My Poor Wife

My Poor Wife
Extra Part 1


__ADS_3

Dari kejauhan. Farrel merentangkan tangannya lebar. Menampilkan senyum manis menunggu kedatangan gadis yang saat ini berjalan menuju dirinya.


Sabilla semakin mempercepat langkah kakinya. Hingga kini, gadis itu berhambur memeluk Farrel yang sudah berada di depan matanya.


Sepasang suami itri itu saling memeluk erat satu sama lain hingga mengalihkan perhatian semua orang pada dirinya.


"Happpy Graduation sayang" Farrel mengecup kening Sabilla penuh kasih sayang.


"Thankyou sayang" Sabilla sedikit mendongakkan kepalanya ke atas menatap Farrel dengan senyum manis. Pria itu tidak lupa memberikan satu buket bunga mawah yang indah pada sang istri.


"Semoga ilmunya berkah ya" Sambung Farrel kemudian. Sabilla mengangguk, sebelum kembali memeluk Farrel erat.


Yasmin, Asep, Tasya dan keluarga Aura yang juga berada di sana ikut senyum-senyum sendiri menyaksikan kedua manusia itu.


Benar, tanpa terasa waktu terus berjalan. Setelah satu tahun yang lalu Farrel menyelesaikan studynya di Universitas Trisakti. Hari ini, gilaran Aura dan juga Sabilla yang lulus dari sana.


Hari ini, kedua gadis itu telah sah menyandang gelar Sarjana Tekniknya setelah empat tahun menempuh pendidikan disana.


Bangga? Tentu saja iya. Suatu kebanggan bagi mereka, tanpa mereka sadari, dua gadis itu sudah tumbuh dewasa. Rasanya baru kemarin mereka melaksanakan ospek.


***


Farrel dan Sabilla baru saja sampai di rumah. Gadis itu terlihat sangat lelah. Hal itu terlihat jelas dari raut wajahnya.


Sabilla duduk di tepi ranjang. Membuka heels yang barusan ia pakai sembari menaruh tas branded yang dibelikan oleh Farrel dan barusan ia pakai saat acara wisuda. Gadis it memijit kakinya yang terasa sangat pegal setelah memakai heels seharian.


Farrel baru saja datang dari pintu kamar. Pria itu tersenyum. Perlahan, Farrel mendakat ke arah Sabilla. Tanpa aba-aba, ia berjongkok di hadapan istrinya tersebut.


"Kenapa? capek ya?" Tanya Farrel. Sabilla mengangguk. Memanyunkan bibirnya manja.


Farrel memegang pergelangan kaki istrinya itu. Pelahan, Farrel memijit kaki Sabilla pelan. Sementara Sabilla, gadis itu tak henti menatap Farrel dengan tatapan kagum dan juga terpesona.


Tak berselang lama, Farrel menghentikan aktivitasnya. "Udah" Ucap pria itu tersenyum.


"Makasih sayang" Sahut Sabilla berhambur memeluk Farrel antusias. Bibir Farrel tak henti tersenyum. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya pada Sabilla.


Beberapa saat kemudian, Farrel melepas pelukannya. Mereka berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar bisa beristirahat setelahnya.


***


Pagi hari, matahari sudah kembali menampakkan diri. Sabilla terbangun akan silau matahari yang berhasil menembus celah-celah fentilasi kamar.


Perlahan, gadis itu membuka mata. Bibir Sabilla tersenyum saat dirinya memperhatikan Farrel yang masih lelap akan tidurnya.

__ADS_1


Terpesona, kagum. Perlahan, gadis itu tidak lupa mengecup pipi Farrel sebelum dirinya berlalu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berselang lama, Sabilla keluar dengan piyama yang biasa ia pakai di rumah.


Terlebih dahulu, Sabilla mengucir rambutnya sembari menuruni anak tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Sabilla tampak masih sibuk menghidangkan makanan untuk mereka sarapan di pagi hari. Namun, tiba-tiba gadis itu dikagetkan dengan sepasang tangan yang sudah melingkar di pinggangnya.


Sabilla menghembuskan nafas pelan, tersenyum dengan ekor matanya melirik ke samping. Namun, gadis itu enggan untuk menoleh ke arah belakang. Karena ia juga sudah bisa menebak siapa orang tersebut jika bukan Farrel yang memang punya kebiasaan mengganggu dirinya setiap saat.


Pria itu tak henti bersikap manja pada Sabilla.


"Selamat pagi sayang" Sapa Farrel mengecup pipi dan bibir Sabilla bergantian.


"Selamat Pagi juga sayang" Sabilla menyauti dengan bibir tersenyum.


Farrel segera duduk di meja makan, memeperhatikan istrinya yang saat ini masih sibuk menyiapakan sarapan dari sana.


Farrel menyaksikan Sabilla dengan seksama, pria itu terpesona, kagum dan juga merasa bahagia.


"Makin hari kamu kebapa makin cantik sih sayang" Rayu Farrel.


Sabilla menoleh ke belakang. "Eleh gombal mulu, udah kenyang aku tiap hari" Celetuk Sabilla kembali melanjutkan aktivitas.


"Apa-apa di bilang gombal. Nggak percaya amat sih jadi orang." Celetuk Farrel.


***


Benar, semenjak pria itu wisuda. Ia saat ini bekerja di perusahaan Asep dengan Faris sang kakak. Melenceng memang dari jurusan yang ia ambil semasa kuliah. Tapi mau bagaimana lagi jika itu sudah permintaan Asep. Dan Farrel pun juga tidak keberatan dengan hal itu karena tidak susah bagi Farrel untuk mempelajari semua itu mengingat Papa dan sang kakak sudah ahli di bidang tersebut.


"Sayang" Panggil Farrel yang saat ini berbaring di atas tempa tidur.


"Hmm" Sahut Sabilla masih sibuk menyiapkan pakaian kerja sang suami.


"Sini dulu" Pangil Farrel menarik tangan Sabilla paksa. Hingga gadis itu kini duduk di pangkuannya


"Apaan sih?" Sahut Sabilla lembut.


Farrel mengelus lembut kepala Sabilla.


"Kamu ingat nggak, dulu aku pernah bilang apa?" Tanya Farrel.


"Bilang apa emangnya?" Sabilla kembali bertanya.


"Hmm nggak ingat nih?" Tanya Farrel. Sabilla menggeleng dengan polosnya.

__ADS_1


Farrel mencubit hidung Sabilla. Pria itu mengambil sesuatu dari dalam laci nakas.


"Nih" Farrel memberikan sebuah amplop putih pada Sabilla.


Kening Sabilla tertaut. Gadis itu tampak membolak-balikkan amplop tersebut dengan raut wajah bingung.


"Apaan ini?" Tanya Sabilla dengan kening berkerut.


"Kamu buka aja" Perintah Farrel.


Perlahan Sabilla membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Sabilla membaca, hingga mulut Sabilla terbuka sempurna saat melihat isi amplop tersebut.


"Liburan? Ke Korea? Ini beneran kak Farrel?" Tanya Sabilla antusias dengan tatapan tidak peraya pada Farrel.


"Ya bener lah. Mana mungkin aku boong. Dulu kan aku pernah nanya sama kamu. Kamu mau liburan kemana. Dan aku udah bilang kan, kita akan pergi setelah kamu wisuda."


"Tapi aku kira waktu itu kak Farrel becanda. aUuu maaci tayang" Seru Sabilla dengan suara manja khas dirinya.


"Waktu itu jelas terkesan becanda. Tapi aku nggak pernah main-main sama ucapan aku"


"Iya iya paham-paham aku paham Kak Farrel sayang" Sabilla tak henti menciumi wajah suaminya itu dengan raut wajah sangat bahagia.


"Eh tungguh, dibolehin nggak sama Papa sama kak Farris? Terus kerjaan kak Farrel gimana?" Sabilla bertanya.


Farrel mencubit hidung Sabilla gemas. "Kalo soal itu kamu tenang aja. Biar aku yang urus semuanya" Sahut Farrel sombong.


***


Farrel dan Sabilla sudah berada di teras rumah. Gadis itu tampak merapikan dasi Farrel akan berangkat ke kantor.


"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, dan cepat pulang" Ucap Sabilla.


"Siap cantik" Farrel menghujani wajah istrinya itu dengan banyaknya ciuman sebelum dirinya menaiki mobil untuk berangkat ke kantor pagi itu.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, dan vote ya :)

__ADS_1


Oiya, yang nunggu cerita Aura sabar ya. Pokoknya jangan di unfavoritkan dulu. Oke💕💕


__ADS_2