
Farrel dan Sabilla baru saja sampai di rumah mewah minimalis milik kedua orang tuanya itu. Farrel terlebih dahulu memarkirkan mobil di garasi. Setelah itu, pasangan suami istri muda tersebut berjalan dengan mesra bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Di sana juga ada beberapa asisten rumah tangga yang menyambut hangat kedatangan Farrel dan juga Sabilla. Mereka tak henti-hentinya melebarkan senyuman pada putra dan menantu dari majikannya itu.
"Selamat malam Mama sayang" Farrel bersorak dari kejauhan saat melihat sang ibu yang telah melahirkan dirinya itu baru saja selesai menata makanan dengan rapi di meja makan yang sudah disediakan di taman belakang rumahnya"
"Hai selamat datang sayang" Yasmin dengan histeris bersorak merentangkan tangannya berjalan menuju Farrel dan Sabilla. Namun, yang dipeluk oleh ibu dari 2 anak itu adalah menantunya Sabilla, bukan Farrel yang jelas-jelas telah menyapa dirinya terlebih dulu dan juga sudah pasti lebih dulu merentangkan tangannya pada sang Mama.
"Haii Ma" Sabilla membalas pelukan ibu mertua yang teramat baik di dunia itu. Gadis itu tersenyum dengan bahagia.
"Duh cantik banget sih anak Mama" Puji Yasmin tersenyum melirik penampilan Sabilla dengan menggunakan dress sederhana yang berwarna peach dengan gaya rambut yang dikucik kuda setengah di belakang dengan pelintiran, serta make up yang begitu natural dan tidak terlalu menor. Namun terlihat begitu mewah dan juga anggun serta indah di pandang mata.
Sabilla tersenyum. "Mama bisa aja" Balasnya malu.
Sementara Farrel, pria yang merasa diabaikan oleh ibunya itu hanya diam dengan raut wajah bingung, tangannya masih terentang menantikan pukan sang Mama. Namun, dikarenakan ibu yang sudah melahirkan dirinya itu lebih tertarik pada gadis yang sudah menjadi istrinya, malah tidak peka dengan putra keduanya. Hal itu sontak membuat Faris dan Asep yang juga berada di sana tertawa lepas meledek Farrel yang diabaikan oleh Yasmin.
"Kasian banget dikacangin" Ledek Faris dan Asep serentak menertawakan Farrel.
Dengan begitu kesal, Farrel menarik tangan Sabilla dengan cepat dari Yasmin, hal itu sontak membuat ibu dua anak itu kaget bukan main.
"Udah ah Mama nggak usah dekat-dekat Sabil, Sabil itu milik aku! Milik Farrel Ananda Putra seorang! Jadi Mama nggak boleh dekat-dekat Sabil" Tegas Farrel merengkuh pinggang Sabilla.
Yasmin tentu saja terpelongo bingung. "Kenapa sih?" Tanya ibu yang tidak peka dengan kemarahan putranya itu.
"Eleh, sekarang aja bucin banget lo, cepat banget hilang ingatan dengan apa yang udah lo lakuin sama Sabil dulu. Untung Sabil belum sempat gue embat, kalo nggak udah jadi milik gue tuh bini lo sekarang" Kata Faris dengan rasa tidak bersalah sedikitpun.
"Tau tuh, dulu aja ogah di jodoh-jodohin sampe-sampe nyakitin hati anak orang! Sekarang aja lebaynya minta ampun." Timpal Asep menambahi.
__ADS_1
Farrel dengan cepat menutup telingan Sabilla, pria dengan penampilan kaos putih di dalam dan dilapisi dengan kemeja polos peach diluarnya agar terlihat serasi dengan Sabilla serta celana jeans hitam sebagai pasangannya itu, saat ini tengah berdiri di depan Sabilla, menutup telingan istinya tersebut agar Sabilla tidak mendengar ocehan-ocehan dari Papa dan juga kakaknya. Namun, dibalik semua itu tetap saja Sabilla mendengarnya, gadis itu hanya tersenyum merasakan keharmonisan keluarga suaminya.
"Nggak dengar kan? Kamu nggak dengar omongan mereka kan?" Tanya Farrel dengan tangan yang masih berusaha menutup telinga Sabilla.
Sabilla tersenyum. "Masih dengar, gimana dong?" Jawab Sabilla dengan manja.
Farrel menghela nafas pelan, melepaskan perlahan tangannya dari telinga Sabilla. Raut wajahnya berubah murung seketika.
"Mulai deh drama, jangan mau Sabil dibohongin sama wajah polos tampa dosa dia!" Sorak Faris pada Sabilla.
"Apaan sih ikut campur terus deh urusan orang!" Celetuk Farrel menatap tajam kakak satu-satunya itu.
"Dasar nggak tau terimakasih banget lo dek, kalo bukan karena gue belum tentu juga Sabil masih jadi milik lo saat ini, mungkin udah pindah tangan jadi milik gu..."
"Pulang aja yuk sayang" Ucap Farrel memotong pembicaraan Faris yang sungguh menyebalkan bagi dirinya itu. Sementara Asep dan Yasmin hanya menahan tawa melihat tingkah Farrel sedari tadi. Mereka juga merasa sangat bahagia karena Farrel sudah berubah dan sangat menyayangi Sabilla seperti saat sekarang ini.
"Terlambat" Jawab Farrel cemberut.
"Terlambat tapi lo balas juga dek pelukan Mama" Nyinyir Farris.
"Lo dari tadi bisa diam nggak sih kak? lama-lama gue lakban juga tuh mulut lo. Udah kayak kang Maman penjual batagor di kampus gue aja, nyinyir bat tu mulut!" Kesal Farrel menatap tajam ke arah Farris. Namun, Farris justru tertawa sekeras mungkin tanpa memperdulikan kemarahan adik laki-lakinya itu.
***
Yasmin, Farris, Asep, Farrel dan Sabilla sudah duduk di meja makan yang sudah disediakan di taman belakang rumah mereka. Farrel tak henti-hentinya memandang Sabilla yang masih belum banyak bicara di depan semua orang. Ia merasa kecantikan Sabilla tak beda jauh dengan hatinya yang lambut. Terkadang penyesalan sesekali kembali menghantui dirinya, namun Farrel juga berusaha untuk melupakan dan menembus semua itu. Ia tidak ingin lagi melihat istrinya sendirian, kesepian, apalagi memendam apa yang ia rasa sendiri lagi.
__ADS_1
"Oiya, sebenarnya tujuan Papa sama Mama ngumpulin kalian gini, karena Mama mau menyampaikan bahwa kita akan kedatangan tamu spesial besok" Yasmin membuka suara di sela makanannya.
"Tamu? siapa?" Tanya Farrel.
"Mulai besok lusa, anak Om Dandi teman kecil kalian dulu akan tinggal untuk sementara waktu di rumah kita. Jadi, karena dia nggak punya teman di rumah, Mama mau kamu sama Sabil untuk sementara waktu juga pindah ke rumah, biar Tasya ada temannya.
"Hmm Tasya siapa Ma?" tanya Sabilla dengan sedikit gugup.
"Tasya itu anak teman Mama dan Papa sayang. Dia juga dulu teman kecil Kak Farrel dan Kak Farris. Jadi Tasya tahun ini baru lulus SMA, dan dia rencananya mau kuliah di Universitas yang sama sama kalian. Jadi, sebelum mengikuti tes, Papa dia mintak tolong sama Mama untuk jagain Tasya sementara waktu. Karena kalau untuk nyari kosan sekarang, Om Dandi belum bisa melepaskan Tasya gitu aja"
"Oo gitu ya Ma" Jawab Sabilla dengan suara yang begitu pelan.
"Jadi gimana? kalian mau kan? tinggal dirumah untuk sementara waktu? biar kamu juga ada temannya Sabil, kan seru" Imbuh Yasmin lagi.
Farrel dan Sabilla menoleh satu sama lain. Mereka seolah berbicara lewat tatapan mata.
"Hmm iya Ma" Jawab Sabilla, sementara Farrel hanya diam tanpa mengeluarkan suara.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.