My Poor Wife

My Poor Wife
Terimakasih Sabil


__ADS_3

"Kak Farrel tau Gilang darimana?" Tanya Sabilla bingung, menatap Farrel dengan raut wajah yang begitu heran.


"Hmmm aku udah tau semuanya dari Mama. Maafin aku waktu itu aku marah-marah sama kamu. Aku nggak tau kalau mantan yang kamu maksud itu udah nggak ada"


Farrel berbicara dengan suara yang begitu berat. Pria itu benar-benar menyesal dengan apa yang telah ia perbuat pada Sabilla selama ini.


Sabilla terdiam, mencerna kata-kata Farrel. Seketika, ia mengingat sosok Gilang, laki-laki yang selalu ada dan tidak pernah sedikitpun memperlakukan dirinya dengan buruk dari pertama kali mereka kenal.


"Sabil, kamu kenapa?" tanya Farrel melambainan tangannya membuyarkan lamunan Sabilla.


Sabilla tersadar, gadis itu menatap lekat mata Farrel yang saat ini berada di samping dirinya. Ia melamun seolah memikirkan sesuatu.


"Sabil, kamu kenapa sih?" tanya Farrel bingung. Pria itu mengerutkan keningnya dengan tatapan yang masih tertuju pada Sabilla.


"Hmmm nggak papa kok kak" Sabilla tersenyum kecil sebelum kembali menunduk.


"Apa kamu mau?"ย  Farrel mengulangi pertanyaannya yang sebelumnya sudah ia jelaskan dengan panjang lebar. Sementara Sabilla, gadis itu kembali menatap Farrel dengan tatapan ragu. Ia menatap lekat mata Farrel, fikirannya dihujani dengan banyaknya tanda tanya. Tanda tanya apakah Farrel seriusย  dengan ucapannya.


"Hmm, kak Farrel serius dengan apa yang kakak bilang barusan?" Tanya Sabilla dengan sedikit gugup. Karena sungguh, hati kecilnya sebenarnya tidak benar-benar percaya jika mengingat bagaimana sikap kasar, songong, dan acuh Farrel selama ini.


Farrel menatap Sabilla dengan tatapan yang tidak dapat diartikan, pria itu kemdian menggenggam kedua tangan Sabilla.


"Aku serius Sabil, dan aku nggak pernah boong. Aku tau, nggak semudah itu kamu memaafkan segala sikap aku selama ini, tapi aku hanya bisa memohon pada kamu, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya"


Farrel berbicara dengan penuh harap. Pria itu semakin mengeratkan genggaman tangannya seolah tidak ingin dilepaskan dari Sabilla. Matanya tak teralih menatap lekat mata Sabilla.


"Tapi aku takut kak, kak Diara pasti bakal makin marah sama aku. Aku udah nggak kuat diperlakukan sepeti itu kak." Ucap Sabilla dengan nada suara yang sedikit berat. Gadis tersebut menundukkan pandangannya bersedih.


Farrel memegang kedua pipi Sabilla, menatap lekat mata istrinya tersebut. "Kamu percaya sama aku, aku nggak akan biarin siapapun menyakiti kamu bahkan Diara sekalipun. Aku akan menjaga kamu, dan aku akan selalu ada di samping kamu. Jadi aku mohon Sabil, beri aku kesempatan. Karena sejak aku bertemu sama kamu, hidup aku benar-benar berubah."

__ADS_1


Sabilla hanya diam tak bergeming, gadis itu hanya menatap Farrel tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sebenarnya ia juga melihat ketulusan dari raut wajah dan tatapan Farrel. Namun entah apa yang membuat dirinya masih terlihat ragu.


"Bil" Farrel sedikit menggoyangkan tangan Sabilla. Menunggu jawaban dari istrinya tersebut. Sementara Sabilla, gadis itu hanya mengangguk tanpa mengelurkan suara dengan raut wajah datarnya. Namun, tetap saja hal tersebut membuat senyuman merekah dengan sempurna dari raut wajah Farrel.


Putra kedua dari Yasmin dan Asep itu terlihat senang dan bahagia bukan main. Tanpa segan, pria itu berhambur memeluk Sabilla yang saat ini berada di depan dirinya. Kata terimakasih pun tak berhenti keluar dari bibir Farrel.


"Makasi Sabil, makasih" Farrel memegang kedua pipi Sabilla dengan senyum bahagia jelas terukir di wajahnya. Hingga cup. Satu kecupan melayang di kening Sabilla. Hal itu sontak membuat Sabilla kaget, gadis itu membulatkan matanya tidak percaya.


Pipi Sabilla berubah menjadi merah merona dengan seketika. Hal itu justru terlihat jelas oleh Farrel. Pria itu justru semakin merasa gemas melihat raut wajah malu dari istrinya itu.


"Boleh kan? udah halal, dulu juga udah..."


"Apaan sih Kak Farrel" Sabilla bangkit dari duduknya, menghentikan ucapan Farrel yang jelas ia tau maksudnya kemana. Mengingat saat Farrel dulu tidak sengaja mencium bibirnya. Hal itu benar-benar membuat Sabilla malu bukan main. Gadis itu segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur kembali di pagi menjelang siang tersebut. Sedangkan Farrel, pria itu tak hentinya tersenyum kecil melirik Sabilla.


***


Aura baru saja kembali dari rumah orang tuanya. Gadis cantik tersebut segera berlari manaiki anak tangga menuju kamar Sabilla. Tanpa aba-aba, Aura dengan begitu semangat membuka pintu kamar begitu saja. Hingga "Upsss" Aura membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri, gadis tersebut cengengesan saat Farrel dan Sabilla menoleh ke arahnya secara bersamaan.


.


.


.


***


"Ma, besok pindahin barang-barang aku ke rumah Sabil ya Ma" Pinta Farrel yang sontak membuat semua yang ada di meja makan rumah Asep dan Yasmin itu kaget. Disana juga ada Sabilla, Aura dan Kevin. Karena Yasmin sebelumnya sengaja mengajak menantu dan temannya itu untuk makan malam dirumahnya. Berhubung Sabilla dan Farrel sudah baikan, jadi gadis tersebut tentu saja menerima tawaran mertuanya.


Meskipun Yasmin belum tau tentang hubungan Sabilla dan Farrel, namun ibu dua anak tersebut justru merasa sangat girang dan bahagia ketika mengetahui bahwa menantunya itu menerima ajakan dirinya. Padahal, semenjak Ayah Sabilla meninggal, Yasmin berkali-kali mengajak Sabilla ke rumahnya, namun gadis itu selalu saja menolak dengan alasan tidak ingin bertemu Farrel.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Yasmin dan Faris bersamaan. Ibu dan anak itu menoleh pada Sabilla secara bersamaan. Sedangkan Aura, Kevin, dan juga Asep yang juga terkejut hanya memasang wajah datar sembari menoleh ke arah Sabilla dan Farrel karena bingung.


"Kenapa Ma? barang-barang aku kan masih ada di rumah baru. Pindahinnya ke rumah Sabil aja, kita tinggal disana, bukan disini." Titah Farrel dengan begitu santainya sembari melahap makanannya.


Sedangkan empat orang lainnya itu, masih bingung dengan apa yang diucapkan Farrel, pasalnya yang mereka tau Sabilla tidak akan pernah mengizinkan laki-laki itu untuk kembali ke rumahnya.


Yasmin kembali menoleh ke arah Sabilla. Gadis itu hanya menunduk, entah takut, atau malu. Raut wajahnya sungguh tidak bisa di jelaskan.


"Sabil, kamu nggak papa kalo kak Farrel tinggal di rumah kamu?" tanya Yasmin dengan sedikit ragu masih menatap Sabilla.


Sabilla kembali menoleh ke arah Yasmin dan juga Asep. "Hm iya Ma, nggak papa" Jawabnya singakat namun tampak gugup. Hal tersebut sontak membuat senyum bahagia terukir dari raut wajah mereka yang ada di sana, namun tidak dengan Kevin. Pria itu hanya memasang raut wajah datarnya, melirik ke arah Farrel dengan tatapan yang begitu tajam. Namun, Farrel justru memalingkan pandangannya seolah tidak tahu apa-apa.


Yasmin yang merasa begitu bahagia langsung berhambur memeluk Sabilla. "Akhirnya kamu bisa maafin anak Mama" Ucap Yasmin di sela pelukannya. Sabilla membalas pelukan ibu mertuanya itu dengan tersenyum bahagia.


Aura yang semula ikut bahagia, saat ini tiba-tiba saja memasang ekspresi wajah datarnya.


"Lo kenapa kayak orang nggak suka gitu Wa?" tanya Faris yang memang sudah lebih kenal dengan Aura semenjak dirinya selalu menemani Sabilla.


Aura melemas. "Kalo kak Farrel kembali tinggal di rumah Sabil, berarti gue nggak bisa lagi dong nemenin lo Bil" Kata Aura dengan raut wajah sedih dan tidak bersemangat.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku sengaja up untuk mengucapkan rasa terimakasih aku pada kalian semua, karena karya ini masuk ranking karya baru no 7. Dan meskipun aku tau bakalan turun juga sih.nanti rankingnya, tapi semoga aja enggak ya. Maknnya jangan lupa bantu aku dengan cara like, komen, dan vote ya. Terimakasih :)


Nanti bakal banyak lagi kejutan-kejutan tak terduga dalam hidup Sabilla. Tungguin terus ya. Salam sayang dari aku untuk kalian yang masih sempat dan bersedia membaca karya receh ku ini๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2