
Satu jam di perjalanan, Farrel menghentikan mobil miliknya tepat di sebuah pantai dengan laut biru yang begitu indah. Desiran ombak yang begitu berisik serta angin sepoi-sepoi membuat mata Sabilla membulat kaget seketika saat melihat pemandangan yang saat ini ada di depannya. Gadis cantik itu menoleh ke arah Farrel yang masih berada di samping dirinya setelah baru saja memarkirkan mobil.
"Kita ngapain kesini kak?" tanya Sabilla dengan raut wajah yang begitu bingung.
Farrel tersenyum, pria melepas seatbeltnya dan segera keluar dari mobil. Ia berjalan berjalan segera membuka pintu mobil untuk Sabilla. Pria tampan suami Sabilla itu masih enggan untuk menjawab pertanyaan yang sedari tadi di lontarkan oleh Sabilla.
Sabilla berdiri di depan mobil, gadis cantik itu terlihat memperhatikan suasana sekitar. Keindahan alam dengan udara yang segar yang benar-benar ia rasakan. Sabilla terdiam, ia menundukkan pandangannya dengan seketika, entah apa yang ada di dalam fikirannya. Bukankah seharusnya ia bahagia dengan Farrel yang sudah lebih memperhatikan dirinya? Entahlah, hanya Sabilla yang tahu alasannya.
"Ayok" Farrel merangkul pundak Sabilla dari arah belakang, mengajak istri cantiknya itu berjalan menuju bibir pantai. Sabilla hanya diam mengikuti Farrel.
Saat ini, Sabilla sudah berdiri mematung menatap kosong ke arah laut. Raut wajahnya tampak tidak begitu bersemangat saat baru saja sampai di pantai tersebut.
"Ini kan, tempat yang pengen kamu datangi bersama Gilang dulu"
Suara Farrel dari arah belakang yang begitu tiba-tiba membuat Sabilla kaget, gadis itu segera memalingkan pandangannya ke arah belakang, melirik Farrel yang tengah berjalan menuju dirinya dengan dua buah minuman kaleng di tangannya.
Farrel melangkah perlahan hingga saat ini posisi dirinya tepat berdiri hadapan Sabilla, ia memberikan satu minuman kaleng tersebut pada istrinya. Sabilla masih diam menatap Farrel tanpa membuka suara dengan raut wajah dimana banyaknya tanda tanya disana.
"Mungkin aku nggak akan bisa menjadi Gilang, tapi aku akan berusaha mewujudkan semua keinginan kamu yang belum sempat tercapai bersama dia. Sungguh, aku nggak bermaksud untuk mengingatkan kamu akan masa lalu yang begitu pahit untuk kamu ingat. Tapi apa boleh, aku tau apa saja yang udah kamu lalui bersama dia? Hingga takdir mempertemukan kita dan hingga kita bisa seperti sekarang ini?"
__ADS_1
Sabilla menoleh pada Farrel yang saat ini tengah duduk di samping dirinya, pria itu berbicara tanpa menoleh ke arah Sabilla. Farrel berbicara dengan tatapan yang tidak terlepas dari lautan yang begitu luas tersebut.
"Kak Farrel tau darimana dulu aku pengen kesini sama Gilang?"
Farrel mengambil sesuatu dari saku celananya. "Ini" Ia memberikan selembar foto lautan yang saat ini mereka datangi. Foto tersebut juga bertuliskan sesuatu. Bertuliskan "Holiday bersama Gilang" dan tanggal yang tertulis disana adalah tanggal setelah Gilang meninggal. Otomatis, Sabilla belum sempat pergi ke sana bersama Gilang.
Farrel mengetahui bahwa tanggal tersebut adalah tanggal setelah Gilang meninggal karena ia mengetahui hari meninggal Gilang dari Mamanya. Dan pada saat itu, Gilang meninggal di hari kelulusan Sabilla. Tentu saja tidak sulit untuk Farrel mencari tahu tanggal angkatan Sabilla lulus tanggal berapa. Dan darisana ia dapat menyimpulakan bahwa Sabilla belum sempat mendatangi tempat tersebut bersama Gilang sebelum Gilang pergi untuk selama-lamanya.
"Dulu, waktu aku kecil, aku bukan seorang gadis pendiam seperti sekarang ini. Aku adalah seorang gadis petakilan yang selalu membuat onar. Aku berbeda dari kak Nabila yang pendiam dan penurut. Aku bahkan sering membuat teman-teman di kelasku menangis, bahkan waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Ayah dan Bunda sampai kewalahan karena ulah aku."
"Hingga suatu ketika, semua itu berubah, aku tidak lagi menemukan diri aku yang dulu saat aku kehilangan Bunda dan kak Nabila saat aku masih duduk di bangku kelas 6 SD.
"Waktu itu adalah hari yang paling membahagiakan buat aku, aku bahagia karena saat itu keluarga aku begitu utuh, aku sering menghabiskan waktu bersama Ayah, Bunda, dan Kak Nabila. Hingga suatu ketika, saat keluarga aku baru aja pulang liburan dari luar kota, mobil kami mengalami kecelakaan. Dan anehnya, pada saat itu aku sama Ayah sama sekali nggak kenapa-kenapa, sementara Kak Nabila dan Bunda meninggal saat itu juga"
"Sungguh, aku benar-benar tidak percaya, kebahagiaan yang aku rasakan selama ini, hilang dan lenyap begitu saja. Aku menyesal, udah membuat hidup Bunda susah karena aku selama ini. Aku nggak pernah nurut apa kata Bunda. Tapi penyesalan memang tidak ada gunanya. Sejak saat itu, hidup aku mulai berubah, aku hanya tinggal bersama Ayah dan juga Bi Mirna tanpa rasa kebahagiaan. Tidak ada lagi sosok malaikat cantik yang selalu aku lihat setiap pagi. Tidak ada lagi sosok perempuan yang selalu dibilang kembaran aku. Tidak ada lagi senyuman sosok ibu yang aku sayangi"
"Sejak saat itu aku berubah menjadi seorang gadis pendiam, tidak banyak bicara. Rasanya hidup aku benar-benar udah nggak ada gunanya lagi tanpa Bunda. Tapi waktu itu aku masih sadar, bahwa aku masih punya Ayah."
"Hingga aku masuk ke Sekolah Menengah Pertama, disana aku benar-benar nggak punya teman, bukan karena mereka nggak mau berteman dengan aku, tapi aku yang nggak mau berteman dengan mereka. Karena setiap kali aku memiliki teman perempuan, bayangan kak Nabila sangat sulit untuk aku lupakan. Aku lebih memilih sendiri, tanpa teman, aku hanya selalu ditemani oleh Bi Mirna di rumah dan nggak pernah pergi kemana mana lagi, karena aku masih trauma dengan kejadian mengerikan itu."
__ADS_1
"Tiga tahun aku sekolah di sana menyendiri, tanpa teman, kesepian. Aku hanya belajar, belajar dan terus belajar. Hingga waktu terus berjalan, aku lulus dari sana, dan masuk ke Sekolah Menengah Atas. Disanalah tempat pertama kali aku bertemu Gilang."
"Pada saat itu, kejadiannya sama persis saat pertama kali aku ospek, saat aku dibentak oleh kak Diara. Pada saat aku Mos di SMA, aku benar-benar nggak ada niat untuk sekolah segitu frustasinya hidup aku, hingga suatu ketika, aku dibentak oleh salah seorang senior, bukan karena aku bengong, tapi karena dia marah, lelaki yang sangat ia cintai di sekolah itu menyatakan cintanya pada aku. Padahal aku sama sekali nggak pernah tertarik dengan hal itu."
"Aku sempat dipermalukan di lapangan basket sekolah, hingga Gilang yang pada saat itu sama-sama berstatus siswa baru dengan aku, dia datang menolong aku. Awalnya aku nggak respec sama dia. Tapi semenjak saat itu, Gilang selalu berusaha mendekati aku, hingga aku satu kelas sama Gilang."
"Meskipun aku selalu bersikap dingin dan tidak pernah melayani candaan Gilang, tapi Gilang nggak pernah menyerah untuk meluluhkan hati aku. Gilang adalah satu-satunya orang yang paham dengan apa yang aku rasakan. Gilang adalah satu-satunya orang yang mengerti dan paham bahwa aku sedang tidak baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Upss pending dulu ya. Jangan lupa like, komen, love dan vote ya. Terimakasih😍