My Poor Wife

My Poor Wife
Ngeselin


__ADS_3

Aku tak pandai berpuisi, aku juga tak pandai merangkai kata mutiara, karena aku hanya bisa bercerita. Selamat membaca, semoga kalian suka💕💕💕


"Apaan sih kak Farrel" Sabilla bangkit dari ranjang berjalan keluar kamar meninggalkan suaminya itu sendirian. Farrel menatap Sabilla yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya. Pria itu tersenyum kecil sebelum kembali fokus pada ponsel yang ada di tangannya.


***


Pagi ini sinar matahari peralahan sudah mulai menerangi bumi. Silau cahaya yang berhasil menerobos celah-celah fentilasi kamar itu, membuat Sabilla terbangun dari tidurnya.


Sabilla segera bangkit dari tidurnya, duduk masih di tempat yang sama sembari mengucek kedua matanya, menggeliat melepaskan penat di tubuhnya.


Sabilla menatap ke arah sofa, dimana tempat itu menjadi tempat tidur Farrel semenjak mereka menikah dan semenjak Farrel tinggal di rumahnya.


Seperti biasa, setelah selesai mencuci muka, Sabilla segera melangkahkan kaki keluar dari kamarnya menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk Farrel, karena Ayah Sabilla entah kenapa bekangan ini sibuk sekali bekerja dan jarang pulang ke rumah.


Meskipun Sabilla tau makanan tersebut belum tentu di makan bahkan belum tentu dicicipi oleh Farrel, namun gadis itu seolah tidak peduli. Yang ia tahu, hal itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


Saat ini Sabilla sedang berada di dapur bersama bi Mirna. Gadis yang bisa dibilang masih remaja itu terlihat begitu serius saat menata makanan yang sudah ia masak sedari tadi di atas meja makan. Hari ini Sabilla memasak semur Ayam kesukaan Farrel. Ia mengetahui hal itu dari Yasmin saat beberapa hari yang lalu saat ia berkunjung ke rumah mertuanya itu.Yasmin sedikit memberitahu apa saja yang disuka dan tidak disuka oleh Farrel.


"Non Sabil, kenapa Non masih aja repot-repot bangun pagi-pagi nyiapin sarapan sih Non? Padahal den Farrel nggak pernah mencicipi makanan yang Non masak sama sekali. Yang ada ujung-ujungnya bibi juga yang ngabisin berdua sama Non"


Bi Mirna yang sedari tadi memperhatikan gadis cantik itu memasak dengan penuh semangat, membuka suara. Ia merasa prihatin pada Sabilla, bagaimana tidak, setiap hari Bi Mirna lah yang menyaksikan bagaimana Farrel selalu mengacuhkan Sabilla.


Setelah selesai menata semuanya, Sabilla menghela nafas lega. Ia memalingkan wajahnya pada Bi Mirna, tersenyum, menatap Bi Mirna yang saat ini berada di depannya.


"Bik, kalo kita mau mendapatkan sesuatu, kita nggak bisa cuma usaha satu kali aja terus nyerah. Kita harus gigih dan terus semangat. Dan pastinya nggak pantang menyerah. Sama dengan hal ini, meskipun sekali, dua kali, tiga kali Farrel nggak mau makan masakan aku, dan kalau setelah itu aku berhenti buat usaha. Ujung-ujungnya nggak akan ada hasilnya kan? Sekuat apapun kita gagal, kita harus tetap usaha dan nggak boleh nyerah. Aku yakin kok Bik, selama aku masih sabar, suatu saat kak Farrel akan mau mencicipi masakan aku."


Mata Bi Mirna terlihat berkaca-kaca. Ia benar-benar merasa Iba pada Sabilla. Bagaimana bisa gadis remaja seperti dia bisa sabar dan tabah dalam menghadapi ujian hidupnya. Ditambah lagi dengan tidak adanya orang tua yang membimbing dan mendampingi di sisinya.


"Loh, kok Bibik nangis?" Sabilla memegang pundak Bi Mirna yang jelas ia lihat cairan bening itu telah menumpuk di mata wanita paruh baya tersebut.


"Nggak Non, bibik cuma berdo'a semoga suatu saat pintu hati den Farrel terbuka dan Non bisa hidup bahagia."


Sabilla kembali tersenyum. Ia memegang tangan Asisten rumah tangga yang memang sudah ia anggap sebagai orang tuanya itu. Karena Bi Mirna sudah bekerja di rumahnya dari sebelum dirinya lahir. Dan Bi Mirna lah yang selama ini membantu sang Bunda jika ada perlu.


"Bik, sekarang aku bahagia kok. Karena aku masih punya bibik yang selalu ada di samping aku." Sabilla memeluk Bi Mirna. "Makasih ya Bik, bibik udah aku anggap sebagai orang tua aku. Makasih bibik selama ini selalu ada buat aku, apalagi semenjak nggak ada Bunda. Hanya bibik yang selalu ada dan menemani aku saat Ayah sibuk dengan pekerjaannya"


Bi Mirna hanya meneteskan air mata membalas pelukan Sabilla tanpa berkata apa-apa. Ia tidak tau lagi harus berkata apa. Sebab, Bi Mirna benar-benar merasa salut pada gadis tersebut.

__ADS_1


"Yaudah Bik, aku mau siap-siap dulu ya. Aku hari ini ada kelas pagi" Sabilla tersenyum memegang pipi Bi Mirna. Kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Saat membuka pintu kamar, Sabilla pandangan Sabilla terutama tertuju pada Farrel yang sudah rapi dengan style jeans berwarna hitam serta dipadukan dengan kaos putih dan kemeja biru muda di luarnya. Pria itu sekarang tengah duduk di atas sofa mendengarkan musik sembari menggoyangkan jari lentiknya di paha menyesuaikan irama musik yang saat ini ia dengar.


Sabilla menutup kembali pintu kamar, melangkahkan kakinya menuju lemari yang berwarna putih tersebut untuk mengambil pakaiannya.


"Kak Farrel ada kuliah pagi juga?" tanya Sabilla sembari memilih baju yang akan ia pakai kuliah hari ini.


Farrel mematikan musiknya. "Cepetan, mulai sekarang lo harus berangkat sama gue!"


Sabilla menoleh ke arah belakang? "Hah?" gadis itu melongo tidak percaya.


"Hah hoh hah hoh mulu, buruan!" Seru Farrel melototkan matanya.


"Kak Farrel mimipi apa sih semalam?" Sabilla bertanya sembari memilih baju dalam lemarinya.


"Mimpi hamilin lo!" Ucap Farrel dengan lantang, hal itu sukses mebuat Sabilla mematung di depan lemari. Ia tak berani sedikitpun menoleh ke arah belakang. Dengan cepat, Sabilla berhambur berlari ke dalam kamar mandi sembari membawa baju yang akan ia pakai kuliah.


Farrel yang memang sengaja menjahili istri polosnya itu, tersenyum kecil melirik Sabilla yang sangat ia tahu bahwa saat ini gadis tersebut tengah malu.


"Polos banget sih" gumam Farrel tersenyum menatap pintu kamar mandi.


Menghembuskan nafas pelan, Sabilla segera duduk di meja rias setelah menaruh kembali handuknya. Ia benar-benar merasa kecewa, karena Sabilla merasa hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Farrel lagi dan lagi meninggalkan dirinya.


Sabilla duduk di depan meja rias menatap pantulan wajahnya yang ia rasa benar-benar menyedihkan. Namun, ia kembali tersenyum mencoba menyemangati diri sendiri.


Saat tengah memolesi sedikit make up di wajahnya, tiba-tiba Sabilla mengingat kata-kata Farrel yang barusan ia sampaikan. Dan lagi hal itu kembali membuat raut wajah Sabilla murung dan kecewa. Mengingat Farrel hanya mempermainkan dirinya.


Setelah selesai berias dengan tidak terlalu menor, dengan langkah tertatih dan tidak bersemangat Sabilla menuruni satu persatu anak tangga dari kamarnya hendak menuju dapur untuk sarapan.


Namun, saat dirinya berada dengan jarak sekitar hanya 5 langkah dari meja makan, langkah Sabilla terhenti saat melihat Farrel tengah duduk di meja di sana, tersenyum pada dirinya.


Sabilla tentu saja tidak percaya. Mulutnya masih terbuka dengan sempurna. Ia menoleh ke arah Bi Mirna yang saat ini tengah berdiri di samping Farrel. Bi Mirna tersenyum, menganggukkan kepalanya pada Sabilla.


Dengan bingung, Sabilla melangkah perlahan, kemudian ia duduk di kursi kosong yang ada di depan Farrel. Sabilla kembali menolej ke arah Bi Mirna "Duduk disini bik" Sabilla memegang satu kursi yang ada di sebelahnya menyuruh Bi Mirna untuk duduk di sana. Namun, wanita paruh baya tersebut justru menolaknya.


"Nggak usah Non, bibik udah kenyang, bibik ke taman belakang dulu ya Non" Bi Mirna tersenyum kemudian pergi meninggalkan Farrel dan Sabilla berdua di meja makan.

__ADS_1


Setelah Bi Mirna tak terlibat lagi, Sabilla kembali memalingkan pandangannya pada Farrel yang saat ini berada di depannya.


"Kak Farrel mimpi apaan semalaman?" petanyaan yang sama kembali Sabilla lontarkan.


"Ck! Kan tadi udah gue bilang, mimpi..."


"Iya iya iya aku tau aku tau" Sabilla memotong pembicaraan Farrel yang membuat dirinya benar-benar merasa malu. Sedangkan Farrel, kembali tersenyum kecil, melirik Sabilla dengan pipinya yang sudah merah merona.


"Lo make itu yang merah-merah di pipi kebanyakan ya?" Farrel bertanya sembari memperhatikan pipi Sabilla.


"Hah? maksud kakak blush on? Nggak kok!" Sabilla mengerutkan keningnya sembari memegangi kedua pipinya. Ia mengingat bahwa rasanya ia tidak menggunakan blush on dengan tebal dan hanya ala kadarnya saja.


"Lah, itu kenapa pipi lo merah banget?" Farrel bertanya seolah tanpa dosa. Padahal dirinya hanya sengaja menggoda Sabilla.


"Masak iya sih?" Sabilla hendak berdiri bermaksud untuk mengambil kaca, namun Farrel dengan cepat memegang tangannya yang ada di atas meja menghentikan langkahanya hingga membuat Sabilla diam sesaat, menatap Farrel dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


"Nggak ada kok, gue becanda" Seru Farrel cengengesan.


"Ck! Kenapa kakak sekarang jadi ngeselin sih? Celetuk Sabilla cemberut.


"Lah terus mau lo gue gimana? galak salah, nyebelin salah, terus mau lo gue harus apa?"


"Hmmmm" Sabilla berfikir sejenak.


"Mau anak?" goda Farrel lagi dan lagi. Hingga membuat mata Sabilla membulat menatap Farrel.


"Dari tadi ucapannya itu mulu ih" Sabilla melotot tajam ke arah Farrel. Hingga kepolosan dirinya yang biasa takut pada Farrel hilang seketika. Farrel tertawa terbahak-bahak hingga membuat Sabilla berfikir sejenak dengan pandangan masih tertuju pada Farrel. Sungguh, ini pertama kalinya Sabilla melihat Farrel tertawa seperti saat ini pada dirinya. Karena biasanya, pria itu hanya selalu menampilkan tampang dingin dan terkadang kasarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan kalau bersedia di share juga ya. Terimakasih yang masih bersedia menunggu cerita aku ini. Sayang kalian semua🥰🥰😍


__ADS_2