
"Iya! Teman gue! Udah sana-sana ah. Kali ini jangan mimipi lo, dia udah punya laki!" Seru Aura yang kemudian menarik paksa Hafis agar minggir dari hadapan mereka.
Aura jelas sudah tau bagaimana sifat kakak satu-satunya itu dan dirinya juga sudah tahu apa yang akan diinginkan Hafis. Hafis yang memang memiliki wajah tampan dan mempesona tersebut, selalu saja mengganggu siapa saja teman Aura yang datang ke rumahnya. Ia bahkan sering membuat para gadis-gadis yang tidak lain adalah teman adiknya itu baper pada dirinya.
"Boong banget lo pake bilang udah punya laki segala. Orang masih muda kaya begitu!" Sorak Hafis.
"Yaelah kagak percaya amat lu bambang sama gue" Aura memutar bola matanya malas, bibirnya tak henti menggerutu namun dengan langkah kaki yang masih melangkah membawa Sabilla menuju kamarnya.
"Gue bener-bener sahabat yang nggak baik banget ya Wa buat lo" Sabilla membuka suara saat diirnya sudah duduk di tepi ranjang milik Aura.
"Kenapa Bil?"
"Iya, selama ini lo sering banget ke rumah gue, bahkan lo juga sering nemenin gue. Lo tau semua tentang gue. Sedangkan gue? Ke rumah lo aja baru kali ini. Tau kalo lo punya kakak laki-laki juga baru kali ini. Bukankah orang yang bersahabat biasanya udah saling tau satu sama lain? Gue merasa jadi sahabat yang buruk aja deh buat lo." Sabilla tersenyum getir.
Aura yang semula berdiri setelah baru saja selesai mengganti pakaiannnya itu, segera mendudukkan tubuhnya di samping Sabilla. Aura memegang pundak sahabatnya itu dengan bibir tersenyum.
"Bil, lo tetap sahabat terbaik gue kok. Dari awal kita ketemu lo memang yang terbaik. Lo nggak salah kok Bil, gue ngerti keadaan lo. Gue ngerti posisi lo kenapa dulu lo nggak pernah mau gue ajakin kesini. Gue memang udah tau semua tentang lo. Dan gue tau, lo bukannya nggak mau tau tentang gue, tapi gue paham kok bahwa untuk mikirin diri sendiri aja lo nggak bisa apalagi mikirin orang lain. Jadi lo nggak perlu merasa bersalah atau apapun itu. Karena sampai kapanpun lo akan tetap jadi sahabat terbaik gue. Gue juga belajar banyak dari lo Bil, bahawa tidak selamanya orang yang kita sayang akan selalu ada bersama kita. Dari situ gue bisa belajar menghargai waktu sebelum merasa kehilangan"
"Tapi dibalik semua itu, gue benar-benar merasa bahagia banget karena perlahan lo udah mulai bisa mengikhlaskan semuanya dan memulai hidup yang baru. Gue harap, ini semua hanya kesalah pahaman antara lo dan keluarga suami lo. Dan semoga lo bisa hidup bahagia lagi bersama kak Farrel. Apapun masalah yang lo hadapi, gue akan selalu ada biat lo Bil, gue nggak akan ninggalin lo. Gue cuma berharap lo bisa bahagia dan nggak akan bersedih lagi.
"Makasi ya Wa, makasih lo udah baik banget sama gue selama ini, udah jagain gue, padahal lo baru aja mengenal gue."
__ADS_1
"Itu semua karena gue bisa lihat dari mata lo Bil, kalau lo benar-benar orang yanh baik, dan gue yakin lo akan jadi sahabat yang baik juga buat gue. Gue juga percaya Bil, bahwa kita dipertemukan bukan hanya karena sebuah kebetulan. Karena gue percaya bahwa jalan hidup kita sudah digariskan oleh Allah, dan Allah juga pasti sudah mengatur semuanya, menitipkan lo pada gue juga. Bukan hanya pada kak Farrel, tante Yasmin, Kak Faris, dan Om Asep."
"Lo harus tetap kuat seperti ini ya Bil, lo harus tetap kuat dan semangat dalam menghadapi masalah apapun. Gue nggak mau lo seperti dulu, selalu terpuruk dalam kesedihan. Dan lo nggak boleh lagi memendam masalah lo sendiri, apapun itu lo harus cerita sama gue. Gue sayang banget sama lo Bil. Lo udah gue anggap seperti saudara gue sendiri."
Aura memeluk tubuh Sabill dengan erat, Sabilla tentu saja membalas pelukan sahabatnya yang penuh dengan kasih sayang itu. Batin Sabilla tak henti-henti mengucapkan rasa syukur dan terimakasih pada Allah karena sudah mengirimkan sahabat terbaik seperti Aura yang selalu memahami dirinya dan selalu melakukan yang terbaik untuk dirinya.
.
.
.
***
Jika saja boleh berkata jujur, Sabilla sesungguhnya merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Pasalanya, gadis itu baru saja merasakan kebahagiaan. Namun, sekarang Sabilla justru kembali merasakan kesakitan yang dulu pernah ia rasakan.
Sabilla juga tidak habis fikir dan tidak menyangka bahwa Yasmin, sang ibu mertua yang sangat menyayangi dirinya itu juga ikut berubah sikap yang Sabilla sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Sabilla merasa semenjak kedatangan Tasya di rumah tersebut, ia menjadi terasingkan. Sabilla merasa kalau semua orang yanga ada di sana lebih memperhatikan Tasya daripada dirinya. Terkadang Sabilla hanya bisa sadar diri, bahwa dirinya memang bukanlah siapa-siapa disana. Ia hanyalah seorang istri yang menikah hanya karena sebuah perjodohan.
Berkali-kali Sabilla mengecek ponsel miliknya, berharap ada notif pesan masuk dari orang rumah yang membalas pesannya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan. Sebenarnya Sabilla tidak kabur dari rumah, Ia justru memberi kabar pada semua orang yang ada di rumah suaminya itu bahwa dirinya untuk sementara waktu akan menginap di rumah Aura. Tapi tidak satupun dari mereka yang membalas pesan Sabilla, mereka bahkan tidak khawatir sedikitpun dengan keadaan gadis tersebut. Itulah yang membuat Sabilla benar-benar merasa sedih dan kecewa yang teramat dalam.
__ADS_1
Entah mengapa, Sabilla seketika kembali mengingat Ayah, Bunda, Kakaknya, dan Gilang. Sabilla sejenak berfikir, bahwa hanya mereka yang tidak pernah berubah dan selalu memperlakukan Sabilla dengan baik.
Gadis itu menundukkan pandangannya di atas lutut dengan ponsel yang masih setia ia genggam, mengharapkan hal yang belum tentu ia dapatkan.
Aura baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Drrttt
Drrttt
Ponsel Aura yang terletak di atas nakas berbunyi, gadis tersebut segera meraih ponsel miliknya itu dan kemudian mengangkat panggilan dari seseorang. Tak berapa lama setelah berbincang lewat telfon, Aura kembali menutup panggilan tersebut dan kembali menaruh ponselnya ke dalam saku piyama yang saat ini ia kenakan.
"Bil, lo masih mikirin kak Farrel ya?" Tanya Aura yang saat ini sudah ikut mendudukkan tubuhnya di samping Sabilla.
Sabilla menegakkan kepalanya, ia menata kosong ke sembarang arah.
"Gue nggak tau apa salah gue Wa. Kenapa mereka mendiami gue seperti ini? Bahkan satu orangpun tidak ada yang khawatir dengan keadaan gue termasuk kak Farrel. Kalau mereka marah, seharusnya marah aja, biacara langsung dan katakan salah gue apa. Bukan begini caranya, mereka mendiami tanpa gue sendiri nggak tau salah gue apa"
.
.
__ADS_1
.
.