My Poor Wife

My Poor Wife
Harus Berani


__ADS_3

Sabilla perlahan menuruni satu persatu anak tangga dari kamarnya menuju ruang makan. Tidak berada jauh dari jangkauan mata Farrel, gadis cantik itu tersenyum malu, melangkah perlahan mendekati Farrel dan juga Bi Mirna yang berada di sana.


"Silahkan Non" Kata Bi Mirna tersenyum sembari mempersilahkan Sabilla duduk di salah satu kursi yang ada di depan Farrel. Bi Mirna hendak pergi dari sana, namun Sabilla dengan cepat menghentikan langkahnya "Bibi mau kemana?" tanya Sabilla.


"Bibi mau ke kamar Non"


"Bibi disini aja, makan bareng sama kita" ajak Sabilla.


"Nggak usah Non, bibi tadi udah makan, sekarang Non nikmati aja berdua sama den Farrel. Bibi mah liat Non Sabilla udah bahagia seperti sekarang ini aja juga ikut bahagia Non" Bi Mirna tersenyum, melepaskan tangannya dari Sabilla kemudian berlalu pergi dari sana.


Sabilla kembali memalingkan pandangannya pada Farrel, Farrel mengangguk mengisyaratkan untuk membiarkan Bi Mirna pergi dan memberikan waktu untuk mereka berdua.


"Mulai besok, kamu harus kemana-mana sama aku ya" Farrel membuka suara di sela-sela menikmati makan malamnya.


Sabilla terdiam, seketika ia teringat akan ucapan yang sama dari mulut Farrel.


"Aku nggak mau" Jawabnya singkat.


"Lah, kenapa?" Tanya Farrel bingung.


"Pokoknya aku nggak mau Kak Farrel, aku nggak papa di jemput Pak Jonet aja, daripada kecewa lagi" Lirih Sabilla pelan, gadis itu menundukkan pandangannya dengan raut wajah sedih.


"Maksud kamu?"


"Nggak kak, nggak papa kok"


"Apa jangan-jangan waktu itu..."


"Iya, waktu itu aku lihat kakak lagi pelukan mesra-mesraan sama kak Diara!"

__ADS_1


"Astaga Sabil, aku bisa jelasin semuanya"


"Jelasin apa kak? orang aku lihat semuanya kok" Wajah Sabilla tampak sudah tidak bersemangat.


"Oke, sekarang kita makan dulu, nanti aku jelasin" Bujuk Farrel, Sabilla pun mengangguk sebelum kembali melanjutkan makanannya.


***


Sabilla tengah tertidur di atas ranjang membelakangi arah pintu kamar, Farrel yang baru saja datang menatap Sabilla dari ambang pintu kamar, kemudian pria itu melangkahkan kaki mendekat ke arah Sabilla.


"Maafin aku ya" Farrel tiba-tiba saja ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjang, memeluk Sabilla dari belakang.


"Maaf untuk apa" Tanya Sabilla tanpa menoleh ke arah belakang dengan nada suara datarnya.


"Berarti waktu itu kita sama-sama salah paham. Pada saat itu aku memang memeluk Diara, karena aku nggak tega aja lihat dia datang-datang nangis gitu. Bagaimanapun juga, selama satu tahun lebih aku menjalani hubungan sama dia, sedikit banyak aku juga tau tentang dia. Pada saat itu Diara cerita sama aku, kalau dia baru aja diusir sama orang tuanya dari rumah, sebenarnya dulu dia juga sering begitu, dan dulu aku selalu menemani dia."


"Pada saat itu Diara cuma minta aku meluk dia untuk yang terakhir kalinya, karena pada saat itu juga aku bilang sama dia, kalau aku sangat mencintai kamu, dan aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Aku nggak tau kalau di sana ada kamu. Maafin aku Sabil, karena sejujurnya aku menyukai kamu sudah lama, tapi aku hanya bungkam dengan perasaan aku sendiri."


"Kan aku udah pernah bilang karena aku cemburu"


"Cemburu?" Kening Sabilla mengerut bingung.


"Iya cemburu! Pada saat itu aku nemuin kamu kok, aku cari kamu hingga aku nemuin kamu sama Kevin di taman Fakultas. Ya seperti yang aku bilang kemaren-kemaren. Aku bodoh! Harusnya aku menanyakan langsung sama kamu, tapi aku justru marah dengan cara mendiami kamu. Maafin aku ya"


Farrel membalikkan tubuh Sabilla ke arah belakang agar bisa lebih leluasa menghadap dirinya. Hingga kini, posisi mereka tertidur saling berhadapan.


"Besok-besok nggak akan lagi" Ucapnya kemudian, tersenyum mebelai lembut rambut Sabilla. "Oiya, mulai besok, kamu nggak boleh lagi jadi wanita lemah! Kamu harus lawan siapapun yang menyakiti kamu, termasuk Diara! Karena aku tau, sampai saat ini Diara masih sering mengganggu kamu"


"Sabil, terkadang seseorang berani memperlakukan kita dengan semena-mena karena mereka tau bahwa kita takut padanya. Tapi jika kita mencoba keras dan melawan sekali saja, jika kita menunjukkan bahwa kita kuat dan tidak selemah yang mereka kira, lama-lama mereka akan sadar juga. Jadi mulai besok, kamu nggak boleh lagi takut jika ada yang mencoba mengganggu kamu. Karena aku akan selalu ada di samping kamu. Dan kamu harus buktikan bahwa kamu lebih berani dari mereka. oke?"

__ADS_1


"Kak Farrel nggak tau aja dulu aku kayak gimana" Gumam Sabilla pelan.


"Aku tau, kan udah kamu ceritain, jadi mulai sekarang, kamu harus kembalikan semua sifat kamu yang dulu. Aku nggak mengajarkan kamu untuk jahat pada orang lain, tapi jika kita tidak salah, jangan pernah takut untuk melawan."


"Kalo kata pepatah orang Minang nih ya yang pernah aku dengar-dengar. Mereka selalu bilang MUSUAH INDAK DI CARI, BASUO PANTANG DI ILAKKAN"


"Apaan tuh artinya?" tanya Sabilla bingung.


"Kita nggak pernah mencari musuh, tapi kalo ada yang gangguin kita, kita nggak mungkin tinggal diam dong. Ya di lawan, kurang lebih seperti itu lah maksudnya" Jawab Farrel cengengesan.


"Kak Farrel bisa aja" Sabilla tersenyum memandang wajah suami tanpannya itu.


"Yaudah sekarang tidur, besok aku ada kuliah pagi" Farrel semakin mengeratkan pelukannya pada Sabilla. Gadis itu hanya diam tanpa menolak. Entah kenapa, Sabilla merasakan kenyamanan dan ketulusan dalam pelukan Farrel. Namun sejujurnya hati kecilnya masih merasa bersalah pada Gilang.


"Gilang, apa kamu marah jika aku mencintai Kak Farrel? maafin aku Gilang, maafin aku nggak bisa menjaga hati aku untuk kamu" Gumam Sabilla pelan sebelum ikut memejamkan matanya dan tertidur di pelukan Farrel.


***


Farrel dan Sabilla baru saja sampai di parkiran Fakultas Teknik. Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Farrel, karena dirinya merasa sangat bahagia bisa seperti saat ini bersama Sabilla. Entah mengapa, Farrel justru merasakan kenyamanan semenjak bersama Sabilla dibandingkan Diara dulu. Padahal, dulu ia juga sangat mencintai Diara, namun entah kenapa rasanya begitu beda.


Bersama Sabilla Farrel merasakan kenyamanan, kedamaian, dan kebahagiaan pastinya. Mungkin karena Sabilla lebih penurut dan tidak banyak bicara.


"Ingat, nanti jangan lupa tungguin aku di taman waktu itu, tempat kamu duduk sama Kevin. Jangan kemana-mana, pulang kuliah nanti kita langsung ke rumah Mama aja, nggak usah ke rumah dulu ya" Farrel berucap sembari memegang kedua pipi Sabilla dengan begitu lembut, pria itu tersenyum menatap wajah cantik Sabilla. Sabilla membalas senyunan Farrel mengangguk mengiyakan ucapan Farrel.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2