My Poor Wife

My Poor Wife
Nggak Jelas


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


Sabilla tengah mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Karena hari ini, seluruh mahasiswa terkhusus jurusan Fakultas teknik akan mengadakan KBM (Kemah Bakti Mahasiswa).


Setelah selesai mengemasi barang-barangnya, Sabilla menghampiri Farrel yang masih duduk di ruang tengah. Ia sejenak berhenti melanjutkan langkahanya, memperhatikan pria tampat tersebut dari kejauhan. Kemudian, perlahan Sabilla mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Farrel yang sudah tiga hari ini entah kenapa sama sekali tidak menyapa dirinya.


"Kak Farrel, barang-barang kakak udah siap?" Sabilla menggigit bibir bawahnya, takut sebenarnya bertanya pada Farrel, namun ia juga tetap harus mengingtkan suaminya itu. Siapa tahu Farrel lupa saking asyiknya menonoton televisi, karena Farrel adalah panitia dalam acara ini.


Tanpa menghiraukan ucapan Sabilla, Farrel mematikan televisi sbelum dirinya berjalan melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar. Sedangkan Sabilla, menatap kepergian Farrel dengan banyaknya tanda tanya yang ada di fikirannya.


Seperti biasa, pagi hari, Sabilla sudah selesai memasak untuk sarapan pagi. Meskipun sekalipun Farrel belum pernah mencicipi makanannya, Sabilla tidak pernah menyerah. Karena baginya, hal tersebut adalah sudah kewajibannya sebagai seorang istri, tidak peduli suaminya memakan atau tidak!.


Sabilla yang sudah selesai menata makanan di meja makan, mengalihkan pandangannya ke arah tangga karena mendengar suara langkah kaki Farrel. Ia menatap suaminya tersebut, berharap kali ini Farrel akan mencicipi masakannya.


Namun, seperti hari-hari biasanya, Farrel berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah meja makan. Setiap kali Ayah Sabilla tidak ada di rumah, Farrel selalu saja bersikap sewenang-wenang dan seenaknya pada Sabilla.


"Kak Farrel, kakak nggak sarapan dulu?" Sabilla berjalan mengikuti Farrel dari belakang. Setelah sampai di teras rumah, Farrel menoleh ke arah belakang. "Nggak usah!" Jawabnya singkat, kemudian masuk ke dalam mobil tanpa bertanya pada Sabilla, tanpa bertanya gadis itu akan pergi ke kampus dengan siapa.


Menghela nafas pelan, Sabilla menundukkan pandangannya, kecewa? sudah jelas, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Sabilla memperhatikan mobil Farrel yang semakin lama semakin tak terlihat dari jangkauan matanya. Kemudian ia segera masuk ke dalam rumah, duduk di meja makan menatap semua masakan yang sudah ia masak di pagi hari.


"Non, kenapa den Farrel nggak pernah sarapan di rumah sih Non?" tanya Bi Mirna yang saat ini berada di samping Sabilla, menatap iba pada gadis tersebut.


Membuyarkan lamunannya, Sabilla mengusap pipi yang sedikit basah oleh air mata. Ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap Bi Mirna.


"Kayaknya Kak Farrel sibuk banget bik, soalnya dia panitia acara ini. Mending Bibik makan sama aku aja" Ajak Sabilla tersenyum pada Bi Mirna.


Bi Mirna Menatap Sabilla, sebagai seorang ibu, ia tentu sangat tahu bahwa gadis tersebut sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia masih berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya.


Tanpa berfikir panjang, Bi Mirna segera mengikuti perintah Sabilla untuk sarapan bersama gadis cantik yang masih berusia 19 tahun tersebut.


"Enak Non" Seru wanita paruh baya tersebut, memuji makanan Sabilla hingga senyuman kembali terbit di bibir mungilnya.


***


Sabilla baru saja sampai di lapangan basket kampus tempat dimana mahasiswa lainnya dikumpulkan. Ia tentu saja disambut oleh Aura yang sudah dari tadi sampai lebih dulu.


"Bil, lama banget sih lo jalannya!" Aura berjalan mendekati Sabilla dengan raut wajah cemberutnya.

__ADS_1


"Maafin gue wa, tadi gue ada urusan di rumah."


"Urusan? uuuuu sama kak Farrel ya?" Aura tersenyum centil menggoda Sabilla.


"Apaan sih nggak ah!"


"Biasa aja kali Bil, nggak usah malu mah kalo sama gue! Santuy" Aura memgang dagu Sabilla tersenyum centik menggoda sahabatnya itu.


"Apaan si lo nggak jelas!" Geritu Sabilla, kemudian berjalan menuju papangan untuk berbaris meninggalkan Aura sendirian.


"Sabill... Tungguin woi"


***


"Oke adek-adek cepat masuk, duduk di kursi yang udah di tentukan" Ucap para senior bersorak dengan toa pada juniornya yang baru dua bulan menjadi mahasiswa di kampus tersebut.


"Lo duduk di kursi nomor berapa Bil?" Aura mengambil momor lot yang ada di tangan Sabilla dengan paksa. "Bus 3 no... paling belakang?" tanya Aura, Sabilla mengangguk."


"Lo udah tau pasangan lo siapa? cewek apa cowok?"


"Ayok ah, lo kebiasaan banget sih bengong, gue duduk depan lo kok" Aura menarik tangan Sabilla untuk segera berjalan menuju Bus yang telah berbaris di lapangan tersebut.


Di atas Bus, mata Sabilla berputar mencari tempat duduknya, hingga pandangannya terhenti tatkala melihat Farrel tengah duduk di kursi yang seharusnya dirinya duduki.


Aura yang berada di sebelah Sabilla, menatap sahabatnya tersebut, menyenggol tangan Sabilla memberikan kode untuk segera duduk.


"Lo nggak salah liat? gue beneran duduk di situ?" Sabilla melirik kursi dimana Farrel tengah duduk disana.


"Enggak Sabil, lo beneran duduk disitu kok. Lagian kan bagus, sama suami lo! Bisa dong romantis-romantisan!" Aura membuka kembali gulungan lot yang barusan di berikan oleh senior mereka, menyodorkan lot tersebut pada Sabilla sebelum dirinya merayu sahabatnya itu. "Buruan, kalo nggak gue duduk duluan nih"


"Hhmmmm" Sabilla perlahan mendekati Farrel. "Kak, boleh aku lewat?" tanya Sabilla yang jalannya untuk duduk di halangi oleh kaki Farrel.


Farrel tak menghiraukan suara Sabilla, hingga bus berjalan tanpa aba-aba, membuat Sabilla terjatuh tepat di pelukan Farrel. Mata mereka sejenak saling beradu pandang, mereka seolah berbicara dan mengatakan sesuatu dari tatapan mata masing-masing.


"Ekheemmmmmm"


Suara deheman Kevin yang duduk di kursi sebelah Farrel, membuat pasangan suami istri muda itu membuyarkan lamunannya satu sama lain. Tanpa bersuara Farrel melepaskan tangannya yang sebelumnya menahan pundak Sabilla, kemudian ia memberi jalan pada Sabilla untuk masuk dan duduk di sebelah dirinya.

__ADS_1


Hari ini mereka akan berkemah di sebuah desa yang sangat terpencil, dan itu memanglah tempat yang amat sangat jauh dari pusat kota hingga memakan waktu sangat lama dengan kondisi jalanan yang begitu buruk.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, dimana matahari sudah tidak lagi menampakkan diri, yang segera akan digantikan oleh bulan untuk menerangi bumi di malam hari.


Sedari tadi, Sabilla dan Farrel tidak mengeluarkan satu patah katapun. Hal itu benar-benar membuat Sabilla bingung. Ia merasa bahwa sebelumnya tidak ada masalah dengan Farrel. Terakhir kali mereka berbicara adalah pada saat malam hujan deras yang pada malam itu mereka hanya saling adu mulut bukan bertengkar hebat.


Dari siang tadi, Sabilla tak mengalihkan pandangannya dari kaca, memperhatikan setiap inci jalanan yang ia telusuri.


Waktu terus berjalan, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Sabilla yang merasa sangat lelah, sudah terlelap disana, tertidur menjadikan kaca bis sebagai sandarannya.


"Minggir lo, biar gue yang temanin Sabil" Kevin yang sedari tadi memperhatikan keheningan di antara Farrel dan Sabilla, berdiri dari duduknya, mentap Farrel dengan tatapan yang begitu tajam, pria itu tidak segan-segan mengusi Farrel yang pada dasarnya mempunyai ikatan sah dengan Sabilla.


"Mau ngapain lo?" tanya Farrel. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, menatap kembali Kevin yang saat ini sudah berdiri di depannya.


"Mau jagain Sabil lah, mau ngapain lagi! Lo nggak liat daritadi dia kedinginan? Dia istri lo Farrel. Seberapa benci pun lo sama dia lo nggak seharusnya memperlakukan Sabil seenaknya. Dia anak yang baik, dan gue rasa dia jug nggak menyakiti hati lo. Gue bingung, apa yang membuat lo segitu bencinya sama Sabil. Jangan hanya karena Diara membenci dia, lo jadi ikut-ikutan. Ingat, lo laki-laki!"


Farrel sejenak menoleh ke samping, memperhatikan Sabilla yang tengah tertidur di sampingnya seraya melipat kedua tangnnya menahan dinginnya malam itu.


"Tanpa menghuraukan ucapan Kevin, Farrel berdiri dari duduknya, ia segera berpindah duduk di tempat dimana Kevin duduk sebelumnya.


Tanpa memperdulikan Farrel, Kevin segera duduk di sebelah Sabilla, melepaskan jaketnya dan membaluti tubuh gadis cantik itu dengan jaket miliknya. Ia juga tanpa segan menyandarkan kepala Sabilla di bahunya. Tidak peduli meskipun ada Farrel suami gadis tersebut. Toh, Farrel juga tidak akan peduli!.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa likenya ya:)

__ADS_1


__ADS_2