My Poor Wife

My Poor Wife
Jadi Gini


__ADS_3

Jadi gini lo kak Sabilku sayang, cantik, manis, baik hati dan tidak sombong. Mama Yasmin ini sebenarnya bukan teman Papa aku, tapi lebih tepatnya kakak kandung dari Mama aku. Aku panggil Mama, karena udah terbiasa aja dari kecil." Tutur Tasya menjelaskan pada Sabilla yang saat ini berada di depan dirinya.


"Yaiyalah, lo kan dari dulu nggak mau kalah sama gue! Sampe Mama gue jadi Mama lo juga!" Cibir Farrel pada Tasya.


"Ck! Apaan sih lo beruang kutub? Bisa diam nggak sih?" Kesal Tasya melototkan mata bulatnya pada Farrel.


Sabilla menatap Tasya masih dengan tatapan bingung. "Apa kamu juga bagian..."


"Bener banget Kak Sabil" Tasya memotong ucapan Sabilla. "Bener, aku juga bagian dari rencana si beruang kutub ini. Jadi kemaren itu papa aku ngasih kabar ke Mama Yasmin kalau aku diterima di Universitas Trisakti. Dan Papa aku mengabari Mama Yasmin sebernarnya buat bilang kalau selama kuliah aku akan tinggal disini sama Mama Yasmin. Tapi tiba-tiba Mama Yasmin suruh aku akting buat bikin kak Sabil cemburu ketika udah nyampe disini. Katanya atas permintaan nih si beruang kutub"


Tasya mencoba menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari ini. Gadis cantik berkulit putih dengan rambut lurus sebahu tersebut sesekali menoleh pada Farrel sembari berbicara pada Sabilla.


"Terus kamu mau?" Tanya Sabilla mengerutkan keningnya menatap Tasya.


"Ya mau lah! Malahan aku semangat banget kali kak. Hitung-hitung latihan untuk jadi artis. Gimana? keren nggak akting aku? Kakak cemburu kan?" Goda Tasya memegang dagu Sabilla seraya mengedipkan satu matanya hingga membuat Sabilla sedikit heran melihat tingkah Tasya yang ia rasa sebelas duabelas dengan tingkah Aura pada saat pertama kali dirinya bertemu sahabatnya itu.


"Eh, asal lo tau ya! Gue udah suka sama kak Farrel dari dulu! Tapi semenjak ada lo, semua hancur berantakan, harapan gue semua udah sirna!" Tasya berdiri dari duduknya. Tangan gadis itu ia letakkan di pinggang. Tasya kembali mempraktekkan bagaimana dirinya memarahi Sabilla beberapa hari yang lalu.


Gadis itu kembali duduk di hadapan Sabilla, ia menaikkan satu alisnya. "Gimana kak? keren nggak, akting aku?" Tanya Tasya pada Sabilla. Sabilla hanya mengangguk dengan raut wajah yang masih bingung. Sementara Yasmin, Asep, Farris, Kevin dan Aura sudah tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah gadis cantik tersebut.


"Hehehe iya iya bagus" Jawab Sabilla cengengesan.


"Mimpi aja lo sono jadi artis uuu" Ledek Farrel. Namun, tidak dihiraukan oleh Tasya.


"Terus kenapa kakak nggak pernah lihat kamu? Jadi kamu nggak akan ngekos seperti yang dibilang Mama Yasmin?" Sabilla bertanya.


"Ohh jadi waktu resepsi pernikahan kakak, aku lagi ujian kenaikan kelas, makannya aku gabisa datang. Tapi Mama papa aku datang kok. Dan soal ngekos, yakali Mama Papa bolehin aku ngekos, itu kan cuma omongan Mama Yasmin buat melancarkan misi aja kak"


"Oo begitu" Sabilla mengangguk.


"Udah-udah sekarang langsung ke intinya aja deh, lo mau minta maaf kan sama Sabil" Lagi dan lagi Farrel tak henti-hentinya mengganggu Tasya.

__ADS_1


ih apaan sih beruang kutup"


"Terus yang waktu di kolam renang kamu pura-pura jatuh juga?" Tanya Sabilla yang masih penasaran.


"Yailah kak Sabil sayang. Waktu itu aku nggak tenggelam kok, orang aku jaga berenang" Balas Tasya dengan songong namun dengan maksud bercanda.


"Jadi-jadi sayang, kesimpulannya semua ini hanyalah sandiwara. Nggak ada yang marah sama kamu, nggak ada yang benci sama kamu. Tapi kita semua sayang sama kamu oke. Baiklah diskusi hari ini kita cukupkan sampai disini, kepada saudari Tasya silahkan kembali ke tempat"


"Ck! Nyebelin banget sih lo! Dikira lagi presentasi pake ditutup segala" Decak Tasya memutar bola matanya malas pada Farrel. Sedangkan pria itu tidak henti tertawa setelah sekian lama tidak menjahili adik sepupunya itu.


"Oiya kak Sabil, sebenarnya kata Mama Yasmin waktu itu juga bakal ada adegan usir-isiran gitu, tapi nggak jadi karena kak Sabil udah pergi sendiri." Tasya masih tidak mau kalah, ia sama sekali tidak memperdulikan Farrel yang selalu mengganggu dirinya. Karena hal itu memang sudah biasa terjadi antara mereka setiap kali bertemu.


"Bener banget Bil, sebenarnya lo juga ikut membantu usaha kita buat siapi kejutan buat lo juga sih. Waktu gue ngajak lo ke pesta teman gue, sebenarnya gue juga pusing mikirin alasan gimana cara ngomong ke lo, gimana cara ngomong dan ngajakin lo kesini biar nggak curiga. Tapi lo nya udah minta kesini duluan, makanya gue senyim-senyum aja tuh di atas mobil. Dan nggak perlu mikir lagi" Aura yang semula diam ikut membuka suara.


"Mamaafin Mama ya syanag, kita ngerjain kamu keterlaluan banget sampe bikin kamu sedih. Untung adegan usir-usiran kata Tasya nya nggak jadi" Yasmin ikut membuka suara.


"Tau tu Mama, padahal aku udah bilang lo sayang, nggak usah se tega itu juga, tapi mama masih ngotot. Kata Mama, Farrel sayang, kita itu udah memulai, jadi nggak boleh berhenti di tengah jalan" Ucap Farrel menirukan gaya bicara Yasmin.


"Bener banget tuh" Ucap Tasya dan Farris serentak. Mereka semua sontak menertawakan Farrel.


"Yaiyalah gue kesepian. Siapa coba yang tega liat istrinya sedih. Apalagi menyaksikan langsung waktu Sabil nangis setelah kita cuekin. Pengen peluk, tapi harus di tahan karena ingat rencana"


"Maafin mama ya, hmm bener sih kata Farrel, Mama yang ngotot banget waktu itu karena udah tanggung tinggal dua hari lagi, kalau kacau kan jadi nggak enak nanti acaranya. Lagian Mama juga tau kalau kamu anak yang baik dan kamu juga aman sama Aura. Ya meskipun nggak bisa dipungkiri juga cara kita ngerjain kamu memang keterlaluan. Maafin mama ya sayang" Ucap Yasmin kemudian berdiri dari duduknya untuk segera memluk Sabilla.


"Nggak papa kok Ma, makasih Mama udah menyayangi aku seperti anak Mama sendiri." Tutur Sabilla dalam pelukan Yasmin.


"Sama-sama sayang" Yasmin mengecup puncak kepala Sabilla sebelum kembali ke tempat semula ia mendudukkan tubuhnya.


"Eh Bil, asal lo tau ya. Tiap hari laki lo ke rumah gue cuma mau liat lo dari jauh, lebay banget nggak sih padahal baru dua hari nggak ketemu"


"Yaelah lo coba aja nanti pisah sama suami lo Wa, kalo nggak kejeng-kejeng lo nahan rindu"

__ADS_1


"Jadi yang gue lihat waktu itu benar mobil kak Farrel?" tanya Sabilla.


"Iya sayang, aku ngikutin kemana kamu pergi." jawab Farrel cengengesan.


"Pantas aja, ternyata firasat aku benar" Lirih Sabilla pelan.


"Itu tandanya cinta kita kuat" Farrel lagi dan lagi membalas ucapan Sabilla sebelum Aura mencoba menjawabnya.


"Uwek jijik banget gue dengarnya" Farris kembali membuka suara setelah merasa bosan menyaksikan drama adik satu-satunya yang sudah mulai alay+lebay mintak ampun tersebut. Sifat Farrel berubah 360 derajat dari saat dirinya sebelum mengenal Sabilla.


"Kalo jijik sok atuh tinggal pergi" Ucap Farrel tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Huaaaaa Mama sama Papa ke kamar dulu deh, capek dari tadi cuma dengerin kalian ribut mulu" Asep berdiri dari duduknya, mengajak Yasmin untuk segera masuk ke dalam kamar meninggalkan para remaja tersebut di ruang tengah.


"Gue juga mau pergi ah, jijik juga lihat anak alay baru jatuh cinta" Timpal Faris yang ikut berdiri dari sana.


"Gue juga!" tambah Tasya. "Oiya kak Sabilku yang cantik nggak usah takut lagi, aku nggak bakal ngambil si beruang kutub ini dari kak Sabil, karena pacar aku udah jelas lebih tampan dari dia "nih" Tasya menyodorkan ponselnya pada Sabilla. "Gimana ?gantengkan? ya jelas ganteng dong apalagi dari sei beruang kutub ini" Gadis itu menjawab pertanyaan dirinya sendiri sembari menatap sinis ke arah Farrel.


"Sekarang kak Sabil akan jadi kakak aku, aku ke kamar dulu ya kakak cantik" mmuach. Tasya mencium pipi Sabilla sebelum dirinya pergi dari sana dan segera menuju ke dalam kamar.


"Ih apaan sih pake cium-cium segala" gerutu Farrel mengelap pipi Sabilla yang baru saja dicium oleh Tasya.


"Bodo!" Tasya mengejek Farrel dengan mengulurkan lidahnya sambil berjalan pergi dari sana.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2