My Poor Wife

My Poor Wife
Pulau


__ADS_3

Sabilla baru saja sampai di rumah. Gadis itu segera turun dari mobil setelah Farrel memarkirkan mobil mewah miliknya itu di garasi.


Farrel dan Sabilla berjalan beriringan masuk ke dalam rumah mewah peninggalan Hermawan. Mereka sesekali melirik satu sama lain hingga saling melempar senyuman manis masing-masing. Tangan Farrel satu detikpun tidak terlepas dari pinggang Sabilla. Satu detikpun tidak ia lewatkan hanya untuk sekedar bermesraan dengan istrinya itu. Rasanya Farrel sangat bahagia, apalagi jika melihat Sabilla ikut bahagia.


Sabilla duduk di tepi ranjang setelah sampai di dalam kamar mereka. Empat hari sudah gadis itu tinggal di rumah sakit hingga akhirnya ia kembali ke dalam kamar yang sangat ia rindukan.


"Sekarang istirahat ya tuan putri, jangan sampai kecapekan lagi" Ucap Farrel dengan nada mengejek.


"Ck! Apaan sih kak Farrel"


Farrel mengacak rambut istinya itu gemas, mereka tertawa, bercanda karena Farrel selalu saja menggoda Sabilla. Hingga suara ketukan pintu menghantikan aktivitas keduanya. Sabilla dan Farrel menoleh bersamaan, sebelum Farrel melangkahkan kaki untuk membuka pintu kamar tersebut.


Pintu baru saja terbuka. "Hai kak Farrel" Sapa sosok Aura yang sudah terdapat disana dengan girang dari balik pintu.


Farrel hanya diam menatap sahabat istrinya itu dengan raut wajah datar. "Hai Sabil" Sapa Aura dari kejauhan, melambaikan tangan pada Sabilla yang saat ini duduk di pinggir tempat tidur. Farrel menoleh ke arah belakang, menatap Sabilla yang saat ini sudah melebarakan senyuman pada dirinya.


"Ekhem" Nggak disuruh masuk dulu gitu" Sindir Aura berdehem dengan mata melirik Farrel.


"Yaudah tinggal masuk aja sih apa susahnya!" Sahut Farrel dengan raut wajah datar.


Dengan antusias, tanpa berfikir panjang, Aura berlalu masuk ke dalam kamar tersebut, mendekat ke arah Sabilla hingga memeluk sahabatnya itu girang.


"Akhirnya lo pulang juga. Besok udah bisa kuliah dong?" Rayu Aura. "Males gue sendiri mulu di kampus" Sambung gadis itu kemudian.


"Lo yakin di kampus sendiri Wa?" Tanya Sabilla.


Aura mengangguk. "Yakin. Kenapa emang?"


"Terus diantara ribuan orang yang ada disana apa dong? setan?" Sahut Sabilla.


"Yaelah maksud gue bukan begitu maimunah."


"Lah, kan tadi lo sendiri yang bilang"


"Iya, tapi masak lo nggak ngerti juga maksud gue apa?"


"Makluk lah ya, gue masih polos" Sahut Sabilla tertawa.


"Polos pale lu polos" Aura menjitak kepala Sabilla.


Kedua gadis itu tampak berdebat di atas ranjang. Sedangkan Farrel hanya menyaksikan dari sofa yang ada di sana.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, sosok Faris dan Tasya terlihat dari ambang pintu.


"Kak Sabil" sorak Tasya antusias, gadis itu berlari memeluk Sabilla seperti orang yang tidak bertemu beberapa tahun. Padahal mereka baru bertemu kemaren di rumah sakit.


"Tasya" Sahut Sabilla. Gadis itu merentangkan tangannya kemudian memeluk Tasya dengan sangat erat.


Sementara Faris, pria itu ikut mendudukkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Farrel. Kedua kakak beradik itu tampak berbincang-bincang membicaran sesuatu.


***


Pagi hari, Sabilla terbangun dari tidur lelapnya, gadis itu meraskan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Saat pertama kali membuka mata, Sabilla kaget akan suasana yang ia lihat. Sabilla mengucek matanya beberapa kali, hingga benar, gadis itu saat ini sedang berada di dalam mobil tertidur dengan posisi duduk.


Sabilla melirik ke arah sekitar seolah mencari sesuatu, raut wajahnya terlihat datar dengan mulut sedikit terbuka. Hingga sosok Farrel ia dapati tengah berdiri di bibir pantai menghadap ke arah laut.


Sabilla keluar dari mobil dengan raut wajah penuh tanda tanya. Gadis itu terlihat masih bingung kenapa dirinya bisa sampai ada di sana. Hingga pandangan Farrel teralih ke arah belakang saat mendengar suara dari pintu mobil tertutup.


Pria itu tersenyum, sama dengan Sabilla yang juga tersenyum ke arahnya. Mereka berjalan mendekat satu sama lain. Hingga Farrel merangkul pundak istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kak Farrel yang bawa aku kesini?" Tanya Sabilla.


"Yaiyalah, kamur pikir siapa lagi? kak Farris?nggak mungkin kan?"


"Nggak susah untuk aku bawa kamu kesini, orang kamu tidurnya kaya kerbo. Bahkan saat aku ganti baju kamu aja kamu nggak bangun" Sahut Farrel tersenyum.


Mata Sabilla melotot saat mendengar ucapan Farel. Gadis itu kageet, ia segera melirik baju yang saat ini dirinya kenakan. Dan benar, Sabilla baru menyadari bahwa baju yang ia pakai saat ini bukanlah baju semalam.


"Astaga, Kak Farrel gantiin baju aku juga?"


"Biasa aja kali mukanya, orang aku juga udah pernah liat semuanya." Sahut Farrel menggoda Sabilla.


"Ya tapi kalo diam-diam gitu kan aku malu juga" Celetuk Sabilla memanyunkan bibirnya kesal.


"Kenapa nggak bilang aja sih kalo mau bawa aku kesini? Aku kan bisa siap-siap sendiri" Sambung Sabilla kemudian.


"Lah, kalo aku bilang berarti udah nggak surprise lagi dong."


"Ya tapi..."


Farrel merangkul pundak Sabilla, mengecup kening istrinya itu dengan penuh cinta sebelum Sabilla melanjutkan ucapannya.


"Nggak usah malu, aku suami kamu bukan pacar kamu.!"

__ADS_1


"Hmm" Sabilla hanya terdiam tak mampu lagi berkata-kata.


"Malam ini kita nginap disini" Ucap Farrel.


Sabilla menoleh, menatap Farrel dengan mulut terbuka. "Beneran?" Tanya Sabilla antusias, gadis itu mendongkkan kepalanya ke atas menatap Farrel. Raut kebahagiaan jelas terpancar dari sana.


"Kamu mau?" Tanya Farrel.


"Yaiyalah, aku mau banget malahan." Sahut gadis itu tersenyum girang.


"Aku kira kamu bakalan nolak"


"Ya kali aku nolak, waktu aku kecil, waktu Bunda masih ada aku pengen banget malahan ikut teman-teman aku camping-camping gitu. Tapi sama Bunda ga dibolehin meskipun sama Ayah gapapa. Terus semenjak Bunda undah nggak ada, Ayah ngebolehin banget tapi akunya aja yang udah nggak pengen ngapa-ngapain lagi."


Farrel mengelus lembut rambut Sabilla, pria itu menatap istrinya, tersenyum seolah berbicara lewat tatapan mata. Sabilla yang paham akan hal itu, sontak ikut menampilkan senyum manisnya. Sabilla paham apa yang dimaksud oleh Farrel. Bahwa Farrel tidak ingin melihat dirinya bersedih.


"Tapi kak Farrel emang bawa alat-alatnya apa?" Tanya Sabilla.


"Ya bawa lah. Aku udah persiapin ini semua. Kamu tenang aja"


"Terus kita campingnya dimana?" Tanya Sabilla melirik sekitar.


"Di sana" Farrel menunjuk suatu tempat dengan jarinya.


"Di pulau?" Tanya Sabilla.


Farrel mengangguk.


"Wahhh daebak. Posti seru banget" Lirih Sabilla. Farrel melirik ke samping. Pria itu tersenyum saat melihat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Sabilla.


.


.


.


.


.


Jangan lupa likenya ya. Terimakasih :)

__ADS_1


__ADS_2