, tanpa ingin memperpanjang masalah.
"Udah lo tidur di sana aja, biar gue yang tidur disini" Farrel mendorong tubuh Sabilla dengan paksa.
"Nggak kak, biar aku aja yang tidur disini" imbuh Sabilla, hingga terjadilah paksa memaksa di antara pasangan suami istri muda tersebut.
Dorrrrrrrrrr
Tiba-tiba suara petir yang menyambar dengan begitu keras, membuat Sabilla kaget bukan main. Refleks, dirinya memeluk Farrel dengan begitu erat. Tangannya gemetar, jantungnya berdetak begitu kencang dan tidak karuan. Desiran darah Sabilla mengalir dengan begitu cepat. Karena, gadis itu memang takut dengan petir. Biasanya, jika hari sudah hujan seperti saat ini, Sabilla akan memilih untuk tidur dengan Hermawan kalau tidak dengan bi Mirna jika Hermawan ada urusan bisnis di luar kota.
Farrel melirik Sabilla yang masih tidak melepaskan pelukannya. Kemudian, ia berusaha melepaskan tangan Sabilla dari pinggangnya, namun, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Tidak peduli siapa yang ia peluk saat ini, Sabilla benar-benar merasa ketakutan.
__ADS_1
"Woi cewek bud - Sabil, lo ngapain sih?" Farrel berdecak kesal, ia melepaskan tangan Sabilla dengan paksa dari tubuhnya. Hingga, nampaklah wajah Sabilla yang sudah basah di penuhi dengan air mata. Sebenarnya, Sabilla tidak takut dengan hujan, namun ia hanya takut dengan petir. Karena terkadang ada hujan yang tidak disertai dengan petir.
"Hmm, maaf kak" Sabilla menarik tangannya dari tubuh Farrel, kemudian ia segera bangkit dari sana, berjalan menuju ranjang dengan lanhkah tertatih. Sabilla mengambil bantal dan selimut yang ada di atas ranjang, lalu memberikan pada Farrel. Setelah itu, ia kembali merangkak ke atas ranjang, membalut tubuhnya dengan selimut dan mencoba untuk memejamkan mata.
Petir yang masih sesekali berbunyi, membuat Sabilla tak jarang masih merasa kaget. Ia semakin menyembunyikan wajahnya dibalik selimut mencoba sebisa mungkin menahan rasa takutnya.
Mungkin akan terkesan lebay, namun setiap manusia tentunya memiliki pobia atau ketakutan yang berbeda. Mungkin menurut orang lain hal tersebut hanyalah hal biasa, namun tidak bagi Sabilla. Ketakutan yang memang sudah ia rasakan sedari kecil itu, membuat dirinya benar-benar tidak bisa untuk sekedar memjamkan mata.
Hingga tak lama kemudian, Sabilla terlelap, tertidur dengan begitu pulas. Sedangkan Farrel, yang matanya juga sudah mulai terasa berat, mencoba memejamkan matanya di atas sofa yang ada di sana.
Namun, baru 15 menit tertidur, saat masib beradi di pintu dunia nyata dan alam mimpi, Farrel kembali dikejutkan dengan suara petir yang begitu kencang hingga menggetarkan kaca-kaca dan juga jendela yang ada di sana. Farrel membangunkan dirinya yang baru saja terlelap dengan paksa. Mengucek matanya, entah kenapa pandangan Farrel sontak tertuju pada Sabilla. Ia jelas melihat getaran dengan isak tangis di tubuh gadis itu.
Farrel melangkahkan kakinya perlahan mendekati Sabilla, ia berusaha membuka selimut yang saat ini menutupi seluruh tubuh istrinya itu.
"Woi, lo kenapa sih?" sorak Farrel setelah berhasil membuka selimut yang tadinya membaluti kepala Sabilla dengan paksa. Namun, dirinya kaget saat melihat mata Sabilla yang sudah sembab akibat menangis sedari tadi. Keringat pun ikut membasahi rambut dan wajah gadis itu.
"Dari tadi lo nangis?" tanya Farrel. Namun Sabilla hanya terdiam, ia masih menundukkan pandangannya kemudian kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal tersebut.
Menghela nafas dengan pelan, Farrel kembali melangkahkan kaki menuju sofa, namun matanya saat ini sudah tidak lagi mengantuk. Rasa kantuk yang sedari tadi melanda, hilang seketika.
Dari sofa yang memang tidak terlalu jauh letaknya dengan ranjang tempat dimana Sabilla tertidur, Farrel tak berhenti menatap Sabilla dari kejauhan. Fikirannya saat ini benar-benar dipenuhi dengan tanda tanya.
"Kenapa sih?" gumam Farrel yang masih belum menyadari ketakutan Sabilla karena gadis itupun juga tidak mau mengungkapkan.
Setelah mencoba memejamkan mata untuk tertidur namun tidak bisa juga, Sabilla segera duduk dari tidurnya, menghela nafas dengan kasar. Kemudian, ia segera bangkit dari sana, berniat untuk menuju ke kamar sang Ayah.
"Mau kemana lo?" Farrel yang memang masih belum tertidur bertanya pada Sabilla yang saat ini sudah sampai di ambang pintu.
"Aku mau ke kamar Ayah kak" Seru Sabilla pelan, ia menundukkan pandangannya, merasa takut dengan Farrel.
"Apa? lo gila ya?" Farrel berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya perlahan menuju Sabilla.
__ADS_1
"Mau ngapain lo ke kamar Ayah lo?" Tanya Farrel yang sudah berada tepat di depan Sabilla.
"A-aku mau tidur sama Ayah kak" jawabnya dengan sedikit gugup.
"Astaga jangan kekanak-kanakan deh. Lo udah punya suami, apa kata ayah lo kalo malam-malam gini lo tiba-tiba bangunin dia dengan alasan hanya mau tidur disana?" Farrel berbicara dengan nada suara sedikit meninggi.
"Tapi kak..."
Farrel menarik tangan Sabilla menuju ranjang. "Sekarang lo tidur" ucap Farrel yang masih berdiri di tepi ranjang.
"Kak Farrel mau ngapain?" tanya Sabilla mulai merasa takut.
"Gue tau lo takut petir, sekarang lo tidur disini gue akan temanin lo" Farrel segera naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di samping Sabilla.
Deg
Jantung Sabilla berdetak dengan begitu kencang, mulutnya terbuka lebar saking tidak percayanya. Terkadang Sabilla juga merasa bingung dengan sikap Farrel yang terkadang baik dan terkadang galaknya minta ampun.
Saat ini, posisi Sabilla tengah membelakangi Farrel yang telah ikut membaringkan tubuh di sebelah dirinya. Namun, kali ini jantung Sabilla benar-benar tidak dapat terkendalikan. Saat ini jantung itu terasa benar-benar akan copot saat Sabilla merasakan sesuatu yang melingkar di pinggang rampingnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya. Tapi jangan yang pedas-pedas. Hehe terimakasih😍